Sikap Syar’i Terhadap Peristiwa Gerhana

            Gerhana matahari atau bulan dalam bahasa syariat diistilahkan dengan kusuf atau khusuf.Hanya saja yang terkenal di kalangan para ulama fiqih, bahwa istilah kusuf itu untuk gerhana matahari dan khusuf untuk gerhana bulan.Wallahu a’lam.

            Dari sebuah penjelasan yang pernah disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, kita mengetahui bahwa gerhana matahari biasanya terjadi di akhir suatu bulan Hijriyah (tanggal 29 atau 30), sedangkan gerhana bulan biasanya terjadi di pertengahan suatu bulan Hijriyah (tanggal 13, 14 atau 15).

            Terkait ini, sebuah badan resmi dan beberapa media massa menyampaikan berita tentang prakiraan terjadinya gerhana matahari atau bulan pada jam, tanggal dan tempat tertentu.Dari fenomena yang biasa kita lihat atau dengar ini, kita dapat memunculkan 2 pertanyaan :

1)    Apakah prakiraan seperti itu teranggap mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib ?

2)    Bagaimana hukum menyebarkan berita prakiraan tersebut di tengah khalayak ramai ?

            Untuk menjawab 2 pertanyaan di atas, kami bawakan 2 fatwa Samahatu asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah sebagai berikut :

1)    Beliau berkata : Bukanlah pembicaraan tentang waktu gerhana itu termasuk mengetahui perkara ghaib.Bahkan pembicaraan ini dapat diketahui dengan ilmu hisab (falaki).Banyak dari ahli falak mengetahui perkara ini karena mengamati perjalanan matahari dan bulan pada garis edarnya.Apabila matahari atau bulan berada pada posisi edar tertentu, maka mereka mengetahui dengan ilmu hisab bahwa matahari atau bulan akan mengalami gerhana dengan izin Allah pada waktu itu.Ini dapat diketahui dengan ilmu hisab, bukan termasuk mengetahui perkara ghaib.Bahkan ini adalah hisab yang teliti, diketahui oleh para ahli falak dan pengamat perjalanan matahari dan bulan.Mereka mengetahui hal itu.(Hanya saja) kadangkala mereka salah pada suatu kesempatan dan benar pada kesempatan lain.

            Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Sesungguhnya pemberitaan mereka ini sejenis dengan pemberitaan oleh Bani Israil, tidak serta merta dibenarkan dan tidak serta merta didustakan”.

 

            Kesimpulannya bahwa berita mereka bisa saja salah atau keliru sehingga tidak serta merta dibenarkan dan tidak pula didustakan, namun dilihat apa yang mereka beritakan…”(www.binbaz.org.sa)

2)    Terkait pertanyaan kedua, beliau berkata : Kalau seandainya pemberitaan yang disebarkan di tengah khalayak tersebut ditinggalkan, maka itu lebih baik dan utama hingga manusia menjumpai gerhana dengan tiba-tiba.Dengan itu akan lebih menimbulkan manusia memiliki rasa takut dan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Hanya saja sebagian ahli hisab memandang bahwa pemberitaan tersebut mengandung anjuran untuk bersiap-siap dan tidak lalai.Kadangkala kelalaian itu muncul dalam keadaan mereka tidak menyadari dan tidak memiliki perhatian.Apabila pemberitaan tadi disebarkan, maka manusia akan sadar dan memiliki kesiapan.Inilah seringkali maksud disebarkannya berita tadi”.(www.binbaz.org.sa)

Bahkan dalam fatwa yang lain, beliau menyarankan badan-badan penerangan agar mencegah tersebarnya berita di atas, karena menyebarkan berita di atas dapat mengurangi pengaruh peristiwa gerhana pada kalbu manusia.Sedangkan Allah menentukan gerhana itu untuk menakut-nakuti manusia dan memperingatkan mereka.

