Akibat Dosa & Kemaksiatan

Akibat Dosa & Kemaksiatan
Asy-Syaikh Dr.Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri hafizhahullah
Sesungguhnya segala puji hanya untuk Allah.Kita memuji, meminta pertolongan, ampunan dan berlindung kepada-Nya dari kejelekan jiwa dan amalan.Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya.Barangsiapa yang Dia sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya.Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.Selanjutnya : Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah ucapan Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallalahu ‘alaihi Wasallam, sejelek-jelek perkara adalah perkara yang dibuat-buat (dalam agama ini), setiap perkara yang dibuat-dibuat adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan akan berada di neraka.
Selanjutnya : Wahai hamba-hamba Allah, bertakwalah kepada Allah Ta’ala, taati dan takutlah kepada-Nya ketika bersendirian maupun bersama orang lain.Janganlah kalian bermaksiat kepada-Nya.
Ketahuilah, bahwa dosa dan kemaksiatan dapat memberikan petaka di masa sekarang atau akan datang.Petakanya menimpa kalbu seperti petaka racun menimpa badan sesuai perbedaan tingkatan dosa.Tidaklah kejelekan dan penyakit di dunia dan akherat, melainkan sebabnya adalah dosa dan kemaksiatan.Apa yang mengeluarkan bapak ibu kita dari surga yang merupakan negeri kelezatan, kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan menuju negeri penuh penyakit, kesedihan dan musibah ? Apa yang mengeluarkan Iblis dari tanda-tanda keagungan Allah di langit, diusir, dilaknat dan diburukkannya zhahir dan batinnya ? Apa yang menenggelamkan seluruh penduduk bumi hingga air naik ke puncak-puncak gunung ? Apa yang menyebabkan angin memorakporandakan kaum ‘Ad hingga melemparkan mereka menjadi bangkai-bangkai di permukaan bumi seperti batang pohon kurma yang lapuk, angin yang menghancurkan setiap yang ia lewati hingga mereka menjadi pelajaran bagi umat manusia sampai hari kiamat ? Apa yang mengirimkan suara yang menggelegar kepada kaum Tsamud hingga jantung mereka lepas dari rongga badan mereka dan mati sampai akhir mereka ? Apa yang menjadikan kampung kaumnya Nabi Luth terangkat hingga para malaikat mendengar lolongan anjing-anjing mereka lalu membalik mereka hingga menjadikan bagian permukaan menjadi bagian bawah, membinasakan mereka semua lalu mengirim bebatuan dari tanah terbakar ? Apa yang mengirimkan awan azab seperti ombak kepada kaumnya Nabi Syu’aib yang manakala telah berada di atas kepala mereka berubah menjadi hujan api yang menyala-nyala ? Apa yang mengirimkan kepada Bani Israil berupa suatu kaum yang berkekuatan besar, merajalela di kampung-kampung, membantai para pria, membakar kampung-kampung, merampas harta benda lalu untuk kedua kalinya datang lalu menghancurkan apa saja yang mereka sanggup hancurkan dan membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai ? Apa yang menimpakan mereka berupa macam-macam siksa yang kadangkala berupa pembunuhan, penawanan, hancurnya kampung-kampung , kadangkala berupa kejahatan penguasa atau kadangkala pula berupa diubahnya mereka menjadi kera-kera dan babi-babi hingga akhirnya Allah Tabaaraka Wa Ta’ala bersumpah akan benar-benar mengirimkan manusia yang akan merasakan siksa kepada mereka hingga hari kiamat ? Apa yang membinasakan banyak kaum yang berita mereka ada di dalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam ? Tidaklah hal itu wahai hamba-hamba Allah melainkan sebabnya adalah kekufuran, kemaksiatan, penentangan, kesombongan mereka dari ketaatan kepada Allah dan para Rasul yang mulia, meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar.Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang memiliki pandangan lurus..Allah berfirman (artinya) : “Maka setiap dari mereka, Kami siksa karena dosa mereka.Diantara mereka ada yang Kami kirimkan hujan batu, diantara mereka ada yang ditimpa suara keras menggelegar, diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan ke laut”
Kemaksiatan tidaklah menimpa suatu negeri melainkan akan membinasakannya, tidaklah menimpa suatu kalbu melainkan akan membutakannya, tidaklah menimpa suatu badan melainkan akan merusaknya dan tidaklah menimpa suatu umat melainkan akan menghinakannya.Kemaksiatan adalah sebab rendahnya seorang hamba di hadapan Allah.Barangsiapa yang Allah rendahkan dia, maka siapa yang akan dapat memuliakannya.Kemaksiatan dapat menghilangkan kenikmatan dan mendatangkan siksa.Tidaklah hilang suatu kenikmatan dari seorang hamba melainkan karena dosa dan tidaklah datang suatu siksa atau kemaksiatan melainkan karena dosa.Apa yang menimpa kalian berupa musibah, maka itu karena apa yang diperbuat oleh tangan kalian dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kalian).Allah tidaklah mengubah kenikmatan yang telah Dia berikan kepada seseorang hingga dia sendiri yang mengubahnya.Dirinya mengubah ketaatan dengan kemaksiatan, syukur dengan kufur, sebab-sebab keridhaan Allah dengan sebab-sebab kemurkaan-Nya.Jika dirinya mengubah, maka ia pun diubah sebagai balasan setimpal dan tidaklah Rabbmu itu menzalimi hamba-hambaNya.Demikian itu karena Allah tidaklah mengubah kenikmatan yang telah Dia berikan kepada suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka.
Kemaksiatan akan mewariskan kesempitan hidup, kegelisahan hidup dan kegoncangan pikiran.Banyak dari manusia mengeluhkan kesempitan dadanya, rasa was-wasnya dan penyakit-penyakit kejiwaan lalu meminta para peruqyah, jika engkau tanya tentang ibadahnya , maka engkau dapati orang tersebut tidak mengenal masjid, tidak menjaga shalat, tidak mengenal doa dan tidak mengenal kembali kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.Sesungguhnya penyakitmu…sesungguhnya penyakitmu dan kesempitanmu hanyalah karena jauhnya engkau dari Allah ‘Azza Wa Jalla.Hanyalah karena dosa dan kemaksiatan.Bertaubatlah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, maka engkau akan mendapati kelapangan dan ketenangan hidup.Barangsiapa berpaling menjauh dari mengingat diri-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit dan Kami kumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta.Pelaku kemaksiatan – wahai hamba-hamba Allah – rendah, hina dan terhalang (dari kebaikan).Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Sesungguhnya pada kesalahan itu ada warna hitam pada wajah, kegelapan pada kalbu, kelemahan pada badan,kekurangan pada rizki dan kebencian pada kalbu makhluk Allah”.Jika dia bermudah-mudahan, terus-menerus dan tidak kembali (kepada Allah), maka dia akan jatuh tersungkur dan terbalik.Sekali-kali tidak ! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu akan menutup kalbu mereka.Manakala mereka itu berpaling menjauh (dari kebenaran), maka Allah akan memalingkan kalbu mereka.Dengan sebab dosa dan kemaksiatan, maka hujan itu akan terhalang, naiklah harga kebutuhan, menipislah bahan makanan, banyaklah kegoncangan, merebaklah kejelekan dan tersebaklah penyakit yang membinasakan.Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bahwa beliau berkata (artinya) : “Wahai segenap kaum Muhajirin, ada 5 perangai yang bila kalian tertimpa dengannya dan aku berlindung kepada Allah dari kalian menjumpainya : Tidaklah muncul sebuah kekejian di tengah suatu kaum hingga mereka menampakkannya terang-terangan melainkan tersebar di tengah mereka wabah Tha’un dan penyakit yang belum pernah ada pada generasi manusia sebelumnya, tidaklah mereka mengurangi takaran atau timbangan melainkan akan ditimpa kekeringan, kesulitan bahan makanan dan kejahatan penguasa, tidaklah mereka menolak bayar zakat melainkan dicegah turunnya hujan dari langit yang kalau bukan karena keberadaan binatang ternak, niscaya tidak diturunkan hujan, tidaklah mereka melanggar perjanjian Allah dan Rasu-Nya melainkan Allah beri kekuatan kepada musuh dari kalangan orang-orang kafir untuk menjajah mereka lalu merampas sebagian harta mereka dan tidaklah pemimpin mereka itu tidak berhukum dengan Kitab Allah ‘Azza Wa Jalla lalu tidak mencari kebaikan dari apa yang Allah turunkan (berupa hukum Allah) melainkan Allah jadikan musibah terjadi antar sesama mereka…” (HR.Ibnu Majah dan disahihkan oleh al-Albani)
Kemaksiatan – wahai hamba Allah – merupakan salah satu sebab besar runtuhnya suatu negara, hilangnya keamanan dan berkuasanya musuh.Allah membuat permisalan tentang suatu negeri yang dahulu aman, tenang, rizkinya datang melimpah ruah dari setiap tempat.Namun (penduduk) negeri tersebut mengingkari nikmat-nikmat Allah.Oleh karena itu Allah menimpakan rasa lapar dan rasa takut yang meliputi mereka karena apa yang telah mereka perbuat.
Lebih jelek daripada itu – wahai hamba Allah – adalah terang-terangan menampakkan kemaksiatan, meremehkan kemaksiatan dan akibat buruknya.Ini adalah perbuatan melampaui batas yang sangat besar.Mereka terancam dengan tidak adanya ampunan dari Allah ‘Azza Wa Jalla.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Setiap dari umatku akan dimaafkan kecuali orang-orang yang menampakan kemaksiatan.Sesungguhnya termasuk dari ketidakmaluan adalah seseorang berbuat dosa di malam hari kemudian di pagi hari yang Allah telah menutupi dosanya ternyata ia berkata : “Wahai fulan, aku tadi malam berbuat demikian dan demikian”.Allah ‘Azza Wa Jalla telah menutupi dosanya di malam hari kemudian di pagi hari justru ia membuka penutup dari Allah tersebut”.(Muttafaqun ‘alaihi)
Maka berhati-hatilah – wahai hamba Allah – dari dosa dan kemaksiatan.Kembalilah kepada Rabb kalian.Bertaubatlah kepada-Nya.Dialah yang mengampuni seluruh dosa.Katakanlah : “Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa.Sesungguhnya Dia adalah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya apa yang kita saksikan dari sesuatu yang menimpa kaum muslimin hanyalah sebabnya adalah jauhnya mereka dari Allah, jauh dari agama-Nya, jauh dari berpegang teguh dengan sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Rasul Shallallahu ‘alaihi Wasallam telah memberitakan bahwa barangsiapa yang meninggalkan agama, maka Allah akan memimpakan kehinaan kepadanya dan tidak Dia cabut kehinaan tersebut sampai dia kembali kepada agamanya.Sesunnguhnya pertolongan hakiki tidaklah terwujud kecuali dengan menolong agama Allah. Menolong agama Allah yaitu menaati-Nya, mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan serta apa yang membuat diri-Nya murka.Sungguh Allah benar-benar akan menolong orang yang menolong agama-Nya.Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.Bagaimana kaum muslimin menginginkan pertolongan Allah sedangkan mereka jauh dari Rabb mereka ?! Bagaimana mereka menginginkan pertolongan Allah sedangkan mereka tenggelam dalam kemaksiatan dan dosa ?! Bagaimana mereka menginginkan kejayaan sedangkan mereka meminta kejayaan kepada selain Allah dengan cara selain yang Dia perintahkan ?! Bagaimana mereka menginginkan kejayaan sedangkan mereka merayakan hari raya-hari raya Nasrani di setiap saat.Saat Tahun Baru, Hari Valentine dan hari raya-hari raya lainnya yang ada penyerupaan dengan orang-orang kafir.Setiap kali engkau pergi ke pasar-pasar muslimin, maka engkau jumpai barang-barang jualan yang mengingatkan dirimu tentang hari raya-hari raya Nasrani dan mengingatkan dirimu tentang kekufuran kepada Allah.Lantas mereka menginginkan kejayaan dan pertolongan.Sesungguhnya perlawanan hakiki adalah perlawanan terhadap kesyirikan dengan berbagai bentuknya, perlawanan terhadap kekejian dan kemaksiatan, perlawanan terhadap perzinaan dan kerusakan moral yang merebak di beberapa negeri, perlawanan terhadap narkoba dan orang yang memujanya, perlawanan terhadap upaya mencela para sahabat Nabi dan agama, perlawanan terhadap akidah-akidah yang menyimpang dan kelompok-kelompok sempalan.Jika engkau mewujudkan perlawanan ini, maka sulit bagi musuh untuk mengalahkan kita seiring persiapan bekal peralatan dan persiapan jiwa dengan tauhid.Adapun jika perlawanan ini lemah dan merebak kekufuran dengan beragam macamnya, kerusakan moral, kekejian, kebid’ahan, perzinaan dan narkoba tanpa ada penentangan, bahkan seakan-akan tidak butuh terhadap perlawanan, maka inilah yang memudahkan musuh untuk masuk dan menjajah.Diubah kenikmatan menjadi siksa, diubah keamanan dan ketentraman menjadi kejelekan dan musibah.Maka kejayaan dan kekokohan – wahai hamba Allah – tidaklah terwujud kecuali dengan berpegang teguh terhadap agama.Orang-orang yang ditolong oleh Allah adalah orang-orang yang jika Kami (Allah) kokohkan kedudukan mereka di muka bumi, maka mereka menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.Hanya kepada Allah-lah kembalinya segala urusan.Kejayaan tidaklah terwujud kecuali dengan ketaatan kepada Allah.Kejayaan itu hanya bagi Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.Akan tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahuinya.
(Dikutip dari http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=22362 dengan beberapa penyesuaian)

