Riya’ Mengancam Kita

Riya’ Mengancam Kita

            Penyakit hati yang satu ini sangat mengancam setiap orang yang sedang berbuat baik.Bisa saja seseorang selamat dari kemaksiatan, namun jangan merasa dirinya selamat dari bahaya ketika sanggup berbuat baik.

            Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sangat khawatir penyakit ini menimpa umat beliau, melebihi kekhawatiran beliau dari fitnah (kejelekan) al-Masih ad-Dajjal.Beliau bersabda (artinya) : “Maukah aku beritakan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan menimpa kalian dibanding al-Masih ad-Dajjal ?”Maka kami (para sahabat) menjawab : “Tentu”.Maka beliau berkata : “Syirik yang samar : Seseorang berdiri menunaikan shalat lalu membaguskan shalatnya tatkala merasa ada pandangan seseorang (mengarah kepadanya)”.(HR.Ibnu Majah dan dihasankan oleh al-Albani)

            Beliau lebih mengkhawatirkan hal ini dibanding kejelekan al-Masih ad-Dajjal karena riya’ datang menghampiri seseorang saat beribadah kapan dan di mana saja ia berada.Adapun al-Masih ad-Dajjal tidaklah datang kecuali di akhir zaman.Apalagi riya’ amatlah samar, lebih samar dari merayapnya semut, sedangkan ad-Dajjal sangat tampak kelak di hadapan mata.

            Melalui sabda yang lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam memberitakan 3 golongan manusia yang pertama kali dilemparkan ke neraka jahanam.Mereka bukanlah para pelaku kejahatan, bahkan mereka adalah pelaku kebaikan.Orang pertama adalah ahli membaca Al Qur’an, orang kedua adalah pejuang yang terbunuh di medan jihad dan orang ketiga adalah penderma harta.Namun amat disayangkan, penyakit riya’ atau sum’ah telah membinasakan mereka.Bahkan Nabi menegaskan bahwa mereka adalah golongan yang pertama kali merasakan api neraka.Nas’alullaha as-Salamah.

Apa Itu Riya’ ?

            Riya’ adalah menampakkan ibadah di hadapan manusia agar mereka memuji pelakunya.Namun jika seseorang menampakkan ibadahnya di hadapan manusia agar mereka mengikutinya dengan baik, maka ini bukanlah riya’.Bahkan ini adalah perkara yang baik dan dapat menjadi sebab ia mendapatkan 2 pahala : Pahala ia beribadah dan pahala orang yang mengikutinya.

Ada Berapa Macam Riya’ ?  

            Riya’ dapat dibagi menjadi 2, yaitu :

1)    Riya’-nya kaum munafiqin, yaitu menampakkan setiap amalannya di hadapan manusia agar mendapatkan penghormatan dari mereka, dapat hidup di tengah muslimin, terjaga darah dan hartanya, sama sekali bukan karena Allah.Ini adalah riya’ yang merupakan syirik besar dan membatalkan keimanan.

2)    Riya’-nya kaum muslimin, yaitu menjadikan sebagian amalannya karena Allah sekaligus selain-Nya.Ini adalah syirik kecil, syirik yang samar (asy-syirk al-khafi) atau (asy-syirk as-Sara’ir).Syirik seperti ini membatalkan kesempurnaan iman.Namun riya’ pada poin ke-2 ini ada beberapa keadaan :

a)    Jika riya’-nya muncul sejak awal ibadah hingga akhir tanpa ada perlawanan hati, maka ibadah tersebut gugur pahalanya dan tidak diterima oleh Allah.

b)    Jika riya’-nya muncul di tengah ibadah yang awalnya karena Allah, maka dilihat :

  • Bila ibadah tersebut bukan merupakan satu rangkaian (dari awal hingga akhir), seperti : sedekah, maka bagian yang tidak tercampuri oleh riya’ tidaklah gugur.Adapun yang tercampuri riya’ pahalanya gugur.
  • Namun bila ibadahnya merupakan satu rangkaian, seperti : shalat, maka dirinci : Apabila hatinya berusaha menghilangkan riya’ dengan gigih, maka ibadahnya tidak rusak.Namun apabila tidak ada usaha mengusir riya’ tadi, maka satu rangkaian ibadahnya gugur pahalanya.

Sebuah Pintu Riya’ Yang Sangat Samar !

 

            Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata : “Nah di sini ada semacam titik yang samar, yaitu : Bahwa seseorang kadang mencela dirinya di tengah manusia.Dirinya berharap manusia menganggapnya sebagai orang yang bertawadhu’ hingga ia terangkat (kedudukannya) di sisi manusia dan dipuji.Ini termasuk pintu riya’ dan para as-Salaf ash-Shalih telah mengingatkan akan hal itu”.

            Beliau lalu membawakan ucapan Mutharrif bin Abdillah asy-Syikhkhir : “Cukuplah suatu jiwa itu dikatakan mencari sanjungan tatkala engkau mencela jiwamu di hadapan khalayak manusia, lalu seakan-akan engkau berharap dari celaan tersebut perhiasan.Itu di sisi Allah adalah sebuah kedunguan”.(Lihat Dzammu al-Maal Wa al-Jaah, dinukil dari www.sahab.net)

 

Betapa Beratnya Menghadapi Riya’ !

 

            Yusuf bin al-Husain ar-Razi rahimahullah berkata : “Sesuatu yang paling berat di dunia ini adalah menjaga keikhlasan.Betapa seringnya aku berusaha mengalahkan riya’ pada hatiku, namun seakan-akan riya’ itu muncul pada hatiku dengan warna lain”.(Jami’ al-‘Ulum Wa al-Hikam)

 

Bagaimana Mengobati Diri Dari Penyakit Riya’ ?

 

            Seseorang dapat berusaha mengobati dirinya dari penyakit riya’ dengan beberapa cara, yaitu :

1)    Mengenal keagungan Allah Ta’ala, pahala-Nya yang besar bagi orang yang ikhlas dalam ibadah dan siksa-Nya yang pedih bagi orang yang riya’ dalam ibadah.

