Rohingya Kembali Bergejolak

Rohingya Kembali Bergejolak

            Untuk kesekian kalinya, saudara seiman kita di Myanmar dizalimi oleh orang-orang kafir Budha.Pembantaian, pemerkosaan dan pemusnahan harta dalam rangka pemusnahan etnis minoritas Rohingya menjadi berita yang sangat menyayat kita sebagai manusia, terlebih muslimin.Mesin-mesin perang yang layaknya untuk menghadapi tentara bersenjata ternyata diarahkan kepada kaum lemah, orang tua, wanita dan anak.Isu adanya milisi Rohingya yang menyerang pos polisi dijadikan sebagai dalih melakukan tindakan balasan yang tak lain adalah teror sangat mengerikan.

            Luka semakin bertambah tatkala pemerintah Myanmar menutup-nutupi berita tentang tragedi agama dan kemanusiaan tersebut, bahkan balik menuduhnya sebagai berita dusta dan dibesar-besarkan media massa.Aung San Suu Kyi yang pernah  dinobatkan sebagai peraih Nobel Perdamaian dan gencar meneriakkan HAM pun senyatanya diam seribu bahasa.Tak ketinggalan Dubes Myanmar untuk RI juga mengeluarkan komentar yang sangat menyakitkan yang tidak menunjukkan kapabilitas dia sebagai pejabat negara.Padahal, sekian banyak bukti nyata menunjukkan adanya upaya pemberangusan etnis minoritas Rohingya oleh ambisi jahat militer kafir Myanmar.Bahkan kejahatan ini telah berlangsung sekian lama, tak kunjung usai.Bukankah keberadaan sekian ribu pengungsi Rohingya di beberapa negara cukup menjadi bukti adanya upaya genosida terhadap mereka ?! Untuk apa mereka bersusah payah hingga ada yang meregang nyawa berhijrah ke negara lain jika tidak ada teror massal di kampung mereka ?! Rekam sejarah pembantaian dan pengusiran muslimin Rohingya tidak berlebihan jika dikatakan lebih menyedihkan dibandingkan pembantaian muslimin di Palestina, Suriah dan beberapa tempat lainnya.

Diantara Sikap Syar’i Terhadap Konflik Rohingya

1)    Konflik ini sangat erat dengan agama karena tidak sedikit para biksu musyrik Budha melakukan provokasi untuk melakukan tindakan anarkhis kepada minoritas muslim Rohingya.Bahkan sebagian biksu melakukan pelatihan militer bersama tentara pemerintahan. (http://tukpencarialhaq.com/2016/11/25/prolog-sebelum-terjadinya-lagi-serangan-brutal-lagi-biadab-militer-myanmar-terhadap-muslim-rohingya/#more-13797)

Permusuhan para biksu musyrik Budha ini mengingatkan benarnya firman Allah yang artinya : “Sungguh engkau benar-benar akan mendapati manusia yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang berbuat syirik…” (Al Maidah : 82)

2)    Mendoakan kaum muslimin tertindas Rohingya agar Allah segera memberikan pertolongan dan jalan keluar serta membinasakan orang-orang musyrik yang zalim.Doa seseorang untuk saudaranya seiman dari tempat yang jauh akan diamini oleh malaikat.Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Doa seorang muslim untuk saudaranya dari tempat yang jauh adalah terkabulkan.Di sisi kepalanya ada malaikat yang diutus.Tatkala orang tersebut mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus berkata : “Aamiin dan bagimu semisal itu”.(HR.Muslim)

Doa bisa kita panjatkan di setiap waktu, terkhusus di waktu-waktu yang lebih dikabulkan, seperti : 1/3 malam terakhir, sujud dalam shalat, antara adzan dengan iqamah dan setelah Ashr hingga matahari tenggelam di hari Jum’at.

