Dituliskannya Kebaikan & Keburukan

Dituliskannya Kebaikan & Keburukan
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Tabaraka Wa Ta’ala bahwa beliau bersabda (artinya) : “Sesungguhnya Allah telah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan.Lalu Dia (Allah) menjelaskan hal tersebut : “Barangsiapa bertekad mengerjakan suatu kebaikan namun ternyata ia tidak mengerjakannya, maka Allah tuliskan baginya 1 kebaikan sempurna di sisi-Nya.Barangsiapa bertekad mengerjakan suatu kebaikan lalu ia mengerjakannya, maka Allah tuliskan baginya 10 kebaikan, 700 kali lipat kebaikan hingga kelipatan yang banyak.Apabila terlintas pada kalbunya suatu keburukan namun ia tidak mengerjakannya, maka Allah tuliskan baginya 1 kebaikan sempurna di sisi-Nya.Apabila terlintas pada kalbunya suatu keburukan lalu ia mengerjakannya, maka Allah tuliskan baginya 1 kejelekan”.(HR.al-Bukhari dan Muslim)
Dari hadits yang mulia ini, kita dapat mengetahui 4 keadaan manusia ketika kalbunya dihadapkan pada kebaikan maupun keburukan :
1) Kalbu yang dihadapkan pada tekad kebaikan namun tanpa mengerjakannya, maka ia mendapatkan 1 kebaikan (pahala).
2) Kalbu yang dihadapkan pada tekad kebaikan lalu mengerjakannya, maka ia mendapatkan 10 pahala, 700 kali lipat pahala hingga kelipatan pahala yang banyak.
3) Kalbu yang dihadapkan pada keburukan namun tanpa mengerjakannya, maka ia mendapatkan 1 pahala.
4) Kalbu yang dihadapkan pada keburukan lalu mengerjakannya, maka ia mendapatkan 1 dosa.

Selanjutnya kami jelaskan masing-masing dari 4 keadaan tersebut sebagai berikut :

Bertekad Melakukan Kebaikan Namun Tanpa Melakukannya

Hadits di atas memakai lafazh “bertekad” sehingga dikecualikan dari ini adalah apa yang terlintas pada kalbu (hati).Sekedar apa yang terlintas pada kalbu adalah sesuatu di luar kemampuan hamba sehingga tidak berakibat pahala maupun dosa.

Adapun maksud lafazh “tanpa melakukannya” : Ada sesuatu yang menghalangi dirinya hingga tidak melakukan kebaikan tersebut dalam keadaan tekad melakukan kebaikan masih ada pada kalbunya.Maka dirinya mendapatkan 1 pahala, apalagi jika ia menyesal tidak dapat melakukan kebaikan tersebut.

Apabila tekad tersebut diungkapkan dengan lisan atau usaha berbuat meski belum sampai berbuat, maka pahala yang didapatkan sama dengan orang yang melakukan kebaikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bercerita tentang seorang hamba yang diberi ilmu dan harta lalu ia gunakan untuk kebaikan.Kemudian beliau bercerita tentang hamba lain yang diberi ilmu namun tidak diberi harta, lalu ia berkata : “Kalau seandainya aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti amalan si fulan itu (yaitu : menggunakan hartanya untuk kebaikan)”.Lantas beliau (Nabi) mengatakan bahwa ia dengan niatnya ini sama pahalanya dengan si fulan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Barangsiapa berwudhu lalu keluar berniat menuju masjid namun ternyata mendapati manusia telah usai shalat, maka Allah catat baginya semisal pahala orang yang menghadiri shalat berjamaah dan tidak berkurang sedikit pun dari pahala mereka”.(HR.Abu Dawud dan an-Nasa’i yang disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Bertekad Melakukan Kebaikan Lalu Melakukannya

Hadits di atas menyebutkan 3 tingkatan pahala bagi seseorang yang bertekad berbuat baik lalu mengerjakannya, yaitu :
a) 10 kebaikan (pahala).Ini adalah suatu kelaziman dan janji dari Allah.Allah Ta’ala tidak akan menyelisihi janjinya.
b) 700 kali lipat pahala.Ini dan yang ke-3 (c) sesuai dengan kehendak Allah.Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki dan tidak semua orang yang berbuat baik mendapatkan kelipatan ini.
c) Kelipatan pahala yang sangat banyak.Besarnya kelipatan pahala disebabkan karena beberapa hal, diantaranya : tingkat keimanan, keikhlasan dan ittiba’ (mencocoki sunnah Rasul dalam beramal) pada diri seseorang yang berbuat baik.