2)    Benar-benar mengakui bahwa setiap ketaatan yang berhasil dia lakukan semata-mata kemudahan dari Allah, bukan karena kekuatan badan atau kecerdasan dirinya.

3)    Rendahnya dunia dan kemewahan padanya di sisi Allah.

4)    Mengingat kematian dan peristiwa-peristiwa yang menakutkan di alam kubur.

5)    Memperbanyak beberapa ibadah untuk dilakukan secara diam-diam, seperti : shalat malam atau sedekah diam-diam.

6)    Berdoa memohon keikhlasan kepada Allah,seperti doa :

اللهمَّ إنّا نَعوذُ بك من أنْ نُشركَ بك شيئاً نَعلمُه، ونستغفرُكَ لما لا نعلمُه

“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon ampun kepada-Mu dari kesyirikan yang tidak kami ketahui”

 

7)    Membaca biografi ibadah orang-orang shalih terkhusus para sahabat Nabi hingga kita bertanya pada diri kita masing-masing : “Apa yang pantas untuk kita riya’-kan dari ibadah-ibadah kita ?! Seluruh ibadah kita tidak layak dibandingkan dengan ibadahnya para sahabat Nabi !”

8)    Bergaul dengan orang-orang shalih.

 

Jangan Tinggalkan Amalan Karena Godaan Riya’ !

 

            Al-Hafizh Ibnu Muflih rahimahullah mengatakan bahwa diantara yang terjadi pada diri seseorang, jika ia ingin berbuat ketaatan tiba-tiba muncul sesuatu yang mendorongnya untuk mengurungkan ketaatan tersebut karena takut riya’.Maka yang seharusnya bagi dirinya adalah tidak menengok dorongan tadi.Seseorang hendaknya tetap mengerjakan apa yang telah diperintahkan Allah, meminta tolong dan bertawakal kepada-Nya dalam mengerjakan perintah sesuai syariat (Lihat al-Adab asy-Syar’iyah, Maktabah Syamilah)

            Demikian pula jika kekhawatiran terhadap riya’ ini dijadikan alasan untuk meninggalkan amalan, maka betapa banyak amalan yang akan hilang di tengah muslimin dan ini merupakan bahaya yang sangat besar.

Beberapa Hal Yang Bukan Merupakan Riya’

 

            Ada beberapa hal yang bukan merupakan riya’, diantaranya :

1)    Rasa senang yang muncul pada seseorang usai beribadah karena ada manusia yang mengetahui ibadahnya.Ini bukanlah riya’ karena dari awal hingga akhir ibadahnya, ia tetap menjaga keikhlasannya, tanpa peduli apakah ketika ia beribadah manusia melihatnya ataukah tidak.

2)    Rasa senang yang muncul pada dirinya karena dapat beribadah.Bahkan itu merupakan tanda keimanannya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “…Barangsiapa yang kebaikan itu menyenangkan dirinya dan kejelekan itu meresahkan dirinya, maka itulah seorang mukmin”.(HR.at-Tirmidzi)

3)    Bersemangat dalam beribadah tatkala bersama orang lain.

Penampilan Seseorang Yang Islami Secara Lahir Tidak Mesti Menunjukkan Orang Tersebut Riya’

 

            Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata : “Sesungguhnya beberapa manusia dahulu dihukumi dengan turunnya wahyu di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Sesungguhnya (kini) turunnya wahyu telah usai.Kami hanya menghukumi kalian sekarang dengan apa yang tampak dari amalan kalian.Barangsiapa yang menampakkan kebaikan di hadapan kami, maka kami mempercayai dan mendekatinya.Tidak ada jalan sedikit pun bagi kami untuk menghukumi hatinya.Allah-lah yang akan memperhitungkan isi hatinya.Barangsiapa menampakkan kejelekan di hadapan kami, maka kami tidak mempercayai dan membenarkan dirinya, sekalipun dikatakan bahwa isi hatinya baik”.(Shahih al-Bukhari)

            .Tidak boleh serta merta kita berburuk sangka terhadap seseorang yang berpenampilan islami bahwa orang tersebut riya’. Maka kita menilai seseorang sesuai penampilan lahiriah dia sampai tampak darinya sesuatu yang sebenarnya dia sembunyikan.Bahkan serta merta menuduh bahwa orang yang seperti tidak ikhlas, mencari perhatian manusia untuk disanjung merupakan perangai orang-orang munafiq.Dari ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, berkata : “Tatkala turun ayat tentang sedekah, maka kami memikul harta (di atas punggung) kami.Lantas datanglah seseorang dan menyedekahkan harta yang banyak.Maka mereka (orang-orang munafiq) berkata : “Orang ini riya’ “.Kemudian datang orang lain dan bersedekah satu sha’.Ternyata mereka berkata : “Sesungguhnya Allah tidak butuh terhadap satu sha’ ini !”Maka setelah itu turunlah ayat (artinya) : “(Yaitu) orang-orang yang mengejek kaum mukminin yang bersedekah dengan sukarela dan mengejek (kaum mukminin) yang tidaklah mendapati sesuatu untuk sedekah selain apa yang mereka sanggupi”.(HR.al-Bukhari.Lihat Muslim)

Wallahu a’lamu bish-Shawab

Al-Hasan bin Shalih bin Hayyi al-Hamdani

Al-Hasan bin Shalih bin Hayyi al-Hamdani

            Orang ini lahir sekitar tahun 100 H dan meninggal dunia sekitar 69 tahun kemudian.Dia dikenal sebagai orang yang berilmu (‘alim), zuhud (tidak tamak) terhadap dunia, wara’ (sangat menjaga diri dari perkara yang meragukan bagi dirinya), sangat takut terhadap Allah, hafal ribuan hadits, kokoh dalam hafalannya (tidak terbata-bata), sangat mudah tersentuh hatinya oleh perkara akherat dan mudah menangis (ketika mengingat akherat)…

            Dia sempat hidup sezaman dengan banyak para imam (tokoh besar) salaf dalam hal ilmu dan ibadah, seperti Sufyan ats-Tsauri dan selain beliau.Dia termasuk periwayat hadits, sampai-sampai Abu Hatim ar-Razi yang dikenal keras dalam mengkritisi para periwayat hadits berkata tentang al-Hasan ini : “Tsiqah (terpercaya), hafal ribuan hadits dan kokoh dalam hafalannya”.