Hikmah Dibalik Terjadinya Gerhana

 

            Ada hikmah sangat besar dibalik terjadinya gerhana matahari atau bulan, yaitu agar manusia benar-benar takut kepada Allah Ta’ala.Artinya peristiwa gerhana bukan semata-mata peristiwa alam.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sendiri pernah mengalami gerhana matahari.Beliau pun pernah bersabda (artinya) : “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah 2 tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah.Keduanya tidaklah mengalami gerhana karena kematian seseorang.Akan tetapi dengan gerhana tersebut, Allah Ta’ala ingin menakut-nakuti hamba-hambaNya”.(HR.al-Bukhari.Lihat Shahih Muslim)

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Ini adalah penjelasan dari beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam, bahwa gerhana matahari atau bulan adalah sebab turunnya azab kepada manusia.Sesungguhnya Allah menakut-nakuti hamba-hambaNya dengan apa yang mereka memang takuti jika bermaksiat kepada-Nya dan para Rasul-Nya.Hanyalah manusia itu takut terhadap apa yang dapat mencelakakan mereka.Kalau seandainya tidak mungkin turun musibah kepada manusia ketika gerhana, maka gerhana itu bukan lagi untuk menakut-nakuti mereka.Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Dan Kami datangkan seekor unta kepada kaum Tsamud sebagai (tanda kebesaran Allah) yang dapat terlihat.Namun mereka menganiaya unta tersebut.Tidaklah Kami mengirim tanda-tanda kebesaran Kami, melainkan untuk menakut-nakuti manusia”.(Al Isra’ : 59)

            Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pun memerintahkan perkara yang dapat menghilangkan rasa takut.Beliau memerintahkan shalat, doa, istighfar, sedekah dan membebaskan budak hingga hilang apa yang dialami manusia (yaitu gerhana, pen).Beliau shalat bersama kaum muslimin ketika gerhana dengan shalat yang panjang”.(al-Fatawa al-Kubra, Maktabah Syamilah)

            Nabi pun sempat menangis ketika sujud terakhir pada rakaat kedua dan berdoa : “Engkau tidak menjanjikan azab ini dalam keadaan aku masih berada bersama mereka ! Engkau tidak menjanjikan azab ini dalam keadaan kami beristighfar kepada-Mu !” .(Lihat Sunan an-Nasa’i yang dishahihkan asy-Syaikh al-Albani)

Shalat Gerhana

            Inilah salah satu ibadah yang telah dilalaikan oleh banyak kaum muslimin.Oleh karena itu, dalam sub bahasan ini ada beberapa perkara yang penting untuk kita ketahui, yaitu :

1)    Hukum shalat gerhana.

Mayoritas ulama mengatakan bahwa shalat gerhana itu hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan).Namun sebagian lain mengatakan bahwa shalat gerhana itu hukumnya wajib, minimalnya wajib kifayah.Pendapat kedua ini sangat kuat karena Nabi memerintahkan shalat ini, sedangkan hukum asal perintah adalah wajib.Demikian pula karena adanya indikasi-indikasi kuat yang menunjukkan wajibnya shalat gerhana.Pendapat wajibnya shalat gerhana adalah pendapat yang dipilih oleh asy-Syaikh al-Albani dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin.

2)    Wanita boleh mengerjakan shalat gerhana berjamaah dengan pria.

Hal ini diterangkan oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha : “Maka aku keluar menuju para wanita yang berada diantara kamar para istri Nabi di masjid…”(HR.Muslim)

Di dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma : “…Kemudian beliau mundur dan mundur pula shaf-shaf yang ada di belakang beliau hingga kami sampai (salah seorang periwayat hadits ini, Abu Bakr bin Abi Syaibah berkata : “hingga sampai ke shaf wanita)…”(HR.Muslim)

Al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah berkata : “…dan di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang hadirnya mereka (para wanita) di belakang para pria”.(Syarh Muslim)

Tentu saja ketika mengerjakan shalat gerhana dengan berjamaah di masjid, setiap wanita harus memperhatikan syarat-syarat dibolehkannya wanita keluar rumah, sebagaimana diterangkan oleh syariat.

3)    Di mana shalat gerhana diadakan ?

Shalat gerhana dilakukan secara berjamaah di masjid, sebagaimana disebutkan di dalam beberapa hadits yang shahih.Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Dan telah shahih bahwa sunnah dalam shalat gerhana adalah dikerjakan di masjid.Kalau bukan karena itu, maka shalat gerhana di tanah lapang tentu akan lebih layak untuk bisa dilihat usainya gerhana.Wallahu a’lam”.(Fathul Bari)

4)    Seruan dengan lafazh tertentu ketika akan ditunaikan shalat gerhana.

