Tafsir Surat Asy Syarh

Tafsir Surat Asy Syarh
Sangat tepat mengkaji surat ini ketika kita ingin mengetahui berita gembira untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan umat beliau.Berita gembira yang selayaknya kita jadikan sebagai renungan dan hiburan di tengah kehidupan yang penuh ujian dan cobaan.
Ayat pertama (artinya) : “Bukankah Kami (Allah) telah melapangkan dada untukmu ?!”
Kalimat ini adalah pertanyaan tapi maknanya pernyataan.Maksudnya bahwa Allah telah melapangkan dada Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Dilapangkannya dada beliau terjadi secara hissi (lahiriah) maupun maknawi (batiniah).Secara hissi adalah dicucinya kalbu beliau oleh malaikat Jibril ‘alaihi as-Salam dengan air zam-zam lalu dituangi hikmah dan iman dari bejana emas.Peristiwa itu terjadi pada saat Isra’ Mi’raj.Disebutkan oleh Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bercerita (artinya) : “Terbuka atap rumahku yang ketika itu aku masih di Makkah.Lantas Jibril turun dan membelah dadaku dan mencucinya dengan air zam-zam.Kemudian Jibril mendatangkan bejana emas yang penuh dengan hikmah dan iman.Jibril pun menuangkan hikmah dan iman tersebut ke dalam dadaku hingga ia menutup kembali belahan dadaku…” (HR.al-Bukhari dan Muslim)
Adapun secara maknawi, maka ada 2 macam :
1) Dada beliau sangat lapang terhadap hukum Allah yang bersifat syar’i dengan penerimaan sepenuhnya terhadap syariat-Nya, ridha terhadapnya, tidak merasa sempit dan keberatan menjalankan syariat tersebut.
2) Dada beliau sangat lapang terhadap hukum Allah bersifat kauni (alami) dengan kesabaran dan keridhaan sepenuhnya menghadapi beragam ujian dan musibah.

Dengan 2 hal di atas, maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah manusia yang paling bertakwa kepada Allah sekaligus paling sabar menghadapi bermacam-macam musibah.

Dada yang lapang merupakan seagung-agung karunia yang Allah berikan kepada hamba-Nya.Demikian pula, dada yang lapang adalah bekal yang paling kuat untuk dapat menjalankan ketaatan kepada Allah dan memikul dakwah yang mesti akan menghadapi beragam cobaan.
Ayat kedua (artinya) : “Dan Kami telah menggugurkan dosa darimu”.
Maksudnya : “Bukankah Kami telah gugurkan dosa darimu ?!” Dalam ayat lainnya, Allah menerangkan bahwa Dia Ta’ala mengampuni dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang.Dia berfirman (artinya) : “Supaya Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang…” (Al Fath : 2)
Hanya saja pada ayat yang ke-2 ini, Allah tidak menjelaskan dosa apa dan jenisnya sehingga para ulama berbeda pendapat tentang dosa yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.
Ayat ketiga (artinya) : “Yang memberatkan punggungmu ?!”
Punggung adalah anggota badan yang paling kuat pada manusia untuk membawa beban.Apabila ada beban yang berat dibawa oleh punggung, maka anggota badan yang lain lebih-lebih akan merasa berat.
Dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa dosa Nabi telah dirasa berat oleh punggung beliau, padahal dosa beliau yang lalu dan yang akan datang pasti diampuni oleh Allah.Ini tentu menunjukkan kesungguhan beliau yang sangat besar dalam menilai sebuah dosa, penyesalan dan kesedihan melakukan dosa.Tidak ada satu pun dosa yang dianggap remeh oleh beliau.Lalu bagaimana dengan kita yang sangat banyak dosanya dan tidak ada jaminan untuk diampuni oleh Allah ?! Bisa jadi dosa besar bahkan paling besar sekalipun (yaitu : kesyirikan), kita anggap ringan seperti lalat yang lewat di hidung.
Sungguh jauh perbedaan antara seorang mukmin dengan seorang fajir manakala memandang dosa yang mereka berdua lakukan ! Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di bawah gunung dalam keadaan takut gunung itu akan menimpa dirinya.Sedangkan seorang fajir melihat dosanya seakan-akan ada seekor lalat melewati hidungnya lalu (hanya) menghalau dengan tangannya”.(Shahih al-Bukhari)
Ayat keempat (artinya) : “Dan Kami telah mengangkat penyebutan untukmu ?!”
Maksudnya : “Bukankah Kami telah mengangkat penyebutan untukmu ?!” Pada ayat ini, Allah menyebutkan kedudukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang sangat tinggi dan tidak bisa dicapai oleh nabi-nabi yang lainnya.Bukankah tidak ada manusia sejak Nabi Adam ‘alaihi as-Salam hingga manusia terakhir yang namanya senantiasa disebut oleh sekian banyak manusia seperti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam ?! Bukankah nama beliau senantiasa disebut setelah nama Allah dalam adzan, iqamah, tasyahud di setiap hari oleh sekian banyak manusia di seluruh pelosok dunia hingga jelang hari kiamat kelak ?! Belum lagi dalam kesempatan lain, seperti : ceramah, ucapan syahadat seorang yang masuk Islam dan sebagainya yang nama beliau senantiasa disebut ?! Tidak ada pula manusia selain Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang ucapan dan perbuatannya senantiasa terjaga dan tertulis di sekian banyak karya para ulama hingga dijadikan pedoman hidup sekian banyak generasi hingga akhir zaman ! Ibadah pun tidak akan diterima oleh Allah sekalipun ikhlas kecuali jika diiringi ittiba’ (mengikuti) sunnah beliau.Nama beliau memiliki tempat tersendiri pada setiap dada kaum muslimin setelah nama Allah ‘Azza Wa Jalla.Tidaklah nama atau sunnah beliau dihina oleh sebagian manusia, melainkan pasti ada sebagian manusia lainnya yang akan membela dan meninggikan nama atau sunnah beliau hingga akhir zaman.
Penyebutan nama dan kedudukan beliau semakin tampak tinggi manakala beliau menjadi satu-satunya manusia yang mendapat izin dari Allah untuk memberi syafaat bagi seluruh manusia yang berkumpul di padang mahsyar pada hari kiamat kelak.Syafaat itu dikenal dengan istilah asy-Syafa’ah al-Uzhma (Syafaat Yang Agung).
Jika kita perhatikan, maka 4 ayat di atas memberitakan 3 karunia besar yang Allah berikan kepada Nabi-Nya, yaitu : dilapangkannya dada (kalbu), digugurkannya dosa dan diangkatnya nama beliau sepanjang zaman.
Ayat kelima (artinya) : “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”.
Kalau pada ayat-ayat sebelumnya Allah memberitakan kabar gembira hanya kepada utusan-Nya yang terbaik, maka pada ayat ini dan setelahnya (ayat ke-6) Allah memberitakan kabar gembira kepada beliau sekaligus umat beliau.
Pada ayat ini dan setelahnya terdapat keterangan bahwa manakala datang suatu kesulitan sebesar apa pun dia, niscaya kemudahan akan menyertainya.Sekalipun ibaratnya kesulitan itu masuk lubang adh-Dhabb (binatang sejenis biawak) yang memang sulit dimasuki, niscaya kemudahan akan menyertai lalu mengeluarkan kesulitan dari lubang tersebut.
Ayat keenam (artinya) : “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”.
Allah menegaskan janji-Nya ini bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan dengan 2 hal, yaitu :
1) Penggunaan kata “sesungguhnya”.
2) Pengulangan kalimat “sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan” sebanyak 2 kali.

