Cinta Negara Dalam Tinjauan Agama Kita

Cinta Negara Dalam Tinjauan Agama Kita

            Asy-Syaikh Muhammad Ali Farkus hafizhahullah mengatakan : “Yang semestinya diketahui bahwa cinta negara merupakan fitrah dan tabiat pada manusia.Cinta negara keberadaanya seperti cinta kepada diri sendiri, ayah, harta, makanan, kendaraan dan semisalnya.Bukanlah cinta negara (secara zatnya) termasuk dari keimanan, baik dari sisi kandungan maupun konsekuensi iman.Buktinya adalah berkumpulnya manusia di negara tersebut tanpa ada perbedaan antara orang yang bertakwa dan beriman dengan orang kafir, fasik dan bermaksiat.Padahal konsekuensi iman, justru kita membedakan antara orang yang beriman dengan orang kafir, orang yang bertakwa dengan orang jahat.Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat Al Qur’an, yaitu firman Allah Ta’ala (artinya) : “Apakah orang yang beriman itu sama dengan orang yang fasik ?! Tentu mereka tidaklah sama”.(As Sajdah : 18)

            Firman-Nya Ta’ala (artinya) : “Apakah patut Kami (Allah) menyamakan antara muslimin dengan orang-orang jahat ?! Bagaimana kalian ini mengambil hukum ?!” (Al Qalam : 35-36)

            Firman Allah Ta’ala (artinya) : “…Apakah patut Kami (Allah) menyamakan orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang jahat ?!”(Shad : 28)

            Firman-Nya Ta’ala (artinya) : “Apakah patut orang-orang yang berbuat dosa itu menyangka bahwa Kami (Allah) akan menjadikan mereka dengan orang-orang beriman dan beramal salih, baik ketika hidup maupun mati itu sama ?! Betapa buruknya apa yang mereka sangka”.(Al Jatsiyah : 21)

            Inilah…Sedangkan bersandar kepada hadits (artinya) : “Cinta negara adalah bagian dari iman” untuk beralasan bahwa cinta negara merupakan konsekuensi iman tidaklah tepat dilihat dari sisi makna maupun sanad hadits.Sebab, hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu) yang dibuat-buat atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, sebagaimana pernyataan para ulama pakar hadits.

            Adapun pendalilan dengan ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam terkait keutamaan kota Makkah (artinya) : “Demi Allah, sesungguhnya engkau (kota Makkah) benar-benar bumi Allah terbaik dan paling dicintai oleh-Nya.Demi Allah, kalau seandainya aku tidak diminta keluar darimu, niscaya aku tidak akan keluar”, maka hadits ini tidaklah menunjukkan bahwa cinta negara itu bagian dari keimanan.Sebab, kecintaan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam kepada kota Makkah bukanlah karena zatnya tempat, namun karena Makkah adalah sebaik-sebaik tempat di sisi Allah Ta’ala.Ini jelas ditunjukkan oleh hadits riwayat at-Tirmidzi (artinya) : “…dan bumi Allah yang paling dicintai oleh-Nya”.Ini tampak dengan keberadaan Makkah sebagai tempat ibadah dan haji.Di dalam Makkah ada ketakwaan hati ketika terdapat pengagungan syiar-syiar Allah.Allah berfirman (artinya) : “…dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu dari ketakwaan yang ada pada hati”.(Al Hajj : 32)…”

            Ketika asy-Syaikh Farkus hafizhahullah membawakan sebuah ayat (artinya) : “Katakanlah : “Jika ayah-ayah, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga kalian, harta yang telah kalian dapatkan, perdagangan yang kalian khawatir kerugiannya dan tempat tinggal, ternyata (itu semua) lebih kalian cintai dibanding Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan urusan-Nya.Allah  tidaklah memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.(At Taubah : 24), maka beliau mengatakan : “Hal-hal yang disebutkan di dalam ayat ini merupakan kecintaan yang merupakan tabiat.Namun kecintaan kepada ayah, anak, saudara, istri, keluarga ternyata disebutkan terlebih dahulu dibandingkan negara.Seseorang dengan tabiatnya justru rela meninggalkan negaranya dalam rangka menjaga dirinya sendiri, ayah, anak, saudara, istri, keluarga, harta dan perniagaannya.Hal ini sebagaimana diperintahkan secara syariat untuk berhijrah dari negara yang ia cintai secara tabiat menuju negara Islam, jika negaranya ternyata negara kafir, selama ia tidak sanggup menegakkan dan menampakkan agamanya.Tetap tinggal di negara kafir tersebut adalah tercela, kecuali bagi orang-orang lemah yang kehilangan daya upaya dan jalan (hijrah).Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Sesungguhnya orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan mereka berbuat zalim, maka para malaikat berkata : “Ada apa kalian ini ?” Mereka beralasan : “Kami adalah orang-orang lemah di muka bumi ini”.Para malaikat menukas : “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kalian dapat berhijrah padanya ?!”Maka tempat kembali mereka adalah neraka jahanam dan ia adalah sejelek-jelek tempat kembali.Kecuali orang-orang lemah dari kalangan pria, wanita dan anak yang memang tidak sanggup memiliki daya upaya dan jalan (hijrah).Mereka ini akan Allah maafkan dan Allah adalah Zat Yang Maha Pemberi Maaf dan Maha Pengampun”. (An Nisa’ : 97-99)

            Demikian pula seseorang diperintah untuk hijrah dari kampung penuh kemaksiatan dan dosa menuju kampung ketaatan dan lurus, sebagaimana kisah seorang ulama yang memerintah seseorang yang telah membunuh 99 jiwa agar berpindah ke kampung ketaatan.(Hal itu) dalam rangka menyempurnakan hijrahnya dia dari perbuata maksiat sekaligus wujud taubat dan kembalinya dia kepada Allah.Dengan itu, kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi didahulukan dibandingkan segala sesuatu.