Sekelumit Tentang Shalat ‘Id & Ibadah Kurban

Sekelumit Tentang Shalat ‘Id & Ibadah Kurban
Kini kita tengah berada di bulan Dzulhijjah.Ibadah kurban adalah syiar yang paling menonjol selain haji di bulan penuh kehormatan tersebut.Setiap kali datang bulan ini, tak berlebihan jika kita rasakan pentingnya mengkaji ilmu terkait ibadah yang satu ini.Demikian itu karena cukup banyak permasalahan ilmiah terkait hal itu yang kita jumpai.
Oleh karena itu, kami ingin menyajikan sekelumit faidah berkenaan ibadah kurban dengan harapan dapat bermanfaat bagi para pembaca.Kekurangan yang ada pada kami semoga diampuni oleh Allah kemudian dapat dimaklumi oleh para pembaca.
Hukum Ibadah Kurban (Udh-hiyah)
Asy-Syaikh Muhammad Ali Farkus hafizhahullah berkata : “Para ulama berbeda pendapat tentang hukum Udh-hiyah.Mazhab mayoritas ulama adalah sunnahnya hal itu.Berbeda dengan mazhab para ulama yang mengatakan wajibnya hal tersebut bagi orang yang memiliki kemudahan dan kelebihan dari kebutuhan pokoknya.Ini adalah pendapat para ulama Hanafiyah dan sebagian Malikiyah yang lebih nampak kebenarannya menurut saya…”
Lalu beliau menyebutkan dalil-dalil yang mendasari wajibnya Udh-hiyah, yaitu :
1) Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu : “Barangsiapa memiliki kelonggaran rizki namun tidak melakukan penyembelihan, maka janganlah sekali-kali mendekati tempat shalat kami”.
Larangan mendekati tempat shalat bagi seseorang yang tidak melakukan ibadah kurban padahal ia memiliki kemampuan menunjukkan wajibnya ibadah kurban tersebut.
2) Hadits Mihnaf bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu : “Wahai manusia, sesungguhnya atas setiap keluarga pada setiap tahun untuk menyembelih kurban dan ‘Atirah”.
‘Atirah adalah penyembelihan yang khusus dilakukan di 10 hari awal bulan Rajab.Lalu ‘Atirah ini dihapus hukumnya oleh Nabi, sedangakan penyembelihan kurban tetap berlaku hukumnya.
3) Hadits Jundub bin Sufyan al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku pernah menyaksikan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pada hari an-Nahr.Lalu beliau bersabda : “Barangsiapa menyembelih (kurban) sebelum ditegakkan shalat ‘Id, maka hendaknya dia mengulangi kurbannya dengan binatang lain.Barangsiapa belum melakukan penyembelihan, maka hendaknya dia lakukan penyembelihannya…”
Hadits ini penampakannya menunjukkan kewajiban ibadah kurban, terlebih adanya perintah untuk mengulangi ibadah kurbannya jika penyembelihannya dilakukan sebelum ditegakkannya shalat ‘Id.
(Dinukil secara bebas dan ringkas dari www.ferkous.com)
Larangan Bagi Pengurban Mengambil Rambut / Bulu, Kuku dan Kulit Pada Badannya Setelah Masuk 10 Awal Dzulhijjah
Larangan ini berdasarkan hadits yang sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam : “Bila telah memasuki 10 hari awal Dzulhijjah sedangkan salah seorang diantara kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut/bulu atau kulit sedikit pun pada tubuhnya”.
Dalam riwayat lain : “…dan memotong kuku pada tubuhnya”. (HR.Muslim)
Hanya saja apakah larangan ini bersifat haram ataukah makruh ? Para ulama berbeda pandangan tentang hukum ini.Sebagian ulama menyatakan haram dan sebagian yang lainnya menyatakan makruh.Akan tetapi pendapat ulama yang menyatakan haram nampaknya lebih kuat karena hukum asal larangan adalah haram selama tidak ada dalil yang sahih dan jelas memalingkan dari haram menjadi makruh.Wallahu a’lam.
Jika Lupa Membaca Basmalah Ketika Menyembelih
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya : “Seseorang yang lupa membaca Basmalah ketika menyembelih binatang kurban apa tanggungan bagi dia ? Apakah disana ada perbedaan antara pemilik binatang kurban yang berderma dengan wakilnya ?”
Maka beliau menjawab : “Jika dia lupa membaca Basmalah, maka tidak ada dosa baginya karena firman Allah Ta’ala (artinya) : “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau bersalah…”
Namun apakah halal bagi kita untuk memakan dagingnya ? Kita lihat.Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman (artinya) : “Dan janganlah kalian memakan daging yang tidak dibaca nama Allah padanya…”
Maka di hadapan kita sekarang ada 2 perbuatan : Perbuatan orang yang menyembelih dan perbuatan orang yang makan.Adapun orang yang menyembelih, maka ia dimaafkan karena lupa.Allah Ta’ala telah berfirman (artinya) : “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau bersalah…”
Sedangkan orang yang makan, maka kita katakan : “Dan janganlah kalian memakan daging yang tidak dibaca nama Allah padanya…” , sebab membaca Basmalah ketika menyembelih adalah syarat dan syarat tidaklah gugur karena lupa atau tidak tahu…”
Sampai beliau berkata : “…Akan tetapi tersisa (permasalahan, pen) : Apakah orang yang menyembelih ini menanggung ganti rugi kepada pemilik binatang karena dialah yang menjadi sebab tidak dibacanya Basmalah ataukah tidak menanggung ganti rugi ? Bisa jadi dikatakan : Sesungguhnya dia telah berbuat baik (menjadi wakil dalam penyembelihan, pen) sehingga tidak menanggung ganti rugi, berdasarkan firman Allah Tabaaraka Wa Ta’ala (artinya) : “Tidak ada alasan untuk menyalahkan orang-orang yang telah berbuat baik…” Juga dikarenakan lupa itu banyak terjadi.
Bisa jadi pula kita katakan : Dia menanggung ganti rugi sekalipun telah berbuat baik karena dia melenyapkan harta di hadapan pemiliknya dan melenyapkan harta di hadapan pemiliknya mengakibatkan menanggung ganti rugi dalam setiap keadaan, sekalipun dia lupa.Maka dia menanggung ganti rugi.Sekalipun seseorang lupa lalu memakan makanan milik saudaranya, maka dia menanggung ganti rugi.
Akan tetapi pendapat yang pertama lebih benar dan kuat, bahwa orang yang berbuat baik jika lupa membaca basmalah, maka dia tidak menanggung ganti rugi.Hanya saja sesembelihannya tetap tidak halal”. (Dinukil secara ringkas dari Fatawa Ahkamil Udh-hiyah hal.33-35, program pdf)
Hukum Panitia Pembangunan Masjid Menjual Daging Kurban Untuk Renovasi Masjid
Diajukan sebuah pertanyaan kepada asy-Syaikh Muhammad Ali Farkus hafizhahullah : “Kami adalah panitia keagamaan untuk pembangunan masjid di kota…Bertepatan dengan Idul Adha yang penuh berkah, kami mengumpulkan kulit kurban dari penduduk suatu kampung.Kami telah memberitahu mereka sebelumnya bahwa kami akan melakukan hal itu dengan berharap sedekah mereka untuk renovasi masjid.Lalu panitia mengumpulkan kulit kurban, menjualnya dan menggunakan uang hasil penjualan untuk pembangunan masjid.Demikian keadaannya.Maka kami bertanya kepada anda, samahatu asy-syaikh yang mulia : Apakah perbuatan ini ada unsur menyelisih syariat ? Mohon anda jelaskan kepada kami.Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan”.
Maka beliau mengatakan bahwa permasalahan ini kembali kepada hukum boleh tidaknya menjual daging kurban.Para ahli fikih berbeda pendapat tentang hal ini dalam beberapa ucapan.Namun yang paling nampak kebenarannya adalah tidak boleh menjual sesuatu apapun dari binatang kurban : kulit atau selainnya.Ini adalah mazhab Malik, asy-Syafi’i, yang masyhur dari Ahmad, Abu Yusuf murid Abu Hanifah.Sama saja larangan tersebut bagi pemilik, pengganti atau wakil pemilik binatang kurban.Kemudian beliau menyebutkan dalil pelarangannya dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.
Jika telah jelas bahwa perbuatan ini (menjual kulit binatang kurban dan sejenisnya) tidak boleh bagi pemilik binatang kurban, maka tidak boleh pula bagi pengganti pemilik binatang kurban untuk menjualnya.
Sedangkan menyedekahkan kulit kambing untuk masjid, maka ini termasuk wakaf bukan kepemilikan individu tertentu.Oleh karena itu dilarang adanya jual beli atau hibah pada wakaf.Tujuan yang baik tidak boleh menghalalkan segala cara.
Adapun orang fakir atau miskin yang menjual kulit binatang kurban setelah status kulit itu menjadi sedekah bagi orang fakir atau miskin tersebut, maka hal itu boleh karena :
1) Statusnya sudah menjadi kepemilikan individu tertentu.
2) Hilangnya sebab larangan menjual sesuatu pun dari binatang kurban pada orang fakir atau miskin tersebut.

