Jangan Memakan Harta Orang Lain Dengan Cara Yang Batil

Jangan Memakan Harta Orang Lain Dengan Cara Batil !
Para pembaca rahimakumullah, kebutuhan manusia yang makin meningkat diiringi munculnya gengsi pribadi seringkali mendorong manusia untuk melanggar norma – norma syariat dalam mencari rezeki. Padahal, Islam telah mengatur bagaimana manusia seharusnya mencari nafkah yang halal dan menjauhi yang haram karena dikhawatirkan menimbulkan dampak negatif, baik untuk pribadi maupun masyarakat. Allah berfirman (artinya) : “Wahai orang – orang yang beriman, janganlah sebagian kalian memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil. Kecuali dengan cara perniagaan yang ada saling keridaan diantara kalian…” (Surah An-Nisa’ : 29)
Beberapa pelajaran yang bisa diambil dari ayat ini :
• Penyebutan secara khusus larangan memakan harta sesama kita disini mencakup segala jenis perbuatan dan tindakan mengambil hak/harta sesama dengan cara yang batil. Sengaja diungkapkan disini dengan istilah “memakan” karena makan merupakan sisi yang paling dominan terkait manfaat harta (silakan dirujuk ke Tafsir al-Alusi).
• Cara batil disini adalah segala cara yang Allah haramkan, seperti : riba, judi dan sebagainya. Termasuk pula memakai berbagai makar dan tipu daya yang terlarang. Termasuk diantaranya juga dengan cara mencuri dan merampas. Bahkan, bisa jadi termasuk di dalamnya adalah seorang memanfaatkan hartanya sendiri secara berlebihan dan melampaui batas (lihat Tafsir as-Sa’di).
• Definisi perniagaan (tijarah) –sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam as-Sa’di rahimahullah – adalah suatu nama yang mencakup segala sesuatu yang ditujukan untuk mencari keuntungan dan usaha.
• Hukum asal tijarah adalah halal dan mubah yang ini mencakup berbagai jenisnya :
 تجارة الإدارة : terjadi tukar menukar langsung di tempat.
 تجارة التربص : membeli barang kemudian menunggu waktu dan musim yang tepat ketika harga sudah naik untuk dijual kembali.
 تجارة الديون : mencakup sistem salam dimana uang diserahkan di muka dan barang belakangan atau sebaliknya, barang diserahkan di muka dan uangnya menyusul.
 تجارة الإجارات : sewa menyewa alias jual beli manfaat barang dan mempertahankan wujud barangnya
• Al-Hafizh al-Qurthubi rahimahullah mengatakan bahwa segala jenis tukar menukar dikategorikan ke dalam perdagangan, apapun benda yang menjadi alat tukar menukar. Tidak masuk ke dalamnya : akad yang tidak mengikat dan tidak ada unsur tukar menukar, seperti : hutang, sedekah dan hibah yang tidak mengharapkan balasan dari manusia (lihat Tafsir al-Qurthubi).
• Diantara syarat sah jual beli adalah kerelaan/keridaan dari kedua pihak.
• Barangsiapa dipaksa melakukan akad atau membatalkan suatu akad yang telah terjadi, maka yang demikian tidak sah.
• Dikecualikan dari keadaan ini, seseorang yang dipaksa untuk melakukan suatu akad dengan sebab pemaksaan yang sesuai syar’i. Yang demikian ini boleh, seperti : seseorang yang dipaksa untuk menjual hartanya demi menutupi hutangnya. Atau, seseorang yang dipaksa untuk membeli sesuatu demi memenuhi kewajibannya dalam memberikan nafkah.
• Diantara bentuk bolehnya memaksa seseorang menjual hartanya ialah harta yang dimiliki dua orang atau lebih dan harta tersebut tidak mungkin dijual per-bagian, harus dijual utuh. Jika sebagian pemilik tersebut berkehendak untuk menjual bagian miliknya sedangkan pemilik lain tidak mau menjual bagiannya, maka dalam hal ini boleh terjadi pemaksaan kepada pemilik yang tidak mau menjual bagiannya menjual bagiannya sehingga harta yang dimiliki bersama itu bisa dijual secara utuh (silakan dirujuk ke kitab al-Qawa’id Wa al-Ushul al-Jami’ah).
