Larung Sesajen

Larung Sesajen
Bencana telah mengguncang Sulawesi Tengah manakala 3 daerah mengalami dampak terparah, yaitu : Palu, Donggala dan Sigi. Korban jiwa terbanyak ada di Palu. Bahkan, Palu mengalami 3 bentuk bencana sekaligus : gempa, tsunami dan likuifaksi alias lumpur bergerak yang mampu menyeret tanah dan bangunan di atasnya bergeser sekian ratus meter jauhnya. Subhanallah ! Kalau tidak menyaksikan langsung atau minimal menonton foto atau videonya rasanya sulit dipercaya. Ternyata tidak hanya itu ujian warga Sulawesi Tengah berakhir. Adalah Desa Tompe, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala yang ketika tsunami dengan ganas menghantam desa – desa di tepi pantai barat Sulawesi tiga pekan lalu, desa ini relatif aman dari efek bencana. Namun, Rabu pekan lalu, Desa Tompe mengalami musibah dalam bentuk lain. Air laut naik sampai setinggi leher orang dewasa sehingga warga pun mengungsi mencari tempat yang lebih tinggi dan aman. Fenomena alam yang kata warga desa tersebut belum pernah terjadi sebelumnya.
Para pembaca rahimakumullah, diantara hikmah besar musibah Palu adalah kesadaran masyarakat mengenai bahaya kesyirikan, utamanya ritual larung sesajen. Festival budaya Palu Nomoni yang sedianya tahun ini diadakan untuk yang ketigakalinya berujung musibah dan bencana dahsyat. Ternyata, di balik festival itu ada ritual larung sesajen yang dalam pandangan Islam merupakan kesyirikan besar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam. Bertolak dari bencana Palu, masyarakat di beberapa daerah lain yang juga mengadakan ritual larung sesajen dihinggapi ketakutan dan penolakan terhadap ritual larung sesajen, sedekah bumi, sedekah laut dan nama – nama lain yang terdengar indah namun hakikatnya sama : kesyirikan kepada Allah, menyekutukan Allah. Kesadaran semisal ini bagus dan positif, walau sebenarnya yang lebih mengkhawatirkan kita adalah dosa kesyirikan dan balasan kelak di akhirat yang jauh lebih mengerikan.
Di sisi lain, sebagian masyarakat tidak peduli dan acuh tak acuh. Mereka tidak mau mengambil ibrah / pelajaran dari bencana Sulteng. Ritual larung sesajen tetap dilangsungkan. “Ini kan melestarikan budaya. Ini kan warisan leluhur. Buktinya selama ini sekian kali diadakan larung sesajen, ternyata tempat kita aman tidak ada tsunami”, dan sekian ragam ucapan senada.
Para pembaca rahimakumullah, kiranya kita semua perlu mengingat kembali bimbingan Islam berdasarkan Al-Quran dan hadits yang shahih tentang masalah ini. Jangan sampai kita berkomentar tanpa ilmu. Yang lebih parah adalah jika ternyata diantara kita justru membela, mendukung kesyirikan atau bahkan terlibat langsung di dalamnya. Na’udzubillahi min dzalik.
Ayat-ayat Al-Qur’an Yang Menegaskan Haramnya Menyembelih Dalam Rangka Mendekatkan Diri & Meminta Bantuan Kepada Selain Allah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya) : “Katakanlah (wahai Nabi) ! Sungguh shalatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah, Rabbul ‘alamin. Tiada sekutu bagi-Nya…” (Surah Al-An’am : 162–163 )
Pakar tafsir dari mazhab Syafi’iyah, al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “ Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyatakan kepada kaum musyrikin yang menyembah selain Allah dan menyembelih tanpa menyebut nama-Nya, bahwa beliau menyelisihi mereka dalam masalah ini. Hal ini karena shalat beliau adalah untuk Allah dan sembelihan beliau adalah dengan menyebut nama Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Ini semisal dengan firman-Nya yang lain (di dalam Surah Al-Kautsar) : “Fashalli lirabbika wanhar” , maksudnya : Murnikanlah shalatmu dan sesembelihanmu hanya untuk-Nya. Yang demikian karena orang – orang musyrik dahulu beribadah untuk berhala-berhala mereka dan menyembelih untuk mereka…”
Ayat lain yang menunjukkan haramnya menyembelih untuk selain Allah ialah firman-Nya (artinya) : “Diharamkan bagi kalian bangkai, darah dan maa uhilla lighairillah bih…” (Surah Al-Maidah : 3).
