menjawab polemik cadar

Menjawab Polemik Cadar
Sebagai muslim yang terbimbing dan terdidik tentu akan bersikap bijak dan ilmiah dalam menilai suatu permasalahan. Allah melarang kita dari mengambil suatu sikap atau langkah tanpa bimbingan ilmu. Dia Ta’ala berfirman (artinya) : “Dan janganlah engkau berada pada sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan kalbu semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya (oleh Allah)”. (Surah al-Isra’ : 36)
3 anggota tubuh yang disebutkan di dalam ayat ini merupakan pintu masuknya kebaikan atau keburukan pada diri manusia. Oleh karena itu seorang muslim semestinya berhati-hati dalam mendengar, melihat dan meyakini sesuatu. Jika kebaikan, maka terimalah. Namun jika keburukan, tentu tolak dan buanglah sejauh-jauhnya. Jadikan pendengaran, penglihatan dan kalbu kita untuk menerima kebaikan dan lindungi dari keburukan !
Perkaranya akan bertambah baik atau justru buruk, jika kemudian berwujud menjadi ucapan yang didengar atau perbuatan yang disaksikan oleh banyak manusia. Bukankah ucapan dan perbuatan kita sekecil apa pun pasti akan dicatat dan diperlihatkan kelak di hari pembalasan ?! Ucapan atau perbuatan bisa saja berlalu dari ingatan kita, seakan-akan tidak pernah ada. Namun apakah catatan ucapan atau perbuatan kita di sisi Allah akan berlalu begitu saja, tanpa pertanggungjawaban dan balasan ?! Maka berpikirlah terlebih dahulu sebelum berkata dan berbuat ! Pertimbangkan akibat dari sebuah ucapan atau perbuatan !
Jangan Membenci Satu Pun Ajaran Nabi !
Membenci sebuah ajaran Nabi adalah salah satu contoh keburukan yang ada pada kalbu lalu terkadang diwujudkan dalam ujaran atau perbuatan. Allah mengancam dan menegaskan (artinya) : “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. (Surah al-Kautsar : 3)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (salah seorang ulama Syafi’iyah) berkata : “Maknanya : Sesungguhnya orang yang membencimu –wahai Muhammad- dan membenci apa yang engkau bawa berupa petunjuk, kebenaran, bukti yang jelas dan cahaya yang nyata, dialah yang jelek, rendah, hina dan terputus penyebutannya”. (Tafsir Ibni Katsir)
Membenci salah satu ajaran Nabi bukanlah perkara yang ringan, sekalipun sebagian manusia menganggapnya remeh dan tidak penting. Bahkan perkara ini merupakan salah satu pembatal keislaman seseorang. Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Yang demikian itu karena mereka benci kepada apa yang Allah turunkan lalu Allah menggugurkan amalan mereka”. (Surah Muhammad : 9)
Benarkah Cadar Itu Adat Arab Bukan Syariat Islam ?
Salah satu perkara yang dibenci bahkan dimusuhi oleh sebagian manusia adalah cadar bagi wanita muslimah. Ironisnya kebencian dan permusuhan itu ternyata muncul dari sebagian muslimin di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Bahkan sebagian mereka adalah sosok yang dianggap tokoh atau cendekiawan muslim. Seiring dengan itu, muncullah anggapan bahwa cadar adalah budaya atau adat Arab. Benarkah anggapan tersebut ? Ataukah justru cadar itu merupakan bagian dari ajaran Nabi kita yang mulia ? Tentu ini perlu jawaban ilmiah agar perkaranya semakin jelas.
Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata : “Manakala dahulu adat para wanita Arab adalah tidak memiliki rasa malu dan mereka membuka wajah mereka sebagaimana dilakukan para budak wanita, juga hal itu mendorong para pria memandang mereka lalu berpikir macam-macam terhadap mereka, maka Allah memerintah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi Wasallam untuk memerintah para wanita menjulurkan jilbab-jilbab mereka jika ingin keluar menunaikan kebutuhan mereka…” (Tafsir al-Qurthubi)