• Akad jual beli sah dan tidak disyaratkan harus berupa ucapan atau tindakan tertentu, selama maksud dari kedua pihak bisa diketahui, karena yang menjadi patokan adalah rida keduanya.
• Transaksi tanpa tatap muka penjual dan pembeli sah hukumnya, baik melalui SMS maupun yang lain, termasuk sistem online, selama ada keridaan dari kedua pihak. Hukum asal transaksi online boleh, kecuali pada beberapa barang yang berlaku hukum riba dan beberapa sistem yang perlu dicermati ketika melakukannya, seperti : reselling dan dropshipping.
Fenomena yang perlu kita perhatikan pula adalah transaksi jual beli pulsa via SMS, dimana penjual atau pembelinya berada di dalam masjid. Yang demikian ini masuk dalam larangan jual beli di dalam masjid.
• Jika seseorang menjual barangnya hanya karena malu kepada pembeli dan pembeli mengetahuinya, maka tidak sah dan pembeli tidak boleh meneruskan transaksi.
• Diantara kesempurnaan syariat Islam terkait masalah kerelaan dalam jual beli adalah masalah khiyar (pilihan meneruskan atau membatalkan akad jual beli).
• “Barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan”. Kalimat semacam ini tidak bisa berlaku secara mutlak, seperti :
 Setelah akad yang disertai serah terima uang dan barang, pembeli ingin membatalkan jual beli alias mengembalikan barang. Dalam syariat, pembeli berhak melakukannya selama penjual dan pembeli belum berpisah Ini diistilahkan dengan khiyar al-majlis yang dimaksud dalam hadits : الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا
“Penjual dan pembeli masih memiliki hak khiyar (memilih) selama (raga keduanya) belum berpisah…” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
 Beberapa barang yang tersegel atau terbungkus dan kita tidak mungkin meneliti keadaan barang tersebut kecuali dengan membukanya, padahal penjual melarang membukanya kecuali setelah membelinya. Jika setelah dibeli ternyata didapati ada cacat yang besar kemungkinan atau bisa dipastikan sudah ada sebelum akad, maka pembeli berhak menuntut ganti rugi atau membatalkan akad. Yang demikian ini diistilahkan dengan khiyar al-‘aib.
• Masalah DP/persekot : uang muka dari suatu transaksi dimana jika pembeli melanjutkan jual beli maka dia tinggal menggenapkan sisa pembayaran. Adapun jika dia membatalkannya, maka uang muka menjadi milik penjual dan barang dikembalikan utuh.
Pendapat terkuat dalam masalah ini adalah bolehnya sistem tersebut dengan beberapa alasan, diantaranya : Tidak adanya dalil shahih yang melarang dan keumuman tentang wajibnya menepati syarat – syarat yang telah disepakati dalam suatu akad. Hanya saja, seandainya penjual mengembalikan DP tersebut tentu lebih utama walaupun bukan suatukewajiban.
Diperkecualikan dari bolehnya sistem DP adalah jual beli emas dan perak jika pembayarannya dengan menggunakan uang karena masuk dalam hukum riba sebagaimana akan dijelaskan di kesempatan lain insyaallah.
• Jika ada keridaan dari kedua pihak namun yang dilakukan keduanya merupakan muamalah yang haram dalam syariat, maka keridaan dari kedua belah pihak tidak mengubah hukum syariat tersebut. Yang demikian karena setiap muamalah yang haram berarti syariat tidak meridainya dan masuk dalam kategori memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Hal ini perlu diingat karena banyak pihak yang melakukan traksaksi riba dengan bank beralasan bahwa kedua pihak rida, bahkan sama – sama mengambil keuntungan.
• Diantara bentuk keridaan yang tidak teranggap dalam syariat adalah keridaan anak kecil yang belum mumayyiz atau orang yang kurang sehat akalnya. Jika demikian, maka wali dari keduanyalah yang bertindak atas nama mereka. Perlu diketahui bahwa diantara syarat sahnya jual beli : Pihak yang melakukan jual beli tergolong jaiz at-tasharruf (berakal dan rasyid alias bisa mendudukkan urusan sebagaimana mestinya).