Semisal dengan ayat ini adalah ayat ke-173 dari Surah Al-Baqarah dan ayat ke-115 dari Surah An-Nahl.
Al-Alusi rahimahullah (pakar tafsir lain dari mazhab Syafi’i) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “uhilla lighairillah bih” ialah menyebutkan dengan jelas kepada siapa sembelihan untuk selain Allah itu ditujukan, apakah untuk Latta, ‘Uzza (nama-nama berhala milik musyrikin Quraisy), dan sebagainya. Semakna dengan penjelasan al-Alusi ini, apa yang dijelaskan oleh ahli tafsir lain dari mazhab Syafi’i semisal : al-Baidhawi dan as-Suyuthi rahimahumallah.
Hadits Nabawi Tentang Haramnya Menyembelih Untuk Selain Allah
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda (artinya) : “Allah melaknat siapa saja yang menyembelih untuk selain Allah…” (HR. Muslim dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu)
Hadits semakna ini juga diriwayatkan dari sahabat mulia Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma oleh al-Imam Ahmad dan lainnya.
Al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah (seorang ulama terkenal dari mazhab Syafi’i) berkata : “ Adapun menyembelih untuk selain Allah, maka yang dimaksud ialah menyembelih dengan nama selain Allah, seperti untuk patung, salib, Nabi Musa atau Isa ‘alaihima as-Salam, Ka’bah dan semisalnya. Maka, semuanya ini haram. Sembelihannya tidak halal dimakan, baik yang menyembelih seorang Muslim, Nasrani maupun Yahudi. Asy-Syafi’i (yaitu : al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i) telah menegaskan hal ini dan ulama-ulama kami (dari mazhab Syafi’iyyah) telah menyepakati tentangnya (haramnya masalah ini). Adapun jika dimaksudkan dengan penyembelihan tersebut adalah pengagungan kepada pihak yang diberi persembahan selain Allah, atau peribadatan kepadanya, maka perbuatan tersebut adalah kekufuran. Jika orang yang menyembelihnya ternyata sebelumnya seorang muslim, maka dengan penyembelihan tersebut ia menjadi murtad…” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim)
Abu ‘Awwanah (seorang pakar hadits mazhab Syafi’i) dalam kitab Al-Musnad karya beliau, membuat judul bab terkait hadits di atas : “Penjelasan tentang kepastian datangnya laknat kepada siapa pun yang menyembelih untuk selain Allah”. Beliau juga berkata : “Demikian pula seluruh sesembelihan yang ditujukan untuk selain Allah”.
Al-Maqrizy (seorang ulama besar mazhab Syafi’i dari Mesir) menjelaskan bahwa menyembelih untuk Allah sejatinya termasuk kekhususan ilahiyah (hak Allah semata). Maksudnya, siapa saja yang menyembelih dan ditujukan untuk selain-Nya, berarti telah menyerupakan selain Allah dengan Allah.
As Suwaidi (seorang ulama besar mazhab Syafi’i yang lahir di Irak) ketika menjelaskan makna sesembelihan untuk selain Allah, berkata : “Yaitu : Apa saja yang dipersembahkan untuk selain Allah dalam rangka menolak bahaya atau mendatangkan keuntungan. (Persembahan itu) sebagai bentuk pengagungan terhadap yang diberi persembahan tersebut. Yang seperti ini termasuk kufur i’tiqadi (yang mengeluarkan pelakunya dari Islam) dan (termasuk) kesyirikan yang pernah dilakukan oleh pendahulu mereka (dari kalangan musyrikin)”.
Para pembaca rahimakumullah, masih banyak penjelasan para ulama tentang haramnya menyembelih dalam rangka mengagungkan selain Allah. Sengaja kami kutip disini pendapat para ulama mazhab Syafi’iyah karena mayoritas masyarakat Indonesia mengaku bermazhab Syafi’i.
Syubhat / Kerancuan & Bantahannya
Sebagian mereka yang melestarikan budaya sedekah bumi beralasan bahwa sedekah itu dipersembahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Bantahannya : Kita bertanya kepada mereka : Siapa yang mereka maksudkan dengan Yang Maha Kuasa disini ? Apakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala ?