Terlintas Pada Kalbu Melakukan Keburukan Namun Tanpa Melakukannya

Manakala seseorang terlintas kalbunya melakukan keburukan namun tanpa melakukan keburukan tersebut karena takut kepada Allah, maka inilah yang dimaksud dalam hadits ini.Hal ini berdasar hadits sahih yang lainnya (artinya) : “…Jika ia meninggalkan kejelekan itu, maka tulislah (wahai, para malaikat) baginya 1 kebaikan.Hanyalah ia meninggalkan keburukan tersebut karena Aku”.

Adapun kalau ia meninggalkan keburukan tersebut bukan Allah tetapi karena takut kepada manusia atau mengharap pujian, maka dikatakan bahwa ia berdosa.Hal ini dikarenakan ia mendahulukan takutnya kepada makhluk di atas takutnya kepada Allah dan itu hukumnya haram.

Demikian pula jika ia terlintas kalbunya berbuat buruk lalu ia ungkapkan dengan ucapan atau bahkan telah menempuh usaha untuk itu tapi ternyata mengalami kegagalan, maka ia berdosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bercerita tentang seorang hamba yang diberi harta namun tidak diberi ilmu lalu ia gunakan hartanya untuk keburukan.Kemudian beliau bercerita tentang hamba lain yang tidak diberi ilmu dan tidak pula harta, lalu ia berkata : “Kalau seandainya aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti amalan si fulan itu (yaitu : menggunakan hartanya untuk keburukan)”.Lantas beliau (Nabi) mengatakan bahwa ia dengan niatnya ini sama dosanya dengan si fulan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga menyatakan bahwa jika 2 muslim bertemu dengan kedua pedangnya, maka yang membunuh dan yang dibunuh semuanya masuk neraka.Yang dibunuh juga masuk neraka karena ia telah menempuh usaha membunuh saudaranya seislam sekalipun mengalami kegagalan.

Berbeda halnya dengan seseorang yang terlintas kalbunya melakukan keburukan lalu ia tidak melakukannya karena muncul kejenuhan atau hilang begitu saja.Keadaan seperti ini tidak mendatangkan pahala dan tidak pula dosa, karena dirinya tidak melakukan keburukan bukan karena takut kepada Allah dan bukan pula karena menempuh usaha lalu gagal.

Faedah

Apabila sebuah keburukan ditanam dan dipelihara oleh seseorang di dalam kalbunya, maka hal itu akan mendatangkan dosa baginya sekalipun tidak ia ungkapkan dengan ucapan atau perbuatan. Hal ini berdasarkan beberapan dalil, diantaranya : Firman Allah Ta’ala (artinya) : “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka.Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…”(Al Hujurat : 12)

Telah dimaklumi bahwa prasangka buruk (su’uzhan) tanpa alasan yang kuat itu adalah salah satu keburukan yang berada di dalam kalbu (hati).Demikian ini (dituliskannya dosa) juga berlaku pada keburukan-keburukan lain yang memang ditanam dan dipelihara di dalam batin, semisal : mencintai apa yang dibenci oleh Allah, membenci apa yang dicintai oleh-Nya, sombong, ujub (bangga diri) atau hasad (dengki).Bahkan ada keburukan pada kalbu yang dapat menjadikan seseorang kafir atau murtad, semisal : tertanamnya keraguan terhadap keberadaan Allah, kebenaran Al Qur’an, Islam adalah satu-satunya agama yang benar atau Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah utusan Allah terakhir, meskipun tidak diungkapkan dengan ucapan.

Keadaan ini tentu berbeda dengan seseorang yang terlintas dalam benaknya suatu keburukan yang dia mengingkarinya lalu berusaha menepisnya.Justru yang demikian ini merupakan keimanan yang murni dan hendaknya ia segera berlindung kepada Allah.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Syaithan datang kepada salah seorang diantara kalian lalu berkata : “Siapa yang menciptakan ini ? Siapa yang menciptakan ini ?” Hingga ia berkata : “Siapa yang menciptakan Rabbmu ?” Jika hal itu menimpa salah seorang diantara kalian, maka berlindunglah kepada Allah dan tepislah (bisikan tadi)”.(HR.al-Bukhari.Lihat Shahih Muslim)