Para pembaca rahimakumullah, berbicara mengenai berbagai sistem muamalah yang terlarang menuntut bahasan yang meluas. Namun, insyaallah disini kami ingin mengulas singkat beberapa sistem yang terlarang menurut syariat terlebih yang banyak beredar di masyarakat. Diantara sistem tersebut :

1) Bunga bank
Bunga bank jelas termasuk dalam kategori riba, baik untuk bunga simpanan biasa, deposito, ma atau yang lainnya maupun bunga pinjaman/kredit. Para ulama telah bersepakat tentang adanya unsur riba pada simpan pinjam yang ada pada perbankan modern, koperasi maupun bank – bank dalam skala kecil, semisal di lingkup RT dan sebagainya. Tentu yang kami maksud dengan ulama disini adalah ulama millah, para alim-ulama yang bersikap dan berfatwa sesuai syariat, bukan ulama daulah dan ulama ‘ummah yang berfatwa hanya untuk mengikuti selera penguasa yang menyimpang dan selera mayoritas rakyat.
Di sisi lain, penamaan riba dengan “bunga” termasuk upaya menipu umat dengan memberikan nama yang terkesan indah untuk sesuatu yang haram.
2) Bank Syariah
Yang dianggap sebagai solusi yang syar’i adalah keberadaan bank syariah yang bebas riba. Namun realitanya, bank syariah justru sebaliknya. Sistem yang ada di dalamnya tidak terbebas dari unsur riba, bahkan lebih parah karena tingkat bunga yang lebih tinggi. Walaupun di dalamya memakai berbagai istilah yang islami seperti : mudharabah, murabahah dan sebagainya, tapi prakteknya justru tidak sesuai dengan syariat. Dikhawatirkan penggunaan nama “ syariah “ justru menimbulkan kerancuan bagi mereka yang mendambakan sistem perbankan islami.
3) Sistem MLM (Multi Level Marketing)
Para ulama telah berfatwa haramnya sistem MLM karena mengandung berbagai unsur yang haram dalam syariat seperti :
– Mengandung dua macam riba sekaligus, riba fadhl dan riba nasaah. Anggota yang ikut sistem MLM membayar sejumlah tertentu-yang tidak begitu besar-dan mengharapkan jumlah yang berlipat. Maka, disini terkandung tukar menukar uang dengan uang disertai selisih nominal dan penundaan waktu.
– Unsur gharar (sesuatu yang tidak jelas akibat dan hasilnya) yang memang terlarang, karena orang yang masuk ke sistem ini tidak tahu apakah dia bisa mendapatkan downline hasil rekrutan anggota yang banyak sehingga bisa mendapatkan keuntungan besar ataukah tidak.
– Memakan harta manusia dengan cara yang batil disertai penipuan dan kecurangan, karena perusahaan MLM-lah yang mengambil keuntungan besar beserta segelintir orang sehingga banyak anggota lain yang tertipu. Barang yang dijual hanya dipakai sebagai kedok bukan maksud asal dari sistem dagang ini.
Adapun alasan bahwa keuntungan yang diperoleh melalui sistem ini tidak ubahnya seperti bagian seorang makelar adalah alasan yang tidak benar, karena kenyataannya tidak demikian.
Penutup
Masih banyak sistem jual beli (terlebih terkini) yang perlu kita pahami hukumnya sebelum kita terjun bergelut dengan perniagaan. Demikianlah, berilmu sebelum berucap dan bertindak. Sampai-sampai diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu mengutus seseorang agar mengusir dari pasar siapa saja yang tidak memahami fikih jual beli.