• Jika Allah yang mereka maksudkan, maka muncul pertanyaan berikutnya : Apakah Allah Yang Maha Kuasa memerintahkan ritual semisal itu ? Apakah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah mengajarkan cara demikian untuk mendekatkan diri kepada Allah ? Jawabnya bisa dipastikan bahwa tidak pernah ada perintah Allah dan tidak ada bimbingan Nabi tentang cara semisal itu. Lantas, dari mana mereka meniru ajaran dan ritual semacam ini ? Jawabnya ialah dari agama selain Islam. Sehingga, jika ada seseorang mengaku muslim namun masih melakukan ritual semacam in,i maka dia telah mencampuradukkan agama alias sinkretisme.
• Adapun jika yang mereka maksud sebagai Yang Maha Kuasa ternyata bukan Allah, maka jelaslah bahwa sesembahan mereka bukan sesembahan umat Islam. Bagaimana hukumnya ? Silahkan disimak kembali penjelasan para ulama Syafi’iyah di atas beserta dalil-dalilnya.
Peringatan Penting
Sebagian orang berdalih mengingkari kemungkaran dan kesyirikan dengan bertindak main hakim sendiri, membubarkan acara sedekah laut dan larung sesajen. Padahal, tindakan seperti ini dapat menimbulkan bentrokan dengan masyarakat yang mendukung ritual tersebut. Akibatnya, muncul kekerasan fisik yang sangat mungkin menimbulkan korban jiwa.
Lantas, bagaimana tuntunan mengingkari kemungkaran dengan tangan kita ? Jawabannya : Para ulama menjelaskan bahwa ada beberapa syarat dalam masalah ini, diantaranya :
 Kita memiliki wewenang dan kuasa untuk menghentikan kemungkaran tersebut. Misal : seorang ayah di lingkup keluarganya sendiri ketika menghadapi kenakalan dan pelanggaran yang dilakukan oleh salah seorang anaknya. Sang ayah berhak mengingkari kemungkaran dengan tangan guna meluruskan kenakalan anaknya. Adapun urusan yang menyangkut masyarakat luas, wewenang penegakan hukum dikembalikan ke penguasa. Kewajiban kita adalah menyampaikan nasihat kepada penguasa / pemerintah. Jika didengar, alhamdulillah ini yang kita harapkan. Jika tidak didengar, kita sudah menunaikan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Kewajiban kita berikutnya : mengingkari dalam hati kita dengan tidak rela / tidak senang terjadinya kemungkaran tersebut.
 Tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar dan dahsyat. Jika pengingkaran terhadap suatu kemungkaran dapat menimbulkan efek terjadinya kemungkaran lain yang lebih besar, maka kita tidak disyariatkan melakukan pengingkaran.
Para pembaca rahimakumullah, mari kita semua kembali kepada Allah dengan memperbanyak bekal ilmu agama yang benar. Di sisi lain, mari kita sedekahkan harta kita dengan cara yang benar, terlebih masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita, termasuk para korban bencana di berbagai daerah. Jangan sebaliknya, kita hamburkan harta kita untuk sesuatu yang tidak bermanfaat dan justru berdampak negatif seperti bersedekah bumi, sedekah laut dan semisalnya. Mari kita memperbanyak introspeksi diri karena Allah Ta’ala tidak menyegerakan azab-Nya kepada kita, padahal kemaksiatan dan kesyirikan masih merebak di sekitar kita. Seandainya Allah kehendaki, niscaya Dia tidak akan menyisakan sedikit pun manusia di muka bumi ini karena dosa-dosa mereka. Namun, Allah masih memberikan kesempatan kepada kita semua untuk memperbaiki diri dan kembali kepada-Nya.