            Allah ‘Azza Wa Jalla menyebutkan negeri dan tempat tinggal pada tingkatan akhir dilihat dari sisi keterkaitan hati seseorang dengannya.Ibnul Qayyim rahimahullah mengungkap rahasia penyebutan ini dengan ucapan beliau : “Lantas Allah menyebutkan tempat tinggal pada tingkatan ke-8 yang merupakan akhir tingkatan.Hal ini karena keterkaitan hati dengan negeri itu tingkatannya di bawah seluruh tingkatan sebelumya.Tempat tinggal-tempat tinggal itu keadaannya saling bermiripan.Kadangkala tempat tinggal ke-2 (baru,pen) itu mirip dengan tempat tinggal ke-1 (lama, pen) dari setiap sisi, bahkan lebih baik.Dari sini ada semacam penggantian.Adapun ayah, anak, kerabat dan keluarga tidaklah bisa tergantikan.Hati sekalipun cinta kepada tempat tinggalnya yang pertama, akan tetapi cinta kepada ayah, anak, istri tentu lebih besar…”

            Lalu beliau berkata : “Atas dasar ini, maka tidak boleh mendahulukan kecintaan kepada diri sendiri dengan mengabaikan hak ayah, anak, saudara dan istri.Tidak boleh pula kecintaan kita kepada mereka ternyata menyia-nyiakan hak Allah Ta’ala dan menyelisihi perintah-Nya.Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Dan orang-orang yang beriman itu lebih besar kecintaannya  kepada Allah…” (Al Baqarah : 165)…”

            Beliau juga mengatakan : “… maka persaudaraan nasab, suku, golongan maupun bangsa tidaklah bisa dipegang teguh seiring kuatnya ikatan agama yang merupakan satu-satunya ikatan yang ada antar manusia pada hari kiamat.Adapun ikatan selain itu pasti akan terputus.Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti ternyata berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti mereka, dan mereka pun melihat azab serta terputuslah segala hubungan antar mereka sama sekali”. (Al Baqarah : 166)…”

            Beliau berkata pula : “Kesimpulannya bahwa mencintai negara karena semata-mata faktor tanah,  tempat kelahiran atau semisal itu adalah kecintaan yang bersifat fitrah dan tabiat.Berkumpul padanya setiap penduduk yang lurus akidah, ibadah dan akhlaknya dengan penduduk yang menyimpang.Sebatas ini maka cinta negara bukanlah sebuah keimanan, kecuali jika mencintai negara karena adanya syiar, penegakan agama dan akhlak secara Islami padanya.Dengan adanya sebab ini, barulah menjadi cinta yang bersifat iman dan akan membentuk kecintaan dan kebencian yang tepat, loyal dan cinta kepada orang-orang yang beriman.(Hal ini) berdasar firman Allah Ta’ala (artinya) : “Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lainnya…” (At Taubah : 71)

            Juga firman-Nya Ta’ala (artinya) : “Muhammad adalah utusan Allah.Orang-orang yang bersamanya itu tegas terhadap orang-orang kafir dan saling mengasihi antar mereka sendiri…” (Muhammad : 29)

            Demikian pula firman-Nya Ta’ala (artinya) : “Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang”. (Al Maidah : 56)

            Jika ternyata negaranya adalah negara Islam, maka seorang muslim tidaklah membatasi kecintaannya kepada negara kelahirannya saja.Bahkan semestinya kecintaan dia mencakup setiap negara Islam, baik yang jauh maupun yang dekat.Maka wajib untuk menolongnya, menjaganya dan membelanya.Hal ini dikarenakan faktor kecintaan bersifat keimanan itu lebih luas cakupannya dibandingkan kecintaan bersifat kebangsaan yang sempit.Kaum mukminin adalah saudara di atas agama, saling mencintai, generasi akhir mengikuti generasi awal, saling mendoakan kebaikan, saling memintakan ampun, sejauh apapun negara, nasab keturunan dan zaman mereka.Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Dan orang-orang yang datang setelah mereka (sahabat Muhajirin dan Anshar) berdoa : “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan hati kami memiliki kedengkian terhadap orang-orang yang beriman.Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Penyantun dan Maha Penyayang”. (Al Hasyr : 10)

            Inilah…Barangsiapa yang beriman, maka wajib untuk mendahulukan akidah cinta dan benci sesuai syariat dibanding segala ikatan.Dan agar ia mengetahui bahwa persaudaraan iman itu dibangun di atas kerjasama yang sesuai syariat, jauh dari unsur golongan, arogansi, kebangsaan dan kesukuan.Hal ini berdasar firman Allah Ta’ala (artinya) : “…dan tolong menolonglah kalian di atas kebaikan dan takwa.Janganlah kalian tolong menolong di atas dosa dan permusuhan…” (Al Maidah : 2)

            (Wajib pula ia mengetahui) bahwa solidaritas Islami tidaklah sempurna kecuali berdiri di atas akidah tauhid, yang merupakan dasar pijak perjalanan dakwah seiring penanaman tauhid yang murni (kepada Allah semata) dan ‘ittiba’ (mengikuti Rasul).Sebab, tidak ada persatuan kecuali dengan tauhid dan ‘ittiba’.Inilah makna syahadatain.Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan jangnlah kalian sekali-kali meninggal dunia kecuali dalam keadaan kalian sebagai muslimin.Berpegang teguhlah dengan tali agama Allah seluruhnya dan janganlah berpecah belah.Ingatlah terhadap nikmat Allah atas kalian, yakni ketika kalian dahulu saling bermusuhan, lalu Allah lembutkan hati kalian sehingga kalian menjadi bersaudara dengan kenikmatan dari-Nya.Dahulu kalian berada di tepi jurang neraka lalu Allah selamatkan kalian.Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya kepada kalian agar kalian mendapatkan petunjuk”. (Ali Imran : 102-103)

            Sesungguhnya tauhid dan ‘ittiba’ adalah rahasia jaya dan kokohnya kaum muslimin.Allah Ta’ala tidaklah memuliakan suatu kaum jika mereka menjauhi sebab kemuliaan.Telah diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata : “Sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang Allah muliakan dengan Islam.Kami tidak akan dapat meraih kemuliaan dengan selain Islam”.Dalam riwayat lain : “Sesungguhnya kami dahulu adalah kaum yang tertindas.Lalu Allah muliakan kami dengan Islam.Sebesar apapun upaya kita meraih kejayaan dengan selain itu, maka justru Allah akan hinakan kita”…”

  (Dikutip dari sebagian artikel berjudul al-Wala’ al-Wathani Wa Tarsikhi Mabda’i “Hubbu al-Wathan Min al-Iman”, www.ferkous.com)  

             

Untaian Faidah Di Bulan Ibadah (3-Habis)

Untaian Faidah Di Bulan Ibadah (3-Habis)

Ketika Membaca Al Qur’an, Merasa Suaranya Bagus

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya : “Semoga Allah memberkahi anda.Ada pertanyaan lain, wahai syaikh yang utama. Seorang pendengar bernama Ummu Nizar berkata : “Kadangkala saya membaca Al Qur’an dalam keadaan saya dapati suara dan tartil saya bagus. Apakah ini termasuk sifat ‘ujub yang dapat menggugurkan (pahala, pen) amalan ?”