            Diantara yang menakjubkan dari keadaan orang ini adalah sangat mudahnya hati dia tersentuh dan menangis ! Yahya bin Abi Bukair berkata : “Aku pernah berkata kepadanya : “Sifatkan kepadaku bagaimana tata cara memandikan jenazah ! Maka dia tidak sanggup menerangkannya karena menangis”.

            Diantara yang menakjubkan dari keadaan orang ini adalah tampaknya kekhusyu’an pada wajahnya ! Abu Sulaiman ad-Darani berkata : “Aku belum pernah melihat seorang pun yang rasa takut kepada Allah dan kekhusyu’an itu lebih tampak pada wajahnya dibanding al-Hasan bin Shalih”.

            Diantara yang menakjubkan dari keadaan orang ini adalah sikap zuhud dan merasa cukup dengan pemberian dari Allah ! Dia berkata tentang dirinya sendiri : “Kadangkala ketika aku tiba di pagi hari, tidak ada sepeser dirham pun bersamaku ! Seakan-akan dunia telah dijauhkan dariku”.

            Diantara perkara yang menakjubkan dari orang ini adalah sifat wara’ yang sangat tinggi ! Dia pernah menjual budak wanitanya.Dia pun berkata kepada orang yang akan membelinya : “Budak ini pernah satu kali berdahak darah”.Hal ini dia ucapkan karena khawatir budak ini tertimpa sebuah penyakit dengan sebab dahak darah, lalu dia teranggap menipu si pembeli.

            Diantara hal yang membuat decak kagum dari orang ini adalah besarnya rasa takut dia kepada azab Allah ! Ketika sampai membaca ayat (artinya) : “Mereka tidak diresahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat)…” , maka dia benar-benar tersentuh ! Sampai-sampai disebutkan bahwa wajahnya berubah menjadi kehitam-hitaman dan kekuning-kuningan.

            Diantara yang menakjubkan dari orang ini adalah banyaknya menghayati Al Qur’an ! Dia pernah membaca Surat An Naba’ dalam shalat malam.Dia pun larut dalam bacaannya ! Akhirnya tiba waktu Shalat Subuh dalam keadaan belum menyelesaikan surat tersebut.

            Diantara pula perkara yang menakjubkan dari orang ini adalah lamanya berdiri shalat di waktu malam ! Dia dahulu membagi malam untuk dirinya dengan sang ibu dan dirinya dengan saudaranya.Tatkala sang ibu wafat, maka dia bagi antara dirinya dengan saudaranya.Tatkala saudaranya juga meninggal dunia, maka dia pun menunaikan shalat sepanjang malam.

            Diantara rekomendasi (pujian) tertinggi yang pernah diperoleh oleh orang ini adalah ucapan Abu Hatim ar-Razi : “Terkumpul pada orang ini kekokohan  dalam hafalan, kedalaman ilmu, ibadah dan zuhud”.

            Namun bersamaan dengan seluruh apa yang telah disebutkan di atas…para imam (tokoh besar) salaf dalam hal ilmu dan ibadah berubah dalam menilai orang ini.Mereka menvonis orang ini sebagai ahli bid’ah dan mewaspadainya.Diantara para ulama ada yang sampai meninggalkan riwayat hadits orang ini.Sampai-sampai kritikan para imam salaf terhadapnya benar-benar keras.Ahmad bin Yunus berkata : “Kalau seandainya saja al-Hasan bin Shalih tidak dilahirkan (di muka bumi ini), maka niscaya itu lebih baik bagi dirinya”.

            Lalu apa dosa yang al-Hasan bin Shalih terjatuh kepadanya hingga para imam salaf memperlakukan dirinya seperti itu tanpa mempertimbangkan kebaikan-kebaikannya, sisi-sisi positif dan tanpa ada sikap berbasa-basi dengannya ?

            Dosanya adalah DIA MEMBOLEHKAN PEMBERONTAKAN TERHADAP PENGUASA YANG ZALIM !

            Renungilah ! Orang ini belum pernah melakukan tindakan pemberontakan, belum pernah menebarkan ucapannya (di tengah kaum muslimin) dan belum pernah menghasut orang lain untuk memberontak pemerintah.Pemberontakan terhadap pemerintah hanyalah sekedar pemikiran (pada orang ini)

            Adz-Dzahabi berkata terkait orang ini : “Orang  ini berpandangan bolehnya memberontak para penguasa di zamannya, karena kezaliman dan kejahatan penguasa.Hanya saja selama-lamanya dia tidak pernah melakukan pemberontakan”.

            Adz-Dzahabi juga berkata : “Orang ini termasuk dari para imam Islam kalau seandainya ia tidak berlumuran dengan kebid’ahan”.

            Mereka (para imam salaf) tidak tertipu dengan kekhusyu’an orang ini.

            Abu Said al-Asyaj berkata : “Aku pernah mendengar Ibnu Idris berkata : “Senyumannya Sufyan ats-Tsauri itu lebih kami sukai dibanding pingsannya al-Hasan bin Shalih (ketika membaca ayat)”.