Wallahu a’lam

Ketika Datang Kenikmatan & Musibah

Ketika Datang Kenikmatan & Musibah
Tidak sedikit manusia ketika diberi kenikmatan justru terbuai dan terus bermaksiat kepada Allah. Timbullah sifat merasa aman dari azab Allah. Allah menegur manusia yang demikian keadaannya melalui firman-Nya (artinya) : “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami (Allah) kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur ?! Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami kepada mereka di waktu dhuha ketika mereka sedang bermain ?! Apakah mereka merasa aman dari azab Allah yang tidak terduga ?! Tidaklah merasa aman dari azab Allah yang tidak terduga melainkan orang-orang yang merugi”. (Surah Al-A’raf : 97-99)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan ucapan al-Hasan al-Bashri rahimahullah : “Seorang mukmin itu berbuat ketaatan dalam keadaan ia takut (terhadap musibah).Sedangkan seorang yang fajir itu berbuat kemaksiatan dalam keadaan merasa aman (dari musibah)”. (Tafsir Ibnu Katsir)
Kenikmatan duniawi semata yang Allah berikan kepada seseorang bukanlah tanda Dia mencintainya. Akan tetapi justru kenikmatan agama berupa iman, itulah tanda Dia mencintai seorang hamba. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “…Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada siapa yang Dia cintai dan tidak Dia cintai. Sesungguhnya Dia tidaklah memberikan keimanan kecuali kepada siapa yang Dia cintai…” (ash-Shahihah 2714)
Demikian pula, kenikmatan duniawi yang Allah berikan kepada seseorang yang bermaksiat kepada-Nya bukanlah tanda Allah membiarkannya begitu saja. Akan tetapi semuanya telah ada waktu yang telah Dia tetapkan. Allah mengingatkan kita semua bahwa suatu negeri akan Dia hancurkan pada waktu yang telah ditentukan, tidak maju atau mundur walau sesaat. Dia berfirman (artinya) : “Dan Kami (Allah) tidaklah membinasakan suatu negeri pun melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan. Tidak ada satu pun umat yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula mengundurkannya”. (Surah Al-Hijr : 4-5)
Juga, itu adalah istidraj (penundaan azab) dari Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Jika engkau melihat Allah memberi dunia kepada seorang hamba di atas kemaksiatan yang ia sukai, maka itu adalah istidraj”. (as-Shahihah 413)
Setelah menyampaikan hadits tersebut, beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam membaca ayat (artinya) : “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami (Allah) pun membukakan semua pintu kesenangan (duniawi) untuk mereka. Hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Maka, ketika itu mereka terdiam berputus asa”. (Surah Al-An’am : 44)
Setelah merasa aman dari azab Allah lalu tiba-tiba datanglah azab tersebut, timbullah sifat berputus asa dari rahmat Allah. Jika demikian keadaan seorang hamba, berarti rentetan keburukan menimpa dirinya. Allah mencela orang yang berputus asa dari rahmat-Nya (artinya) : “(Ibrahim) berkata : “Dan tidaklah berputus asa dari rahmat Rabbnya kecuali orang-orang yang sesat”. (Surah Al-Hijr : 56)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Dosa-dosa besar : Syirik kepada Allah, berputus asa dari hilangnya musibah dari Allah dan berputus asa dari datangnya kenikmatan dari Allah”. (ash-Shahihah 2051)
2 sifat tercela ini (merasa aman dari azab Allah dan berputus asa dari rahmat Allah) merupakan tanda hilang / berkurangnya rasa takut dan harap kepada Allah, padahal keduanya (rasa takut dan harap kepada Allah) merupakan ibadah agung di sisi Allah. Barangsiapa takut kepada Allah di dunia, maka Dia akan memberikan keamanan di akhirat. Namun, barangsiapa merasa aman dari azab Allah di dunia, maka Allah akan beri ketakutan di akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman : “Demi kemuliaan-Ku ! Aku tidak mengumpulkan 2 rasa takut pada hamba-Ku dan tidak pula 2 rasa aman padanya : Jika ia merasa aman dari (azab)-Ku di dunia, maka Aku beri ketakutan kepadanya pada hari kiamat. Namun jika ia merasa takut dari (azab)-Ku di dunia, maka Aku beri keamanan kepadanya pada hari kiamat”. (ash-Shahihah 2666)
Jangan Bersikap Sombong Jika Dinasihati !