Beliau menjawab : Ini bukan termasuk ‘ujub yang dapat menggugurkan (pahala, pen) amalan.Bahkan sesungguhnya ini termasuk nikmat Allah yang seseorang boleh berbahagia karenanya. Allah telah menganugrahi suara dan cara membaca Al Qur’an yang bagus kepada dirinya. Sebagian manusia tidak jarang terhalang dari kenikmatan ini (suara bagus, pen), itu (cara membaca yang bagus, pen) atau keduanya. Sebagian manusia, suaranya buruk dan cara membacanya juga demikian. Diantara manusia ada pula yang kuat cara membacanya dan bagus suaranya. Ini tanpa diragukan lagi adalah kenikmatan Allah kepada hamba-Nya. Hendaknya dirinya bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas (kenikmatan) ini. Bukanlah yang ini termasuk ‘ujub, jika ia melihat dirinya berada pada tingkatan yang baik ini”. (binothaimeen.net)

Mengucapkan Doa di Tengah Membaca Al Qur’an

Samahatu asy-Syaikh Ibnu Baz ditanya : “Sesungguhnya saya membaca Al Qur’an dan segala puji hanya milik Allah. Tatkala saya sampai pada ayat tentang sifat orang-orang yang beriman, maka saya berdoa kepada Allah agar menjadikan diriku termasuk mereka. Tatkala saya sampai pada ayat tentang sifat orang-orang kafir dan munafiqin beserta tempat kembalinya mereka, maka aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadikanku termasuk mereka. Apakah setelah doa, mengharuskan diriku untuk membaca basmalah dari awal ataukah melanjutkan bacaan tanpa basmalah ? Apakah memotong bacaan ayat untuk berdoa itu boleh ? Berikanlah faidah kepada kami, maka Allah akan memberikan faidah kepada anda.”

Beliau menjawab : Ini boleh. Ini dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Di dalam shalat tahajjud beliau ketika melewati ayat ancaman, maka beliau berlindung kepada Allah. Jika melewati ayat rahmat, maka beliau memohon rahmat kepada Rabb-nya. Tidak mengapa hal ini. Bahkan, ini adalah perkara yang disunnahkan di dalam shalat tahajjud, shalat sunnah siang hari atau membaca Al Qur’an di luar shalat. Ini adalah sunnah. Tidak perlu engkau mengulangi bacaan basmalah dan tidak pula ta’awudz. Akan tetapi anda mengucapkan doa lalu melanjutkan bacaan Al Qur’an tanpa mengulangi ta’awudz dan tidak pula basmalah. Ini semuanya tatkala anda shalat sunnah sendirian.

Adapun jika anda berada di shalat wajib, maka tidak sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bahwa beliau melakukan hal itu. Demikian pula jika anda bersama imam, maka anda diam karena bacaan imam dan jangan mengucapkan doa dalam keadaan imam membaca ayat. Anda diam dan mendengar dalam shalat jahriyah (shalat yang dibaca keras, pen). Adapun shalat sirriyah (shalat yang dibaca lirih, pen), maka anda membaca Al Fatihah dan apa yang mudah dari ayat Al Qur’an tanpa mengucapkan doa di atas yang (memang boleh) diucapkan pada shalat sunnah. Hal ini dikarenakan Rasul Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak pernah melakukan hal itu pada shalat wajib. Tampaknya wallahu a’lam sebabnya untuk meringankan manusia dan tidak memperpanjang bacaan…” (www.binbaz.org.sa)

Bolehkah Seorang Ayah Mengeluarkan Zakat Fithri Atas Nama Anaknya Yang Sudah Bergaji Tetap ?

Berkenaan masalah ini, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyebutkan bahwa pada asalnya, masing-masing orang dikenai kewajiban membayar zakat fithri. Namun jika ada seseorang rela jika ayah, kakak atau suaminya mengeluarkan zakat fithri atas nama dirinya, maka tidaklah mengapa sekalipun dirinya memiliki gaji tetap. (Diringkas dari Fatawa Fi Ahkam az-Zakah hal.261-262)

Bolehkah Memberi Zakat Fithri atau Zakat Mal (Harta) Kepada Kerabat ?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu diketahui bahwa zakat fithri berbeda dengan zakat mal (harta), sekalipun keduanya sama-sama wajib. Salah satu perbedaannya adalah : Kalau zakat fithri dibayar oleh orang yang berzakat secara serempak di akhir Ramadhan. Adapun  zakat mal dibayar oleh orang yang berzakat tidak secara serempak, karena masing-masing orang yang berzakat berbeda awal mula waktunya tatkala hartanya mencapai nishab. Ada seseorang yang membayar zakat mal di bulan Muharram karena awal mencapai nishab hartanya adalah bulan tersebut pada 1 tahun sebelumnya dan nishabnya tidak berkurang selama 1 tahun. Ada pula orang lain membayar zakat malnya di bulan Shafar, Syawwal, Dzul Qa’dah dan seterusnya.

Kembali kepada pertanyaan di atas, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin memberikan faidah terkait permasalahan memberi zakat fithri atau zakat mal kepada kerabat, yaitu :

1)  Jika kerabat itu adalah pihak yang wajib diberi nafkah oleh orang yang berzakat, maka tidak boleh kerabat tersebut diberi zakat bila tujuan pemberian zakat adalah menggugurkan kewajiban memberi nafkah. Kerabat yang wajib diberi nafkah adalah kerabat yang apabila meninggal dunia, maka orang yang berzakat tadi termasuk ahli warisnya.

2)  Namun jika tujuannya bukan menggugurkan kewajiban memberi nafkah (seperti : membayarkan hutang kerabat yang memang tidak mampu), maka boleh kerabat tersebut diberi zakat.

3)  Jika kerabat yang dimaksud adalah pihak yang tidak wajib diberi nafkah (seperti : saudara kandung yang sudah memiliki anak), maka orang yang berzakat tadi boleh memberikan zakat kepadanya jika memang termasuk orang yang berhak menerima zakat. Zakat kepada pihak jenis ke-3 ini lebih utama dibandingkan zakat kepada orang jauh, karena terdapat unsur sedekah sekaligus silaturahim.