Lalu dari mana dikatakan cadar adalah adat atau budaya Arab ?! Apa bukan sebaliknya, tidak menutup aurat yang banyak dilakukan oleh wanita yang mengaku muslimah di zaman sekarang justru lebih tepat dikatakan itu adalah adat atau budaya Arab Jahiliah ?!
Kemudian apa maksud jilbab yang tertuang di dalam Surah al-Ahzab ayat ke-59 ?
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan riwayat Ali bin Abi Thalhah dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata : “Allah memerintahkan para wanita beriman untuk menutup wajah mereka mulai dari atas kepala mereka dengan jilbab dan menampakkan satu mata”. (Tafsir Ibni Katsir)
Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi rahimahullah (salah seorang ulama bermazhab Syafi’iyah) menukilkan riwayat Ibnu Jarir dan Ibnu Marduyah dari Abdullah bin Abbas juga, berkata : “Dahulu wanita merdeka memakai busana seperti budak wanita. Kemudian Allah memerintah para wanita mukminah agar menjulurkan jilbab mereka. Menjulurkan jilbab maknanya adalah wanita memakaikan cadar dan mengikatkannya pada keningnya”. (ad-Durar al-Mantsur)
Berdasarkan keterangan ini, maka jilbab yang dimaksud di dalam al-Qur’an ternyata meliputi cadar. Apalagi keterangan tersebut bersumber dari seorang sahabat yang paling mengerti tentang tafsir al-Qur’an, yaitu : Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sepupu Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang memang telah didoakan agar Allah mengajarinya tafsir al-Qur’an.
Ditambah lagi, para wanita sahabat Nabi memahami perintah di dalam Surah an-Nur : 31 adalah memakai kain penutup wajah (khimar). Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan ucapan Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha : “Semoga Allah merahmati para wanita Muhajirin. Tatkala Allah menurunkan ayat-Nya (artinya) : “…hendaknya mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka…”, maka mereka merobek kain panjang mereka lalu menjadikannya sebagai khimar”. (Shahih al-Bukhari)
al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (salah seorang ulama besar bermazhab Syafi’iyah) menyatakan bahwa maksud “…lalu menjdikannya sebagai khimar” adalah menutup wajah. (Fathu al-Bari)
Jika demikian, pantaskah dikatakan bahwa cadar itu tidak ada di dalam al-Qur’an, tanpa menyebutkan tafsirnya ?! Benarkah sikap seorang muslim ketika memahami ayat al-Qur’an tanpa tafsir yang bersumber dari para ulama yang terpercaya ?! Tidak takutkah dirinya kepada Allah manakala berbicara tentang agama tanpa berdasarkan ilmu ?! Janganlah menjadi manipulator agama !
Benarkah Cadar Itu Salah Satu Ciri Radikalis ?
Tak dipungkiri bahwa ada orang yang berbuat jahat namun ia berbusana atau berpenampilan Islami. Tentu sebagai orang yang masih berakal sehat dan lurus akan mengatakan : Bukan pakaian atau penampilannya yang keliru, namun perbuatannya yang salah. Demikian halnya cadar. Memang ada pelaku teror bom atau sejenisnya ternyata berpenampilan Islami atau memiliki istri bercadar. Akan tetapi ilmiahkah jika kemudian dikatakan : Cadar adalah ciri radikalis atau teroris ?! Bukankah para sahabat Nabi, istri mereka bercadar namun justru mereka adalah generasi pertama dan terdepan dalam memberangus gerakan teroris Khawarij di zaman dahulu. Demikian pula sebagian muslimin yang beragama sesuai jalannya para sahabat Nabi di zaman sekarang. Mereka benar-benar menentang pemikiran sekaligus aksi teror dalam keadaan istri mereka bercadar. Apa yang patut dikhawatirkan dari wanita bercadar ?