Terdapat seruan tertentu untuk memanggil kaum muslimin agar menunaikan shalat gerhana dengan berjamaah.Seruan tersebut berbunyi : “ash-Shalaatu Jaami’ah”, yang artinya : “Hadirilah shalat gerhana ini dengan berjamaah”.Lafazh seruan ini disebutkan oleh beberapa hadits yang shahih.Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata di dalam Tashilul Ilmam Syarh Bulughil Maram : “Yang tampak seruan tersebut tidak diulang-ulang.Namun sebagian ulama berkata : “Apabila manusia tidak menyadari kecuali dengan diulang-ulang, maka lafazh tadi dapat diulang beberapa kali”.

  

5)    Bagaimana bila waktu gerhana bertepatan dengan masuknya waktu shalat 5 waktu ?

Samahatu asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya : “Apabila tiba waktu shalat Isya’ bersamaan dengan gerhana bulan, maka yang mana kami (dahulukan), shalat gerhana atau Isya’ ?”

Maka beliau menjawab : “Sunnahnya adalah mendahulukan shalat Isya’ yang wajib, sebab shalat gerhana itu panjang.Bisa jadi waktu Isya’ akan lewat.Sunnahnya adalah mendahulukan shalat wajib lalu shalat gerhana.Demikian pula bila gerhana matahari tiba di waktu Asar, maka didahulukan shalat Asar lalu shalat gerhana”.(www.binbaz.org.sa)

6)    Tata cara shalat gerhana.

Shalat gerhana terdiri dari 2 rakaat yang sangat panjang.Masing-masing rakaat terdiri dari 2 ruku’ dan 2 sujud.Imam membaca surat al-Fatihah dan surat yang panjang dengan jahr (keras).Setelah ruku’ yang pertama, dilanjutkan dengan berdiri dan imam kembali membaca al-Fatihah dan kelanjutan surat atau surat lain yang panjang.Setelah ruku’ yang kedua, lalu dilanjutkan i’tidal, sujud pertama, duduk diantara 2 sujud dan sujud kedua.Masing-masing gerakan ini dilakukan dengan panjang.Setelah itu berlanjut pada rakaat kedua dengan tata cara seperti pada rakaat pertama, hanya saja panjangnya di bawah rakaat pertama.

7)    Apabila seorang masbuq mendapati ruku’ kedua dari rakaat pertama atau rakaat kedua, maka apakah ia dianggap mendapatkan rakaat tersebut ?

Pertanyaan ini dapat dijawab bahwa orang tersebut tidak teranggap mendapatkan rakaat tersebut, sehingga dia harus menyempurnakan rakaat tersebut usai salamnya imam.Ruku’ pertama pada rakaat pertama maupun rakaat kedua adalah rukun, sedangkan ruku’ kedua adalah sunnah.

8)    Khutbah setelah shalat gerhana.

Disunnahkan bagi imam untuk menyampaikan khutbah usai shalat gerhana.Isi khutbahnya adalah ancaman dari perbuatan dosa, siksa kubur, siksa neraka dan anjuran memperbanyak ibadah.Demikianlah yang pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

9)    Apa yang dilakukan bila shalat telah usai, sedangkan gerhana masih berlangsung ?

Shalat gerhana dilakukan selama gerhana berlangsung.Namun apabila shalat gerhana usai sedangkan gerhana masih berlangsung, maka shalat tidak perlu diulangi lagi.Hendaknya ketika itu seseorang memperbanyak doa, zikir, istighfar dan sedekah hingga gerhana usai.Demikian disebutkan oleh sejumlah ulama kita.

Wallahu a’lamu bish-Shawab

 

Ucapan Terima Kasih & Pujian Kepada Pelayan Dua Kota Suci

            Bismillahirrahmanirrahim

            Segala puji hanya milik Allah.Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada utusan Allah, keluarga, para sahabat dan siapa saja yang mengikuti petunjuk beliau.