(Dirangkum dari beberapa fatwa beliau di dalam Fatawa Fi Ahkam az-Zakah)

Yang Menjadi Tolok Ukur Waktu Dikeluarkannya Zakat Fithri Adalah Waktu Sampainya Zakat Tersebut Kepada Yang Berhak Menerimanya

Diajukan sebuah pertanyaan kepada asy-Syaikh Ibnu Utsaimin : “Pada keadaan ini, apakah waktu dikeluarkannya zakat fithri dimulai dari waktu sampainya zakat tersebut kepada orang yang berhak menerimanya ataukah waktu dikeluarkannya zakat tersebut dari orang yang berzakat ? Yakni misalkan saya berada di kota Riyadh. Lalu saya serahkan zakat fithri kepada seseorang (sebagai wakil, pen) di luar kota, kurang lebih pertengahan bulan Ramadhan. Saya katakan kepada orang tersebut : “Ini adalah zakat fithri. Engkau serahkan zakat ini kepada orang yang berhak menerimanya di waktu wajib dikeluarkannya zakat fithri (yakni sebelum shalat ‘id, pen). Apakah yang seperti ini benar ?”

Lantas beliau menjawab : “Yakni jika anda menyerahkan zakat fithri kepada wakil anda di luar kota dan anda katakan (kepadanya) : “Ini adalah zakat fithri. Engkau keluarkan zakat tersebut pada waktunya”, maka (yang demikian) tidak mengapa. Yakni yang menjadi tolok ukur adalah sampainya zakat tersebut  kepada orang fakir di daerah manapun”. (binothaimeen.net)

Para pembaca rahimakumullah, seseorang boleh menyerahkan zakat fithri kepada wakilnya (seperti : panitia zakat yang ada di masjid-masjid yang tidak ditunjuk oleh pemerintah) sekalipun jauh-jauh hari sebelum ditunaikannya shalat Idul Fithri, asalkan niatnya sekedar menitipkan zakat tersebut dan berpesan agar diserahkan kepada orang yang berhak pada waktunya. Waktu diserahkannya zakat fithri kepada yang berhak menerimanya bisa hukumnya mubah (boleh), yaitu 1 atau 2 hari sebelum Idul Fithri. Bisa pula hukumnya wajib, yaitu sebelum ditunaikannya shalat Idul Fithri. Dengan demikian, wakil tadi tidak boleh menyerahkan zakat fithri kepada orang yang berhak menerimanya setelah ditunaikannya shalat Idul Fithri.

 Mengakhirkan Pengeluaran Zakat Mal Hingga Ramadhan

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya : “Menyerahkan zakat mal di Ramadhan apakah lebih utama dibanding bulan lainnya, seiring kewajiban berzakat jika telah memenuhi syarat-syaratnya ?”

Beliau pun menjawab : Yang wajib dalam berzakat adalah menyerahkannya jika telah berjalan 1 tahun, tidak menunggu Ramadhan. Jika seseorang ingin menyerahkannya di Ramadhan padahal telah berjalan 1 tahun sebelumya, maka hendaknya ia beristighfar kepada Allah Ta’ala atas keterlambatannya. Tidak mengapa ia memajukan zakat untuk tahun depan di Ramadhan (tahun ini). Ini ditinjau dari sisi waktu. Tidak diragukan lagi bahwa mengeluarkan zakat di bulan Ramadhan itu lebih utama. Namun kadangkala zakat dan sedekah di luar Ramadhan itu dapat menjadi lebih utama, karena orang-orang fakir lebih butuh dibanding mereka di bulan Ramadhan sebagaimana hal ini telah dikenal. Di Ramadhan, banyak sedekah dan zakat. Ada suatu kecukupan pada orang-orang fakir (di waktu Ramadhan, pen). Akan tetapi selain Ramadhan, orang-orang fakir jauh lebih butuh”. (binothaimeen.net)

Apakah Panitia Zakat Yang Bukan Bentukan Pemerintah Termasuk ‘Amil Zakat Yang Berhak Menerima Zakat Mal ?

‘Amil zakat yang disebutkan di dalam Surat At Taubah ayat ke-60 adalah pihak yang ditunjuk oleh pemerintah untuk memungut zakat dan melakukan perjalanan ke daerah-daerah yang terdapat orang yang wajib bayar zakat padanya untuk dipungut zakat darinya. ’Amil zakat adalah pihak yang memungut, menjaga dan mengatur zakat. Mereka diberi sebagian zakat yang terkumpul sesuai tugas mereka oleh pemerintah. Demikian makna keterangan yang pernah disampaikan oleh asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah.

Adapun panitia zakat yang sifatnya independen (bukan bentukan pemerintah), maka bukan termasuk ‘amil zakat sehingga tidak berhak menerima zakat mal. Panitia tersebut hanya bersifat wakil bagi orang yang berzakat. Demikian makna pernyataan yang sempat disampaikan oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah.

Hanya saja jika panitia tersebut termasuk pihak yang berhak menerima zakat karena sebab lain (seperti : fakir atau miskin), maka ia berhak menerima zakat mal.

Yang Sangat Kecil Tapi Sangat Besar

Melalui sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : “…maka jauhilah diri kalian dari neraka meskipun dengan separuh kurma…” (HR.al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini berbicara tentang sedekah sunnah. Separuh kurma ?! Sungguh sesuatu yang sangat kecil dan sedikit di mata kita ! Namun jangan sekali-sekali diantara kita meremehkan sebuah kebaikan sekecil apapun. Ternyata separuh kurma yang sangat kecil dan sedikit ini jika disedekahkan di jalan Allah, maka sungguh ia menjadi sebab sangat besar untuk seseorang selamat dari sesuatu yang besar dan dahsyat. Ya..tidak ada siksa yang lebih besar dan dahsyat dibandingkan neraka.Maka, kapan lagi kita bersedekah kalau bukan ketika kita hidup di dunia yang sangat singkat ini ?! Bersedekahlah walau sedikit sebelum sedekah dengan seluruh apa yang ada di muka bumi ini tidaklah bermanfaat untuk menebus neraka jika kiamat telah tiba ! 