Pernah beberapa sahabat Nabi datang dan berkata : “Kami mendapati pada kalbu kami sesuatu yang kami ingkari untuk kami katakan”.Maka Nabi memastikan : “Apakah kalian mendapati hal itu ?” Mereka pun menjawab : “Ya”. Lantas beliau mengatakan : “Itulah keimanan yang murni”.(HR.Muslim)

Terlintas Pada Kalbu Melakukan Keburukan Lalu Melakukannya

Seseorang yang keadaannya seperti ini akan Allah catat baginya 1 kejelekan (dosa), tidak dilipatgandakan jumlahnya.Perhatikan, wahai saudaraku ! Bandingkan dengan keadaan seseorang yang bertekad melakukan kebaikan lalu ia mengerjakannya ! Allah mencatat baginya 10 pahala, 700 kali lipat hingga kelipatan yang banyak.Ini menunjukkan keadilan Allah manakala seorang hamba berbuat dosa dan kemurahan-Nya ketika seorang hamba berbuat baik.

Ibnu Baththal rahimahullah berkata : “Di dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang keutamaan Allah yang agung kepada umat ini.Kalau bukan karena itu, maka hampir-hampir tidak ada seorang pun yang dapat masuk al-Jannah disebabkan perbuatan buruk hamba-hamba itu lebih banyak dibandingkan perbuatan baik mereka”.

Akan tetapi dosa ini bisa bertambah kualitasnya jika dilakukan di waktu yang memiliki kehormatan semisal : 4 bulan haram (Muharram, Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah), di tempat yang mulia semisal : Makkah atau jika pelaku dosa tersebut ternyata orang yang dikenal sebagai orang salih.

Para ulama berkata bahwa kebaikan dan keburukan itu dilipatgandakan jika dilakukan di setiap waktu dan tempat yang memiliki keutamaan.Hanya saja (bedanya) kebaikan itu dilipatgandakan kuantitasnya (jumlah), sedangkan keburukan itu dilipatgandakan kualitasnya bukan kuantitasnya.

Sejumlah sahabat Nabi menghindar dari menetap di Makkah karena takut melakukan dosa di dalamnya.Diantara mereka adalah Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhum.