            Selanjutnya…

            Sesungguhnya saya dan setiap muslim yang jujur dalam agamanya akan menghaturkan ucapan terima kasih yang banyak kepada pelayan dua kota suci yang mulia, yaitu Raja Salman bin Abdil Aziz Aalu Su’ud –semoga Allah menjaga dan membimbing langkah beliau – atas tindakan beliau berupa instruksi penyerangan yang sesuai Islam dan tepat sasaran melawan orang-orang Rafidhah pendengki Islam dan muslimin, yang mereka (Rafidhah) ini melebihi orang-orang Yahudi dan Nashara dalam memerangi Islam dan muslimin.Tindakan memerangi Islam dan muslimin ini telah mereka warisi dari para pendahulu mereka, musuh para sahabat yang mulia dan musuh orang-orang yang mengikuti mereka (para sahabat) dengan baik.

            Sesungguhnya tindakan anda ini, wahai pelayan dua kota suci semata-mata adalah bentuk menolong Islam.Kaum muslimin dan sejarah tidak akan melupakan tindakan anda tersebut.

            Saya memohon kepada Allah agar Dia menolong anda menghadapi musuh-musuh anda, sekaligus membinasakan dan memusnahkan mereka.Sesungguhnya Rabb-ku benar-benar mendengar doa.

             Sebagaimana saya juga memohon kepada Allah Ta’ala agar memberi taufik kepada para penguasa muslim yang bersekutu dalam perang yang mulia ini, untuk berpegang teguh dengan Islam, baik dalam prinsip akidah, syariat, hukum maupun kemampuan mewajibkan dan membimbing rakyat menjalankan prinsip-prinsip agung ini.

Ditulis oleh Rabi’ bin Hadi Umair al-Madkhali

8 / 6 / 1436 H

( Dialihbahasakan dari situs www.sahab.net )

Catatan :

Sejak hari Kamis tanggal 26 Maret 2015 atau Jum’at tanggal 6 Jumadal Akhirah 1436, Saudi Arabia melancarkan serangan udara ke Shan’a, Yaman yang dikuasai oleh pemberontak kafir Syi’ah Rafidhah Hutsiyah dukungan Iran.Serangan udara ini merupakan instruksi Raja Salman bin Abdil Aziz hafizhahullah, menjawab permintaan Presiden Yaman yang masih sah, Abdu Rabbih Manshur Hadi untuk mengembalikan stabilitas keamanan negara Yaman.Tidak sedikit para ulama Ahlussunnah mendukung tindakan Raja Saudi yang mulia ini, seperti asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah di atas.Semoga Allah memberi kemenangan kepada Ahlussunnah dalam jihad yang syar’i ini dan menghancurkan tentara-tentara syaithan, Syi’ah Rafidhah Hutsiyah dukungan Iran Rafidhah.Aamiin Ya Mujiibas Saa’iliin

Salafi Bukan Teroris ISIS

            Masih ada sebagian orang mengira bahwa gerakan teroris ISIS dan juga gerakan teroris yang lain adalah gerakan yang berpemahaman Salafi Wahhabi.Pendapat ini muncul bisa disebabkan karena adanya kekhawatiran di tengah merebaknya dakwah bermanhaj (bermetode) Salafiyah di berbagai tempat, atau disebabkan karena ketidaktahuan tentang hakikat dakwah dan manhaj Salafiyah.

            Pada edisi ke-33 tahun ke-6 berjudul “Mengenal Hakikat Ahlussunnah Wal Jama’ah”, telah kita ketahui bahwa Salafi atau Salafiyun adalah istilah lain dari Ahlussunnah Wal Jama’ah.Disebut Salafi (jika 1 orang) atau Salafiyun (jika banyak orang) karena mereka meniti jejak generasi Salaf yang shalih, yaitu para sahabat Nabi, tabi’in (murid para sahabat) dan atba’ut tabi’in (murid para tabi’in).Sebagaimana pula Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah siapa saja yang meniti jejak atau petunjuk (sunnah) Nabi dan para sahabat beliau.Singkat kata, Salafi atau Salafiyun adalah orang-orang yang berjalan di atas Islam yang masih murni, tidak tercampur dengan berbagai penyimpangan yang diatasnamakan Islam.

            Adapun Wahhabi atau Wahhabiyah, maka istilah ini pertama kali muncul pada sekitar abad ke-2 Hijriyah.Istilah ini awal mulanya adalah julukan bagi salah satu sekte berpemahaman Khawarij yang muncul di Afrika Utara, dan telah dikecam oleh para ulama ketika itu.Sekte ini memiliki andil dalam perpecahan dan pertumpahan darah di tengah kaum muslimin.