Yang Singkat Tapi Lebih Baik

Antara terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar shadiq sebagai pertanda masuknya waktu shalat Subuh adalah waktu yang sangat istimewa jika bertepatan Lailatul Qadr. Satu malam yang sangat singkat, namun ia lebih baik dibandingkan 1000 bulan (kurang lebih 83 tahun) yang tidak ada padanya Lailatul Qadr. Manusia di zaman sekarang jarang yang usianya mencapai 83 tahun, apalagi sepanjang waktu itu ia gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Demikianlah…usia kita sangat pendek dan amal saleh kita sangat sedikit. Namun Allah mengetahui kelemahan kita dan memiliki kedermawanan yang luas. Dia Ta’ala menyediakan kesempatan yang sangat singkat berupa 1 malam saja, yang jika seorang muslim benar-benar beribadah bertepatan malam tersebut dan itu sebenarnya lebih ringan, maka itu lebih baik dibanding benar-benar beribadah selama 1000 bulan dan itu lebih berat yang tidak ada padanya Lailatul Qadr. Lailatul Qadr memang tidak bisa kita pastikan di malam keberapa ia berada. Namun Nabi menganjurkan kita untuk mencari di 10 akhir Ramadhan, terkhusus malam ganjilnya. Ini adalah perkara yang banyak diketahui kaum muslimin. Namun apakah kita sebagai kaum muslimin sekedar mengetahui tanpa berbuat ?! Kalau di malam yang penuh berkah ini kita masih saja tersibukkan dengan urusan duniawi menjelang lebaran dan belum terdorong berbuat baik, lalu kapan lagi hati kita terketuk ? Ingatlah lebaran itu hanya beberapa saat saja, sedangkan akhirat itu kekal abadi !

Wallahu a’lamu bish-Shawab

Untaian Faidah Di Bulan Ibadah (2)

Untaian Faidah Di Bulan Ibadah (2)

Hukum Menyajikan Makanan di Siang Ramadhan Kepada Orang Yang Telah Pikun

Samahatu asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah ditanya : “Di awal hari bulan Ramadhan yang penuh berkah, aku dikunjungi oleh seorang wanita lanjut usia yang umurnya sekitar 100 tahun. Kadangkala pikirannya berjalan normal dan kadangkala tidak. Beliau meminta aku untuk menyajikan kopi untuknya dan aku pun lakukan. Apakah aku mendapatkan dosa seiring aku telah beritahu beliau bahwa kita sedang di bulan Ramadhan ? Berikanlah faidah kepada kami. Semoga Allah memberikan faidah kepada anda.”

Maka beliau menjawab : “Jika tampak akalnya hilang dan telah memasuki kepikunan, maka tidak mengapa (disajikan makanan kepadanya ketika itu, pen), karena tidak ada kewajiban berpuasa baginya. Hadirnya sebagian akal pada wanita ini terhadap pembicaraan orang lain adalah sesuatu yang dapat dipastikan.Wanita ini tidak mengucapkan “demikian” dan “mereka belum memberiku demikian”. Kalau ucapan ini, maka tidaklah menunjukkan hadirnya akal dia.Kebanyakan orang yang umurnya mencapai 100 tahun itu tertimpa kepikunan dan perubahan akal. Jika tampak bagi anda bahwa akal orang tadi telah hilang dan tidak normal, maka tidak mengapa dirinya makan atau minum.Adapun jika tampak akalnya masih bersama dia tapi dia bermudah-mudahan (meninggalkan puasa, pen), maka jangan anda beri dia kopi atau selainnya. Anda jangan membantu dia dalam kebatilan.Allah berfirman (artinya) :  “Tolong menolonglah kalian di atas kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian tolong menolong di atas dosa dan permusuhan”. Orang yang meminta makanan di siang Ramadhan dalam keadan dia sehat dan termasuk kaum muslimin, maka tidak boleh diberi makanan, minuman dan rokok.Tidak boleh orang ini dibantu dia atas kebatilan.Adapun orang yang gila (pria maupun wanita) dan pikun (pria maupun wanita), maka mereka tidak mengapa (diberi makanan atau minuman, pen). Puasa telah hilang (kewajibannya) dari mereka.Wallahu al-Musta’an.Barakallahu Fikum”.(www.binbaz.org.sa)

Hukum Membuka Warung Makan di Siang Ramadhan

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “…maka orang kafir tidaklah kita tuntut dia untuk berpuasa. Akan tetapi kita larang dia untuk menampakkan makan dan minum di negara-negara muslimin. Ini adalah permasalahan yang wajib kita perhatikan. Tidak boleh membuka warung makan sekalipun untuk orang-orang kafir, terlebih untuk kaum muslimin tidak boleh warung tersebut dibuka di siang hari Ramadhan. Siapa saja diantara kalian melihat seseorang membuka warungnya di (siang) Ramadhan, maka wajib dilaporkan kepada pihak berwenang agar melarangnya. Jangan diberi kesempatan kepada orang kafir manapun untuk menampakkan makan atau minum di siang Ramadhan di negara-negara muslimin. Wajib untuk dicegah dari hal itu…”  (al-Liqa’ asy-Syahri ke-8, binothaimeen.net)

Seorang Istri atau Ibu Yang Sibuk di Bulan Ramadhan Memasakkan Buka Puasa Apakah Mendapatkan Pahala ?

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah ditanya : “Ada seorang saudari berkata : Wanita muslimah seringkali banyak dari waktunya berada di dapur, sibuk menyiapkan beragam makanan hingga luput memanfaatkan bulan ini. Wahai ya syaikh, adakah arahan untuk wanita ini ? Apakah ia mendapatkan pahala dalam menyiapkan makanan-makanan ini ?”

Maka beliau menjawab : Ya, dia mendapatkan pahala dalam perkara ini karena dia menyiapkan makanan bagi orang-orang yang berpuasa. Ini termasuk tolong menolong di atas kebaikan dan ketakwaan. Dia mendapatkan oahala dalam perkara ini. Tidaklah mesti memasak dan bekerja itu menghalangi dirinya dari membaca tasbih, tahlil, takbir dan membaca apa yang dia hafal dari Al Qur’an. Tidaklah memasak itu menghalanginya dari zikrullah ‘Azza Wa Jalla”. (www.sahab.net)

Para pembaca rahimakumullah, berkenaan menyiapkan hidangan di siang Ramadhan itu ada beberapa keadaan, yaitu :

1)  Menyiapkan hidangan untuk dimakan di siang hari Ramadhan oleh orang yang memang tidak wajib berpuasa, seperti : orang pikun atau gila. Ini boleh. Hukum ini berlaku juga bagi orang yang tidak boleh berpuasa, seperti : wanita haidh atau nifas dan orang yang diberi rukhshah (keringanan) untuk tidak berpuasa, seperti : musafir, orang lanjut usia yang memang tidak mampu lagi berpuasa, penderita sakit berat yang dimungkinkan sembuh atau tidak menurut medis, wanita hamil yang mengkhawatirkan janinnya atau wanita menyusui yang mengkhawatirkan bayinya.