            Diambil faidah dari keterangan di atas : Bahwa pendapat bolehnya memberontak terhadap penguasa yang zalim adalah sebuah kebid’ahan, yang tidak boleh berbasa-basi di hadapan pelakunya.Tidak boleh pula diam dari membantah pelaku tersebut, setinggi apapun ilmu dan keutamaan yang dimilikinya.Bahwasanya para salaf dahulu menilai seseorang itu dengan timbangan berpegang teguhnya orang tersebut dengan sunnah (bimbingan) Nabi, bukan dengan timbangan luasnya ilmu, panjangnya ibadah, banyaknya kekhusyu’an atau mudahnya menangis.Bahwasanya pula seseorang kadangkala berilmu, namun memiliki satu kebid’ahan (yang kebid’ahan itu bertentangan dengan pokok Ahlussunnah) sehingga ia keluar dari lingkup Ahlussunnah dan menjadi seorang ahli bid’ah dengan sebab itu.

(www.bayenahsalaf.com, dinukil dari akun asy-Syaikh Fawwaz al-Madkhali)

            Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, demikianlah bimbingan dan sikap para ulama salaf yang sesungguhnya.Seseorang yang mengaku sebagai Ahlussunah Wal Jama’ah seharusnya meneladani sikap para ulama salaf terdahulu dalam menyikapi ahli bid’ah, sekalipun ahli bid’ah tersebut tidak mendakwahkan kebid’ahannya.Selama ahli bid’ah itu tidak bertaubat dan kembali ke jalan sunnah Nabi setelah sampai kepadanya peringatan, maka ia tetap dijauhi.Jangan sampai kita terkesima dengan ilmu berupa gelar (Lc, MA, Dr ataupun Prof) pada seorang dai maupun ibadah dia, sampai benar-benar kita ketahui bahwa dia adalah orang yang memang berpegang teguh dengan seluruh prinsip Ahlussunnah Wal Jama’ah yang telah disebutkan di dalam kitab-kitab para ulama.

            Lalu kapan seseorang itu dikatakan sebagai ahli bid’ah ? Jawabnya : Para ulama telah menyebutkan kapan seseorang itu dikatakan sebagai ahli bid’ah, diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.Beliau berkata : “Kebid’ahan yang dengannya seseorang terhitung sebagai ahli ahwa’ (bid’ah) adalah apa yang telah masyhur di kalangan ulama pertentangannya dengan Al Qur’an dan as-Sunnah, seperti bid’ahnya Khawarij, Rawafidh, Qadariyah dan Murji’ah”.(Lihat Majmu’ Fatawa 35/414)

            Ini adalah salah satu pernyataan dari seorang ulama besar yang butuh kajian tersendiri pada babnya.

            Adapun Khawarij adalah kelompok sempalan yang pertama muncul dan terakhir musnah dalam tubuh kaum muslimin.Salah satu pokok penyimpangan kelompok paling berbahaya ini adalah mengkafirkan kaum muslimin dan pemerintahnya yang tidak sejalan dengan keyakinan mereka hingga berujung penghalalan darah kaum muslimin dan penguasanya.Namun perlu diketahui bahwa pemikiran Khawarij itu tidaklah sebatas itu.Bahkan membicarakan kejelekan penguasa muslimin secara terang-terangan di depan khalayak manusia melalui cara demonstrasi, ceramah agama atau melalui media massa termasuk dari model pemikiran Khawarij.Islam memberikan bimbingan agar orang yang berilmu agama dan memiliki sikap bijak hendaknya memberikan nasehat secara diam-diam kepada pemerintah jika didapati kesalahan padanya, tidak secara terang-terangan apalagi dilakukan oleh orang yang tidak diketahui jati diri ketakwaannya.

            Rawafidh (bentuk jamak Rafidhah) adalah kelompok Syi’ah yang hakikatnya sudah menjadi agama terpisah dari Islam.Hanya saja kelompok ini mengklaim diri atau diklaim oleh sebagian orang sebagai kelompok pembela Islam.Tentu saja ini adalah kedustaan untuk mengelabui kaum muslimin.Bahkan kelompok ini memiliki prinsip-prinsip keyakinan kufur yang sangat jauh dari Islam dan itu benar-benar tertuang secara otentik pada buku-buku penting mereka.Bukti nyatalah yang harusnya kita pegang dan jangan tertipu dengan pengakuan semata.

            2 kelompok sesat ini memiliki andil sangat besar untuk menciptakan kerusakan di berbagai negara Islam saat ini.Suriah, Lebanon, Irak, Libya dan Yaman telah merasakan penderitaan luar biasa akibat tindakan anarkhis yang dilakukan oleh kaum Khawarij (ISIS, al-Qaeda atau semisalnya) dan Syi’ah Rafidhah (Hizbullah atau semisalnya yang didukung kuat oleh Iran).Negara kita pun saat ini sedang dalam proses pengrusakan oleh 2 kelompok ini meski tidak sebesar negara-negara tadi.Semoga Allah menyelamatkan negara kita dari kejahatan musuh-musuh Islam dan muslimin.

            Qadariyah adalah salah satu kelompok sempalan yang memiliki prinsip menolak adanya takdir Allah dan manusia itu memiliki kehendak yang tidak terkait dengan kehendak Allah.

            Murji’ah adalah kelompok sempalan yang memiliki prinsip bahwa amalan itu bukan termasuk dari lingkup iman, sehingga apapun yang diperbuat oleh seseorang selama hati atau ucapannya benar, maka ia tetap dikatakan sebagai mukmin yang sempurna keimanannya.