(Dinukil secara bebas dan ringkas dari www.ferkous.com)
Bila Hari Raya Idul Adha atau Idul Fithri Bertepatan Hari Jumat
1) al-Lajnah ad-Daimah Li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah Wa al-Ifta` pada fatwa no. 2358 menyatakan bahwa barangsiapa yang melaksanakan shalat ‘Id bertepatan dengan hari Jumat, maka dia diberi rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jumat pada hari tersebut, kecuali imam. Adapun imam, tetap wajib atasnya menegakkan shalat Jumat bersama kaum muslimin yang hadir shalat Jumat, baik yang sudah shalat ‘Id maupun tidak shalat ‘Id.Apabila tidak ada seorang pun yang hadir, maka gugurlah kewajiban Jumat darinya, dan dia melaksanakan shalat Zhuhur.
2) asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah menyatakan tetap wajib atas imam dan khatib shalat Jumat untuk menegakkan shalat Jumat, hadir ke masjid, dan shalat berjamaah mengimami orang-orang yang hadir di masjid. Karena dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menegakkan shalat Jumat pada hari ‘Id.Beliau ‘alaihi ash-Shalatu Wa as-Salam melaksanakan shalat ‘Id dan shalat Jumat.Terkadang beliau dalam shalat ‘Id dan shalat Jumat sama-sama membaca surat Sabbihisma dan surat Al Ghasyiyah, sebagaimana dikatakan oleh sahabat an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma dalam riwayat yang sahih dari beliau di dalam kitab Shahih Muslim.
Namun bagi orang yang yang telah melaksanakan shalat ‘Id, boleh baginya untuk meninggalkan shalat Jumat dan hanya melaksanakan shalat Zhuhur di rumahnya atau berjamaah dengan beberapa orang saudaranya, apabila mereka semua telah melaksanakan shalat ‘Id.
Apabila dia melaksanakan shalat Jumat berjama’ah maka itu afdhal (lebih utama) dan akmal (lebih sempurna). Namun apabila ia meninggalkan shalat Jumat karena ia telah melaksanakan shalat ‘Id, maka tidak mengapa Namun tetap wajib atasnya melaksanakan shalat Zhuhur, baik sendirian ataupun berjamaah. Wallahu Waliyyu at-Taufiq.
(Lihat Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah Jilid 12 / 341-342)

3) asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyebutkan bahwa kenyataannya masalah ini terdapat perbedaan di kalangan ulama rahimahumullah. Pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh as-Sunnah, bahwa ….
Kita katakan : Apabila hari Jumat bertepatan dengan ‘Id maka engkau wajib shalat ‘Id.Barangsiapa yang telah melaksanakan shalat ‘Id, maka bagi dia bebas memilih apakah dia mau hadir shalat Jumat bersama imam, ataukah ia shalat Zhuhur di rumahnya.
Kedua : Tetap wajib mengadakan shalat Jumat di suatu negeri / daerah. Barangsiapa yang hadir maka dia shalat Jumat, barangsiapa yang tidak hadir maka dia shalat Zhuhur di rumahnya.
Ketiga : Pada hari itu shalat Zhuhur tidak dilaksanakan di masjid, karena yang wajib dilaksanakan adalah shalat Jumat, sehingga tidak dilakukan shalat Zhuhur (di masjid).
Inilah pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh dalil-dalil as-Sunnah. (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)

Ketiga fatwa di atas kami kutip dari www.darussalaf.or.id dengan beberapa perubahan seperlunya.