Benarkah Cadar Itu Bukan Tanda Ketakwaan Seorang Wanita ?
Ini sebuah kalimat yang perlu didudukkan maksudnya. Memang benar, tidak setiap wanita bercadar itu bertakwa. Bahkan, betapa banyak wanita yang bercadar berakidah Syi’ah atau Khawarij yang keduanya merupakan sumber teror di berbagai negeri. Jangan heran pula jika kita mendapati seorang wanita bercadar namun menyukai nikah mut’ah yang sejatinya adalah zina.
Namun jangan kita lupa, bahwa wanita yang bertakwa tentu akan senantiasa berupaya melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika Allah dan Rasul-Nya memerintahkan seorang muslimah untuk berjilbab sesuai yang dipraktekkan oleh para wanita sahabat Nabi, maka ia pun akan berusaha melaksanakannya. Bukankah perintah Allah di dalam al-Qur’an tentang jilbab ditujukan kepada para istri, putri Nabi sekaligus seluruh wanita mukminah, sehingga memakai jilbab dengan makna di atas merupakan salah satu wujud keimanan ?!
Nasehat Bagi Wanita Bercadar
Di akhir dari risalah singkat ini, tidak lupa kami sampaikan nasehat agar hijab dan cadar jangan sekedar dijadikan simbol oleh seorang muslimah tanpa diiringi bimbingan ilmu agama yang lengkap. Oleh karena itu, seorang wanita berhijab dan bercadar hendaknya :
1) Berilmu terlebih dahulu tentang syarat-syarat hijab dan cadar yang syar’i dan itu telah dijelaskan oleh para ulama. Jangan sampai mengedepankan sisi modis atau gaul hingga menerjang ketentuan syar’i. Berhatilah-hatilah dari jenis hijab dan cadar yang justru menarik perhatian pria yang bukan mahram, seperti : berwarna cerah atau bermotif indah. Bukankah fungsi hijab dan cadar yang syar’i adalah menutup aurat dan keindahan yang ada pada pemakainya ?!
2) Tidak perlu khawatir dengan tuduhan keras, eksklusif, kurang bermasyarakat atau radikalis karena sesungguhnya Islam telah menata kehidupan bermasyarakat dengan lengkap dan sempurna yang hendaknya kita jalankan.
3) Jangan menepis tuduhan di atas atau semisalnya dengan mengikuti setiap ajakan manusia tanpa menimbang dengan ketentuan syariat. Allah mengingatkan (artinya) : “Dan jika engkau mengikuti kebanyakan orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…” (Surah al-An’am : 116)
4) Tidak sengaja apalagi bangga berpose di media sosial dengan hijab dan cadarnya atau berbuat seperti tingkah laku keumuman wanita di media sosial. Bukankah Allah memerintah para wanita agar tinggal di dalam rumah dan tidak berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah dahulu ?! Allah berfirman (artinya) : “Dan hendaknya kalian tinggal di dalam rumah dan jangan berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah dahulu…” (Surah al-Ahzab : 33)
Sehingga perintahnya bukan hanya memakai jilbab atau hijab syar’I, akan tetapi juga menutup diri dari pandangan pria yang bukan mahram.
5) Tidak ikhthilath (campur baur dengan pria bukan mahram), tidak mengumbar pandangannya kepada pria bukan mahram sekalipun di balik hijab dan cadarnya atau berjabat tangan dengannya.
Semestinya dengan hijab dan cadar yang selalu ia kenakan ketika keluar rumah menjadi pengingat bagi dirinya untuk memiliki salah satu sifat yang di zaman ini telah banyak terkikis, yaitu : malu.