            Kesimpulannya, hendaknya kita semua senantiasa menuntut ilmu agama dengan benar hingga dapat bersikap tepat terhadap kebid’ahan sekaligus pelaku kebid’ahan, terlebih di masa sekarang yang penuh dengan pengaburan (syubhat) sampai-sampai yang sunnah dianggap bid’ah, bid’ah dianggap sunnah dan banyaknya pihak yang mengaku sebagai Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Wallahu a’lamu bish-Shawab

Seputar Hukum Pinjaman (al-’Ariyah)

Seputar Hukum Pinjaman (al-‘Ariyah)

            Yang dimaksud pinjaman (al-‘Ariyah) adalah pembolehan memanfaatkan suatu barang yang zatnya secara syariat memang boleh dimanfaatkan dan tetap utuh saat dimanfaatkan.Pembolehan itu berasal dari orang yang meminjami (al-Mu’ir) kepada orang yang meminjamnya (al-Musta’ir).Konteks pembolehannya bisa dengan ucapan yang jelas, seperti : “Aku pinjami buku ini kepadamu” atau ucapan isyarat, seperti : “Pakai saja pena ini !”, maupun dengan perbuatan, seperti : menyodorkan cangkul kepada seseorang yang akan membersihkan selokan.Bisa pula konteks pembolehannya dengan tulisan.

Hukum Pinjaman

            Terkait dengan al-Mu’ir, maka hukum pinjaman yang ia lakukan bisa sunnah, makruh, wajib atau bahkan haram.Dalil tentang sunnah atau wajibnya pinjaman adalah keumuman firman Allah Ta’ala yang artinya : “…dan berbuat baiklah (kepada orang lain).Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”.(Al Baqarah : 195)

            Demikian pula keumuman firman-Nya yang artinya : “…dan tolong menolonglah kalian di atas kebaikan dan ketakwaan, janganlah kalian tolong menolong di atas dosa dan permusuhan…”(Al Maidah : 2)

            Contoh meminjamkan barang yang hukumnya wajib, yaitu : meminjamkan pelampung untuk seorang muslim yang dikhawatirkan tenggelam di laut, atau meminjamkan pisau untuk seseorang yang segera menyembelih ternak yang sekarat karena dikhawatirkan menjadi bangkai.

            Seseorang yang tidak meminjamkan barang yang memang boleh dimanfaatkan secara syar’i (dalam keadaan dirinya tidak sedang butuh terhadap barang tersebut) kepada orang lain yang sedang butuh, dikhawatirkan terancam oleh firman Allah (artinya) : “Dan mereka yang mencegah dari barang yang berguna”.(Al Ma’un : 7)

            Maksudnya : Celaka bagi mereka yang mencegah dari barang yang berguna.

            Adapun contoh meminjamkan barang yang hukumnya haram, yaitu : meminjamkan mobil untuk safar (bepergian) ke tempat maksiat, atau meminjamkan kursi untuk acara bid’ah.

            Dalam sebuah fatwa yang kami bawakan petikannya, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyatakan : “…Jika anda mengetahui atau kuat dugaan anda bahwa orang tersebut akan menggunakan barang pinjamannya untuk kemaksiatan, maka jangan anda pinjami dia.Adapun jika orang tersebut tidak diketahui tujuan meminjamnya atau anda sama sekali tidak tahu, maka disunnahkan untuk anda meminjaminya.Beritahu dia dengan kebaikan.(Pinjami) sekalipun dia orang yang kurang baik, kafir, kafir musta’man, kafir mu’ahad atau fasik…”(Dipetik dari www.binbaz.org.sa)

            Adapun terkait dengan al-Musta’ir, maka hukum meminjam baginya adalah mubah (boleh) dan bukan jenis meminta yang tercela.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sendiri pernah meminjam kuda perang milik Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu.Demikian pula, beliau pernah meminjam baju besi milik Shafwan bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu pada Perang Hunain.

Syarat-syarat Pinjaman

            Ada beberapa syarat sahnya pinjaman, yaitu :

1)    Al-Mu’ir statusnya adalah pemilik barang yang ia pinjamkan atau pemilik manfaat barang tersebut (misalnya : penyewa barang tersebut).Apabila misalnya : seseorang menyewa mobil lalu meminjamkan mobil tersebut (meski bukan miliknya) kepada orang lain, maka yang demikian ini boleh.Berbeda halnya jika seseorang bukan pemilik barang dan bukan pula pemilik manfaat barang, maka ia tidak boleh meminjamkan barang tersebut kepada orang lain.

2)    Al-Mu’ir adalah orang yang sehat akalnya.Maka tidak sah suatu pinjaman, jika al-Mu’ir ternyata hilang akalnya, dungu (idiot) atau anak kecil yang belum bisa memelihara barang miliknya.Adapun kalau anak kecil (meski belum baligh) yang bisa menjaga barang miliknya, maka sah pinjaman yang dia lakukan.

3)    Al-Mu’ir meminjamkan barangnya dengan pilihan atau kehendaknya sendiri, tidak dipaksa.

4)    Al-Musta’ir adalah orang yang sehat akalnya.Uraian poin ini sama dengan poin ke-2 di atas.

5)    Barang yang dijadikan pinjaman adalah barang yang memiliki manfaat dan boleh menurut syariat Islam.Adapun barang yang mengandung kemaksiatan atau kemungkaran, seperti : alat musik atau buku maksiat / mungkar, maka tidak boleh dijadikan sebagai barang pinjaman.

6)    Barang yang dijadikan pinjaman adalah barang yang dimungkinkan tetap utuh zatnya tatkala dikembalikan kepada pemiliknya, termasuk di sini misalnya : mobil atau pena.Keduanya boleh dipinjam meski bahan bakar pada mobil atau tinta pada pena berkurang ketika dimanfaatkan.Hal ini karena bahan bakar pada mobil atau tinta pada pena sifatnya sekedar mengikut.Adapun barang yang tidak utuh tatkala dimanfaatkan, seperti : makanan atau minuman, maka tidaklah sah dijadikan sebagai barang pinjaman, berbeda halnya jika dijadikan sebagai barang titipan.

Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Oleh al-Musta’ir

 

            Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh al-Musta’ir, yaitu :

1)    Wajib bagi al-Musta’ir untuk menjaga keutuhan barang pinjamannya (jangan sampai rusak atau hilang) hingga dikembalikan kepada pemiliknya.