Wallahu a’lamu bish-Shawab

Tafsir Surat Adh Dhuha

Tafsir Surat Adh Dhuha
Beberapa ayat pada surat ini menyebutkan kenikmatan yang Allah beritahukan kepada Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Mirip perihal itu dengan apa yang pernah kita sampaikan pada tafsir Surat Asy Syarh (Edisi ke-1 Tahun ke-9).
Ayat pertama (artinya) : “Demi waktu dhuha”.
Waktu dhuha adalah awal pagi ketika matahari meninggi hingga memenuhi bumi dengan cahaya dan sinarnya.
Ayat kedua (artinya) : “Dan demi malam apabila telah tetap kegelapannya”.
Yaitu malam yang telah sunyi dan tetap kegelapannya, tidak bertambah kegelapannya setelah itu.Nampaknya – wallahu a’lam – Allah bersumpah dengan 2 waktu ini karena dhuha merupakan awal waktu dari aktivitas kebanyakan manusia dan malam ketika telah tetap kegelapannya merupakan awal waktu kebanyakan manusia benar-benar beristirahat.
Ayat ketiga (artinya) : “Tidaklah Rabbmu itu meninggalkanmu dan tidak pula membencimu”.
Sebab turunnya ayat ini dan 2 ayat sebelumnya adalah apa yang datang dari Jundab bin Abdillah bin Sufyan al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menderita sakit hingga tidak menunaikan shalat malam selama 2 atau 3 malam.Lalu datanglah seorang wanita dan berkata : “Wahai Muhammad ! Sesungguhnya aku benar-benar berharap syaithanmu telah meninggalkanmu.Aku tidak melihat dia mendekatimu sejak 2 atau 3 malam”.Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menurunkan firman-Nya (artinya) : “Demi waktu.Dan demi malam apabila telah tetap kegelapannya.Tidaklah Rabbmu itu meninggalkanmu dan tidak pula membencimu”.(HR.al-Bukhari dan Muslim)
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata bahwa wanita tersebut adalah Ummu Jamil isteri Abu Lahab (Lihat Fathul Bari).
Wanita beserta suaminya ini pernah kita sebutkan perihal mereka berdua di dunia maupun di akherat pada tafsir Surat Al Lahab.
Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata : “Lafazh “Tidaklah Rabbmu itu meninggalkanmu…” maksudnya : Dia tidak meninggalkanmu sejak Dia memberikan perhatian kepadamu.Tidak menyia-nyiakanmu sejak Dia membimbingmu dan mengawasimu.Bahkan, Dia senantiasa membimbingmu dengan sebaik-baik bimbingan dan meninggikan kedudukanmu tingkatan demi tingkatan.Adapun lafazh “…dan tidak pula membencimu” maksudnya : Dia tidak membencimu sejak Dia mencintaimu…”(Tafsir as-Sa’di)
Ayat keempat (artinya) : “Dan sungguh akherat itu lebih baik bagimu dibandingkan yang pertama (dunia)”.
Kalimat pada ayat ini dikuatkan dengan kata “sungguh”.Sejumlah ulama tafsir berkata, diantaranya :
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, berkata : “Dan sungguh negeri akherat itu lebih baik bagimu dibandingkan negeri dunia ini.Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam merupakan sosok manusia yang paling zuhud di dunia dan paling jauh darinya, sebagaimana sama-sama diketahui dalam perjalanan hidup beliau.Tatkala beliau ‘alaihi as-Salam di penghujung usianya diberi pilihan antara hidup panjang di dunia hingga dunia berakhir lalu masuk al-Jannah (surga) dengan pilihan berakhir hidupnya untuk segera bertemu Allah ‘Azza Wa Jalla, ternyata beliau memilih apa yang ada di sisi Allah dibandingkan dunia yang rendah ini”.(Tafsir Ibnu Katsir)
Al-‘Allamah al-Alusi rahimahullah berkata : “(Akherat lebih baik dibandingkan dunia) karena akherat itu kekal dan bersih dari kotoran-kotoran secara mutlak, sedangkan dunia itu fana dengan beragam madharat…”(Tafsir al-Alusi / Ruh al-Ma’ani)
Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Demikian itu karena akherat di dalamnya ada kenikmatan yang belum pernah dilihat mata di dunia, belum pernah didengar oleh telinga di dunia dan bahkan belum pernah terbetik dalam hati seorang pun di dunia.Tempat cambuk salah seorang diantara kita di surga itu lebih baik dibandingkan dunia seisinya, sebagaimana teriwayatkan hal itu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam”.(Tafsir Juz ‘Amma)
Ayat kelima (artinya) : “Dan sungguh Dia (Rabbmu) kelak akan memberikan karunia-Nya kepadamu lalu engkau meridhainya”.
Kalimat pada ayat ini juga dikuatkan dengan kata “sungguh” sebagaimana ayat sebelumnya.
Ayat ini memiliki sebab turunnya, yaitu : Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Ditampakkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam apa yang akan dibukakan untuk umat beliau berupa perbendaharaan demi perbendaharaan.Beliau bergembira dengan itu.Lantas Allah menurunkan ayat-Nya (artinya) : “Dan sungguh Dia (Rabbmu) kelak akan memberikan karunia-Nya kepadamu lalu engkau meridhainya”.Maka Allah memberikan karunia-Nya kepada beliau berupa 1000 istana di surga yang di setiap istana tersebut terdapat apa yang layak bagi beliau berupa para isteri dan pelayan”.(Ash-Shahih al-Musnad Min Asbab an-Nuzul)