Ketika shalat 5 waktu secara berjamaah, kita juga panjatkan doa Qunut Nazilah di waktu i’tidal pada rakaat terakhir.Imam berdoa sedangkan makmum mengangkat kedua tangan sambil mengamininya.Hal ini sebagaimana Nabi pernah melakukan Qunut Nazilah ketika sebagian sahabat dibunuh dan diperangi oleh kaum musyrikin.Bahkan beliau pernah melakukan Qunut Nazilah selama 1 bulan.Selain itu, pemerintah kita menghimbau agar kita melakukan doa Qunut Nazilah untuk saudara kita muslimin Rohingya.Dengan demikian, melakukan doa Qunut Nazilah tersebut merupakan bentuk pengamalan sunnah Nabi sekaligus ketaatan kepada pemerintah muslimin dalam perkara yang baik.Adapun lafazh doa Qunut Nazilah, tidak ada ketentuan secara khusus.Bisa disesuaikan dengan keadaan yang terjadi ketika itu.Hanya saja tidak perlu panjang-panjang hingga memberatkan makmum dan tidak ada bacaan shalawat di akhirnya.Contoh lafazh doa yang bisa diucapkan adalah :

اَللّهُمَّ انْصُرِ اْلمُسْلِمِيْنَ اْلمُسْتَضْعَفِيْنَ الرُّوهِنْجِيِّيْنَ فِيِ بُورْمَا

اَللّهُمَّ انْصُرهُمْ وَ لاَ تَنْصُرْ عَلَيْهِمْ

اَللّهُمَّ فَرِّجْ كَرْبَهُمْ وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ

اَللّهُمِّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَ اْلمُسْلِمِيْنَ فِي بُورْمَا

اَللّهُمَّ أَصْلِحْ أحْوَالَهُمْ

اَللّهُمَّ أهْلِكِ اْلكُفَارَ اْلبُوذِيِّيْنَ اْلظَّالِمِيْنَ فِي بُورْمَا

اَللّهُمَّ دَمِّرْهُمْ كُلَّ تَدْمِيرٍ

اَللّهُمَّ تَقَبَّلْ دُعَاءَنَا إِنَّكَ اْلسَمِيعُ اْلعَلِيمُ

 

 

“Ya Allah, berilah pertolongan kepada kaum muslimin Rohingya yang lemah di Burma”

“Ya Allah, berilah pertolongan kepada mereka dan jangan Engkau beri pertolongan musuh untuk mengalahkan mereka”

“Ya Allah, hilangkan kesulitan mereka dan kokohkan kaki-kaki mereka”

“Ya Allah, berilah kemuliaan kepada Islam dan muslimin di Burma”

“Ya Allah, perbaikilah keadaan mereka”

“Ya Allah, hancurkanlah orang-orang kafir Budha yang zalim di Burma”

“Ya Allah, binasakanlah mereka dengan sebenar-benar kebinasaan”

“Ya Allah, kabulkanlah doa kami.Sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”

 

Doa ini dapat dipanjatkan pula ketika kita berdoa di luar shalat, di waktu kapan saja selama keadaan menuntut demikian.Ini dapat dilakukan oleh setiap muslim di mana pun mereka berada sebagai wujud ketergantungan seorang hamba kepada Allah dalam menghadapi masalah dan solidaritas terhadap saudara seiman yang tertindas.

Sebab Kehinaan Menimpa Kaum Muslimin

 

            Konflik Rohingya merupakan salah satu dari sekian banyak peristiwa di belahan dunia yang menunjukkan kehinaan yang dialami kaum muslimin.Selain memang kerasnya permusuhan dan makar orang-orang kafir, kaum muslimin sendiri telah sedemikian jauh dari bimbingan agamanya.Ditambah lagi cintanya mereka terhadap dunia hingga mengabaikan urusan akherat.

            Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam telah mengabarkan melalui sabda beliau (artinya) : “Hampir-hampir umat-umat (kafir) akan mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang berkerumun siap melahap hidangan di hadapan mereka”.Maka ada yang bertanya : “Apakah karena kita ketika itu berjumlah sedikit ?”Maka beliau menjawab : “Bahkan kalian ketika itu berjumlah banyak.Akan tetapi kalian adalah buih seperti buih yang diterjang air banjir.Sungguh Allah benar-benar akan mencabut terhadap rasa segan dari dada musuh kalian terhadap kalian dan sungguh Allah benar-benar akan menimpakan penyakit al-Wahn di dalam hati kalian”.Maka ada yang bertanya : “Wahai Rasulullah, apa itu penyakit al-Wahn ?”Akhirnya beliau menjawab : “Cinta dunia dan benci kematian”.(HR.Abu Dawud yang disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

            Jika jumlah banyak saja kaum muslimin mudah ditindas tatkala telah cinta terhadap dunia hingga menjauhi akherat, lalu bagaimana jika mereka dalam keadaan minoritas ?!