2)    Al-Musta’ir hendaknya memanfaatkan barang pinjamannya sebatas keperluan untuk apa barang itu ia pinjam, jika peminjamnnya bersifat muqayyad (terikat).Maksud “terikat” adalah al-Musta’ir menyampaikan kepada al-Mu’ir untuk keperluan apa dirinya meminjam barang.Misal : Ucapan “Saya pinjam motormu untuk pergi ke RS”.Maka motor itu tidak boleh digunakan selain untuk keperluan pergi ke RS.Termasuk dalam hal ini adalah mobil dinas yang memang sifatnya pinjaman untuk urusan dinas.Maka karyawan yang memakai mobil tersebut, tidak boleh ia gunakan selain untuk kepentingan dinas.Sekalipun sang atasan rela melihat keadaan seperti itu, maka tetap tidak diperbolehkan.

Adapun jika peminjamannya bersifat mutlak, maka al-Musta’ir boleh memanfaatkan barang pinjamannya untuk banyak keperluan selama tidak melampaui batas kebiasaan.Misal peminjaman bersifat mutlak : Ucapan “Saya pinjam motormu”, lalu al-Mu’ir mempersilakannya.Misal tidak melampaui batas : Tidak memberi muatan yang melebihi kapasitas kekuatan motor.

3)    Dilarang al-Musta’ir untuk meminjamkan barang pinjamannya kepada orang lain, kecuali ada izin dari al-Mu’ir atau al-Musta’ir telah mengenal kebiasaan al-Mu’ir yang tidak melarang barangnya dipinjamkan oleh al-Musta’ir kepada orang lain.

Kapan al-Musta’ir Segera Mengembalikan Barang Pinjamannya ?

 

            Al-Musta’ir hendaknya segera mengembalikan barang pinjamannya apabila dalam keadaan salah satu dari beberapa perkara berikut ini :

1)    Telah tiba batas akhir waktu peminjaman jika memang ada kesepakatan hal itu di awal peminjaman.

2)    Diminta kembali oleh al-Mu’ir selama tidak bermudharat bagi al-Musta’ir.Contoh sesuatu yang bermudharat bagi al-Musta’ir jika diminta kembali : Kayu pinjaman yang apabila diminta kembali, maka atap rumah al-Musta’ir dapat roboh.

3)    Al-Musta’ir khawatir barang pinjamannya hilang atau rusak.

4)    Keperluan al-Musta’ir melakukan peminjaman sudah selesai.

5)    Al-Musta’ir meninggal dunia, karena kewajiban mengembalikan barang pinjamannya masih berlaku baginya selama al-Mu’ir tidak merelakan barang miliknya.Siapa saja yang mengetahui keberadaan barang pinjaman tersebut, maka hendaknya ia segera mengembalikannya kepada al-Mu’ir.

6)    Al-Mu’ir meninggal dunia, karena barang yang dipinjam oleh al-Musta’ir termasuk harta warisan al-Mu’ir.

7)    Salah satu dari kedua belah pihak (al-Mu’ir atau al-Musta’ir) hilang akal sehatnya di kemudian hari.

Catatan

 

            Apabila ternyata al-Mu’ir tidak diketahui keberadaannya dan demikian pula yang mewakilinya, maka al-Musta’ir dapat menyedekahkan barang pinjamannya kepada orang lain atas nama al-Mu’ir.Jika suatu saat ternyata al-Mu’ir atau wakilnya diketahui keberadaannya, maka al-Musta’ir memberi pilihan kepada al-Mu’ir atau yang mewakilinya berupa :

a)    Barang pinjaman sudah terlanjur disedekahkan dan pahala sedekah bagi al-Mu’ir.

b)    Jika al-Mu’ir tetap menginginkan barang tersebut, maka al-Musta’ir mengganti dengan yang sepadan dan pahala sedekah bagi al-Musta’ir.

Kapan al-Musta’ir Wajib Memperbaiki Atau Mengganti Barang Pinjamannya ?

 

            Al-Musta’ir wajib memperbaiki barang pinjamannya jika rusak, atau menggantinya jika hilang tatkala terdapat salah satu dari keadaan berikut ini :

1)    Al-Musta’ir melakukan perbuatan melampaui batas dalam memanfaatkan barang pinjamannya hingga akhirnya barang tersebut rusak.Contoh keadaan ini : Al-Musta’ir mengemudikan mobil pinjamannya dengan kencang di jalan yang rusak hingga mobil tersebut rusak.Dalam keadaan seperti ini, al-Musta’ir wajib memperbaiki mobil tersebut.

2)    Al-Musta’ir melakukan kecerobohan hingga barang pinjamannya rusak atau bahkan hilang.Misal keadaan ini : al-Musta’ir meletakkan buku pinjamannya di sembarang tempat hingga rusak oleh air hujan, atau memarkir motor pinjamannya di sembarang tempat tanpa terkunci hingga dicuri.

3)    Adanya kesepakatan antara al-Musta’ir dengan al-Mu’ir atau kebiasaan di suatu daerah tentang tanggungan perbaikan jika rusak dan ganti jika hilang.

            Apabila ketiga keadaan di atas seluruhnya tidak ada, maka al-Musta’ir tidak wajib memperbaiki jika rusak atau mengganti jika hilang.

            Adapun penggantian barang pinjaman yang hilang, maka dengan cara :

1)    Apabila barang yang hilang itu dapat dijumpai sepadannya di pasaran, maka al-Musta’ir menggantinya dengan yang sepadan.

2)    Namun jika tidak ada yang sepadan di pasaran, maka al-Musta’ir menggantinya dengan uang senilai harga barang yang berlaku di masa hilangnya.Misal : harga barang saat dipinjam senilai Rp.200.000,- sedangkan saat hilang naik menjadi Rp.300.000,-, maka nilai gantinya sebesar Rp.300.000,-.Demikian pula keadaannya jika harga barang ternyata menurun.