2)  Menyiapkan hidangan untuk dimakan di siang hari Ramadhan oleh orang kafir atau muslim yang wajib berpuasa. Ini tidak boleh.

3)  Menyiapkan hidangan untuk dimakan di waktu buka oleh orang yang berpuasa. Ini  berpahala.

Berbuat Maksiat di Malam Ramadhan Mengurangi Pahala Puasa di Siang Hari ?

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya : “Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam (artinya) : “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan yang batil, perbuatan yang batil dan kesia-siaan, maka Allah tidak butuh terhadap perbuatan dia meninggalkan makan dan minum”. Apakah perkara-perkara yang tidak baik ini jika dilakukan di malam hari akan sama halnya dengan siang hari (dalam mempengaruhi pahala puasa, pen) ? Berikanlah faidah kepada saya.Semoga Allah memberikan faidah kepada anda”.

Beliau menjawab : “Yang dimaukan (dari hadits ini) adalah mengerjakan hal-hal yang tidak baik di siang hari, karena beliau bersabda : “…maka Allah tidak butuh terhadap perbuatan dia meninggalkan makan dan minum”. Apakah meninggalkan makan itu di malam atau siang hari ? Di siang hari. Jadi, jika seseorang berbuat maksiat di malam hari namun di siang hari berpuasa dengan menjaga dirinya (dari hal-hal yang tidak baik tadi, pen), maka hal itu tidak mempengaruhi (pahala, pen) puasanya. Sebab, kemaksiatan yang dia lakukan di malam hari tidaklah mempengaruhi (pahala) puasanya. Akan tetapi, bagaimanapun setiap manusia wajib menjauhi kemaksiatan. Jika hawa nafsunya membujuk dia berbuat maksiat, maka wajib meninggalkan (perbuatan tersebut) dan bertaubat saat itu juga”. (Jalsat Ramadhaniyah 20/14, Maktabah Syamilah)

Apakah Lebih Utama Bagi Wanita Untuk Shalat Tarawih di Rumahnya ?

Ditanyakan kepada asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : “Banyak dari kalangan wanita menunaikan shalat tarawih bersama jamaah pria di masjid. Apakah ini lebih utama baginya ataukah di rumah lebih utama ? Terkhusus banyak diantara mereka berkata : “Sesungguhnya ini (shalat tarawih di masjid, pen) termasuk perkara yang membantu dan memberi semangat mereka, terkhusus jika mereka tidak sanggup membaca dengan mushaf ?”

Maka beliau menjawab : “Shalat dia di rumah lebih utama. Akan tetapi jika shalat dia di masjid lebih menjadikan dirinya semangat dan khusyu’ serta khawatir jika shalat di rumah akan terbengkalai shalatnya, maka di sini bisa jadi shalat di masjid lebih utama. Sebab, keistimewaan ini (semangat, khusyu’ dan tidak terbengkalai, pen) terkait dengan zatnya ibadah, sedangkan rumah terkait dengan tempat ibadah. Keistimewaan yang terdapat pada zatnya ibadah itu lebih diperhatikan dibanding keistimewaan pada tempat ibadah.

Akan tetapi wajib bagi wanita jika keluar, agar keluar dengan menutup aurat, tidak berdandan dan memakai wewangian…”  (al-Liqa’ asy-Syahri ke-8, binothaimeen.net)

Membuka Shalat Tarawih Dengan 2 Rakaat Ringan

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya : “Apa pendapat anda tentang seorang imam yang membuka shalat bersama jamaahnya dengan 2 rakaat ringan dari 11 rakaat, benarkah perbuatan tersebut ?”

Beliau menjawab : “Perbuatan beliau ini tidak benar. Membuka shalat malam yang merupakan tarawih dengan 2 rakaat ringan tidaklah benar. Sebab, membuka shalat malam dengan 2 rakaat ringan hanyalah berlaku bagi orang yang (baru bangun) tidur. Sisi penjelasannya : Bahwa seseorang jika tidur, maka syathan mengikat tengkuknya dengan 3 ikatan. Jika bangun lalu membaca doa bangun tidur, maka terlepaslah 1 ikatan. Jika dia bersuci, maka terlepaslah ikatan ke-2. Jika dia shalat, maka terlepaslah ikatan ke-3. Oleh karena itu, lebih utama bagi seseorang yang shalat malam setelah tidur untuk membukanya dengan 2 rakaat ringan. Telah sahih sunnah tentang hal itu, baik dari ucapan maupun perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Adapun tarawih, maka ia ditunaikan sebelum tidur malam sehingga tidak dibuka dengan 2 rakaat ringan”. (binothaimeen.net)

Hukum Imam Membaca Ayat Al Qur’an Dengan Speaker Echo (Suara Menggema)

Pernah ditanyakan kepada asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah tentang pengeras suara yang memiliki echo (suara menggema) dalam shalat. Maka beliau menjawab : Aku berpandangan ini adalah haram, karena akan menjadikan bertambahnya 1 huruf atau lebih pada Al Qur’an. Ini tidak boleh.Wajib bagi para imam shalat untuk bertakwa kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Jangan mereka menjadikan Al Qur’an sebagai seruling seperti halnya seruling hiburan, bukan layaknya seruling keluarga Nabi Dawud. Seruling keluarga Nabi Dawud semata-mata adalah suara yang bagus. Adapun mereka menambahkan sistem pemantul suara pada (bacaan) Al Qur’an hingga huruf akhir panjangnya 3, 4 atau 5 huruf, maka ini demi Allah adalah pengubahan pada Al Qur’an dan ini tidak boleh…”  (Jalsat Ramadhaniyah 19/11, Maktabah Syamilah)

Doa Sebelum dan Sesudah Salam Witir

Termasuk bimbingan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dalam shalat witir adalah doa yang dibaca sebelum salam shalat witir. Doa tersebut bunyinya :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu, berlindung dengan pemaafan-Mu dari siksa-Mu dan berlindung dari azab-Mu. Aku tidak sanggup menghitung pujian terhadap-Mu.Engkau sebagaimana telah memuji diri-Mu sendiri”

 Adapun setelah salam witir, doanya adalah :

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ, سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ, سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

“Maha Suci Dzat Yang Maha Penguasa dan Maha Suci, Maha Suci Dzat Yang Maha Penguasa dan Maha Suci, Maha Suci Dzat Yang Maha Penguasa dan Maha Suci”  

Doa ini dibaca 3 kali dengan bacaan panjang dan yang ketiga kalinya dibaca keras, baik oleh imam, makmum (tidak berjamaah satu suara) maupun shalat witir sendirian.