            Demikian pula beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “…dan dijadikan kehinaan serta kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi urusanku…”(Disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ 2831)

            Penyimpangan jika telah merebak di tengah kaum muslimin, maka itu adalah awal akan munculnya bencana bagi mereka.Termasuk hal itu adalah perjuangan membela Islam dan kaum muslimin dalam bentuk unjuk rasa, demonstrasi, tuntutan terbuka kepada pemerintah atau doa bersama yang tidak pernah dicontohkan Nabi atau generasi terbaik umat Islam.Penindasan terhadap Islam dan kaum muslimin dahulu pernah dialami oleh Nabi dan generasi awal umat ini.Mereka pun adalah sosok para pemberani dan sangat bersemangat membela Islam jauh melebihi kita semua.Namun nyatanya tidak ada satu pun riwayat yang menunjukkan mereka melakukan hal-hal menyimpang di atas.Kesimpulannya, membela Islam dan kaum muslimin haruslah dengan cara yang sesuai dengan bimbingan Islam itu sendiri, jauh dari penyimpangan yang justru menjauhkan dari pertolongan Allah.

            Kita akan mendapati sebab kerendahan dan kehinaan yang menimpa kaum muslimin sejak dulu hingga sekarang adalah apa yang telah diberitakan Nabi di atas.Nabi telah menyebutkan keburukan yang menimpa umat beliau sekaligus apa sebabnya.

Kembali Kepada Bimbingan Islam Yang Murni Adalah Sebab Kemuliaan

 

            Bukan hanya keburukan dan sebab yang disampaikan Nabi kepada kita.Bahkan beliau menyebutkan jalan keluar dari keterpurukan dan sebab teraihnya kemuliaan.Beliau bersabda (artinya) : “Jika kalian telah berjual beli dengan sistem ‘inah (salah satu sistem riba, pen), memegang ekor-ekor lembu, ridha terhadap pertanian dan meninggalkan perjuangan (di jalan Allah), maka Allah akan timpakan kehinaan kepada kalian.Dia tidak akan mencabut kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian”.(HR.Abu Dawud yang disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

            Kembali kepada ajaran Islam yang murni dan berpegang teguh dengannya telah ditempuh oleh generasi terbaik umat Islam, terkhusus para sahabat radhiyallahu ‘anhum.Mereka bukan sekedar tidak direndahkan oleh orang-orang kafir, bahkan sanggup menguasai belahan timur hingga barat dunia dalam kurun waktu kurang dari 30 tahun.Padahal, jumlah mereka terbilang sedikit jika dibandingkan orang-orang kafir Romawi, Persia, at-Turk, Barbar dan selainnya yang telah bertekuk lutut di bawah kaki-kaki kuda para sahabat.Itu adalah sejarah gemilang yang telah ditorehkan oleh generasi yang senantiasa tunduk terhadap bimbingan Allah dan Rasul-Nya.Mereka telah membuktikan janji Allah Yang Maha Kuasa (artinya) : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh diantara kalian bahwa sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi ini, sebagaimana Dia pernah menjadika orang-orang sebelum mereka berkuasa.Sungguh Dia akan mengokohkan bagi mereka agama yang Allah ridhai untuk mereka.Sungguh Dia akan mengganti keadaan mereka sesudah ketakutan menjadi rasa aman.Mereka beribadah kepada-Ku, tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun…”(An Nur : 55)

            Pertolongan dan kemenangan akan Allah berikan kepada orang-orang beriman yang menerima dan menegakkan seruan tauhid ibadah, karena Allah telah berfirman (artinya) : “…Maka Kami (Allah) akan menolong orang-orang yang beriman di atas musuh-musuh mereka hingga mereka menjadi orang-orang yang menang”.(Ash Shaff : 14)

            Lengkap sudah…kehinaan, sebab dan jalan keluarnya telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Tinggal sekarang, kapan kita akan bersungguh-sungguh menghilangkan sebab dan menempuh jalan keluar tersebut ?!