Wallahu a’lamu bish-Shawab

 

Menyikapi Munculnya Nabi Palsu

Menyikapi Munculnya Nabi Palsu

            Untuk kesekian kali, ada lagi seseorang yang mengaku sebagai nabi sepeninggal Nabi Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Beberapa hari yang lalu, kita kembali mendengar seorang warga Jombang, Jatim mengaku sebagai nabi.

Sebuah Bukti Benarnya Kenabian & Kerasulan Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi Wasallam

            Diantara kita telah mengetahui bahwa fenomena kemunculan nabi palsu sebenarnya telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Melalui sabdanya, beliau mengatakan (artinya) : “…Sesungguhnya akan muncul di tengah umatku para pendusta sebanyak 30 orang.Seluruh mereka ini mengaku bahwa dirinya adalah nabi, sedangkan aku adalah penutup para nabi yang tidak ada lagi seorang nabi pun setelahku…”(HR.Abu Dawud yang disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

            Petikan hadits ini menunjukkan beberapa faidah, diantaranya :

1)    Akan ada beberapa orang yang mengaku sebagai nabi sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Sungguh benar-benar terbukti apa yang telah diberitakan oleh beliau.Ini menandakan benarnya kenabian dan kerasulan Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

2)    Penegasan langsung dari Nabi bahwa para pengaku nabi ini adalah para pendusta.Dengan demikian, seseorang tidak sepantasnya ragu apalagi mempercayai pengakuan sebagai nabi oleh siapa pun sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Bahkan setiap kita harus benar-benar meyakini langsung bahwa siapa saja yang mengaku sebagai nabi sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah pendusta, apapun alasan yang ia kemukakan.

3)    Kedustaan mereka yang mengaku sebagai nabi dipertegas dengan pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam melalui lafazh (artinya) : “…sedangkan aku adalah penutup para nabi yang tidak ada lagi seorang nabi pun setelahku…”

 

Sebuah Tanda Dekatnya Hari Kiamat

 

            Melalui hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Tidaklah tiba kiamat hingga dimunculkan para dajjal pendusta yang jumlahnya hampir 30 orang.Seluruh dari mereka ini mengaku bahwa dirinya adalah utusan Allah”.(HR.Muslim.Lihat Shahih al-Bukhari)

            Hadits mulia ini jelas sekali menunjukkan tentang salah satu tanda dekatnya kiamat, yaitu munculnya para pendusta yang mengaku mendapatkan wahyu dari Allah sebagai utusan-Nya.

Ancaman Allah Kepada Siapa Saja Yang Mengaku-ngaku Mendapatkan Wahyu Kenabian Atau Kerasulan Dari-Nya

 

            Melalui sebuah ayat, Allah berfirman (artinya) : “Dan siapakah yang lebih zalim dibandingkan seseorang yang membuat kedustaan atas nama Allah atau seseorang yang berkata : “Telah diwahyukan kepadaku”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya dan seseorang yang berkata : “Aku akan menurunkan semisal apa yang telah Allah turunkan.Alangkah dahsyatnya jika engkau menyaksikan di waktu orang-orang zalim itu dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedangkan para malaikat memukul dengan tangan mereka sambil berkata : “Keluarkanlah nyawa kalian”.Di hari ini kalian akan dibalas dengan siksa yang sangat  menghinakan, karena apa yang kalian katakan atas nama Allah dengan tidak benar, dan karena pula kalian menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya”.(Al An’am : 93)

            Dari ayat yang agung ini, kita dapat memetik beberapa faidah, diantaranya :

1)    Tidak ada yang lebih zalim dibandingkan seseorang yang mengaku mendapatkan wahyu dari Allah, padahal tidak satu pun wahyu Allah yang turun kepadanya.

2)    Ancaman su’ul khatimah (akhir hidup yang buruk) bagi seseorang yang berbuat zalim, termasuk seseorang yang mengaku sebagai nabi, padahal ia bukan nabi.

3)    Ancaman azab yang menghinakan bagi seseorang yang berbuat zalim, termasuk seseorang yang mengaku sebagai nabi, padahal palsu.

Sikap Pemerintah Muslimin Terhadap Para Nabi Palsu

 

            Sikap yang tepat oleh pemerintah kaum muslimin terhadap para nabi palsu adalah meminta mereka agar bertaubat dari pengakuan dustanya.Jika taubat ini mereka (para nabi palsu) lakukan, maka ini kebaikan bagi mereka.Namun jika mereka bersikukuh dengan kebatilan yang nyata tersebut, maka mereka diperangi dengan senjata.Demikian inilah yang dilakukan oleh manusia terbaik di umat ini setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, yaitu Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.Permintaan taubat lalu peperangan, beliau lakukan tatkala menyikapi nabi palsu pertama dalam sejarah Islam, yaitu Musailamah al-Kadzdzab.Akhirnya Musailamah al-Kadzdzab (yang telah mengaku sebagai nabi tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam masih hidup) tewas bersama sekian banyak pengikutnya dalam Perang Yamamah.

            Nampak sekali sikap bijak yang ditempuh oleh sang khalifah terbimbing ini.Beliau melakukan pendekatan persuasif dengan meminta taubat lalu tindakan lebih tegas lagi jika pendekatan persuasif tidak lagi mempan, yaitu perang.Demikian inilah sikap adil dan rahmatan lil ‘alamin yang sesungguhnya dari pemimpin yang berwibawa.