Jika Allah adalah Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Benar ucapan-Nya, tidak ada sedikit pun keraguan pada ucapan dan janji-Nya, maka akankah seorang muslim masih saja berputus asa menghadapi kesulitan dalam hidupnya, ragu terhadap ucapan dan janji Allah ?! Akan tetapi kemudahan bagi seseorang menjadi tertunda justru disebabkan karena beberapa hal, seperti : lemahnya keyakinan dia, rasa putus asa dia yang lebih dominan dibandingkan rasa harap kepada pertolongan Allah atau dia masih menganggap kemudahan itu jauh keberadaannya.Maka Allah pun memberi balasan sesuai anggapan dan prasangka hamba kepada-Nya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda melalui sebuah hadits Qudsi (artinya) : “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman : “Aku bersama prasangka hamba-Ku kepada-Ku.Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan.Jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan”.(ash-Shahihah 1663)

Faidah : Keterangan di atas berkaitan dengan kesulitan yang sifatnya kauni (alami).Adapun kesulitan yang sifatnya syar’i (agama), maka Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan juga berkaitan dengan urusan agama.Beliau lalu memberikan beberapa contoh, diantaranya : Shalat dengan duduk jika tidak mampu berdiri dan jika tidak mampu duduk maka dengan berbaring.(Lihat Tafsir Juz ‘Amma)
Ayat ketujuh (artinya) : “Maka jika engkau usai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh- sungguh (urusan yang lain)”.
Jika engkau usai dari suatu urusan, maka bersiaplah untuk mengerjakan urusan lain.Jangan engkau jadikan kehidupan ini sia-sia.Waktu itu terus berjalan tanpa peduli apakah manusia bangun atau tidur, sibuk atau luang, bergegas atau berlambat-lambat.Engkau tidak akan sanggup menghentikan jalannya waktu.Oleh karena itu, kehidupan seorang yang berakal adalah kehidupan penuh kesungguhan.Manakala usai dari satu urusan, maka ia bersiap untuk menunaikan urusan berikutnya.
Al-‘Allamah al-Alusi rahimahullah berkata : “Mereka (para ulama) menyebutkan bahwa duduknya seseorang dalam kekosongan waktu tanpa ada kesibukan atau sibuk (tapi) dengan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi agama maupun dunianya adalah kedunguan berpikir, kelemahan akal dan dikuasainya dia oleh rasa lalai”.(Tafsir al-Alusi)
Ayat ini mengandung faidah : Anjuran untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk kebaikan dunia maupun akhirat.Demikianlah Islam, agama yang kita cintai ini ! Membimbing pemeluknya agar benar-benar menaruh perhatian besar terhadap waktunya dan tidak menyia-nyiakannya.
Faidah : Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Jika ada seseorang berkata : “Kalau aku menggunakan kesungguhan pada setiap kehidupanku, niscaya aku akan lelah dan bosan”.Maka kita katakan : “Sesungguhnya istirahat untuk menggiatkan dirimu dan mengembalikan rasa giat untukmu teranggap sebagai kesibukan dan amalan.Yakni : Tidak mesti kesibukan itu adalah bergerak.Istirahatmu untuk menjadikan giat melakukan amalan lain teranggap sebagai amalan”.(Tafsir Juz ‘Amma)