Faedah
Al-Qurthubi rahimahullah mengambil kesimpulan dari ayat yang menjadi topik bahasan kita bahwa di dalam ayat tersebut terdapat bantahan terhadap kalangan sufi tertentu yang mengingkari orang – orang yang berusaha dan bekerja mencari rezeki. Padahal, ayat di atas jelas membolehkannya. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Al-Balad

Tafsir Surah Al-Balad
Para pembaca rahimakumullah, oleh karena keterbatasan tempat di buletin ini, maka kami akan menyebutkan keterangan singkat pada beberapa ayat di surah yang mulia. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui tulisan singkat dan sederhana ini.
Ayat pertama (artinya) : “Aku (Allah) benar-benar bersumpah dengan negeri ini”.
Yang dimaksud dengan negeri ini adalah kota Makkah, sebagaimana dikuatkan dengan ayat lain (artinya) : “Dan demi negeri yang aman ini”. (Surah At-Tin). Penafsiran ini tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama padanya, sebagaimana ditandaskan oleh al-Hafizh al-Qurthubi, al-Alusi dan ‘Athiyyah Muhammad Salim rahimahumullah. Allah bersumpah dengan kota Makkah karena kemuliaan dan keutamaannya. Kota ini adalah kota yang paling agung di muka bumi ini. Inilah negeri yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Disebutkan di dalam hadits yang shahih dari Abdullah bin ‘Adi bin Hamra’ radhiyallahu ‘anhu, berkata : “Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam berdiri di atas Hazwarah (sebuah tempat di Makkah, pen) lalu berkata : “Demi Allah, engkau (Makkah) benar-benar bumi Allah yang paling baik dan paling dicintai oleh Allah. Kalau bukan karena aku diusir darimu, sungguh aku tidak akan keluar”.
Ayat kedua (artinya) : “Dalam keadaan engkau (Muhammad) berada di negeri ini”.
Keberadaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam di negeri ini menambah keutamaan padanya. Yang paling jelas adalah keberadaan Nabi di kota suci ini ketika itu menyebabkan tertahannya azab Allah kepada penduduk Makkah, sekalipun kebanyakan mereka merupakan kaum musyrikin. Allah berfirman (artinya) : “Dan Allah tidak akan mengazab mereka dalam keadaan engkau (Muhammad) masih berada di tengah mereka…” (Surah Al-Anfal : 33)
Ayat ke-2 ini dapat diterjemahkan : “Dalam keadaan engkau (Muhammad) dihalalkan di negeri ini”. Maksudnya : Nabi dihalalkan oleh Allah untuk menumpahkan darah kaum musyrikin di negeri tersebut pada peristiwa Fathu Makkah (Ditundukkannya Kota Makkah). Beliau pernah bersabda (artinya) : “Sesungguhnya negeri ini telah Allah haramkan di hari Dia menciptakan langit dan bumi. Negeri ini haram dengan kehormatan dari Allah hingga hari kiamat. Sesungguhnya tidak halal adanya peperangan di negeri ini bagi siapa pun sebelumku. Tidak halal pula bagiku kecuali suatu waktu di siang hari…” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Maka pada peristiwa Fathu Makkah, beliau sempat menumpahkan darah sebagian kaum musyrikin. Diantara yang beliau bunuh adalah Abdullah bin Khathal dan Miqyas bin Shubabah.
Berdasar penerjemahan ini, maka ayat ini berbicara tentang perkara yang terjadi di masa yang akan datang karena ayat ini adalah ayat Makkiyah, sedangkan peristiwa Fathu Makkah terjadi pada periode Madaniyah.
Ayat ketiga (artinya) : “Dan demi bapak dan anaknya”.
Yang dimaksud ayat ini adalah sumpah Allah dengan setiap bapak dan anaknya, baik dari kalangan manusia maupun binatang. Keduanya merupakan salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah Ta’ala.
Ayat keempat (artinya) : “Sungguh Kami (Allah) menciptakan manusia berada dalam susah payah”.
Ini adalah jawaban dari sumpah pada ayat ke-1 dan ke-3 di atas. Makna ayat ini : Bahwa manusia berada dalam susah payah manakala ditimpa musibah di dunia. Ini berlaku bagi setiap manusia, baik muslim maupun kafir. Di alam barzakh dan kiamat, manusia juga mengalami susah payah yang lebih berat. Ini tentu hanya dialami oleh orang kafir saja.