Wallahu a’lamu bi ash-Sha

Tafsir Surat Asy Syarh

Tafsir Surat Asy Syarh
Sangat tepat mengkaji surat ini ketika kita ingin mengetahui berita gembira untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan umat beliau.Berita gembira yang selayaknya kita jadikan sebagai renungan dan hiburan di tengah kehidupan yang penuh ujian dan cobaan.
Ayat pertama (artinya) : “Bukankah Kami (Allah) telah melapangkan dada untukmu ?!”
Kalimat ini adalah pertanyaan tapi maknanya pernyataan.Maksudnya bahwa Allah telah melapangkan dada Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Dilapangkannya dada beliau terjadi secara hissi (lahiriah) maupun maknawi (batiniah).Secara hissi adalah dicucinya kalbu beliau oleh malaikat Jibril ‘alaihi as-Salam dengan air zam-zam lalu dituangi hikmah dan iman dari bejana emas.Peristiwa itu terjadi pada saat Isra’ Mi’raj.Disebutkan oleh Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bercerita (artinya) : “Terbuka atap rumahku yang ketika itu aku masih di Makkah.Lantas Jibril turun dan membelah dadaku dan mencucinya dengan air zam-zam.Kemudian Jibril mendatangkan bejana emas yang penuh dengan hikmah dan iman.Jibril pun menuangkan hikmah dan iman tersebut ke dalam dadaku hingga ia menutup kembali belahan dadaku…” (HR.al-Bukhari dan Muslim)
Adapun secara maknawi, maka ada 2 macam :
1) Dada beliau sangat lapang terhadap hukum Allah yang bersifat syar’i dengan penerimaan sepenuhnya terhadap syariat-Nya, ridha terhadapnya, tidak merasa sempit dan keberatan menjalankan syariat tersebut.
2) Dada beliau sangat lapang terhadap hukum Allah bersifat kauni (alami) dengan kesabaran dan keridhaan sepenuhnya menghadapi beragam ujian dan musibah.

Dengan 2 hal di atas, maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah manusia yang paling bertakwa kepada Allah sekaligus paling sabar menghadapi bermacam-macam musibah.

Dada yang lapang merupakan seagung-agung karunia yang Allah berikan kepada hamba-Nya.Demikian pula, dada yang lapang adalah bekal yang paling kuat untuk dapat menjalankan ketaatan kepada Allah dan memikul dakwah yang mesti akan menghadapi beragam cobaan.
Ayat kedua (artinya) : “Dan Kami telah menggugurkan dosa darimu”.
Maksudnya : “Bukankah Kami telah gugurkan dosa darimu ?!” Dalam ayat lainnya, Allah menerangkan bahwa Dia Ta’ala mengampuni dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang.Dia berfirman (artinya) : “Supaya Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang…” (Al Fath : 2)
Hanya saja pada ayat yang ke-2 ini, Allah tidak menjelaskan dosa apa dan jenisnya sehingga para ulama berbeda pendapat tentang dosa yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.
Ayat ketiga (artinya) : “Yang memberatkan punggungmu ?!”
Punggung adalah anggota badan yang paling kuat pada manusia untuk membawa beban.Apabila ada beban yang berat dibawa oleh punggung, maka anggota badan yang lain lebih-lebih akan merasa berat.
Dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa dosa Nabi telah dirasa berat oleh punggung beliau, padahal dosa beliau yang lalu dan yang akan datang pasti diampuni oleh Allah.Ini tentu menunjukkan kesungguhan beliau yang sangat besar dalam menilai sebuah dosa, penyesalan dan kesedihan melakukan dosa.Tidak ada satu pun dosa yang dianggap remeh oleh beliau.Lalu bagaimana dengan kita yang sangat banyak dosanya dan tidak ada jaminan untuk diampuni oleh Allah ?! Bisa jadi dosa besar bahkan paling besar sekalipun (yaitu : kesyirikan), kita anggap ringan seperti lalat yang lewat di hidung.
Sungguh jauh perbedaan antara seorang mukmin dengan seorang fajir manakala memandang dosa yang mereka berdua lakukan ! Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di bawah gunung dalam keadaan takut gunung itu akan menimpa dirinya.Sedangkan seorang fajir melihat dosanya seakan-akan ada seekor lalat melewati hidungnya lalu (hanya) menghalau dengan tangannya”.(Shahih al-Bukhari)
Ayat keempat (artinya) : “Dan Kami telah mengangkat penyebutan untukmu ?!”
Maksudnya : “Bukankah Kami telah mengangkat penyebutan untukmu ?!” Pada ayat ini, Allah menyebutkan kedudukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang sangat tinggi dan tidak bisa dicapai oleh nabi-nabi yang lainnya.Bukankah tidak ada manusia sejak Nabi Adam ‘alaihi as-Salam hingga manusia terakhir yang namanya senantiasa disebut oleh sekian banyak manusia seperti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam ?! Bukankah nama beliau senantiasa disebut setelah nama Allah dalam adzan, iqamah, tasyahud di setiap hari oleh sekian banyak manusia di seluruh pelosok dunia hingga jelang hari kiamat kelak ?! Belum lagi dalam kesempatan lain, seperti : ceramah, ucapan syahadat seorang yang masuk Islam dan sebagainya yang nama beliau senantiasa disebut ?! Tidak ada pula manusia selain Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang ucapan dan perbuatannya senantiasa terjaga dan tertulis di sekian banyak karya para ulama hingga dijadikan pedoman hidup sekian banyak generasi hingga akhir zaman ! Ibadah pun tidak akan diterima oleh Allah sekalipun ikhlas kecuali jika diiringi ittiba’ (mengikuti) sunnah beliau.Nama beliau memiliki tempat tersendiri pada setiap dada kaum muslimin setelah nama Allah ‘Azza Wa Jalla.Tidaklah nama atau sunnah beliau dihina oleh sebagian manusia, melainkan pasti ada sebagian manusia lainnya yang akan membela dan meninggikan nama atau sunnah beliau hingga akhir zaman.
Penyebutan nama dan kedudukan beliau semakin tampak tinggi manakala beliau menjadi satu-satunya manusia yang mendapat izin dari Allah untuk memberi syafaat bagi seluruh manusia yang berkumpul di padang mahsyar pada hari kiamat kelak.Syafaat itu dikenal dengan istilah asy-Syafa’ah al-Uzhma (Syafaat Yang Agung).
Jika kita perhatikan, maka 4 ayat di atas memberitakan 3 karunia besar yang Allah berikan kepada Nabi-Nya, yaitu : dilapangkannya dada (kalbu), digugurkannya dosa dan diangkatnya nama beliau sepanjang zaman.
Ayat kelima (artinya) : “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”.
Kalau pada ayat-ayat sebelumnya Allah memberitakan kabar gembira hanya kepada utusan-Nya yang terbaik, maka pada ayat ini dan setelahnya (ayat ke-6) Allah memberitakan kabar gembira kepada beliau sekaligus umat beliau.
Pada ayat ini dan setelahnya terdapat keterangan bahwa manakala datang suatu kesulitan sebesar apa pun dia, niscaya kemudahan akan menyertainya.Sekalipun ibaratnya kesulitan itu masuk lubang adh-Dhabb (binatang sejenis biawak) yang memang sulit dimasuki, niscaya kemudahan akan menyertai lalu mengeluarkan kesulitan dari lubang tersebut.
Ayat keenam (artinya) : “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”.
Allah menegaskan janji-Nya ini bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan dengan 2 hal, yaitu :
1) Penggunaan kata “sesungguhnya”.
2) Pengulangan kalimat “sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan” sebanyak 2 kali.