Ayat kedelapan (terakhir) yang artinya : “Dan hanya kepada Rabbmu-lah, hendaknya engkau berharap”.
Hanya kepada Allah, hendaknya engkau berharap mendapatkan kemudahan dan diterimanya ibadahmu karena sesungguhnya Dia-lah Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.Kapan saja engkau menaruh kepercayaan dan harapan kepada Allah semata, maka Allah akan memudahkan segala urusanmu.Semakin kuat rasa percaya dan harapanmu kepada-Nya saja, maka semakin cepat Dia mendatangkan kemudahan untukmu.
Faidah : Digunakan lafazh “Rabb” yang maknanya adalah Zat yang memiliki sifat Rububiyah, seperti : mencipta, mengatur dan memelihara alam semesta, karena :
1) Untuk menunjukkan kekuasaan Zat yang diharapkan pertolongan-Nya.
2) Rasa harap (ar-Raghbah) adalah ibadah yang hanya boleh dipersembahkan kepada Zat yang memiliki sifat Rububiyah
Wallahu a’lamu bish-Shawab

Bersabar Menghadapi Gangguan Manusia

Bersabar Menghadapi Gangguan Manusia
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Ada beberapa perkara yang dapat membantu seorang hamba agar bisa bersabar menghadapi gangguan manusia :
Pertama : Hendaknya dirinya menyaksikan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah pencipta perbuatan hamba-hambaNya, baik gerak-gerik, diam maupun kehendak mereka.Apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi.Tidaklah bergerak sekecil apapun di alam atas maupun bawah melainkan dengan izin dan kehendak-Nya.Hamba-hamba adalah alat.Maka lihatlah kepada Zat yang memberi kuasa mereka atas dirimu, dan janganlah dirimu melihat perbuatan mereka terhadap dirimu.Maka dirimu akan bisa beristirahat dari rasa cemas dan resah.
Kedua : Hendaknya dirinya memperhatikan dosa-dosanya.Bahwasanya Allah memberi kuasa mereka atas dirinya karena dosa-dosanya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Dan apa yang menimpa kalian berupa musibah, maka itu karena tangan kalian dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan kalian”.(Asy-Syura : 30)
Apabila seorang hamba memperhatikan bahwa segenap ketidakenakan yang menimpa dirinya disebabkan dosa-dosanya, maka ia akan tersibukkan dengan taubat dan istighfar dari dosa dibandingkan mencela, mencerca dan memaki mereka.Jika engkau melihat seorang hamba mencela manusia tatkala mereka mengganggunya dan tidak kembali kepada mencela dirinya sendiri dan istighfar, maka ketahuilah bahwa musibah yang menimpa dirinya adalah musibah yang hakiki.Jika ia bertaubat, beristighfar dan berkata : “Ini sebabnya adalah dosa-dosaku”, maka musibah itu menjadi nikmat bagi dirinya.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata dengan permata kalimat : “Tidaklah seorang hamba itu benar-benar berharap kecuali kepada Rabb-nya dan tidaklah ia benar-benar takut kecuali terhadap dosanya”.
Diriwayatkan dari beliau (Ali, pen) dan selain beliau : “Tidaklah musibah itu turun kecuali karena dosa, dan tidaklah musibah itu pergi kecuali dengan taubat”.
Ketiga : Seorang hamba melihat baiknya pahala yang telah Allah janjikan bagi orang yang memberi maaf dan bersabar, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Dan balasan dari perlakuan jelek adalah perlakuan jelek juga.Barangsiapa memberi maaf dan melakukan perbuatan yang lebih layak, maka balasannya di sisi Allah.Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang zalim”.(Asy-Syura : 40)
Tatkala manusia menghadapi gangguan itu ada 3 macam : Zalim dengan membalas melebihi haknya, pertengahan dengan membalas sesuai haknya dan berbuat baik dengan memaafkan dan membiarkan haknya diambil manusia, maka Allah menyebutkan 3 macam tersebut di dalam ayat ini.Macam pertama di ayat tersebut adalah golongan pertengahan, macam kedua adalah golongan yang bersegera dalam kebaikan dan macam ketiga adalah golongan yang zalim.
Hendaknya dirinya memperhatikan panggilan sang pemanggil pada hari kiamat : “…kecuali berdirilah siapa saja yang ditetapkan pahalanya oleh Allah”.Maka tidaklah berdiri kecuali orang yang memberi maaf dan melakukan perbuatan yang lebih layak.Seiring itu jika dirinya memperhatikan luputnya pahala karena melampiaskan kemarahan dan menuntut balas, maka mudah baginya untuk bersabar dan memberi maaf.
Keempat : Semestinya dirinya mengamati jika ia memberi maaf dan berbuat baik, maka hal itu akan mewariskan keselamatan hati terhadap saudara-saudaranya, bersihnya hati dari kecurangan, kedengkian, pelampiasan amarah dan niat jelek.Dari manisnya memberi maaf akan muncul apa yang menambah manis dan manfaat memberi maaf di dunia maupun akhirat, berlipat-lipat melebihi manfaat melampiaskan amarah.Hal ini masuk pada firman Allah (artinya) : “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”.(Ali Imran : 134) Maka jadilah ia orang yang dicintai Allah dan keadaannya seperti orang yang diambil darinya satu keping uang perak lalu diganti dengan berkeping-keping uang emas.Maka ketika itu ia berbahagia karena kenikmatan yang Allah berikan kepadanya dengan sebesar-besar kebahagiaan.