Allah menceritakan keadaan sebagian manusia (artinya) : “Dan jika dikatakan kepadanya : “Bertakwalah kepada Allah!”, bangkitlah kesombongan yang menyebabkannya berbuat dosa”. Maka cukuplah baginya neraka jahanam, dan sungguh neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”. (Surah Al-Baqarah : 206)
Terkait ayat ini, al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa orang ini telah bersungguh-sungguh melakukan kemaksiatan yang ia (kemaksiatan) merupakan bentuk pengrusakan di muka bumi. Dengan sebab kemaksiatan, orang itu merusak tanaman dan binatang ternak. Pertanian, buah-buahan dan ternak binasa dan berkurang berkah karena kemaksiatan. Jika orang ini diperintah untuk bertakwa kepada Allah, maka ia sombong dan gengsi. Orang ini pun mengumpulkan kemaksiatan dan kesombongan. (Diringkas dari Tafsir as-Sa’di)
Tidak jarang ketika dinasihati, seseorang menjawab : “Kamu urusi saja dirimu sendiri !”. Ucapan ini dan semisalnya merupakan ucapan yang paling dibenci Allah. Nabi kita bersabda (artinya) : “…Sesungguhnya ucapan yang paling dibenci oleh Allah adalah ucapan seseorang kepada yang lain : “Bertakwalah kepada Allah !”, lalu ia menjawab : “Urusi saja dirimu sendiri !” (ash-Shahihah 2598 dan 2939)
Orang seperti ini dapat terjatuh ke dalam kesombongan, baik sombong kepada Allah maupun manusia. Betapa buruknya sifat orang ini ! Bukankah beberapa kaum terdahulu berbuat kerusakan di muka bumi lalu menyombongkan diri di hadapan nasihat para Rasul, hingga akhirnya azab menimpa mereka ?!
Dengan demikian, setiap orang yang bermaksiat kepada Allah hendaknya bersegera bertaubat dan jangan terus menerus berbuat dosa. Sungguh azab Allah di dunia ini amat pedih dan tentu saja azab akhirat jauh lebih mengerikan !
Menumbuhkan Harapan Kepada Allah
Musibah tentu merupakan peristiwa yang menyesakkan dada. Namun seorang muslim hendaknya ingat bahwa di balik musibah itu ada banyak hikmah berharga. Bahkan, hikmah tersebut nilainya jauh lebih berharga dibandingkan harta yang lenyap ditelan musibah. Diantara hikmahnya adalah dihapuskannya dosa dan diangkatnya kedudukan di sisi Allah.
Apabila seorang muslim ditimpa musibah dan luput darinya niat meraih pahala bersabar, maka baginya penghapusan dosa. Namun jika ia berniat meraih pahala tersebut di balik musibah yang menimpanya, maka baginya penghapusan dosa sekaligus diangkatnya kedudukan dia di sisi Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau lebih daripada itu, melainkan dicatat baginya kedudukan dan dihapus darinya kesalahan” (HR. Muslim)
Bahkan kebaikan secara umum dapat ia raih, sebagaimana sabda Nabi (artinya) : “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan kepadanya, maka Dia timpakan musibah kepadanya”. (HR. al-Bukhari)
Semakin besar musibah yang ia alami, semakin besar pula pahala yang ia dapatkan jika bersabar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Sesungguhnya besarnya pahala itu bersama besarnya musibah. Sesungguhnya Allah bila mencintai suatu, maka Dia akan menimpakan musibah kepadanya. Barangsiapa meridhainya, maka baginya keridhaan (Allah). Barangsiapa yang marah, maka baginya kemarahan (Allah)”. (HR. at-Tirmidzi dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani)
Jalan keluar dari segala masalah hidup adalah ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Melalui beberapa firman-Nya, Dia menjanjikan (artinya) : “…Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan (juga) Dia akan memberinya rizki dari arah yang tidak ia sangka”.(Surah at-Thalaq : 2-3)
Dalam surat yang sama (artinya) : “…Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. (Surah At-Thalaq : 4)
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia Maha Mampu memberikan kemudahan hidup, kenikmatan yang besar dan melimpah ruah, sebagaimana Dia juga Maha Kuasa menimpakan kesulitan hidup dan musibah yang sangat dahsyat kepada setiap hamba-Nya. Tinggal bagaimana tingkat usaha seorang hamba untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Allah berfirman (artinya) : “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (Surah Ar-Ra’du : 11)
Musibah Besar Dikaitkan Kezaliman Penguasa, Tepatkah ?