Dengan demikian, karunia Allah yang dimaksud pada ayat ini adalah karunia di akherat.
Ayat keenam (artinya) : “Bukankah Dia mendapati dirimu dalam keadaan yatim lalu Dia menolongmu ?!
Kalau ayat sebelumnya berkaitan dengan kenikmatan yang akan diperoleh Nabi di akherat, maka pada ini hingga 2 ayat berikutnya berkaitan dengan kenikmatan di dunia.
Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Pertanyaan pada ayat ini maknanya adalah pernyataan, maksudnya : Allah Ta’ala telah mendapati dirimu dalam keadaan yatim lalu Dia menolongmu.Dia menolongmu ketika ayahmu meninggal dunia dan ketika ibumu meninggal dunia.Ayah beliau meninggal dunia sebelum beliau dilahirkan.Ibunya meninggal dunia ketika belum sempurna penyusuannya.Akan tetapi Allah Ta’ala memberi kecukupan dan kemudahan kepada beliau dengan keberadaan orang yang membimbing dan membela beliau hingga beliau mencapai puncak yang Allah ‘Azza Wa Jalla kehendaki”.(Tafsir Juz ‘Amma)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “…Kemudian Abu Thalib melindungi, menolong, meninggikan kedudukan dan memuliakan beliau dan mencegah gangguan kaumnya setelah Allah mengutus beliau pada usia 40 tahun.Inilah ! Sedangkan Abu Thalib tetap dalam keadaan di atas agama kaumnya berupa peribadatan kepada berhala-berhala.Semua itu dengan takdir Allah dan baiknya pengaturan-Nya hingga meninggallah Abu Thalib sebelum beberapa waktu Nabi hijrah ke Madinah.Lantas orang-orang bodoh dari kalangan Quraisy mulai kembali menampakkan permusuhan kepada beliau.Allah pun memberikan pilihan agar beliau hijrah menuju negeri kalangan Anshar dari suku Aus dan Khazraj, sebagaimana Allah jalankan ketentuan-Nya dengan sempurna.Tatkala beliau sampai kepada orang-orang Anshar, maka mereka menolong, melindungi beliau dan berperang di hadapan beliau.Semoga Allah meridhai mereka.Ini semua merupakan penjagaan, perlindungan dan perhatian Allah kepada beliau”.(Tafsir Ibnu Katsir)
Dari sini kita mengetahui bahwa pertolongan Allah kepada Nabi-Nya ada 2 macam :
1) Pertolongan sebelum diutusnya beliau sebagai Nabi, yaitu : Penjagaan Allah kepada beliau dari kotoran-kotoran syirik dan noda-noda jahiliah.
2) Pertolongan setelah beliau menjadi Nabi, yaitu : Penjagaan Allah kepada beliau dari gangguan orang-orang kafir Quraisy.
Ayat ketujuh (artinya) : “Dan Dia mendapatimu dalam keadaan tidak tahu lalu Dia beri petunjuk kepadamu ?!”
Allah mendapati beliau dalam keadaan belum mengetahui syariat dan rahasia-rahasia ilmu agama yang memang tidak mungkin diketahui dengan semata-mata fitrah dan akal.Akan tetapi hanya bisa diketahui dengan wahyu Allah.Allah menjelaskan keadaan beliau ini melalui firman-Nya yang lain (artinya) : “…Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apa itu Al Kitab (Al Qur’an) dan apa itu iman…”(Asy Syuura : 52)
Kita pun mengetahui bahwa Nabi adalah seorang yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis).Lalu beliau mencapai kedudukan yang agung karena wahyu yang Allah turunkan kepada beliau.Beliau pun akhirnya mengetahui petunjuk dan mengajarkannya kepada manusia.
Ayat kedelapan (artinya) : “Dan Dia mendapatimu dalam keadaan fakir lalu Dia memberi kekayaan kepadamu ?!
Allah mendapati beliau dalam keadaan fakir, tidak memiliki harta.Maka Allah memberi kekayaan kepada beliau dengan harta Abu Thalib kemudian harta Sayyidah Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha.
Sejumlah ulama menyatakan bahwa makna ayat ini : Allah memberikan kekayaan kepada beliau dengan harta orang-orang kafir berupa rampasan perang.
Akan tetapi al-Imam al-Qurthubi rahimahullah menukilkan ucapan al-Qusyairi, berkata : “(Ucapan sejumlah ulama) ini perlu ditinjau lagi karena surat ini (Surat Adh Dhuha) adalah surat Makkiyah sedangkan diwajibkannya perang itu ketika beliau sudah di Madinah”.(Tafsir al-Qurthubi)
Pada ayat ini dan 2 ayat sebelumya terdapat 3 kenikmatan yang Allah berikan kepada Nabi-Nya, yaitu :
1) Pertolongan.
2) Petunjuk atau hidayah.