Kelima : Selayaknya dirinya tahu bahwa tidaklah seseorang itu melampiaskan amarahnya melainkan akan mewariskan kerendahan pada dirinya.Jika dia memberi maaf, maka Allah Ta’ala akan memberi kemuliaan kepadanya.Ini adalah salah satu yang diberitakan oleh manusia yang jujur dan harus dipercaya (yaitu : Nabi) manakala beliau bersabda (artinya) : “Tidaklah Allah menambah pada seorang hamba karena memberi maaf melainkan kemuliaan”.Kemuliaan yang muncul karena memberi maaf itu lebih ia cintai dan lebih bermanfaat dibandingkan kemuliaan yang muncul karena melampiaskan amarah.Sebab, kalau yang ini adalah kemuliaan yang sifatnya lahiriah saja tapi mewariskan kerendahan pada batinnya.Adapun memberi maaf adalah kerendahan (sementara) dalam batin, namun nanti dapat mewariskan kemuliaan secara lahir dan batin.
Keenam : Yang ini termasuk faidah terbesar.Yaitu hendaknya dirinya menyaksikan bahwa balasan itu sesuai jenis amalannya dan dirinya adalah zalim serta berdosa.Barangsiapa memberi maaf kepada manusia, maka Allah akan memberi maaf kepadanya.Barangsiapa memberi ampun, maka Allah akan memberi ampunan kepadanya.Jika dirinya menyaksikan bahwa memberi maaf secara lahir atau batin dan berbuat baik seiring perlakuan jelek manusia kepadanya merupakan sebab Allah membalasnya, maka demikian pula hal itu sesuai perbuatannya, yaitu Allah akan memaafkan dan mengampuni dosa-dosanya.(Akhirnya) mudah baginya untuk memberi maaf dan bersabar.Cukuplah bagi orang yang berakal dengan faidah ini.
Ketujuh : Sepantasnya dirinya tahu jika jiwanya sibuk dengan pelampiasan amarah dan tuntutan hak, maka akan sia-sia waktu, hati tercerai berai dan luput kebaikan-kebaikan yang tidak mungkin diraih lagi.Bisa jadi akan lebih besar dibanding musibah dari manusia yang menimpa dirinya.Jika saja ia memberi maaf secara lahir atau batin, maka hati dan badan akan tenang melakukan kebaikan-kebaikan yang memang lebih penting dibanding melampiaskan amarah.
Kedelapan : Bahwasanya melampiaskan amarah dan menuntut hak adalah pembelaan terhadap pribadinya.Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak pernah marah karena pembelaan terhadap pribadi beliau.Jika demikian keadaan sebaik-baik dan semulia-mulianya makhluk Allah, seiring gangguan terhadap beliau adalah gangguan terhadap Allah dan terkait dengan agama, lalu bagaimana diantara kita melampiaskan amarah demi pembelaan terhadap pribadinya ?! Yang tentunya dia lebih tahu tentang kejelekan dan aib pada dirinya.Bahkan orang yang mengerti, jiwanya tidaklah setara dengan pelampiasan amarah demi pribadinya dan tidak ada nilai pada jiwanya yang layak untuk dibela.
Kesembilan : Jika dirinya diganggu karena perbuatannya menjalankan agama Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, maka tetap wajib bersabar dan tidak perlu menuntut balas.Dirinya telah diganggu karena menjalankan agama Allah dan pahalanya di sisi Allah.Oleh karena itu para mujahid di jalan Allah yang kehilangan jiwa maupun harta tidaklah jiwa dan hartanya tersebut ditanggung oleh manusia.Sesungguhnya Allah-lah yang telah membeli jiwa dan harta mereka.Penetapan harga ditanggung oleh Allah, bukan manusia.Barangsiapa menuntut harga dari manusia, maka Allah tidak menetapkan harga kepadanya.Barangsiapa sirna karena di jalan Allah, maka Allah akan memberi ganti.Jika dirinya diganggu ketika ditimpa musibah, maka kembalilah mencela dirinya sendiri.Celaan terhadap diri sendiri akan menyibukkan dari mencela orang yang mengganggunya.Jika ia diganggu ketika diberi kenikmatan, maka hendaknya meneguhkan diri untuk bersabar.Sesungguhnya meraih kenikmatan tanpa bersabar merupakan perkara yang lebih pahit dibanding bersabar (ketika diganggu).Barangsiapa tidak bersabar terhadap panasnya terik waktu Zhuhur, derasnya hujan, dinginnya salju, beratnya perjalanan dan perompak jalanan, maka tidak ada tempat berdagang baginya.Ini adalah perkara yang telah dimaklumi di sisi manusia bahwa barangsiapa yang jujur dalam mencari sesuatu, maka diganti kesabarannya dalam mencari sesuatu sesuai kadar kejujurannya.
Kesepuluh : Melihat kebersamaan, kecintaan dan keridhaan Allah kepadanya jika dirinya bersabar.Barangsiapa yang Allah bersamanya, maka Allah akan cegah beragam gangguan dan bahaya kepada dirinya dengan pencegahan yang tidak akan bisa dilakukan oleh seorang pun dari kalangan makhluk-Nya.Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Dan bersabarlah.Sesungguhnya Allah akan bersama orang-orang yang bersabar”.(Al Anfal : 46). Allah juga berfirman (artinya) : “Dan Allah bersama orang-orang yang bersabar”.(Ali Imran : 146)
Kesebelas : Melihat bahwa sabar adalah setengah keimanan.Maka janganlah ia mengganti iman dengan sebuah balasan atas pembelaan terhadap pribadinya.Jika ia bersabar, maka ia telah menjaga dan membentengi imannya dari kekurangan.Allah akan membela orang-orang yang beriman.