Sebagian manusia beranggapan bahwa musibah besar yang terjadi di suatu negeri sebabnya adalah kezaliman yang dilakukan oleh penguasa negeri tersebut. Entah apa motif yang mendorong munculnya anggapan seperti itu. Tapi yang jelas, kita sebagai muslim haruslah bersikap ilmiah dalam menilai suatu perkara, termasuk musibah, dan itu telah kita ketahui sebagiannya pada edisi yang lalu.
Lalu tepatkah musibah besar itu ada kaitannya dengan kezaliman penguasa ? Menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui bahwa :
1) Munculnya penguasa yang zalim itu sendiri merupakan musibah bagi rakyat yang berbuat zalim terhadap sesama. Nabi bersabda (artinya) : “…Tidaklah mereka (suatu kaum) mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan ditimpa kekeringan, kehidupan yang susah dan kezaliman penguasa…” (Shahih al-Musnad Min Dalail an-Nubuwwah 717)
Jika demikian pernyataan Nabi, maka jelas bahwa kezaliman penguasa justru muncul manakala rakyat itu sendiri yang berbuat zalim. Bahkan musibah berupa kekeringan dan kesulitan hidup juga sebabnya adalah kezaliman rakyat. Apakah tidak sebaliknya, rakyat yang harus berbenah terlebih dulu hingga kelak akan muncul pemimpin yang adil dan Allah akan turunkan berkah terhadap negeri mereka ?!
2) Perlu sumber informasi yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab untuk menyebutkan suatu kezaliman penguasa, tanpa ada tendensi politik. Berita-berita di media cetak atau elektronik di masa sekarang tentang kezaliman penguasa sangat sarat dengan kepentingan tertentu, sehingga tidak layak dijadikan acuan.
3) Menyebutkan kezaliman atau aib penguasa di depan kalayak ramai, baik di mimbar, media cetak maupun elektronik, bahkan menggunjing penguasa dalam obrolan santai bukanlah bimbingan Islam yang sebenar-benarnya. Bahkan itu merupakan metode (manhaj) kaum teroris Khawarij sejak awal mula muncul hingga hari ini. Yang benar, justru orang yang berilmu dan bijaklah (bukan setiap rakyat) yang berhak menasihati penguasa, dan itu pun secara diam-diam tanpa diketahui publik. Jika nasihat diterima penguasa, maka itulah yang diharapkan. Namun jika tidak, maka tidak ada paksaan apalagi unjuk rasa atau memberontak dalam tuntunan Islam yang sebenar-benarnya.

Wallahu a’lamu bish-Shawab

Ambillah Sebagai Pelajaran, Wahai Saudaraku !

Ambillah Sebagai Pelajaran, Wahai Saudaraku !
Setelah Lombok NTB, berikutnya giliran Palu dan sekitarnya di Sulteng diguncang gempa bumi bahkan disusul gelombang tsunami yang dahsyat. Negeri yang mayoritas beragama Islam ini beruntun diterpa musibah besar hingga menyisakan duka dan nestapa.
Saudaraku, tulisan yang sangat sederhana ini sengaja kami torehkan karena jiwa terpanggil untuk mengingatkan diri ini dan saudaraku bahwa ada pelajaran di balik musibah ini. Pelajaran tersebut kami akan utarakan menurut tinjauan agama karena sisi ini masih terasa kurang dikedepankan kala musibah terjadi. Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya agama dengan bimbingan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi menurut pemahaman Salaf (generasi terbaik umat Islam) menjadi tinjauan utama dalam menilai suatu perkara, baik ucapan, perbuatan maupun peristiwa.
Pelajaran Pertama : Mengingatkan Kita Terhadap Kekuasaan Allah
Allah berfirman (artinya) : “Katakanlah (wahai Muhammad) : “Dialah (Allah) yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian…” (Surah Al-An’am : 65)
Tidak ada satu pun sanggup menghalangi kekuasaan Allah jika Dia menghendaki suatu kejadian. Hamba yang beriman semakin yakin terhadap kekuasaan Allah manakala menyaksikan suatu kejadian yang luar biasa. Alam semesta yang luas ini adalah milik-Nya dan Dia-lah semata yang mengaturnya dengan penuh hikmah. Akankah manusia yang kecil dan lemah ini masih saja enggan percaya terhadap berita-Nya, tunduk terhadap perintah dan larangan-Nya ?!