            Allah berfirman (artinya) : “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri…” (Ar Ra’du : 11)

            Janganlah kita termasuk orang yang justru berpaling menjauh setelah sampai kepadanya kebenaran.

Wallahu a’lamu bish-Shawab

 

                       

Tafsir Surat At Tin

Tafsir Surat At Tin

Setelah sekian lama tidak menampilkan tema tafsir, maka pada edisi kali ini kami ketengahkan kembali tema tersebut dengan menerangkan Surat At Tin secara ringkas. Semoga yang sedikit ini dapat memberikan banyak manfaat kepada para pembaca.

Ayat pertama (artinya) : “Demi buah tin dan buah zaitun”.

Buah tin adalah buah yang banyak terdapat di Damaskus (sekarang terletak di Yordania), sedangkan buah zaitun adalah buah yang banyak terdapat di Palestina. Yordania dan Palestina dahulu menjadi satu negeri bernama Syam bersama Suriah dan Lebanon. Kedua buah ini tidak memiliki biji dan kulit, hanya saja zaitun dapat diambil darinya minyak, yang kita kenal dengan minyak zaitun.

Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata : “Allah bersumpah dengan 2 pohon ini karena banyaknya manfaat pada tanaman dan buahnya. Juga karena tumbuhnya 2 pohon ini di negeri Syam yang merupakan tempat kenabian Isa bin Maryam ‘alaihima as-Salam”. (Tafsir as-Sa’di)

Berkenaan buah tin, Asy-Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim rahimahullah berkata : “Dan sebagaimana ucapan Ibnu al-Qayyim rahimahullah : “Tidak tersebutkan buah tin di dalam Sunnah Nabi karena ia tidak ada di negeri Hijaz dan Madinah. Demikian pula tidak ada penyebutan buah tin di dalam Al Qur’an kecuali di tempat (surat) ini saja…” (Tatimmah Adhwa’ al-Bayan)

Al-‘Allamah al-Alusi rahimahullah berkata : “Allah Ta’ala mengkhususkan keduanya (tin dan zaitun, pen) dengan sumpah berdasar pendapat ini (pendapat para ulama yang telah beliau sebutkan, pen) di tengah keberadaan buah-buahan yang lain, karena keistimewaannya yang mulia. Sesungguhnya buah tin itu adalah buah yang bagus. Tidak ada sisa yang tidak bermanfaat padanya. Makanan yang lembut, cepat dicerna, bahkan dikatakan : Sesungguhnya buah tin adalah buah yang paling sehat dimakan jika dimakan dalam keadaan perut kosong. Ia adalah obat yang banyak manfaatnya, membuka lemak penyumbat, menguatkan hati, membersihkan limpa, menghilangkan sulitnya buang air kecil dan lemah pada ginjal, menormalkan debar jantung, menghilangkan asma, gangguan nafas, batuk, sakit dada, kaku pada tulang betis dan lain-lain”. (Tafsir al-Alusi)

Adapun berkaitan buah zaitun, maka Allah menyebutkannya bukan hanya pada Surat At Tin. Pada Surat An Nur ayat ke-35, Allah berfirman (artinya) : “…yang dinyalakan (dengan minyak) dari pohon yang diberkahi (yaitu) zaitun, yang tidak tumbuh di sebelah timur dan tidak pula barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi sekalipun tidak disentuh oleh api…”

Demikian pula melalui sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda (artinya) : “Makanlah buah zaitun dan gunakan minyak dengannya, karena sesungguhnya ia (buah zaitun) adalah pohon yang diberkahi”. (HR.at-Tirmidzi dan disahihkan oleh al-Albani.Lihat pula ash-Shahihah 379)