Ayat ke-4 ini juga dapat diterjemahkan dengan : “Sungguh Kami (Allah) menciptakan manusia dalam bentuk yang baik”. Namun seiring kenikmatan yang besar ini, manusia lalai dan tidak bersyukur kepada Allah. Maka Allah pun menegur mereka dengan ayat berikutnya.
Ayat kelima (artinya) : “Apakah manusia menyangka bahwa sekali-kali tidak ada sesuatu pun yang dapat menguasainya ?!”
Apakah manusia menyangka bahwa tidak ada satu pun yang dapat menguasai mereka, sampai pun Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu ?! Bukankah manusia itu hamba Allah yang tidak akan mungkin sekali-kali luput dari ketentuan Allah ?! Allah Maha Kuasa untuk menjadikan manusia tertimpa musibah hingga merasakan susah payah. Allah Maha Kuasa untuk menanyai manusia : Darimana ia mendapatkan harta dan untuk apa ia belanjakan ? Allah pun Maha Kuasa untuk membalas kemaksiatan mereka di dunia dan akhirat.
Ayat keenam (artinya) : “Dia (manusia) berkata : “Aku telah memusnahkan harta yang banyak”.
Dia (manusia) memusnahkan harta yang banyak untuk memenuhi syahwatnya dan kenikmatan sesaat di dunia. Diterjemahkan dengan “memusnahkan” karena membelanjakan harta di jalan keburukan akan mendatangkan kemusnahan, kerugian dan penyesalan bagi pemiliknya. Berbeda halnya dengan membelanjakan harta di jalan Allah, maka itu akan mendatangkan keuntungan berlipat ganda.
Ucapan manusia ini bisa dimungkinkan terjadi di dunia atau di akhirat. Di dunia, ia mengatakan ucapan ini dalam keadaan sombong dan melampaui batas. Di akhirat, ia mengatakan ucapan ini dalam keadaan menyesal dan itu sama sekali tidak bermanfaat baginya.
Ayat ketujuh (artinya) : “Apakah dia menyangka bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat melihatnya ?!”
Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata : “Apakah dia menyangka dengan perbuatannya ini bahwa Allah tidak melihatnya dan memperhitungkan sesuatu yang kecil dan besar ?! Bahkan Allah telah melihatnya, menguasai perbuatannya dan menugaskan para malaikat yang mulia untuk mencatat setiap apa yang ia perbuat, apakah itu kebaikan ataukah keburukan”. (Tafsir as-Sa’di)
Ayat kedelapan (artinya) : “Bukankah Kami (Allah) menjadikan untuknya 2 mata ?!”
Maksudnya : 2 mata yang manusia melihat sesuatu dengannya. Jika ia melihat sesuatu yang baik dan mendekatkan diri kepada Allah, maka ia meraih keberuntungan. Namun jika ia melihat sesuatu yang buruk, maka ia berdosa. Beratnya, penglihatan itu merupakan pintu terbesar yang menyampaikan sesuatu yang telah dilihatnya ke dalam kalbu (hati) manusia. Jika yang dilihat adalah kebaikan, maka kalbu akan sehat dan selamat. Namun jika yang dilihat adalah keburukan, maka kalbu akan sakit dan bahkan menjadi mati. Terlebih, Allah akan meminta pertanggungjawaban kita atas apa yang telah kita lihat kelak pada hari kiamat. Wallahu al-Musta’an.
Ayat kesembilan (artinya) : “1 lidah dan 2 bibir ?!”
Selain 2 mata, lidah dan bibir merupakan kenikmatan yang sangat agung. Kita jarang merenungi kenikmatan Allah ini. Padahal dengan kenikmatan ini, kita dapat berbicara baik sehingga orang memahami maksud kalbu kita. Bayangkan jika kita tidak memiliki kenikmatan ini, sedangkan orang jahat merampas harta atau menculik anak kita dalam keadaan kita menyaksikannya ! Dengan apa kita akan berteriak minta tolong kepada manusia ? Sungguh kenikmatan yang sangat berharga yang tidak bisa ditukar dengan harta semahal apapun. Belum lagi nikmat makanan dan minuman yang tidak mungkin lepas dari lidah dan bibir. Namun sayangnya, banyak diantara kita yang berbuat dosa dengan lidah dan bibir ini. Ditambah lagi dosa dengan kedua mata kita. Nastaghfirullah.