Pelajaran Kedua : Kemegahan Duniawi Tanpa Ketakwaan Yang Sebenar-benarnya Justru Akan Berujung Kehancuran
Tertera di dalam Surah Al-Hajj : 45, Allah menyatakan (artinya) : “Betapa banyak negeri yang telah Kami (Allah) hancurkan dalam keadaan (penduduknya) zalim. Maka (tembok-tembok) negeri tersebut roboh menutupi atap-atapnya, sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi”.
Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata : “Maka tempat-tempat tinggal mereka roboh, istana-istana dan tembok-temboknya runtuh menimpa atap-atapnya. Maka jadilah negeri-negeri tersebut sunyi setelah dahulu ramai dan menakutkan setelah dahulu kala dihuni penduduknya dalam keadaan senang… Betapa banyak sumur yang dahulu manusia ramai mendatanginya untuk minuman mereka dan ternak mereka. Lalu hilanglah pemiliknya dan lenyaplah orang yang menghampirinya.Betapa banyak istana yang pemiliknya lelah untuk menjadikannya megah, tinggi menjulang, membentenginya dan menghiasinya. Namun tatkala datang azab Allah, maka itu tidak menyelamatkan mereka dari azab-Nya sedikit pun. Jadilah ia kosong dari penghuninya. Jadilah mereka sebagai pelajaran bagi siapa yang dapat mengambil pelajaran dan perumpamaan bagi siapa yang mau berpikir dan melihat”. (Tafsir as-Sa’di)
Pelajaran Ketiga : Dosa Adalah Penyebab Utama Datangnya Musibah
Banyak ayat Allah yang menyebutkan hal itu, diantaranya : firman Allah (artinya) : “Dan betapa banyak (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Rabb mereka dan para Rasul-Nya. Maka Kami (Allah) memperhitungkan mereka dengan perhitungan yang keras dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan. Mereka pun merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya dan akibat dari perbuatan mereka adalah kerugian yang besar. Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang memiliki akal…” (Surah At-Thalaq : 8-10)
Dosa yang ditampakkan di hadapan manusia dan tidak diingkari, akibatnya (berupa musibah) akan dirasakan oleh banyak orang. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Maka selama dosa itu tertutupi, musibahnya hanya dirasakan oleh pelakunya. Namun jika ia tampakkan dan tidak diingkari, maka bahayanya dirasakan oleh banyak orang. Lalu bagaimana halnya jika penampakan dosa itu justru menggerakkan orang lain kepada dosa tersebut ?!…” (Majmu’ al-Fatawa 28/215, Maktabah Syamilah)
Sudah semestinya seorang muslim mengakui bahwa dosa adalah penyebab utama datangnya musibah dan bersegera beristighfar kepada Allah. Sebenarnya istighfar itu sendiri merupakan pencegah datangnya azab Allah. Allah berfirman (artinya) : “…dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka dalam keadaan mereka meminta ampun”. (Surah Al-Anfal : 33)
Janganlah dirinya seperti orang-orang yang Allah sebutkan (artinya) : “Dan sungguh Kami (Allah) pernah menimpakan azab kepada mereka, maka (justru) mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka dan tidak pula merendahkan hati”. (Surah Al-Mu’minun : 76)
Adapun orang kafir, datangnya bencana alam kepada mereka tidaklah menambah melainkan kedurhakaan yang besar pada diri mereka. Allah berfirman (artinya) : “…Dan Kami (Allah) menakut-nakuti mereka, namun tidaklah hal itu melainkan menambah besar kedurhakaan mereka.” (Surah Al-Isra’ : 60)
Orang kafir menilai bencana itu adalah fenomena alam semata dan tidak merasakan bahwa penyebab utamanya adalah dosa. Sangat memprihatinkan jika penilaian seperti ini tidak diingkari atau bahkan diikuti oleh sebagian muslimin karena telah terdidik kuat dengan nilai-nilai materi dan mudah digiring oleh ulasan media.
Di banyak tempat, kesyirikan yang merupakan dosa terbesar ditambah kemaksiatan ironisnya dipelihara dan justru dilindungi. Dengan dalih budaya daerah yang dapat mengangkat industri wisata, kesyirikan malah dikembangkan dan bahkan dicampur dengan hiburan yang sejatinya adalah kemaksiatan. Wallahu al-Musta’an.