Al-Hafizh al-Qurthubi rahimahullah berkata : “Dan ia (buah zaitun, pen) adalah lauk yang paling banyak dimakan oleh penduduk Syam dan Maghrib. Mereka menjadikannya sebagai kuah dan menggunakannya ketika memasak, menjadikannya sebagai bahan penerang, obat penyakit lambung, bisul dan luka serta manfaat lain yang banyak”. (Tafsir al-Qurthubi)

Al-‘Allamah al-Alusi berkata : “Dan adapun zaitun, maka ia adalah lauk, obat sekaligus buah menurut apa yang dikatakan tentangnya. Mereka (para pakar medis, pen) berkata : “Sesungguhnya pemanas yang dihasilkan zaitun tidak ada sesuatu yang membandinginya dalam mencerna, menggemukkan dan menguatkan anggota badan. Cukuplah keistimewaan yang ada padanya ketika minyaknya dapat menjadi penerang di masjid-masjid dan semisalnya, seiring manfaat lain seperti : memperbagus warna, menyaring campuran, menguatkan urat syaraf, membuka lemak penyumbat, mengeluarkan cacing, memperlancar produksi ASI, menghancurkan batu ginjal, memperbaiki ginjal sehingga dapat menyerap air panas, menghilangkan keputihan, sebagai celak yang menguatkan pandangan mata  dan selain itu. Pohon zaitun adalah pohon yang diberkahi dan dipersaksikan di dalam At Tanzil (Al Qur’an, pen)”. (Tafsir al-Alusi)

Ayat kedua (artinya) : “Dan demi bukit (thur) Sinin”.

Nama lain dari bukit ini adalah bukit (thur) Saina’ (Thursaina’). Nama ini disebut di dalam firman  Allah (artinya) : “Dan (Kami keluarkan pula, pen) pohon yang tumbuh di bukit (thur) Saina’, yang menghasilkan minyak dan menjadi kuah bagi orang-orang yang makan”. (Al Mu’minun : 20)

Bukit ini dahulu menjadi tempat yang Allah mengajak bicara Nabi Musa ‘alaihi as-Salam dengan pembicaraan yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tidak serupa dengan pembicaraan makhluk-Nya. Di bukit itu pula, Allah memerintah Nabi Musa untuk pergi mendakwahi Fir’aun yang sangat melampaui batas.

Ayat ketiga (artinya) : “Dan demi negeri yang aman ini”.

Yang dimaksud negeri yang aman ini adalah kota Makkah, tempat kenabian dan kerasulan manusia terbaik, yaitu Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Dan sebagian imam muslimin berkata : “Ini adalah 3 tempat yang Allah mengutus padanya nabi yang diutus dari kalangan Ulul ‘Azmi, pengemban syariat yang besar :

Pertama : Tempatnya buah tin dan zaitun, yaitu Baitul Maqdis yang Allah mengutus padanya Isa Ibnu Maryam ‘alaihi as-Salam. Kedua : Bukit (thur) Sinin yang Allah mengajak bicara Musa bin Imran. Ketiga : Makkah, negeri yang aman yang barangsiapa masuk ke dalamnya, maka ia akan aman, yang Allah mengutus padanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam…” (Tafsir Ibnu Katsir)

Jilka kita amati susunan sumpah pada 3 ayat berangkat dari ucapan Ibnu Katsir di atas, maka ada isyarat bahwa Allah bersumpah dengan sesuatu yang utama, lebih utama lalu paling utama. Nabi Isa memiliki keutamaan, Nabi Musa lebih utama lalu Nabi Muhammad ‘alaihim as-Salam paling utama.

Ayat keempat (artinya) : “Sungguh Kami (Allah) benar-benar menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”.

Allah yang maha benar ucapan-Nya bersumpah dengan buah tin, zaitun, bukit (thur) Sinin dan kota Makkah bahwa manusia itu benar-benar tercipta dalam bentuk sebaik-baiknya. Jika tanpa sumpah saja, ucapan Allah adalah pasti benar, lalu bagaimana halnya jika diiringi sumpah, kata “sungguh” dan “benar-benar” ?!