Ayat kesepuluh (artinya) : “Dan Kami (Allah) telah menunjukkan kepadanya 2 jalan ?!”
Maksudnya : Allah telah menjelaskan 2 jalan yang berbeda, yaitu : kebaikan dan kejelekan. Ini adalah nikmat agama dan tentu lebih besar nilainya dibandingkan nikmat mata, lidah dan bibir. Kenikmatan mengetahui perbedaan jalan kebaikan dan kejelekan dapat menyebabkan mata, lidah, bibir dan seluruh anggota tubuh akan terbimbing di atas ridha Allah.
Ayat kesebelas (artinya) : “Maka tidakkah (dengan harta) itu, dia menempuh jalan yang mendaki lagi sulit ?!”
Jalan yang mendaki saja sudah terasa berat, apalagi jika ditambah dengan kesulitan untuk melaluinya. Demikian ungkapan terhadap suatu amalan yang berat jiwa kita menitinya, padahal ia akan mengantarkan kita ke puncak kedudukan di sisi Allah. Tidak akan sanggup meniti jalan yang mendaki lagi sulit ini kecuali orang yang jujur niatnya dan penuh kesungguhan.
Ayat kedua belas (artinya) : “Tahukah engkau apa itu jalan yang mendaki lagi sulit ?”
Pertanyaan ini bermakna membangkitkan keinginan pendengar atau pembaca untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan jalan yang mendaki lagi sulit. Pertanyaan ini juga merupakan pengagungan terhadap perkara yang akan disebutkan.
Ayat ketiga belas (artinya) : “(Yaitu) membebaskan budak”.
Perlu diketahui bahwa perbudakan itu memang ada dalam Islam. Hanya saja perlu juga diketahui gambaran singkat berikut ini :
1) Sebab perbudakan hanya satu, yaitu : bersikukuhnya seseorang di atas kekafirannya tatkala ditawan dalam peperangan melawan kaum muslimin. Itu pun jika dipandang penguasa muslimin yang memimpin jihad ternyata yang lebih baik adalah ditebus atau bahkan dibebaskan, maka tawanan tersebut ditebus atau dibebaskan.
2) Ketika menjadi budak, ia harus diperlakukan dengan lembut, tidak boleh diberi pekerjaan melampaui batas kemampuan dan hendaknya diajak memeluk Islam. Islam sangat melarang melakukan kezaliman kepada budak.
3) Seiring dengan itu, Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk membebaskan budak. Salah satu anjuran tersebut adalah ayat ke-13 ini. Jika sebab perbudakan hanya satu, maka sebab pembebasan budak ternyata cukup banyak semisal : kaffarah (tebusan) sumpah, zhihar, jima’ di siang hari Ramadhan dengan ketentuannya dan membunuh jiwa yang tidak boleh dibunuh tanpa sengaja.
Penjelasan singkat ini setidaknya membantah pandangan orang kafir dan orientalis bahwa Islam haus terhadap perbudakan orang-orang bebas. Padahal, perbudakan sendiri juga ada pada orang-orang kafir sebelum datangnya Islam, semisal : Persia, Romawi, Babilonia dan Yunani bahkan dengan gambaran yang sangat buruk / keji.
Adapun makna “membebaskan budak” dalam ayat ini ada 2 macam :
1) Membebaskan budak miliknya sendiri atau membeli budak orang lain lalu membebaskannya.
2) Menebus budak dari status tawanan perang yang tidak jarang membutuhkan biaya yang besar.
Ayat keempat belas (artinya) : “Atau memberi makanan pada hari kelaparan”.
Subhanallah ! Islam menganjurkan pemeluknya untuk memberi makanan kepada orang lain ketika ia sendiri sangat butuh terhadap makanan tersebut karena memang sedang dirundung kelaparan. Tidaklah dapat melakukan pendakian yang tinggi dan sulit ini, melainkan seseorang yang memiliki iman sangat kokoh. Inilah seutama-utama memberi makan kepada orang lain.