Jika Allah adalah Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Benar ucapan-Nya, tidak ada sedikit pun keraguan pada ucapan dan janji-Nya, maka akankah seorang muslim masih saja berputus asa menghadapi kesulitan dalam hidupnya, ragu terhadap ucapan dan janji Allah ?! Akan tetapi kemudahan bagi seseorang menjadi tertunda justru disebabkan karena beberapa hal, seperti : lemahnya keyakinan dia, rasa putus asa dia yang lebih dominan dibandingkan rasa harap kepada pertolongan Allah atau dia masih menganggap kemudahan itu jauh keberadaannya.Maka Allah pun memberi balasan sesuai anggapan dan prasangka hamba kepada-Nya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda melalui sebuah hadits Qudsi (artinya) : “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman : “Aku bersama prasangka hamba-Ku kepada-Ku.Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan.Jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan”.(ash-Shahihah 1663)

Faidah : Keterangan di atas berkaitan dengan kesulitan yang sifatnya kauni (alami).Adapun kesulitan yang sifatnya syar’i (agama), maka Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan juga berkaitan dengan urusan agama.Beliau lalu memberikan beberapa contoh, diantaranya : Shalat dengan duduk jika tidak mampu berdiri dan jika tidak mampu duduk maka dengan berbaring.(Lihat Tafsir Juz ‘Amma)
Ayat ketujuh (artinya) : “Maka jika engkau usai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh- sungguh (urusan yang lain)”.
Jika engkau usai dari suatu urusan, maka bersiaplah untuk mengerjakan urusan lain.Jangan engkau jadikan kehidupan ini sia-sia.Waktu itu terus berjalan tanpa peduli apakah manusia bangun atau tidur, sibuk atau luang, bergegas atau berlambat-lambat.Engkau tidak akan sanggup menghentikan jalannya waktu.Oleh karena itu, kehidupan seorang yang berakal adalah kehidupan penuh kesungguhan.Manakala usai dari satu urusan, maka ia bersiap untuk menunaikan urusan berikutnya.
Al-‘Allamah al-Alusi rahimahullah berkata : “Mereka (para ulama) menyebutkan bahwa duduknya seseorang dalam kekosongan waktu tanpa ada kesibukan atau sibuk (tapi) dengan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi agama maupun dunianya adalah kedunguan berpikir, kelemahan akal dan dikuasainya dia oleh rasa lalai”.(Tafsir al-Alusi)
Ayat ini mengandung faidah : Anjuran untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk kebaikan dunia maupun akhirat.Demikianlah Islam, agama yang kita cintai ini ! Membimbing pemeluknya agar benar-benar menaruh perhatian besar terhadap waktunya dan tidak menyia-nyiakannya.
Faidah : Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Jika ada seseorang berkata : “Kalau aku menggunakan kesungguhan pada setiap kehidupanku, niscaya aku akan lelah dan bosan”.Maka kita katakan : “Sesungguhnya istirahat untuk menggiatkan dirimu dan mengembalikan rasa giat untukmu teranggap sebagai kesibukan dan amalan.Yakni : Tidak mesti kesibukan itu adalah bergerak.Istirahatmu untuk menjadikan giat melakukan amalan lain teranggap sebagai amalan”.(Tafsir Juz ‘Amma)

Ayat kedelapan (terakhir) yang artinya : “Dan hanya kepada Rabbmu-lah, hendaknya engkau berharap”.
Hanya kepada Allah, hendaknya engkau berharap mendapatkan kemudahan dan diterimanya ibadahmu karena sesungguhnya Dia-lah Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.Kapan saja engkau menaruh kepercayaan dan harapan kepada Allah semata, maka Allah akan memudahkan segala urusanmu.Semakin kuat rasa percaya dan harapanmu kepada-Nya saja, maka semakin cepat Dia mendatangkan kemudahan untukmu.
Faidah : Digunakan lafazh “Rabb” yang maknanya adalah Zat yang memiliki sifat Rububiyah, seperti : mencipta, mengatur dan memelihara alam semesta, karena :
1) Untuk menunjukkan kekuasaan Zat yang diharapkan pertolongan-Nya.
2) Rasa harap (ar-Raghbah) adalah ibadah yang hanya boleh dipersembahkan kepada Zat yang memiliki sifat Rububiyah
Wallahu a’lamu bish-Shawab