Wallahu a’lamu bish-Shawab

Untaian Faidah Di Bulan Ibadah

Untaian Faidah Di Bulan Ibadah (1)

            Segala puji bagi Allah semata, untuk kesekian kalinya kita dipertemukan dengan bulan Ramadhan.Bulan yang penuh keutamaan, yang diantaranya disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam (artinya) : “Apabila tiba awal malam bulan Ramadhan, maka para syaithan dan jin jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tak satu pun dibuka, pintu-pintu surga dibuka dan tak satu pun ditutup.Penyeru berseru : “Wahai orang yang mencari kebaikan, kemarilah ! Wahai orang yang mencari kejelekan, berhentilah !” Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka.Keadaan seperti itu terjadi pada setiap malam hari”.(HR.at-Tirmidzi dan Ibnu Majah yang disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

            Jika telah bertemu dengan bulan yang mulia ini, kita pun memohon kepada Allah agar memberikan kekuatan dan kemudahan kepada kita untuk menjalankan beragam ibadah dengan sebaik-baiknya.Bekal ikhlas dan ‘ittiba yang keduanya dibangun di atas ilmu merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

            Para pembaca rahimakumullah, insya Allah mulai edisi ini kami akan mengetengahkan beberapa bimbingan seputar ibadah di bulan Ramadhan.Tidak ada harapan selain tulisan-tulisan yang kami angkat semoga memberikan manfaat bagi kami sekaligus segenap pembaca.

Orang Kafir Masuk Islam di Pertengahan Siang Hari Ramadhan

            Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya : “Apabila orang kafir masuk Islam di siang hari Ramadhan, apakah dia wajib menahan diri dari pembatal puasa di sisa hari yang ia masuk Islam ketika itu ?”

            Maka beliau menjawab : “Ya, wajib baginya untuk menahan diri dari pembatal puasa di sisa hari yang ia masuk Islam ketika itu, karena ketika itu dia termasuk orang yang diwajibkan berpuasa…”

            Dalam fatwa lain, beliau berkata : “…akan tetapi jika dia masuk Islam di pertengahan siang Ramadhan, apakah dia wajib menahan diri dari pembatal puasa dan membayar hutang (qadha’) di hari lain ? Wajib menahan diri dari pembatal puasa tanpa qadha’ ? Ataukah tidak wajib menahan diri dari pembatal puasa dan tidak pula qadha’ ? Dalam permasalahan ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.Pendapat yang kuat adalah wajib baginya menahan diri dari pembatal puasa tanpa qadha’.Wajib baginya menahan diri dari pembatal puasa karena dia telah termasuk orang yang wajib berpuasa.Tidak wajib qadha’ karena sebelum masuk Islam, bukan termasuk orang yang diwajibkan berpuasa…”(Fatawa Fi Ahkam ash-Shiyam hal.96 dan 97)

Wanita Haidh atau Nifas Telah Suci di Pertengahan Siang Hari Ramadhan

            Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya : “Apabila wanita haidh atau nifas suci di pertengahan siang Ramadhan, apakah dia wajib menahan diri (ketika itu juga, pen) dari pembatal puasa ?”

            Beliau menjawab : “Apabila wanita haidh atau nifas suci di pertengahan siang Ramadhan, maka dia tidak wajib menahan diri (ketika itu juga, pen) dari pembatal puasa.Boleh baginya makan dan minum, karena puasa dia (ketika itu juga, pen) tidak berfaidah sedikit pun baginya di kala wajib baginya mengqadha’.Ini adalah mazhab Malik, asy-Syafi’i dan satu riwayat dari Ahmad.Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyalllahu ‘anhu, bahwa beliau berkata : “Barangsiapa yang makan di awal siang, maka silahkan makan di akhir siang”.Yakni, barangsiapa yang memang diperbolehkan berbuka di awal siang, maka boleh baginya (melanjutkan) berbuka di akhir siang”.(Fatawa Fi Ahkam ash-Shiyam hal.99)  

Orang Yang Berbuka Karena Uzur Syar’i, Bolehkah Melakukan Pembatal-pembatal Puasa di Siang Hari Ramadhan ?

            Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya : “Barangsiapa yang berbuka di siang Ramadhan karena alasan yang dibenarkan syariat, apakah boleh dia makan dan minum di sisa hari itu ?”

            Beliau menjawab : Boleh baginya makan dan minum karena dia berbuka dengan alasan yang dibenarkan syariat.Jika dia berbuka dengan alasan yang dibenarkan syariat, maka hilang kehormatan siang Ramadhan baginya.Jadilah dia boleh makan dan minum.Berbeda halnya dengan seseorang yang berbuka di siang Ramadhan tanpa alasan syar’i , maka kita mewajibkan dia untuk menahan diri dari pembatal puasa, sekalipun tetap baginya mengqadha’.Wajib memperhatikan adanya perbedaan antara 2 permasalahan ini”.(Fatawa Fi Ahkam ash-Shiyam hal.100)

            Tentu saja orang yang berbuka di siang hari Ramadhan dengan alasan syar’i tetap diwajibkan mengqadha’ di hari lain luar Ramadhan.

Seorang Musafir Telah Berniat Buka di Siang Ramadhan Namun Tidak Mendapati Sesuatu Untuk Buka Lalu Melanjutkan Puasanya

            Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya : “Seorang musafir dalam keadaan masih berpuasa di Ramadhan telah berniat buka.Ternyata dia tidak menjumpai sesuatu untuk buka lalu mengubah niatnya dan menyempurnakan puasanya hingga Maghrib.Apakah puasanya sah ?”

            Beliau menjawab : Puasanya tidak sah.Wajib baginya qadha’, karena tatkala dia telah berniat buka, maka dia (dinyatakan, pen) berbuka.Adapun kalau dia mengatakan : “Jika aku menjumpai air, maka aku akan minum.Jika tidak, maka aku tetap puasa.Ternyata dia tidak menjumpai air.Maka kalau yang ini puasanya sah, karena dia tidak memutuskan niatnya.Dia sekedar berbuka terkait adanya sesuatu  untuk buka.Ternyata sesuatu untuk buka tidak dijumpai.Maka dia tetap berada pada niat semula”.(Fatawa Fi Ahkam ash-Shiyam hal.183)

Bolehkah Berbuka Sebelum Berangkat Safar (Perjalanan) ?

            Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya : “Jika seseorang akan berangkat safar pada jam 09.00 Ramadhan, apakah boleh baginya berbuka di hari itu sejak awal pagi hari ?”

            Maka beliau menjawab : “Telah sahih dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bertekad untuk safar.Lalu beliau mempersiapkan safar, mengenakan pakaian safar dan makan sebelum safar.Sebagian sahabat beliau bertanya : “Apakah ini sunnah (bimbingan Nabi, pen) ?”Maka beliau menjawab : “Ya, sunnah”.Telah datang riwayat dari Abu Bashrah al-Ghifari semisal itu.Maka tidak mengapa hal itu.Jika dia bersabar hingga keluar safar, maka itu lebih terjaga.Jika dia bersabar hingga keluar safar, maka itu lebih terjaga…”(www.binbaz.org.sa)

Musafir Telah Berbuka Di Siang Ramadhan Apakah Boleh Melakukan Pembatal-pembatal Puasa Jika Telah Kembali Ke Tempat Tinggalnya Sebelum Waktu Maghrib ?

            Al-Lajnah ad-Daimah ditanya : “Musafir berbuka dalam perjalanannya dan tatkala sampai di tempat tinggalnya, apakah dia menahan diri dari pembatal puasa ataukah tidak mengapa makan ? Apa dalilnya ?

            Maka al-Lajnah menjawab : “Berbuka ketika safar adalah keringanan yang Allah jadikan sebagai keleluasaan bagi hamba-hambaNya.Apabila telah usai sebab diberlakukannya keringanan, maka hilang pula keringanan ketika itu pula.Maka barangsiapa yang telah sampai ke kampungnya di siang hari dari safar, maka wajib dia menahan diri dari pembatal puasa.Hal ini masuk dalam keumuman firman Allah Ta’ala (artinya) : “…Maka barangsiapa diantara kalian yang hadir (di tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka hendaknya dia berpuasa…”(Al Baqarah : 185)…”(Fatawa ‘Ulama’ al-Balad al-Haram hal.914)

            Adapun asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berfatwa berbeda dengan al-Lajnah.Beliau mengatakan bolehnya musafir yang telah tiba di kediamannya di siang hari Ramadhan untuk melakukan pembatal puasa.Menahan diri dari pembatal puasa tidaklah memberikan faidah baginya seiring kewajiban qadha’ baginya.Hanya saja janganlah dia berbuka secara terang-terangan di hadapan manusia.(Lihat Fatawa Fi Ahkam ash-Shiyam hal.99)

Orang Yang Meninggal Dunia Di Tengah Ramadhan

            Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya : “Bila seorang muslim berpuasa di sebagian Ramadhan lalu ia meninggal dunia pada sisa bulan, apakah wajib bagi walinya untuk menyempurnakan sisa puasanya ?”

            Maka beliau menjawab : Bila dia meninggal dunia di tengah Ramadhan, maka tidak wajib walinya untuk menyempurnakan sisa puasanya.Tidak pula membayar fidyah atas namanya.Hal ini dikarenakan orang yang telah meninggal dunia terputuslah (pahala) amalannya, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaih Wasallam bersabda (artinya) : “Jika manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah (pahala) amalannya, kecuali 3 amalan : Sedekah jariyah, ilmu yang dapat dimanfaatkan atau anak saleh yang mendoakan kebaikan bagi orang tuanya”.Atas dasar ini maka jika dia meninggal dunia, maka tidak diqadha’ atau dibayarkan fidyah atas namanya.Bahkan sekalipun dia meninggal dunia di pertengahan siang Ramadhan, tetap tidak diqadha’ atas namanya.(Fatawa Fi Ahkam ash-Shiyam hal.387)

Orang Yang Meninggal Dunia Tapi Belum Bayar Hutang (Qadha’) Puasa Ramadhan

            Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya : “Apa hukum seseorang yang meninggal dunia tapi masih memiliki hutang puasa bulan Ramadhan?”

            Beliau pun menjawab : Jika dia meninggal dunia dalam keadaan masih memiliki hutang puasa bulan Ramadhan, maka wali yang merupakan kerabatnya berpuasa atas nama orang yang meninggal dunia tersebut.Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan masih memiliki hutang puasa, maka walinyalah yang berpuasa atas nama orang yang meninggal dunia tersebut”.

            Jika walinya tidak berpuasa atas nama orang yang meninggal dunia tersebut, maka dapat dibayarkan fidyah atas namanya kepada orang miskin sebanyak hari yang ditinggalkan.(Fatawa Fi Ahkam ash-Shiyam hal.386)  

Sudah Membayar Fidyah Karena Sakit Yang Diperkirakan Tidak Dapat Sembuh Menurut Medis, Ternyata Sembuh di Sisa-sisa Ramadhan

            Orang yang menderita penyakit berat yang diperkirakan tidak dapat sembuh menurut keterangan medis, diwajibkan membayar fidyah berupa makanan yang mencukupi untuk 1 kali makan sebanyak hari yang dia tidak berpuasa padanya.Lalu bagaimana jika dia telah membayar fidyah, ternyata setelah itu (dengan kehendak Allah) dia sembuh ?

            Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya : “Jika seseorang ternyata sembuh dari sakitnya yang telah divonis para dokter mustahil sembuh, dan itu terjadi setelah beberapa hari Ramadhan, maka apakah dia dituntut untuk mengqadha’ puasa ?”  

            Beliau menjawab : “Jika seseorang berbuka di Ramadhan karena sakit yang tidak ada harapan sembuh menurut kebiasaan atau keterangan dokter yang dapat dipercaya, maka yang wajib baginya adalah memberi makan kepada orang miskin di setiap harinya.Jika dia telah melakukan hal itu dan ternyata Allah takdirkan dia sembuh, maka tidak wajib berpuasa sesuai hari yang dia telah membayar fidyah atasnya.Hal ini dikarenakan tanggungan dia telah tuntas dengan membayar fidyah sebagai pengganti puasa…”(Fatawa Fi Ahkam ash-Shiyam hal.127)

Wallahu a’lamu bish-Shawab