            Namun seiring perjalanan waktu, istilah Wahhabi atau Wahhabiyah ini dibelokkan oleh sebagian manusia kepada sepak terjang dakwah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah pada abad ke-12 Hijriyah yang meluas hingga ke banyak negeri.Tujuan penyematan istilah Wahhabi atau Wahhabiyah ini kepada dakwah beliau, agar manusia menjauhi dakwah beliau.Dikesankan bahwa dakwah beliau adalah dakwah yang keras dan ekstrem, sebagaimana ekstremnya kaum Wahhabiyah Khawarij.Padahal sangat jauh beda antara keduanya.Sesungguhnya dakwah asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berjalan di atas metode Ahlussunnah Wal Jama’ah atau Salafiyah yang mengajak manusia kepada Islam yang murni, bersih dari kesyirikan dan kebid’ahan.Dakwah beliau sangat jauh dari kekerasan.

            Dari ulasan singkat ini sedikit banyak membuka mata kita, bahwa Salafiyun (terutama dakwah asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab) bukanlah Khawarij, yang pemahaman Khawarij ini dianut oleh kelompok ISIS dan yang sejenisnya.

            Lebih jelas lagi perbedaan besar antara Salafiyun dengan ISIS adalah sebagai berikut :

1)    Salafiyun tidak mengkafirkan pemerintah muslimin, sekalipun pemerintahnya berbuat zalim dan jahat, selama belum kafir.Adapun ISIS mengkafirkan pemerintah muslimin, bahkan berpandangan pemerintah muslimin itu lebih jelek dibandingkan pemerintah yang aslinya memang kafir.

2)    Salafiyun berkeyakinan untuk menaati penguasa selama dalam perkara yang baik.Apabila penguasa memerintah dalam perkara yang bertentangan dengan Islam, maka Salafiyun tidak menaatinya, justru menasihati atau meluruskannya sebatas kemampuan dengan cara yang santun dan tidak melakukan pemberontakan.Adapun ISIS sama sekali tidak mengakui penguasa muslimin sebagai penguasa, bahkan menganggap penguasa itu sebagai thaghut dan wajib diberontak.

3)    Salafiyun berpandangan bahwa darah penguasa itu terjaga dan tidak boleh ditumpahkan.Sedangkan ISIS berpandangan bahwa seluruh penguasa itu darahnya halal dan boleh ditumpahkan.

4)    Salafiyun tidak mengkafirkan para aparat muslim dan darah mereka terjaga.Adapun ISIS mengkafirkan dan menghalalkan darah para aparat muslim.

5)    Salafiyun mengatakan bahwa negeri-negeri muslimin saat ini adalah negeri-negeri Islam, sedangkan ISIS mengatakan bahwa seluruh negeri muslimin saat ini adalah negeri kafir.

6)    Salafiyun menegaskan bahwa upaya penyerangan atau pengeboman di negeri-negeri muslimin adalah kerusakan, bukan jihad yang sesuai syariat.Adapun ISIS menegaskan sebaliknya.

7)    Salafiyun mendoakan penguasa agar mendapatkan hidayah dan kebaikan untuk menjalankan syariat Allah.Berbeda sekali dengan ISIS yang mendoakan kebinasaan untuk penguasa.

8)    Salafiyun tidak membenarkan adanya demonstrasi, penggulingan atau revolusi menghadapi penguasa.Misi perjuangan salafiyun adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan kufur, syirik, bid’ah dan maksiat menuju cahaya iman, tauhid, sunnah dan ketaatan.Hal itu dengan jalan memberikan nasihat kepada rakyat dan penguasa, dakwah dengan hikmah, anjuran, larangan dan diskusi.Perjuangan Salafiyun bukan dengan mengumpulkan suara, simpatisan sebanyak-banyaknya atau kursi pemerintahan.Adapun ISIS berjuang untuk menggulingkan penguasa dengan demonstrasi dan revolusi penggulingan penguasa adalah kewajiban syar’i menurut mereka.ISIS menilai Salafiyun yang mengajak manusia menuju tauhid dan sunnah Nabi serta menjaga keamanan negara merupakan bentuk Murji’ahnya Salafiyun, penelantaran dan penghambaan kepada penguasa.