Wallahu a’lamu bish-Shawab

menyikapi ucapan manusia zaman sekarang

Menyikapi Ucapan Orang Zaman Sekarang
Al-Imam Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Khalaf al-Barbahari rahimahullah berkata : “Maka lihatlah, semoga Allah merahmati anda ! Setiap orang yang anda dengar ucapannya dari kalangan manusia zaman anda secara khusus, maka janganlah anda sekali-kali terburu-buru dan jangan pula sekali-kali masuk pada sesuatu apapun darinya hingga anda bertanya dan melihat : Apakah ada seorang pun dari para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam atau seorang pun dari kalangan ulama yang berbicara tentang hal itu ? Jika anda mendapati pada ucapan tadi ada petunjuk dari mereka, maka pegang teguhlah petunjuk tersebut dan jangan melampauinya dan jangan memilih selain itu sedikit pun yang anda akan dapat jatuh ke neraka”. (Syarh as-Sunnah)
Beberapa ulama menerangkan perkataan mulia ini, diantaranya :
1) Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah

Beliau berkata : “Penulis (kitab Syarh as-Sunnah ini, pen) rahimahullah memberi bimbingan kepada siapa saja yang membaca atau sampai kepadanya ucapan seseorang, agar mempertimbangkan dan menjauhi sikap terburu-buru menelannya tanpa menoleh kepada Kitabullah dan sunnah Rasul serta apa yang dijalani para sahabat Nabi berupa bimbingan dan petunjuk, tanpa pula berpegang teguh dengan Kitabullah dan as-Sunnah serta apa yang mereka (para sahabat) berada di atasnya berupa lari dari kebatilan dan kebid’ahan. Sampai-sampai seseorang yang meneliti perjalanan hidup mereka (para sahabat) tidak mendapati seorang pun dari mereka terjatuh dalam kebid’ahan. Oleh karena pengetahuan para as-salaf ash-shaleh dan para imam petunjuk terhadap kedudukan para sahabat yang mereka (para sahabat) ini berada di atas kebenaran, kebenaran berjalan bersama mereka manakala mereka berjalan dan juga karena pengetahuan penulis terhadap kenyataan mereka yang bersinar terang, maka beliau memperingatkan dari masuknya seorang muslim pengikut sunnah Nabi ke sesuatu yang ia dengar dari manusia di zamannya, hingga ia bertanya kepada para ulama, merenungi dan membahas. Jika ternyata jelas baginya bahwa perkataan tersebut telah diucapkan oleh para sahabat atau ditunjukkan oleh keterangan al-Qur’an maupun sunnah Rasul, maka ia ambil itu.
Namun jika dia tidak mendapati sesuatu pun dari itu, maka hendaknya dia waspada dari ucapan asing tersebut yang tidak ada dalilnya dari Kitabullah, as-Sunnah, pemahaman para sahabat maupun salah satu dari mereka. Tolok ukur ini bagi seseorang yang sangat menjaga agamanya, selayaknya berlaku untuk setiap ucapan, sekalipun ucapan yang muncul dari para ulama besar. Para ulama yang tulus telah meletakkan prinsip terhadap apa yang bisa diterima dan ditolak dari ucapan mereka (para ulama).
Diantara prinsip mereka : Setiap manusia bisa dierima dan ditolak ucapannya kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam”. Diantaranya juga, apa yang diucapkan oleh al-Imam asy-Syafi’i : “Jika ucapanku ternyata menyelisihi sabda Rasullullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, maka lemparkan ucapanku ke tembok”. Juga ucapan al-Imam Ahmad : “Janganlah kalian ikut-ikutan aku dan jangan pula ikut-ikutan Malik dan al-Auza’i. Ambillah dari dalil yang mereka ambil”. (‘Aunu al-Bari)

2) Asy-Syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah

Beliau berkata : “Janganlah anda terburu-buru terhadap apa yang anda dengar dari manusia terkhusus di akhir-akhir zaman dan banyaknya orang yang berbicara, berfatwa dan menetapkan suatu ilmu atau pendapat. Terkhusus pula manakala semakin canggih sarana komunikasi dan jadilah setiap orang berbicara tidak karuan dan berbicara dengan nama agama. Sampai-sampai sekarang ini orang yang sesat dan kelompok yang menyimpang berbicara dengan nama agama  di media massa. Bahayanya sangat besar. Anda - wahai seorang muslim dan penuntut ilmu agama – wajib mencari kepastian dan jangan terburu-buru bersama setiap apa yang anda dengar. Wajib anda mencari kepastian, mengenali siapa orang yang mengucapkan perkataan ini, dari mana datangnya pemikiran ini, kemudian apa landasan dan dalilnya dari al-Kitab dan as-Sunnah, di mana ia menimba ilmu dan dari siapa ia menimba ilmu.
Ini adalah perkara-perkara yang butuh pemastian, terkhusus di zaman ini. Setiap orang yang berkata sekalipun fasih, cakap berbicara, mahir mengurai ucapan dan dapat menyita pendengaran, maka janganlah anda tertipu dengannya hingga anda pandang sejauh mana ilmu dan pemahamannya. Bisa jadi ucapan seseorang itu sedikit namun ia adalah orang yang dalam pemahamannya. Bisa jadi seseorang itu ucapannya banyak namun dia adalah orang yang bodoh, tidak memiliki sedikit pun pendalaman ilmu. Akan tetapi yang ada padanya justru ucapan yang menyihir hingga menipu manusia. Dia menampakkan dirinya sebagai orang yang berilmu, memahami ilmu, pemikir dan sejenis itu. Sampai-sampai dia dapat menipu manusia dan mengeluarkan mereka (manusia) dari kebenaran. Bukanlah tolok ukurnya adalah banyaknya ucapan dan mahir mengulas kata. Akan tetapi tolok ukurnya adalah kandungan ilmu dan prinsip dasar padanya. Bisa jadi ucapan yang sedikit dan memiliki dasar itu lebih bermanfaat banyak dibandingkan ucapan yang banyak dan terurai yang engkau tidak menangkap faidah darinya kecuali sedikit .Ini adalah realita di zaman kita. Banyak ucapan sedikit ilmu. Banyak orang yang mahir membaca al-Qur’an namun sedikit orang yang mendalami ilmunya. Pendalaman itu bukanlah banyaknya ucapan, membaca al-Qur’an, lihainya berbicara dan indahnya ungkapan. Seorang penyair berkata :