Bersabar Menghadapi Gangguan Manusia

Bersabar Menghadapi Gangguan Manusia
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Ada beberapa perkara yang dapat membantu seorang hamba agar bisa bersabar menghadapi gangguan manusia :
Pertama : Hendaknya dirinya menyaksikan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah pencipta perbuatan hamba-hambaNya, baik gerak-gerik, diam maupun kehendak mereka.Apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi.Tidaklah bergerak sekecil apapun di alam atas maupun bawah melainkan dengan izin dan kehendak-Nya.Hamba-hamba adalah alat.Maka lihatlah kepada Zat yang memberi kuasa mereka atas dirimu, dan janganlah dirimu melihat perbuatan mereka terhadap dirimu.Maka dirimu akan bisa beristirahat dari rasa cemas dan resah.
Kedua : Hendaknya dirinya memperhatikan dosa-dosanya.Bahwasanya Allah memberi kuasa mereka atas dirinya karena dosa-dosanya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Dan apa yang menimpa kalian berupa musibah, maka itu karena tangan kalian dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan kalian”.(Asy-Syura : 30)
Apabila seorang hamba memperhatikan bahwa segenap ketidakenakan yang menimpa dirinya disebabkan dosa-dosanya, maka ia akan tersibukkan dengan taubat dan istighfar dari dosa dibandingkan mencela, mencerca dan memaki mereka.Jika engkau melihat seorang hamba mencela manusia tatkala mereka mengganggunya dan tidak kembali kepada mencela dirinya sendiri dan istighfar, maka ketahuilah bahwa musibah yang menimpa dirinya adalah musibah yang hakiki.Jika ia bertaubat, beristighfar dan berkata : “Ini sebabnya adalah dosa-dosaku”, maka musibah itu menjadi nikmat bagi dirinya.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata dengan permata kalimat : “Tidaklah seorang hamba itu benar-benar berharap kecuali kepada Rabb-nya dan tidaklah ia benar-benar takut kecuali terhadap dosanya”.
Diriwayatkan dari beliau (Ali, pen) dan selain beliau : “Tidaklah musibah itu turun kecuali karena dosa, dan tidaklah musibah itu pergi kecuali dengan taubat”.
Ketiga : Seorang hamba melihat baiknya pahala yang telah Allah janjikan bagi orang yang memberi maaf dan bersabar, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Dan balasan dari perlakuan jelek adalah perlakuan jelek juga.Barangsiapa memberi maaf dan melakukan perbuatan yang lebih layak, maka balasannya di sisi Allah.Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang zalim”.(Asy-Syura : 40)
Tatkala manusia menghadapi gangguan itu ada 3 macam : Zalim dengan membalas melebihi haknya, pertengahan dengan membalas sesuai haknya dan berbuat baik dengan memaafkan dan membiarkan haknya diambil manusia, maka Allah menyebutkan 3 macam tersebut di dalam ayat ini.Macam pertama di ayat tersebut adalah golongan pertengahan, macam kedua adalah golongan yang bersegera dalam kebaikan dan macam ketiga adalah golongan yang zalim.
Hendaknya dirinya memperhatikan panggilan sang pemanggil pada hari kiamat : “…kecuali berdirilah siapa saja yang ditetapkan pahalanya oleh Allah”.Maka tidaklah berdiri kecuali orang yang memberi maaf dan melakukan perbuatan yang lebih layak.Seiring itu jika dirinya memperhatikan luputnya pahala karena melampiaskan kemarahan dan menuntut balas, maka mudah baginya untuk bersabar dan memberi maaf.
Keempat : Semestinya dirinya mengamati jika ia memberi maaf dan berbuat baik, maka hal itu akan mewariskan keselamatan hati terhadap saudara-saudaranya, bersihnya hati dari kecurangan, kedengkian, pelampiasan amarah dan niat jelek.Dari manisnya memberi maaf akan muncul apa yang menambah manis dan manfaat memberi maaf di dunia maupun akhirat, berlipat-lipat melebihi manfaat melampiaskan amarah.Hal ini masuk pada firman Allah (artinya) : “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”.(Ali Imran : 134) Maka jadilah ia orang yang dicintai Allah dan keadaannya seperti orang yang diambil darinya satu keping uang perak lalu diganti dengan berkeping-keping uang emas.Maka ketika itu ia berbahagia karena kenikmatan yang Allah berikan kepadanya dengan sebesar-besar kebahagiaan.
Kelima : Selayaknya dirinya tahu bahwa tidaklah seseorang itu melampiaskan amarahnya melainkan akan mewariskan kerendahan pada dirinya.Jika dia memberi maaf, maka Allah Ta’ala akan memberi kemuliaan kepadanya.Ini adalah salah satu yang diberitakan oleh manusia yang jujur dan harus dipercaya (yaitu : Nabi) manakala beliau bersabda (artinya) : “Tidaklah Allah menambah pada seorang hamba karena memberi maaf melainkan kemuliaan”.Kemuliaan yang muncul karena memberi maaf itu lebih ia cintai dan lebih bermanfaat dibandingkan kemuliaan yang muncul karena melampiaskan amarah.Sebab, kalau yang ini adalah kemuliaan yang sifatnya lahiriah saja tapi mewariskan kerendahan pada batinnya.Adapun memberi maaf adalah kerendahan (sementara) dalam batin, namun nanti dapat mewariskan kemuliaan secara lahir dan batin.
Keenam : Yang ini termasuk faidah terbesar.Yaitu hendaknya dirinya menyaksikan bahwa balasan itu sesuai jenis amalannya dan dirinya adalah zalim serta berdosa.Barangsiapa memberi maaf kepada manusia, maka Allah akan memberi maaf kepadanya.Barangsiapa memberi ampun, maka Allah akan memberi ampunan kepadanya.Jika dirinya menyaksikan bahwa memberi maaf secara lahir atau batin dan berbuat baik seiring perlakuan jelek manusia kepadanya merupakan sebab Allah membalasnya, maka demikian pula hal itu sesuai perbuatannya, yaitu Allah akan memaafkan dan mengampuni dosa-dosanya.(Akhirnya) mudah baginya untuk memberi maaf dan bersabar.Cukuplah bagi orang yang berakal dengan faidah ini.
Ketujuh : Sepantasnya dirinya tahu jika jiwanya sibuk dengan pelampiasan amarah dan tuntutan hak, maka akan sia-sia waktu, hati tercerai berai dan luput kebaikan-kebaikan yang tidak mungkin diraih lagi.Bisa jadi akan lebih besar dibanding musibah dari manusia yang menimpa dirinya.Jika saja ia memberi maaf secara lahir atau batin, maka hati dan badan akan tenang melakukan kebaikan-kebaikan yang memang lebih penting dibanding melampiaskan amarah.
Kedelapan : Bahwasanya melampiaskan amarah dan menuntut hak adalah pembelaan terhadap pribadinya.Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak pernah marah karena pembelaan terhadap pribadi beliau.Jika demikian keadaan sebaik-baik dan semulia-mulianya makhluk Allah, seiring gangguan terhadap beliau adalah gangguan terhadap Allah dan terkait dengan agama, lalu bagaimana diantara kita melampiaskan amarah demi pembelaan terhadap pribadinya ?! Yang tentunya dia lebih tahu tentang kejelekan dan aib pada dirinya.Bahkan orang yang mengerti, jiwanya tidaklah setara dengan pelampiasan amarah demi pribadinya dan tidak ada nilai pada jiwanya yang layak untuk dibela.