9)    Salafiyun beriman bahwa syariat jihad itu tetap berlaku hingga hari kiamat, namun dengan terpenuhinya syarat, konsekuensi dan hilangnya penghalang.Syarat jihad adalah kemampuan, kemandirian dan selamat dari kerugian yang lebih besar.Konsekuensi jihad adalah berlangsungnya dakwah ke jalan Allah.Penghalang jihad adalah kelemahan, ketergantungan umat Islam kepada pihak lain dan timbulnya kerugian lebih besar atau hilangnya kebaikan jika ditegakkan jihad.Adapun ISIS berpandangan bahwa maksud jihad itu tetap berlaku hingga hari kiamat adalah perang tidaklah berhenti.Atas dasar ini, jika mereka tidak menjumpai orang kafir yang memerangi muslimin, maka mereka pun memerangi orang Islam atau orang kafir yang terikat perjanjian dengan penguasa muslim.

10) Salafiyun mengajak manusia untuk menaati penguasa dan tidak memberontaknya.Jama’ah yang syar’i adalah bersatunya kaum muslimin di atas Islam di bawah kepemimpinan penguasa muslim.Sedangkan ISIS mengajak manusia untuk menaati amir (pemimpin) ISIS dan memberontak penguasa negeri-negeri Islam.Jama’ah menurut ISIS adalah jama’ah mereka.Barangsiapa tidak bergabung dengan jama’ah ISIS, maka halal darahnya.

11) Salafiyun mengharamkan pembunuhan terhadap orang kafir mu’ahad (mengikat perjanjian keamanan dengan penguasa muslim) atau kafir musta’min (meminta suaka keamanan dengan penguasa muslim saat terjadi peperangan antara negara muslim dangan negara kafir).Sedangkan ISIS menghalalkan darah mereka dan mewajibkan membunuh mereka.

12) Salafiyun menyatakan bahwa undang-undang buatan manusia itu ada 2 macam, yaitu :

a)    Undang-undang yang bertentangan dengan hukum Allah.Maka ini harus ditinggalkan dan pemilik UU ini bisa dihukumi kafir, zalim atau fasik sesuai dengan keyakinan yang ada pada pemilik UU tersebut.

b)    Undang-undang yang tidak bertentangan dengan hukum Allah demi ketertiban rakyat dan negara.Maka yang demikian justru ditaati, bukan termasuk hukum jahiliah.

     Adapun ISIS memandang bahwa semua undang-undang buatan manusia tanpa   terkecuali adalah jahiliah, kufur besar dan kesesatan.Pemilik UU adalah kafir.

13) Salafiyun menilai bahwa kerjasama duniawi antara negara Islam dengan negara kafir  tidaklah haram, selama tidak mengandung kesepakatan yang bertentangan syariat Islam.Seiring itu, mereka menilai bahwa mendukung negara kafir untuk memerangi Islam dan muslimin adalah kekufuran.Adapun ISIS mengharamkan segala bentuk kerjasama antara negara Islam dengan negara kafir.Mereka memandang bahwa kerjasama seperti itu merupakan pintu dukungan kepada musyrikin dan kerjasama seperti itu adalah kekufuran.

14) Salafiyun membolehkan berbuat baik kepada orang kafir yang tidak memerangi atau menzalimi kaum muslimin.Sedangkan ISIS tidak membolehkan berbuat baik dan adil kepada orang kafir secara mutlak.

15) Salafiyun menempatkan kaidah “barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu terhadap kekafirannya, maka dia adalah kafir” pada orang yang memang asalnya sudah kafir atau orang yang sudah murtad.Adapun orang yang asalnya muslim lalu terjatuh dalam sebuah kemaksiatan atau kekufuran, maka dirinya tidak langsung dikafirkan.Atas dasar ini, orang yang tidak mengkafirkan orang yang asalnya muslim tadi tidaklah dikafirkan.Kaidah di atas tidak diterapkan pada seorang muslim yang tidak mengkafirkan orang yang dikafirkan Khawarij tanpa hak.Adapun ISIS mengkafirkan siapa saja yang tidak mengkafirkan orang yang telah mereka kafirkan.