Pada indahnya perkataan ada upaya menghias-hiasi kebatilannya
Dan kebenaran itu kadangkala ditimpa oleh buruknya pengungkapan
Engkau katakan : Ini adalah muntahan lebah yang engkau memujinya
Padahal jika engkau ingin, engkau dapat katakan : Ini adalah muntahan kumbang
Jika anda ingin memuji madu, maka anda mengatakan : Ini adalah muntahan lebah. Namun jika anda mencelanya, maka anda mengatakan : Ini adalah muntahan kotor, sebagai muntahan bersih dan pengganti lebah.adalah kumbang. Orang yang mahir berkata dapat membalik kebenaran menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran. Waspadalah dari hal ini. Oleh karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam memperingatkan dari (bahaya) orang yang fasih bicaranya, mampu melipat-lipat lisannya sebagaimana seekor lembu melipat-lipat lisannya. Beliau memperingatkan dari perkara ini. Beliau bersabda (artinya) : “Sesungguhnya diantara penjelasan itu adalah sihir”. Yakni : menyihir pendengaran mereka.
Ucapan beliau (al-Imam al-Barbahari) : : “Maka lihatlah, semoga Allah merahmati anda ! Setiap orang yang anda dengar ucapannya dari kalangan manusia zaman anda secara khusus, maka janganlah anda sekali-kali terburu-buru dan jangan pula sekali-kali masuk pada sesuatu apapun darinya…” Ini di waktu sang penulis masih hidup. Penulis hampir-hampir hidup sezaman dengan al-Imam Ahmad, karena penulis adalah salah satu murid yang berguru kepada murid-muridnya al-Imam Ahmad. Beliau berkata : “Jangan anda terburu-buru dalam menerima berita orang yang sezaman anda hingga anda mencari kepastiannya. Di mana perkataan ini di zaman kita sekarang ?! Zaman penuh hawa nafsu. Zaman penuh kebodohan. Zaman bercampurnya alam, sebagian dengan sebagian yang lain. Sampai-sampai zaman menjadi gelombang fitnah, kejelekan dan beragam pemikiran. Musuh di masa sekarang menginginkan terbaliknya agama yang semula sebagai kepala menjadi tumit. Mereka ingin kita mengikuti mereka, menjejalkan pemikiran-pemikiran dan politik kepada kita. Wajib bagi kita untuk mencari kepastian dalam perkara ini, diam dari banyak perkara, tetap mempelajari firman Allah beserta sabda Rasul-Nya dan mendalami agama Allah.
Mengerti ilmu agama merupakan keselamatan dari kejelekan. Mengerti agama berarti memahaminya. Kadangkala seseorang banyak hafalannya namun tidak paham. Jadilah ia itu sama dengan orang awam. Bahkan bisa jadi orang awam itu lebih baik dibandingkan orang ini karena orang awam itu diam dan menyadari kebodohannya. Adapun orang yang tadi tidak menyadari bahwa dirinya bodoh. Bukanlah permasalahannya adalah banyaknya hafalan atau ucapan. Permasalahannya adalah mengerti agama. Oleh karena itulah Nabi Shallalahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Bisa jadi orang yang diberitahu itu lebih mengerti dibandingkan orang yang mendengar langsung”. Bisa jadi seseorang menghafal, menukil dan menyebarkan sesuatu, namun di sana ada orang yang lebih mengerti dibandingkan dirinya. Bisa jadi orang yang membawa ilmu, namun dia tidak mengerti. Dia memang membawa dan menukil, namun dia bukan orang yang mengerti. Mengerti agama adalah anugerah dari Allah. Allah berikan anugerah itu kepada yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya. Jika dia mengembangkan dan menumbuhkan anugerah tersebut, maka ia akan merasakan manfaatnya. Jika dia menyia-nyiakannya, maka anugerah itu akan sirna.