Al-Hafizh al-Qurthubi rahimahullah berkata : “Abu Bakr bin Thahir berkata : “(Manusia) dihiasi dengan akal, sanggup melaksanakan perintah, mendapatkan petunjuk untuk bisa membedakan sesuatu, tegak perawakannya dan mengambil makanannya dengan tangan”. (Tafsir al-Qurthubi)

Demikian keadaan penciptaan manusia, baik yang beriman maupun yang kafir, taat maupun bermaksiat. Tentu saja keadaan  manusia dengan penciptaan seperti ini merupakan kenikmatan yang sangat berharga. Jika kenikmatan ini hilang, maka sebesar berapa pun harta tidak akan bisa (dengan izin Allah) mengembalikannya seperti semula. Maka sudah semestinya manusia mensyukuri kenikmatan ini dengan melakukan ketaatan agar kenikmatan tersebut tetap terjaga, bahkan bertambah.

Namun amat disayangkan…

Ayat kelima (artinya) : “Kemudian Kami (Allah) kembalikan dirinya (manusia) menjadi serendah-rendahnya”.

Ternyata manusia sangat kufur kepada Allah ! Manusia tidak pandai mensyukuri nikmat, padahal syukur itu manfaatnya kembali kepada mereka, bukan kepada Allah.Allah Maha Kaya, sama sekali tidak butuh terhadap kita dan rasa syukur kita, bahkan tidak butuh kepada seluruh alam semesta.

Oleh karena manusia memilih jalan kerendahan, maka Allah pun membalasnya dengan kerendahan pula.

Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata : “Yaitu : Sempurna penciptaannya, saling bersesuaian anggota tubuhnya, berdiri tegak perawakannya, tidak kehilangan dari sesuatu yang ia butuhkan, baik secara lahir maupun batin. Namun seiring dengan kenikmatan yang agung yang semestinya ditegakkan syukur karenanya, ternyata kebanyakan manusia menyimpang dari syukur, sibuk dengan kesia-siaan dan permainan. Mereka sendiri rela dengan serendah-rendah perkara dan seburuk-buruk akhlak. Maka Allah kembalikan mereka menjadi serendah-rendahnya, berupa neraka paling bawah yang merupakan tempat orang-orang bermaksiat dan congkak terhadap Rabb mereka…” (Tafsir as-Sa’di)

Ayat keenam (artinya) : “Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.

Al-‘Allamah as-Sa’di berkata : “…kecuali siapa saja yang diberi kenikmatan oleh Allah berupa iman, amal saleh, akhlak yang utama dan tinggi. Maka bagi mereka kedudukan yang tinggi dan pahala yang tiada putus-putusnya, bahkan kelezatan yang banyak, kebahagiaan yang berturut-turut dan kenikmatan yang melimpah, dalam keabadian yang tidak sirna, kenikmatan yang tidak berubah, makanan dan keteduhan di surga yang kekal”. (Tafsir as-Sa’di)

Dari keterangan ayat ke-4 hingga ke-6, kita dapat menarik kesimpulan : Manusia pada awalnya dalam keadaan yang sama lalu berakhir dalam keadaan berbeda. Ada manusia yang awalnya dalam keadaan sebaik-baik bentuk, namun akhirnya menjadi seburuk-buruk keadaan karena kekafiran dan kemaksiatan. Ada pula manusia pada awalnya dalam keadaan sebaik-baik bentuk dan pada akhirnya semakin sempurna karena keimanan dan amal saleh.

Ayat ketujuh (artinya) : “Maka apa yang menyebabkan dirimu mendustakan hari pembalasan setelah jelas keterangan bagimu ?!”

Al-‘Allamah as-Sa’di berkata : “Yakni : Perkara apa -wahai manusia- yang menyebabkan dirimu mendustakan hari pembalasan terhadap amalan-amalanmu ?! Padahal, dirimu telah melihat tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang banyak yang dengannya mestinya terwujud keyakinan pada dirimu, dan (dirimu juga melihat) kenikmatan-kenikmatan yang mestinya menjadikan dirimu tidak mengingkari satu pun apa yang diberitakan oleh Allah”. (Tafsir as-Sa’di)

Salah satu tanda kekuasaan Allah adalah penciptaan dirimu (wahai manusia) dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada sama sekali. Dengan itu, mestinya dirimu yakin bahwa Allah lebih mampu untuk sekedar membangkitkan dan mengembalikan dirimu yang sudah ada kelak di hari kiamat, lalu membalas apa yang telah engkau lakukan dahulu di dunia. Sedangkan salah satu kenikmatan Allah adalah penciptaan dirimu dalam sebaik-sebaik bentuk. Dengan itu, mestinya dirimu bersyukur.