16) Salafiyun tidak membalas orang Islam yang mengkafirkan mereka dengan vonis kekafiran pula.Salafiyun tidak membalas kesalahan dengan kesalahan atau vonis kafir dengan vonis kafir.Salafiyun membantah sebuah kebid’ahan dengan sunnah Nabi, kesalahan dengan kebenaran, kezaliman dengan keadilan dan kemaksiatan dengan ketaatan.Salafiyun senantiasa menjaga rasa takut kepada Allah terkait orang-orang yang menzalimi mereka.Sebaliknya, ISIS mengkafirkan Salafiyun, mengatakan bahwa Salafiyun itu telah murtad dan halal darahnya.

17) Salafiyun adalah sebab keamanan dan ketentraman.Mereka mengarahkan orang-orang yang semangat membela Islam, agar membela dan menolong Islam dengan manhaj (metode) Nabi.Adapun ISIS adalah sebab kekacauan dan kejelekan.Mereka memprovokasi anak-anak muda untuk menumpahkan darah dan mengajari bagaimana menumpahkan darah.

18) Salafiyun berjalan dengan bimbingan para ulama yang terpercaya, dalam ilmunya, tersohor dan berpengalaman.Sedangkan ISS dibimbing oleh orang-orang yang tidak dikenal agamanya.

19) Salafiyun menebarkan bimbingan dan kasih sayang kepada umat.Mereka adalah pihak yang paling mengerti tentang Allah dan paling sayang kepada makhluk.Sebaliknya ISIS datang dengan menyembelih manusia dan ISIS adalah orang yang paling kasar kepada manusia.

20) Salafiyun memberi manfaat kepada manusia, menggambarkan Islam dengan keindahan dan menjadikannya dicintai oleh manusia.Sedangkan ISIS menjelekkan citra Islam dan menjadikan Islam dibenci oleh manusia.

21) Misi utama Salafiyun adalah mengenalkan umat manusia terhadap Allah (tauhid) dan menjauhkan  manusia dari segala bentuk kesyirikan.Adapun misi utama ISIS adalah mengajak manusia untuk menggulingkan pemerintah.

22) Salafiyun mendekatkan kaum muslimin kepada para sahabat Nabi dan para ulama yang terbimbing.Sedangkan ISIS mendekatkan kaum muslimin kepada para pemikir berpemahaman Khawarij, sekalipun menisbatkan diri kepada Salafiyah.Sesungguhnya salaf (pendahulu) mereka adalah Khawarij, bukan salaf yang shalih dari kalangan para sahabat, para tabi’in dan para atba’ut tabi’in.

23) Dakwah salafiyah akan menjadikan Islam dan kaum muslimin meraih kejayaan di hadapan orang-orang kafir dan musyrik.Adapun dakwah ISIS justru menjadikan muslimin terhina, orang-orang kafir berjaya dan membuka jalan bagi orang-orang kafir untuk menjajah negara-negara Islam.

( Poin-poin di atas adalah sebagian poin yang disebutkan oleh asy-Syaikh Dr.Abdul Lathif bin Ahmad al-Kurdi hafizhahullah di situs www.sahab.net dengan beberapa penyesuaian )

Wallahu a’lamu bish-Shawab

 

 

Hukum Seputar Sutroh/Pembatas Shalat

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Hukum Seputar Sutroh/Pembatas Shalat

Definisi Sutroh : sesuatu yang terletak di depan orang yang shalat dan berfungsi mencegah lewatnya orang atau hewan di depannya[1].

Dari definisi di atas nyatalah bahwa fungsi sutroh ini sangat terkait dengan perwujudan khusyu’ yang ini merupakan ruh ibadah shalat itu sendiri. Dengan sutroh, akan mencegah orang lalu lalang di depannya mengganggu shalatnya dan juga seorang yang shalat akan lebih mudah memfokuskan pandangannya sehingga tidak menoleh ke kanan atau ke kiri.

Fungsi lain dari sutroh adalah memberikan kelonggaran bagi orang yang ingin lewat di depan orang yang shalat tanpa khawatir terkena dosa dengan cara lewat di luar sutroh. Namun, jika dia lewat di dalam sutroh ( melewati antara orang yang sedang shalat dengan sutroh ) maka dia berdosa dan terkena ancaman dalam hadits

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيْ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

Seandainya orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat mengetahui dosa yang ditanggungnya [ dengan lewatnya itu ] maka lebih baik baginya berdiri selama empat puluh (HR. al-Bukhari dan Muslim)