Keduabelas : Menyaksikan bahwa sabar adalah penguasa, penakluk dan penjinak hawa nafsunya.Kapan saja hawa nafsu itu dapat dikuasai dan ditundukkan, maka hawa nafsu tidak akan berambisi untuk mengekang, menawan dan melemparkan dirinya ke dalam kebinasaan.Sebaliknya kapan saja dirinya menaati hawa nafsunya, mendengar dan tunduk kepadanya, maka senantiasa akan seperti itu hingga hawa nafsu membinasakan dirinya atau segera ia mendapat rahmat Allah.Jika tidaklah kesabaran melainkan bisa menundukkan hawa nafsu dan syaithan, maka kekuasaan kalbu akan menang, kokoh bala tentaranya, bahagia, kuat dan mampu mengusir musuh.
Ketigabelas : Mengetahui bahwa dirinya jika bersabar maka Allah akan menolongnya, tidak boleh tidak.Allah adalah pelindung bagi orang yang bersabar dan menyerahkan (urusan) orang yang menzaliminya kepada-Nya.Sedangkan barangsiapa membela pribadinya, maka Allah akan serahkan dia kepada hawa nafsunya.Justru jadilah dia yang menolong hawa nafsunya.Maka bagaimana seseorang yang penolongnya adalah Allah sebaik-sebaik penolong justru berubah menjadi seseorang yang penolongnya adalah hawa nafsunya selemah-lemah penolong ?!
Keempatbelas : Bahwasanya kesabaran terhadap seseorang yang mengganggunya dan bersedia menanggung beban menghadapi orang tersebut akan bisa membawa kepada rujuknya lawan dari kezaliman, penyesalan, permintaan maaf dan celaan manusia terhadapnya.Orang tersebut akan kembali setelah mengganggu dalam keadaan malu, menyesali apa yang telah dia lakukan dan bahkan bisa menjadi orang yang mencintai dirinya.Inilah makna firman Allah Ta’ala (lalu Syaikhul Islam menyebutkan Surat Fushshilat : 34-35, pen).
Kelimabelas : Bisa jadi melampiaskan kemarahan dan menuntut balas akan menjadi sebab bertambahnya kejelekan lawan, kuatnya hawa nafsu dan pikirannya untuk beragam gangguan yang dapat ia (lawan) timpakan kepada dirinya, sebagaimana hal ini sudah pernah disaksikan.Namun jika dirinya bersabar dan memberi maaf, maka ia akan aman dari dari mudharat tersebut.Orang yang berakal tidak akan memilih mudharat yang lebih besar dengan menolak mudharat yang lebih kecil.Betapa banyak melampiaskan amarah dan membalas kejelekan ternyata pelakunya (amarah dan balasan) lemah untuk menolak kejelekan tersebut.Betapa banyak jiwa, kepemimpinan dan harta hilang (dengan itu).Kalau saja orang yang terzalimi itu memberi maaf, niscaya itu semua (jiwa, kepemimpinan dan harta) akan terjaga.
Keenambelas : Bahwa barangsiapa yang biasa melampiaskan amarah dan tidak bersabar, maka pasti ia akan terjatuh pada kezaliman.Sebab, jiwa itu tidak merasa cukup dengan sekedar keadilan yang wajib, tidak merasa cukup secara pengetahuan maupun keinginan.Bisa jadi jiwa itu enggan untuk sekedar menuntut haknya.Sesungguhnya kemarahan akan mengeluarkan pelakunya kepada batasan yang ia sendiri tidak sadar apa yang ia ucapkan dan perbuat.Pada saat ia adalah seorang yang terzalimi yang semestinya menunggu pertolongan dan kemuliaan, ternyata ia berbalik menjadi orang zalim yang menunggu murka dan balasan Allah.
Ketujuhbelas : Bahwa kezaliman ini yang dirinya terzalimi dengannya adalah sebab dihapuskannya kesalahan dia dan ditinggikannya derajat dia.Namun jika ia melampiaskan amarah dan tidak bersabar, maka kezaliman tadi tidak akan menghapus kesalahannya dan tidak pula mengangkat derajatnya.
Kedelapanbelas : Bahwasanya pemberian maaf dan kesabaran termasuk pasukan terbesar meghadapi lawan.Sebab, barangsiapa bersabar dan memberi maaf, maka akan menyebabkan rendah, takut dan khawatirnya musuh kepada dirinya dan manusia.Sesungguhnya manusia tidak akan diam dari lawan sekalipun dirinya diam dari lawan.Namun jika dirinya melampiaskan amarahnya, maka hilanglah itu semua.Oleh karena itu engkau jumpai banyak dari manusia jika mencela atau mengganggu orang lain cenderung ingin menuntut haknya.Maka jika manusia sudah membalasnya, maka dirinya bisa beristirahat dan membuang beban yang sempat dia jumpai.
Kesembilanbelas : Jika dirinya memberi maaf lawannya, maka lawan akan merasa bahwa dirinya (orang yang memberi maaf dan kemuliaan) berada di atasnya dan meraih keuntungan.Senantiasa lawan melihat dirinya berada di bawah orang yang memberi maaf dan kemurahan.Cukuplah ini sebagai keutamaan dan kemuliaan memberi maaf.
Keduapuluh : Bila dirinya memberi maaf dan kemurahan, maka ini adalah kebaikan dan akan melahirkan kebaikan yang lain.Kebaikan yang lain akan melahirkan kebaikan yang lain lagi dan seterusnya.Senantiasa kebaikannya bertambah.Sebab, balasan suatu kebaikan adalah kebaikan, sebagaimana balasan kejelekan adalah kejelekan setelah itu.Bisa jadi ini adalah sebab keselamatan dan kebahagiaan abadi bagi dirinya.Namun jika melampiaskan amarah dan membela pribadinya, maka hilanglah itu semua”.
(Dialihbahasan dari Jami’ al-Masail 1/168-174 melalui situs www.sahab.net)