Ayat kelima belas (artinya) : “(Kepada) anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan”.
Maksudnya : memberi makanan kepada anak yatim pada hari kelaparan. Jika anak yatim itu haruslah kita bantu, lalu bagaimana halnya jika ia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan kita ?! Memberi makanan kepada anak yatim yang demikian keadaannya merupakan sedekah sekaligus silaturahim.
Ayat keenam belas (artinya) : “Atau orang miskin yang sangat fakir”.
Yakni : memberi makanan kepada orang miskin yang sangat fakir pada hari kelaparan.
Ayat ketujuh belas (artinya) : “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, saling berwasiat untuk bersabar dan saling berwasiat untuk berkasih sayang”.
Ayat ini mengisyaratkan kemuliaan orang ini kala memenuhi 2 hak, yaitu : hak Allah berupa iman kepada-Nya dan hak manusia berupa menyayangi mereka dengan memberikan makanan pada hari kelaparan.
Ayat kedelapan belas (artinya) : “Mereka itulah golongan kanan”.
Yaitu : orang-orang yang akan diberi catatan amalannya dari sebelah kanan pada hari kiamat. Dengan itu, mereka akan meraih kebahagiaan sempurna dan abadi.
Ayat kesembilan belas (artinya) : “Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itulah golongan kiri”.
Mereka ini adalah orang-orang yang akan diberi catatan amalannya dari sebelah kiri pada hari kiamat. Dengan itu, mereka akan menjumpai petaka besar berupa :
Ayat kedua puluh (artinya) : “Mereka berada di dalam neraka yang ditutup rapat”.
Ditutuplah mereka dengan pintu-pintu neraka yang sangat rapat sehingga udara segar sedikit pun tidak masuk ke dalamnya, dan panas yang sangat dahsyat sedikit pun tidak akan keluar darinya. Jika mereka ingin keluar darinya, maka mereka ditarik kembali untuk tetap di dalamnya. Na’udzubillahi Min Dzalik.
Wallahu a’lamu bish-Shawab

Kesombongan Itu Membinasakan

 

KESOMBONGAN ITU MEMBINASAKAN

Para pembaca rahimakumullah, Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam sabdanya (artinya) : “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (HR. Muslim dari sahabat Abdullah bin Mas`ud radhiyallahu `anhu)
Tolak ukur kesombongan bukanlah dari sisi menyukai pakaian yang bagus atau kendaraan yang mewah. Bukan pula menyukai rumah yang megah. Akan tetapi, kesombongan : ketika ada kebenaran berupa ilmu yang bersumber dari kitab Allah Ta`ala dan sabda Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu `anhum kemudian ditolak dengan berbagai alasan.

Larung Sesajen

Larung Sesajen


Bencana telah mengguncang Sulawesi Tengah manakala 3 daerah mengalami dampak terparah, yaitu : Palu, Donggala dan Sigi. Korban jiwa terbanyak ada di Palu. Bahkan, Palu mengalami 3 bentuk bencana sekaligus : gempa, tsunami dan likuifaksi alias lumpur bergerak yang mampu menyeret tanah dan bangunan di atasnya bergeser sekian ratus meter jauhnya. Subhanallah ! Kalau tidak menyaksikan langsung atau minimal menonton foto atau videonya rasanya sulit dipercaya. Ternyata tidak hanya itu ujian warga Sulawesi Tengah berakhir. Adalah Desa Tompe, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala yang ketika tsunami dengan ganas menghantam desa – desa di tepi pantai barat Sulawesi tiga pekan lalu, desa ini relatif aman dari efek bencana. Namun, Rabu pekan lalu, Desa Tompe mengalami musibah dalam bentuk lain. Air laut naik sampai setinggi leher orang dewasa sehingga warga pun mengungsi mencari tempat yang lebih tinggi dan aman. Fenomena alam yang kata warga desa tersebut belum pernah terjadi sebelumnya.