Kesembilan : Jika dirinya diganggu karena perbuatannya menjalankan agama Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, maka tetap wajib bersabar dan tidak perlu menuntut balas.Dirinya telah diganggu karena menjalankan agama Allah dan pahalanya di sisi Allah.Oleh karena itu para mujahid di jalan Allah yang kehilangan jiwa maupun harta tidaklah jiwa dan hartanya tersebut ditanggung oleh manusia.Sesungguhnya Allah-lah yang telah membeli jiwa dan harta mereka.Penetapan harga ditanggung oleh Allah, bukan manusia.Barangsiapa menuntut harga dari manusia, maka Allah tidak menetapkan harga kepadanya.Barangsiapa sirna karena di jalan Allah, maka Allah akan memberi ganti.Jika dirinya diganggu ketika ditimpa musibah, maka kembalilah mencela dirinya sendiri.Celaan terhadap diri sendiri akan menyibukkan dari mencela orang yang mengganggunya.Jika ia diganggu ketika diberi kenikmatan, maka hendaknya meneguhkan diri untuk bersabar.Sesungguhnya meraih kenikmatan tanpa bersabar merupakan perkara yang lebih pahit dibanding bersabar (ketika diganggu).Barangsiapa tidak bersabar terhadap panasnya terik waktu Zhuhur, derasnya hujan, dinginnya salju, beratnya perjalanan dan perompak jalanan, maka tidak ada tempat berdagang baginya.Ini adalah perkara yang telah dimaklumi di sisi manusia bahwa barangsiapa yang jujur dalam mencari sesuatu, maka diganti kesabarannya dalam mencari sesuatu sesuai kadar kejujurannya.
Kesepuluh : Melihat kebersamaan, kecintaan dan keridhaan Allah kepadanya jika dirinya bersabar.Barangsiapa yang Allah bersamanya, maka Allah akan cegah beragam gangguan dan bahaya kepada dirinya dengan pencegahan yang tidak akan bisa dilakukan oleh seorang pun dari kalangan makhluk-Nya.Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Dan bersabarlah.Sesungguhnya Allah akan bersama orang-orang yang bersabar”.(Al Anfal : 46). Allah juga berfirman (artinya) : “Dan Allah bersama orang-orang yang bersabar”.(Ali Imran : 146)
Kesebelas : Melihat bahwa sabar adalah setengah keimanan.Maka janganlah ia mengganti iman dengan sebuah balasan atas pembelaan terhadap pribadinya.Jika ia bersabar, maka ia telah menjaga dan membentengi imannya dari kekurangan.Allah akan membela orang-orang yang beriman.
Keduabelas : Menyaksikan bahwa sabar adalah penguasa, penakluk dan penjinak hawa nafsunya.Kapan saja hawa nafsu itu dapat dikuasai dan ditundukkan, maka hawa nafsu tidak akan berambisi untuk mengekang, menawan dan melemparkan dirinya ke dalam kebinasaan.Sebaliknya kapan saja dirinya menaati hawa nafsunya, mendengar dan tunduk kepadanya, maka senantiasa akan seperti itu hingga hawa nafsu membinasakan dirinya atau segera ia mendapat rahmat Allah.Jika tidaklah kesabaran melainkan bisa menundukkan hawa nafsu dan syaithan, maka kekuasaan kalbu akan menang, kokoh bala tentaranya, bahagia, kuat dan mampu mengusir musuh.
Ketigabelas : Mengetahui bahwa dirinya jika bersabar maka Allah akan menolongnya, tidak boleh tidak.Allah adalah pelindung bagi orang yang bersabar dan menyerahkan (urusan) orang yang menzaliminya kepada-Nya.Sedangkan barangsiapa membela pribadinya, maka Allah akan serahkan dia kepada hawa nafsunya.Justru jadilah dia yang menolong hawa nafsunya.Maka bagaimana seseorang yang penolongnya adalah Allah sebaik-sebaik penolong justru berubah menjadi seseorang yang penolongnya adalah hawa nafsunya selemah-lemah penolong ?!
Keempatbelas : Bahwasanya kesabaran terhadap seseorang yang mengganggunya dan bersedia menanggung beban menghadapi orang tersebut akan bisa membawa kepada rujuknya lawan dari kezaliman, penyesalan, permintaan maaf dan celaan manusia terhadapnya.Orang tersebut akan kembali setelah mengganggu dalam keadaan malu, menyesali apa yang telah dia lakukan dan bahkan bisa menjadi orang yang mencintai dirinya.Inilah makna firman Allah Ta’ala (lalu Syaikhul Islam menyebutkan Surat Fushshilat : 34-35, pen).
Kelimabelas : Bisa jadi melampiaskan kemarahan dan menuntut balas akan menjadi sebab bertambahnya kejelekan lawan, kuatnya hawa nafsu dan pikirannya untuk beragam gangguan yang dapat ia (lawan) timpakan kepada dirinya, sebagaimana hal ini sudah pernah disaksikan.Namun jika dirinya bersabar dan memberi maaf, maka ia akan aman dari dari mudharat tersebut.Orang yang berakal tidak akan memilih mudharat yang lebih besar dengan menolak mudharat yang lebih kecil.Betapa banyak melampiaskan amarah dan membalas kejelekan ternyata pelakunya (amarah dan balasan) lemah untuk menolak kejelekan tersebut.Betapa banyak jiwa, kepemimpinan dan harta hilang (dengan itu).Kalau saja orang yang terzalimi itu memberi maaf, niscaya itu semua (jiwa, kepemimpinan dan harta) akan terjaga.
Keenambelas : Bahwa barangsiapa yang biasa melampiaskan amarah dan tidak bersabar, maka pasti ia akan terjatuh pada kezaliman.Sebab, jiwa itu tidak merasa cukup dengan sekedar keadilan yang wajib, tidak merasa cukup secara pengetahuan maupun keinginan.Bisa jadi jiwa itu enggan untuk sekedar menuntut haknya.Sesungguhnya kemarahan akan mengeluarkan pelakunya kepada batasan yang ia sendiri tidak sadar apa yang ia ucapkan dan perbuat.Pada saat ia adalah seorang yang terzalimi yang semestinya menunggu pertolongan dan kemuliaan, ternyata ia berbalik menjadi orang zalim yang menunggu murka dan balasan Allah.
Ketujuhbelas : Bahwa kezaliman ini yang dirinya terzalimi dengannya adalah sebab dihapuskannya kesalahan dia dan ditinggikannya derajat dia.Namun jika ia melampiaskan amarah dan tidak bersabar, maka kezaliman tadi tidak akan menghapus kesalahannya dan tidak pula mengangkat derajatnya.
Kedelapanbelas : Bahwasanya pemberian maaf dan kesabaran termasuk pasukan terbesar meghadapi lawan.Sebab, barangsiapa bersabar dan memberi maaf, maka akan menyebabkan rendah, takut dan khawatirnya musuh kepada dirinya dan manusia.Sesungguhnya manusia tidak akan diam dari lawan sekalipun dirinya diam dari lawan.Namun jika dirinya melampiaskan amarahnya, maka hilanglah itu semua.Oleh karena itu engkau jumpai banyak dari manusia jika mencela atau mengganggu orang lain cenderung ingin menuntut haknya.Maka jika manusia sudah membalasnya, maka dirinya bisa beristirahat dan membuang beban yang sempat dia jumpai.
Kesembilanbelas : Jika dirinya memberi maaf lawannya, maka lawan akan merasa bahwa dirinya (orang yang memberi maaf dan kemuliaan) berada di atasnya dan meraih keuntungan.Senantiasa lawan melihat dirinya berada di bawah orang yang memberi maaf dan kemurahan.Cukuplah ini sebagai keutamaan dan kemuliaan memberi maaf.
Keduapuluh : Bila dirinya memberi maaf dan kemurahan, maka ini adalah kebaikan dan akan melahirkan kebaikan yang lain.Kebaikan yang lain akan melahirkan kebaikan yang lain lagi dan seterusnya.Senantiasa kebaikannya bertambah.Sebab, balasan suatu kebaikan adalah kebaikan, sebagaimana balasan kejelekan adalah kejelekan setelah itu.Bisa jadi ini adalah sebab keselamatan dan kebahagiaan abadi bagi dirinya.Namun jika melampiaskan amarah dan membela pribadinya, maka hilanglah itu semua”.
(Dialihbahasan dari Jami’ al-Masail 1/168-174 melalui situs www.sahab.net)