5 Pondasi Kebenaran

5 Pondasi Kebenaran
Penulis : asy-Syaikh Nizar bin Hasyim al-Abbas hafizhahullah
Barangsiapa menginginkan kesejahteraan dan keselamatan di dunia sekaligus akherat dalam setiap urusan dengan taufik dari Allah, hendaknya ia menjadikan ayat (artinya) : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulul Amri diantara kalian. Apabila kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah perkara tersebut kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Hadits) jika kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir.Demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya” sebagai tonggak pandangannya, pijakan semangat, kesungguhan, pemahaman dan perjalanan hidupnya hingga berjumpa dengan Allah Ta’ala.
Di dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala telah memerintah orang-orang yang beriman dan kaum muslimin dengan 5 perkara agung yang di atasnya kebenaran dan syariat Islam akan tegak pada setiap prinsip dan kaidahnya.
Perkara Pertama
Hak Allah Ta’ala pada lafazh “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah…” yaitu menauhidkan-Nya dengan beribadah kepada-Nya saja tiada sekutu bagi-Nya, mewujudkan iman terhadap uluhiyah (ibadah kepada-Nya), Nama-nama dan Sifat-sifat serta Rububiyah-Nya dengan penuh kecintaan, ketundukan, rasa takut dan harap dalam bentuk menjalankan perintah sekaligus menjauhi larangan-Nya.Inilah inti ketakwaan kepada-Nya.Perkara terlarang yang paling besar adalah kesyirikan dan kekufuran dengan setiap warna dan ragamnya – semoga Allah menyelamatkan umat ini darinya.Allah berfirman (artinya) : “Dan beribadahlah kepada Allah dan jangan kalian berbuat syirik dengan sesuatu apapun…” Kemudian kebid’ahan dan perkara yang dibuat-buat dalam agama-Nya.Allah berfirman (artinya) : “Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang dapat mensyariatkan agama untuk mereka tanpa Allah izinkan ?! Kalau sekiranya tidak ada ketetapan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan.Sesungguhnya orang-orang zalim itu akan mendapatkan siksa yang amat pedih”.Kemudian seluruh kemaksiatan dan kefasikan !!
Perkara Kedua
Hak Rasul Shallallahu ‘alaihi Wasallam, yaitu menaati perintah beliau, menjauhi larangannya dan tidaklah beribadah kepada Allah melainkan dengan apa yang beliau ajarkan melalui sunnah-sunnah yang sahih dengan penuh kecintaan dan ittiba’ seiring berharap rahmat Allah dan takut dari azab-Nya, meninggalkan perkara yang dibuat-buat dan bid’ah yang disusupkan ke dalam sunnah, petunjuk dan syariat beliau.Beliaulah yang mengucapkan (artinya) : “Barangsiapa beramal suatu perbuatan yang tidak ada contohnya dari kami, maka perbuatan tersebut tertolak” Juga yang berseru pada hari kiamat dalam keadaan murka terhadap setiap orang yang menyelisihi beliau dan mengada-ada dalam agama : “Jauhlah kalian ! Jauhlah kalian !
Perkara Ketiga
Hak para ulama pembimbing dan dalam ilmunya yang berjalan di atas manhaj salafi berdasar lafazh “…dan Ulil Amri diantara kalian…” dengan mengenal mereka, menjalin ikatan komunikasi dengan mereka, memuliakan mereka dengan pujian, sanjungan yang indah dan jujur, seiring menghormati, mencintai dan kembali kepada mereka dalam bentuk belajar maupun bertanya.Ketaatan kepada mereka itu dalam perkara taat kepada Allah karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.(Juga) membela mereka karena Allah dalam rangka membentengi sekaligus menjaga agama Allah dan kaum muslimin, menyebarkan ilmu mereka di muka bumi.
Perkara Keempat
Hak penguasa rakyat di muka bumi berdasar lafazh “…dan Ulil Amri diantara kalian…” dengan mewujudkan ketaatan kepada mereka dalam perkara taat kepada Allah, bersatu dan berpegang di atas kalimat mereka, tidak memberontak seburuk apapun kezaliman dan kejahatan mereka – selama tidak ada kekufuran yang nyata berdasar dalil yang jelas dari Allah serta disepakati para ulama yang dalam ilmunya, bukan para pengacau, revolusioner, orang-orang jahil, pemberontak dan ekstrimis.Bahkan, wajib untuk bersabar terhadap mereka dan mendoakan kebaikan untuk mereka agar mendapatkan perbaikan dan petunjuk, tidak mengkritik, mencela mereka dan menyebarluaskannya.Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam menyeru kami dan kami membaiat beliau.Beliau berkata tatkala mengambil perjanjian dengan kami : Agar kami membaiat untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan semangat maupun sulit, sempit maupun lapang dan kezaliman menimpa kami.(Juga) agar kami tidak melepas ikatan baiat, kecuali jika melihat kekufuran yang nyata dan berdasar dalil yang jelas dari Allah” (Demikian pula) menasihati mereka secara diam-diam, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam (artinya) : “Barangsiapa ingin menasihati penguasa, maka janganlah dengan terang-terangan.Namun hendaknya dia pegang tangannya dan diam-diam.Jika penguasa menerima nasihatnya, maka itulah yang diharapkan.Namun jika penguasa menolaknya, maka ia telah menunaikan kewajibannya (berupa penyampaian nasihat, pen)”