3) Kekayaan.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas rahiyallahu ‘anhuma, berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Aku pernah memohon kepada Rabbku suatu permintaan yang aku ingin tidak memohon lagi kepada-Nya.Aku berkata : “Wahai Rabbku, dahulu para Rasul sebelumku ada yang ditundukkan angin padanya, ada yang dapat menghidupkan orang yang telah mati dan Engkau pernah mengajak bicara Musa”.Maka Dia berkata : “Bukankah Aku mendapati dirimu dalam keadaan yatim lalu Aku menolongmu ?! Bukankah Aku mendapatimu dalam keadaan tidak tahu lalu Aku beri petunjuk kepadamu ?! Bukankah Aku mendapatimu dalam keadaan fakir lalu Aku beri kekayaan kepadamu ?! Bukankah Aku telah melapangkan dada untukmu dan menggugurkan dosa darimu ?!” Maka aku menjawab : “Tentu, wahai Rabbku”.Maka aku pun ingin tidak memohon lagi kepada-Nya”.(ash-Shahihah 2538 dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)
Ayat kesembilan (artinya) : “Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang”.
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Sebagaimana engkau dahulu adalah yatim lalu Allah menolong dirimu, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang kepada yatim.Yakni : Jangan engkau hinakan, berlaku sewenang-wenang dan rendahkan dia.Akan tetapi berlaku baiklah kepadanya dan bersikap lembutlah.Qatadah berkata : “Jadilah orang terhadap yatim itu seperti ayah yang penyayang”.(Tafsir Ibnu Katsir)
Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata : “Janganlah engkau berbuat jelek ketika bermuamalah dengan yatim.Jangan sempit dadamu terhadapnya.Jangan engkau berlaku sewenang-wenang kepadanya.Akan tetapi muliakan dia, berilah apa yang mudah bagimu untuknya dan bantulah dia sebagaimana engkau ingin dia kelak akan membantu anakmu sendiri setelah engkau meninggal dunia”.(Tafsir a-Sa’di)
Al-Hafizh al-Qurthubi rahimahullah berkata : “Dikhususkan penyebutan yatim karena tidak ada yang menolong dirinya kecuali Allah Ta’ala.Maka Allah menjadikan berat perkara dia dengan beratnya siksa bagi orang yang menzaliminya”.(Tafsir al-Qurthubi)
Ayat kesepuluh (artinya) : “Dan terhadap orang yang meminta, maka janganlah engkau menghardiknya”.
Jika engkau telah diberi petunjuk oleh Allah sebagaimana pada ayat ke-7, maka terhadap orang yang meminta petunjuk janganlah engkau hardik dia.Jika engkau telah diberi kekayaan sebagaimana pada ayat ke-8, maka terhadap orang yang meminta harta janganlah engkau hardik.Berilah dia harta yang mudah engkau berikan.Apabila engkau tidak mampu, maka tolaklah dengan cara yang halus dan lembut.
Ayat kesebelas (artinya) : “Dan terhadap kenikmatan dari Rabbmu, maka hendaknya engkau menyebut-nyebutnya”.
Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Menyebut-nyebut kenikmatan itu ada 2 macam : Menyebut-nyebut dengan lisan dan menyebut-nyebut dengan perbuatan.Menyebut-nyebut kenikmatan dengan lisan misalnya engkau mengatakan : “Allah telah memberikan kenikmatan kepadaku.Dahulu aku fakir lalu Allah memberikan kekayaan kepadaku.Dahulu aku tidak tahu lalu Allah mengajariku” atau semisal itu.Adapun meyebut-nyebut kenikmatan dengan perbuatan adalah engkau menampakkan kenikmatan Allah.Jika engkau kaya, maka janganlah engkau mengenakan pakaian orang-orang fakir.Akan tetapi kenakan pakaian layaknya keadaanmu yang kaya…”(Syarh Riyadhi ash-Shalihin)
Hal ini akan mendorong dirimu untuk mencintai Allah yang telah memberimu kenikmatan karena tabiat manusia itu mencintai siapa saja yang memberikan kebaikan kepadanya.Hanya saja jangan sampai menyebut-nyebut kenikmatan ini didorong karena adanya rasa bangga diri, sombong atau ingin dipuji.
Wallahu a’lamu bish-Shawab

Bakti Sosial

Bakti Sosial, Paket Sembako Murah

 

Akibat Dosa & Kemaksiatan

Akibat Dosa & Kemaksiatan

Asy-Syaikh Dr.Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri hafizhahullah
Sesungguhnya segala puji hanya untuk Allah.Kita memuji, meminta pertolongan, ampunan dan berlindung kepada-Nya dari kejelekan jiwa dan amalan.Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya.Barangsiapa yang Dia sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya.Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.Selanjutnya : Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah ucapan Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallalahu ‘alaihi Wasallam, sejelek-jelek perkara adalah perkara yang dibuat-buat (dalam agama ini), setiap perkara yang dibuat-dibuat adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan akan berada di neraka.
Selanjutnya : Wahai hamba-hamba Allah, bertakwalah kepada Allah Ta’ala, taati dan takutlah kepada-Nya ketika bersendirian maupun bersama orang lain.Janganlah kalian bermaksiat kepada-Nya.