Nabi Palsu Ternyata Ada Saja Yang Mengikutinya

 

            Al-Imam Ibnu Baththah rahimahullah pernah berkata : “Manusia pada zaman kita ini adalah sekawanan seperti burung, sebagian mengikuti sebagian yang lain.Kalau seandainya muncul di tengah mereka seseorang yang mengaku sebagai nabi seiring mereka telah mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah penutup para nabi, atau muncul seseorang yang mengaku sebagai tuhan, maka niscaya ia akan mendapati para pengikut atau pendukung untuk itu”.(al-Ibanah al-Kubra, Maktabah Syamilah)

            Sungguh berharga pernyataan seorang ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah ini.Beliau berbicara di atas ilmu.Kalau hal itu beliau katakan sekitar 1000 tahun yang lalu, lalu bagaimana dengan zaman kita sekarang ini ?! Bukankah suatu zaman itu datang, melainkan zaman setelahnya lebih buruk keadaan agamanya ?! Kalau orang yang sudah mengetahui bahwa tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam bisa saja mengikuti nabi palsu, maka bukan semata-mata perkaranya tahu atau tidak tahu.Perkaranya adalah sikap taklid (membebek) sebagaimana perkataan Ibnu Baththah di atas, atau syubhat sebagaimana akan kita sebutkan.

            Kita pun dapat menjumpai sejak zaman Musailamah al-Kadzdzab hingga sekarang, ternyata ada saja orang yang mengikuti nabi palsu.Bahkan diantara mereka memiliki jaringan yang terorganisir dalam menebarkan pengakuan nabi palsu.

Jumlah Para Nabi Palsu

 

            Dalam hadits Nabi yang kita lalui di atas, beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengatakan bahwa jumlah nabi palsu itu ada 30 atau mendekati 30 orang.Namun al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud oleh hadits ini bukanlah setiap orang yang mengaku sebagai nabi, karena jumlah orang seperti ini banyak tidak terhitung.Kebanyakan orang seperti ini faktor pengakuan dustanya karena tidak sehat akalnya atau frustasi.Akan tetapi yang dimaksud hadits di atas adalah nabi palsu yang memang memiliki kekuatan dan syubhat (pengaburan terhadap agama).Allah telah membinasakan mereka dan tersisa para nabi palsu yang akan datang menyusul hingga berakhir dengan kemunculan Dajjal besar (Dikutip secara bebas dari Fathul Bari).

            Dari pernyataan ini, kita pun sadar bahwa masih saja ada orang-orang yang mengikuti nabi palsu, bisa dikarenakan kekuatan yang memaksa atau syubhat yang mampu mempengaruhi keyakinan mereka.Suatu contoh : Syubhat yang dilontarkan oleh Mirza Ghulam Ahmad.Dia mengatakan bahwa arti kata “Khataman Nabiyyin” pada Surat Al Ahzab ayat ke-40 adalah “perhiasan para Nabi”.Maksudnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah Nabi yang paling mulia, bukan artinya “penutup para Nabi”.Dengan demikian , tidak menutup kemungkinan akan adanya nabi setelah beliau meski bukan nabi yang paling mulia.

            Bisa jadi syubhat ini akan sangat mudah mempengaruhi seseorang.Namun kalau kita mau belajar agama lebih baik lagi, maka dapat kita jawab syubhat mereka :

1)    Siapa diantara para sahabat, tabi’in, atba’ tabi’in atau ulama kaum muslimin (terkhusus ulama tafsir dan bahasa Arab) yang mengartikan “Khataman Nabiyyin” dengan “perhiasan para Nabi” ? Atau apakah Mirza Ghulam Ahmad mengetahui sebuah tafsir atau maksud sebuah ayat Al Qur’an yang tidak diketahui oleh generasi terbaik umat ini ?

2)    Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam sendiri telah menjelaskan bahwa maksud “Khataman Nabiyyin” melalui hadits yang sudah kita lewati adalah “tidak ada lagi seorang nabi pun setelahku”.Beliau yang paling mengerti maksud ayat Al Qur’an dan apa yang disabdakannya sama sekali tidak memaksudkan kata “Khataman Nabiyyin” adalah “perhiasan para nabi”.

Ada Saja Sebagian Tokoh Yang Membela Nabi Palsu

 

            Selain para pengikut nabi palsu, ada juga sebagian tokoh yang membela keberadaan nabi lagisetelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Ini juga yang memprihatinkan kita.Di negara yang mayoritas muslimin ini, masih saja ada sebagian tokoh yang membela sesuatu yang terlalu nampak kebatilannya.Sebut saja macam :

1)    Ulil Abshar Abdalla.

Dalam situs resmi kaum liberal, dia menuliskan sebelas doktrin yang sebenarnya kurang perlu dalam Islam (menurut logika buruk Ulil), yang semestinya dihapus.Pada poin ketiga, dia berkata : “Tiga, doktrin bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman. Doktrin ini jelas “janggal” dan sama sekali menggelikan. Setiap agama, dengan caranya masing-masing, memandang dirinya sebagai “pamungkas”, dan nabi atau rasulnya sebagai pamungkas pula. Doktrin ini sama sekali kurang perlu. Apakah yang ditakutkan oleh umat Islam jika setelah Nabi Muhammad ada nabi atau rasul lagi ?”

2)    Abdul Moqsith Ghazali.

Alumnus Pondok Pesantren Salafiyah asy-Syafi’iyah, Asembagus, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur ini dalam sebuah wawancara yang dimuat dalam situs ummahonline wordpress com, mengatakan : “Ada pandangan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir. Tapi saya menganut satu prinsip bahawa pintu kenabian belum ditutup.”

Kemudian ia menyebutkan alasannya yang terlalu dipaksakan : “Karena di dalam kitab-kitab kuning, bahawa jumlah nabi itu 124,000. Maka, kalau kita kumpul sejumlah nama-nama nabi dalam kitab-kitab suci itu baru berjumlah sekitar 200 orang. Jadi seratus ribu lebih masih belum ditemui sampai sekarang. Masih terbuka peluangnya untuk menjadi nabi-nabi baru. Tentunya di Jawa namanya bukan nabi, mungkin kiyai.”

 

Keberadaan tokoh-tokoh seperti inilah yang akan menjadikan kehidupan beragama kaum muslimin di negeri kita semakin carut marut.Semoga Allah senantiasa membimbing kita di atas kebenaran.

 

Wallahu a’lamu bish-Shawab