Pelajaran Keempat : Lemahnya Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Merupakan Penyebab Datangnya Musibah Secara Merata
Allah berfirman (artinya) : “Dan takutlah kalian terhadap siksa yang tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat zalim saja diantara kalian. Ketahuilah bahwa Allah itu sangat keras siksa-Nya”. (Surah Al-Anfal : 25)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya ! Hendaknya kalian benar-benar mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. (Jika tidak), maka hampir-hampir Allah akan mengirimkan hukuman kepada kalian. Lalu kalian berdoa kepada-Nya namun tidak dikabulkan”. (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)
Pelajaran Kelima : Mengingatkan Kita Terhadap Besarnya Kenikmatan Manakala Mengetahui Musibah Yang Menimpa Orang Lain
Mengetahui keadaan orang yang menderita di bawah kita akan dapat menggugah rasa syukur kita kepada Allah. Ternyata saat ini kita masih diberi kenikmatan yang bernilai besar, tidak ada pada saudara kita yang sedang dirundung duka mendalam. Sangat memprihatinkan keadaan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Untuk mendapatkan makanan saja sangat sulit. Setelah berhasil mendapatkan makanan, dihadapkan kesulitan mendapatkan minuman. Tidak berhenti sampai disitu. Setelah itu, menjumpai kesulitan untuk buang hajat karena air yang sangat langka dan fasilitas yang telah hancur. Belum lagi beragam kesulitan yang lain. Bisa jadi, mereka yang mengalami ini dahulunya bukan orang-orang yang ikut andil dalam kemaksiatan yang merupakan penyebab munculnya musibah, bahkan sangat mengingkarinya.
Sudah sepantasnya kita jaga kenikmatan yang kita rasakan saat ini dengan banyak mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menjauhkan diri, keluarga dan masyarakat dari segala bentuk kemaksiatan seiring memanjatkan doa :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan-Mu, berubahnya penjagaan-Mu, datangnya siksaan-Mu secara tiba-tiba dan seluruh kemurkaan-Mu”

Demikian pula doa dalam rangkaian zikir di setiap pagi (sebelum matahari terbit) dan sore (sebelum matahari terbenam) :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ ، وَأَهْلِي وَمَالِي ، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي ، وَآمِنْ رَوْعَاتِي ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي ، وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي ، وَمِنْ فَوْقِي ، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ مِنْ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu penjagaan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan penjagaan terhadap agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan berilah keamanan terhadap rasa takutku. Ya Allah, jagalah diriku dari musibah yang datang di depanku, belakangku, sebelah kananku, kiriku, di atasku dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari tenggelam (ke bumi) di bawahku”
Pelajaran Keenam : Musibah Merupakan Rahmat & Kebaikan Bagi Seorang Muslim
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memberikan kabar gembira di balik musibah yang menimpa seorang muslim (artinya) : “Umatku ini adalah umat yang dirahmati. Tidak ada bagi mereka azab di akhirat. Azabnya di dunia adalah cobaan-cobaan hidup, gempa bumi dan pembunuhan”. (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)
Husnul khatimah (akhir hidup yang baik) sebagai syahid dapat ia raih ketika meninggal dunia karena tenggelam diterpa ombak atau tertimpa reruntuhan. Nabi bersabda (artinya) : “Para syuhada’ itu ada 5 : Orang yang terkena wabah Tha’un, orang yang terkena penyakit perut, orang yang tenggelam, orang yang tertimpa reruntuhan dan syahid di jalan Allah”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Wallahu a’lamu bish-Shawab

Tafsir Surat Asy-Syams

Tafsir Surat Asy-Syams

Setelah mempelajari Tafsir Surat Al-Lail yang dimuat pada edisi ke-19, selanjutnya kita akan mempelajari Tafsir Surat Asy-Syams pada edisi ke-33 ini.
Ayat pertama (artinya) : “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari”.
Allah bersumpah dengan matahari beserta cahayanya karena pada keduanya terdapat manfaat semisal : pencahayaan bagi manusia hingga mereka di masa sekarang tidak banyak butuh terhadap cahaya listrik yang dapat memakan biaya sangat besar, sebab matangnya buah-buahan, pertumbuhan tanaman-tanaman dan manfaat lain yang tidak mengetahui jumlahnya kecuali Allah. Ini menunjukkan kekuasaan, ilmu dan rahmat Allah kepada hamba-hambaNya.