Ayat kedelapan (terakhir) yang artinya : “Bukankah Allah itu adalah hakim seadil-adilnya ?!”

Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Ini adalah pertanyaan yang maknanya pernyataan, yang Allah menyatakan bahwa Dia adalah hakim seadil-adilnya”. (Tafsir Juz ‘Amma)

Ayat ini bisa pula diterjemahkan dengan : “Bukankah Allah itu adalah hakim sebijak-bijaknya ?!”. Dengan demikian, maknanya adalah :

1)    Allah adalah hakim yang seadil-adilnya, tidak akan pernah sedikit pun menzalimi seorang pun dari hamba-Nya.Maha Suci Allah dari sifat zalim.

2)    Allah adalah hakim yang sebijak-bijaknya, tidak akan pernah sia-sia membiarkan manusia dicipta begitu saja tanpa diperintah, dilarang, dibalas dengan pahala dan dibalas dengan siksa. Maha Suci Allah dari sifat sia-sia.   

Wallahu a’lamu bish-Shawab

Ralat edisi “Mensucikan Jiwa Melalui Ibadah Kurban” : Hal.3 kolom ke-4 “Surat Al An’am ayat ke-163 dan 164” , yang benar “ayat ke-162 dan 163”.

 

Mensucikan Jiwa Melalui Ibadah Kurban

Mensucikan Jiwa Melalui Ibadah Kurban

Sejarah ibadah kurban tidaklah lepas dari sosok mulia Nabi Ibrahim ‘alaihi as-Salam. Allah kisahkan sejarah tersebut melalui firman-Nya (artinya) :

“Ya Rabb-ku, anugerahkan kepada diriku (berupa seorang anak) yang ia termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami (Allah) beri dia (Ibrahim) berupa seorang anak yang amat sabar. Tatkala anak itu sampai pada usia yang ia sanggup membantu Ibrahim, Ibrahim berkata : “Wahai anakku, sesungguhnya aku telah melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu ! Ia menjawab : “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepada engkau. Insya Allah, engkau akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar. Ketika keduanya telah menyerahkan diri dan Ibrahim telah membaringkan anaknya di atas pelipisnya, maka Kami (Allah) tebus dengan seekor sesembelihan yang besar.Kami (Allah) panggil dia : “Wahai, Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi tersebut. Sesungguhnya demikianlah Kami (Allah) memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami (Allah) tebus anak itu dengan seekor sesembelihan yang besar. Kami (Allah) abadikan untuk Ibrahim (berupa pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.Kesejahteraan dilimpahkan kepada Ibrahim. Demikianlah Kami (Allah) memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman”. (Ash-Shaffat : 100-111)

Cinta Negara Dalam Tinjauan Agama Kita

Cinta Negara Dalam Tinjauan Agama Kita

            Asy-Syaikh Muhammad Ali Farkus hafizhahullah mengatakan : “Yang semestinya diketahui bahwa cinta negara merupakan fitrah dan tabiat pada manusia.Cinta negara keberadaanya seperti cinta kepada diri sendiri, ayah, harta, makanan, kendaraan dan semisalnya.Bukanlah cinta negara (secara zatnya) termasuk dari keimanan, baik dari sisi kandungan maupun konsekuensi iman.Buktinya adalah berkumpulnya manusia di negara tersebut tanpa ada perbedaan antara orang yang bertakwa dan beriman dengan orang kafir, fasik dan bermaksiat.Padahal konsekuensi iman, justru kita membedakan antara orang yang beriman dengan orang kafir, orang yang bertakwa dengan orang jahat.Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat Al Qur’an, yaitu firman Allah Ta’ala (artinya) : “Apakah orang yang beriman itu sama dengan orang yang fasik ?! Tentu mereka tidaklah sama”.(As Sajdah : 18)