Janganlah anda wahai seorang muslim, tertipu dengan apa yang dilakukan para pembuat bid’ah dalam agama dari kalangan manusia yang tidak memiliki kedalaman ilmu, pemahaman yang terbimbing dan akal yang lurus, dengan ilmu atau kejahilan menentang hak penguasa dan hak-hak lainnya.(Mereka) berasal dari ulama jahat, aktivis kelompok agama atau politik.Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Beliau telah bersabda (artinya) : “Barangsiapa beramal suatu perbuatan yang tidak ada contohnya dari kami, maka perbuatan tersebut tertolak” dan juga “Baransiapa mengada-ada sesuatu dalam agama yang tidak ada contohnya dari kami, maka sesuatu itu tertolak”.Demikian pula “Barangsiapa membuat suatu perkara yang tidak ada contohnya dari kami, maka perkara itu tertolak”
Demikian itu karena beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam telah jelas menyatakan tentang sempurnanya, cakupan, kemaksuman dan kecukupan pada agama ini bagi pemeluknya yang jujur dalam setiap kebaikan.Beliau bersabda (artinya) : “Tidaklah ada satu pun amalan yang mendekatkan pelakunya kepada surga, melainkan telah aku perintahkan untuk kalian.Tidaklah pula ada satu pun amalan yang mendekatkan kepada neraka, melainkan aku peringatkan dari kalian”.Beliau juga bersabda (artinya) : “Sungguh aku telah tinggalkan kalian di atas agama seperti cahaya putih, malamnya seperti siangnya.Tidaklah menyimpang dari cahaya tersebut melainkan dia pasti akan binasa”.
Cahaya putih tersebut adalah Al Qur’an dan as-Sunnah di atas manhaj (metode beragama) as-Salaf as-Saleh, manakala beliau bersabda (artinya) : “Aku tinggalkan kalian 2 perkara yang tidaklah kalian akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengannya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”.
Beliau juga bersabda (artinya) : “Sungguh akan datang kepada umatku ini apa yang dulu pernah datang kepada Bani Israil seperti langkah sandal mengikuti langkah sandal lainnya, sampai pun diantara mereka (Bani Israil) ada seorang anak menggauli ibunya terang-terangan, maka pasti akan ada dari umatku yang melakukan hal seperti itu.Sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.Semuanya masuk neraka kecuali 1 golongan” Maka mereka (para sahabat) bertanya : “Siapa mereka (yang selamat dari neraka) itu, wahai Rasulullah ?” Akhirnya beliau menjawab : “Apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya” Para sahabat Nabi adalah tokoh as-Salaf as-Saleh pada 3 generasi yang utama, sebagaimana beliau katakana (artinya) : “Sebaik-baik manusia adalah generasiku ini, kemudian generasi setelah mereka dan kemudian generasi setelah mereka”.
Hadits yang agung ini “Semuanya masuk neraka kecuali 1 golongan” menunjukkan bahwa setiap perkara yang bertentangan dengan Sunnah Nabi dan manhaj as-Salaf, baik berupa bid’ah, hawa nafsu, pendapat, pikiran maupun pandangan yang rusak adalah kesesatan yang pelakunya terancam dengan neraka jahanam., sebagaimana beliau bersabda (artinya) : “…dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka”
Ya Allah, jagalah kami dari kejelekan-kejelekan dan kesesatan serta lindungilah kami dari neraka-Mu, Ya Sebaik-sebaik Zat yang memberikan kasih sayang.
Perkara Kelima
Kewajiban kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi yang muhkam (jelas) berdasar lafazh “…Apabila kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah perkara tersebut kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Hadits)…” ketika terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan antar muslimin dengan beragam tingkatan mereka pada setiap perkara, baik perkara yang kecil maupun besar dari 4 perkara sebelumnya.Kembali kepada Al Qur’an dan sunnah yang sahih ini tidaklah bermanfaat bagi orang-orang yang berselisih pendapat dan tidak mereka dapati akibat yang lebih baik, kecuali dengan mewujudkan keterangan ayat di atas dan juga ayat lainnya sebagai berikut :
1) Mereka mengagungkan Al Qur’an, beriman dan menyandarkan diri (setelah bersandar kepada Allah) kepada Al Qur’an sebagai pokok dan dasar agama.Tidak seperti kaum Syi’ah Rafidhah yang menyakini bahwa Al Qur’an telah mengalami perubahan dan pengurangan.
2) Mereka mengagungkan Sunnah Nabi dan bersandar (setelah bersandar kepada Allah) kepada sunnah tersebut sebagai pokok ke-2 bersanding dengan Al Qur’an.Tidak seperti kaum Syi’ah Rafidhah yang dengan hawa nafsu dan kesesatan, mereka meyakini batil dan dustanya Sunnah Nabi karena mereka telah mengkafirkan para periwayatnya dari kalangan sahabat kecuali sedikit saja yang tidak mereka kafirkan.(Jika demikian), lalu bagaimana dengan para tabi’in, atba’ tabi’in…sampai seterusnya di hari ini ?! Demikian pula kaum Khawarij dahulu dan sebagian mereka di masa sekarang yang mereka mencela sebagian sahabat Nabi, seperti : Utsman bin Affan, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abu Musa al-Asy’ari dan Amr bin al-‘Ash hingga selain mereka (Khawarij, pen) dari pengikut hawa nafsu dan bid’ah dari kalangan rasionalis dan neo-Mu’tazilah.
3) Kembalinya mereka kepada Al Qur’an dan as-Sunnah di atas pemahaman as-Salaf as-Saleh beserta orang-orang berjalan mengikuti mereka dari kalangan para ulama dakwah salafiyah masa sekarang.
4) Hendaknya mereka memang menginginkan kebenaran dengan penuh kehati-hatian, kemurnian, ketakwaan dan keikhlasan dalam rangka berharap ridha Allah dan takut dari siksa-Nya.
5) Mereka yakin dengan sepenuhnya dan jujur bahwa kebenaran dan kebaikan itu ada pada dasar ini (Al Qur’an dan as-Sunnah di atas pemahaman as-Salaf as-Saleh beserta ulama dakwah salafiyah).Sesungguhnya ketika itu, mereka bersungguh-sungguh mengkaji luas untuk mengetahui kebenaran dalam perkara yang diperselisihkan.