Sedangkan ucapan beliau : “…maka janganlah anda sekali-kali terburu-buru dan jangan pula sekali-kali masuk pada sesuatu apapun darinya hingga anda bertanya dan melihat : Apakah ada seorang pun dari para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam…” Ini adalah wasiat yang agung. Adapun ucapan tentang perkara-perkara dunia, maka itu bukan tema pembahasan di sini. Jika ada suatu ucapan tentang agama yang membuat anda kagum, maka jangan terburu-buru hingga anda melihat apakah dibangun di atas kebenaran dan dalil. Apakah sekedar dari kepala manusia dan pikiran. Kalau yang ini adalah buih seperti buih yang dibawa air banjir. Jika ucapan tadi dibangun di atas al-Kitab dan as-Sunnah, maka ini adalah kebenaran. Jangan anda terburu-buru mengambil ucapan tanpa pertimbangan-pertimbangan, sekalipun kefasihan, kemahiran berbicara, kekuatan dan kecakapan berucap membuat diri anda kagum. Jangan anda terburu-buru hingga anda melihat, mencocokkannya dengan al-Kitab beserta as-Sunnah dan anda lihat siapa yang mengucapkannya : apakah ia seorang yang mengerti atau tidak mengerti ? Hingga anda bertanya kepada para ulama tentangnya. Anda lihat apakah ucapan tadi pernah diucapkan oleh seseorang dari kalangan salaf atau ternyata tidak ada yang mengucapkannya. Ini adalah sesuatu yang saya peringatkan berkali-kali. Saya katakan : Jangan kalian membuat ijtihad-ijtihad, pendapat-pendapat, ucapan-ucapan dan ungkapan-ungkapan yang kalian tidak pernah didahului sebelumnya (oleh salaf). Ambillah suri teladan dari kalangan dan ucapan salaf. Kalau seandainya anda mendatangkan sesuatu yang belum pernah anda didahului sebelumnya (oleh salaf), maka sesungguhnya itu adalah perkara yang menyeleneh, madharatnya lebih banyak dibandingkan manfaatnya.
Ucapan para sahabat adalah tolok ukur, karena mereka adalah murid-murid Rasul Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Silakan dilihat ucapan mereka tentang ayat al-Qur’an dan apa tafsiran mereka. Tentang hadits, apa penjelasan mereka. Anda ambil pendapat ucapan dan tafsir mereka karena mereka lebih dekat kepada kebenaran dibandingkan orang yang datang setelah mereka…” (Dikutip sebagian dari Ithafu al-Qari)
Wallahu a’lamu bish-Shawab

Demonstrasi bukan solusi

Setiap perkara yang bertentangan dengan bimbingan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pasti akan berbuah petaka dan musibah. Cepat atau lambat. Allah Jalla Wa ‘Alaa telah mengingatkan melalui firman-Nya (artinya) : “Maka hendaknya orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul itu takut akan ditimpa kejelekan atau ditimpa azab yang pedih.” (Surah an-Nur : 63). Lanjutkan membaca Demonstrasi bukan solusi

Syafaat

Para pembaca rahimakumullah, diantara keistimewaan yang Allah Taala berikan kepada Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam adalah besarnya kasih sayang beliau kepada umatnya, sebagaimana firman Allah (artinya) : Lanjutkan membaca Syafaat

Tafsir Surat Al Fajr

Ayat pertama (artinya) : “Demi fajar.”

Yang dimaksud fajar adalah fajar shadiq yang merupakan awal waktu shalat subuh. Allah bersumpah dengan fajar shadiq karena :

Situs Pondok Pesantren Darul Ihsan, Madiun