Apabila kita menyelisihi poin-poin penting di atas ketika kembali kepada Al Qur’an dan as-Sunnah, maka perselisihan akan tetap ada, perpecahan tetap muncul dan akibatnya akan semakin buruk.Allah berfirman (artinya) : “Dan janganlah kalian termasuk dari kaum musyrikin.(Yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka hingga berkelompok-kelompok.Setiap kelompok bangga dengan apa yang ada pada mereka”.Dia juga berfirman (artinya) : “…dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian…”

Renungkanlah 5 perkara ini, wahai seorang muslim.Jadilah anda di atas pengetahuan tentang 5 perkara tersebut.Wujudkan 5 perkara itu dalam kehidupan anda, niscaya anda akan meraih kemenangan – dengan kekuatan dari Allah – dengan pertolongan serta rahmat Allah.Mintalah kepada Allah keselamatan dan ilmu bermanfaat serta berlindunglah kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat, kejelekan setiap ulama jahat dan sesat.Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua menuju ridha-Nya.

(Dikutip dengan beberapa perubahan dari http://rsalafs.com/?p=2790)

Rohingya Kembali Bergejolak

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Rohingya Kembali Bergejolak

            Untuk kesekian kalinya, saudara seiman kita di Myanmar dizalimi oleh orang-orang kafir Budha.Pembantaian, pemerkosaan dan pemusnahan harta dalam rangka pemusnahan etnis minoritas Rohingya menjadi berita yang sangat menyayat kita sebagai manusia, terlebih muslimin.Mesin-mesin perang yang layaknya untuk menghadapi tentara bersenjata ternyata diarahkan kepada kaum lemah, orang tua, wanita dan anak.Isu adanya milisi Rohingya yang menyerang pos polisi dijadikan sebagai dalih melakukan tindakan balasan yang tak lain adalah teror sangat mengerikan.