Riya’ Mengancam Kita

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Riya’ Mengancam Kita

            Penyakit hati yang satu ini sangat mengancam setiap orang yang sedang berbuat baik.Bisa saja seseorang selamat dari kemaksiatan, namun jangan merasa dirinya selamat dari bahaya ketika sanggup berbuat baik.

            Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sangat khawatir penyakit ini menimpa umat beliau, melebihi kekhawatiran beliau dari fitnah (kejelekan) al-Masih ad-Dajjal.Beliau bersabda (artinya) : “Maukah aku beritakan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan menimpa kalian dibanding al-Masih ad-Dajjal ?”Maka kami (para sahabat) menjawab : “Tentu”.Maka beliau berkata : “Syirik yang samar : Seseorang berdiri menunaikan shalat lalu membaguskan shalatnya tatkala merasa ada pandangan seseorang (mengarah kepadanya)”.(HR.Ibnu Majah dan dihasankan oleh al-Albani)

Al-Hasan bin Shalih bin Hayyi al-Hamdani

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Al-Hasan bin Shalih bin Hayyi al-Hamdani

            Orang ini lahir sekitar tahun 100 H dan meninggal dunia sekitar 69 tahun kemudian.Dia dikenal sebagai orang yang berilmu (‘alim), zuhud (tidak tamak) terhadap dunia, wara’ (sangat menjaga diri dari perkara yang meragukan bagi dirinya), sangat takut terhadap Allah, hafal ribuan hadits, kokoh dalam hafalannya (tidak terbata-bata), sangat mudah tersentuh hatinya oleh perkara akherat dan mudah menangis (ketika mengingat akherat)…

            Dia sempat hidup sezaman dengan banyak para imam (tokoh besar) salaf dalam hal ilmu dan ibadah, seperti Sufyan ats-Tsauri dan selain beliau.Dia termasuk periwayat hadits, sampai-sampai Abu Hatim ar-Razi yang dikenal keras dalam mengkritisi para periwayat hadits berkata tentang al-Hasan ini : “Tsiqah (terpercaya), hafal ribuan hadits dan kokoh dalam hafalannya”.

Seputar Hukum Pinjaman (al-’Ariyah)

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Seputar Hukum Pinjaman (al-‘Ariyah)

            Yang dimaksud pinjaman (al-‘Ariyah) adalah pembolehan memanfaatkan suatu barang yang zatnya secara syariat memang boleh dimanfaatkan dan tetap utuh saat dimanfaatkan.Pembolehan itu berasal dari orang yang meminjami (al-Mu’ir) kepada orang yang meminjamnya (al-Musta’ir).Konteks pembolehannya bisa dengan ucapan yang jelas, seperti : “Aku pinjami buku ini kepadamu” atau ucapan isyarat, seperti : “Pakai saja pena ini !”, maupun dengan perbuatan, seperti : menyodorkan cangkul kepada seseorang yang akan membersihkan selokan.Bisa pula konteks pembolehannya dengan tulisan.

Menyikapi Munculnya Nabi Palsu

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Menyikapi Munculnya Nabi Palsu

            Untuk kesekian kali, ada lagi seseorang yang mengaku sebagai nabi sepeninggal Nabi Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Beberapa hari yang lalu, kita kembali mendengar seorang warga Jombang, Jatim mengaku sebagai nabi.

Sebuah Bukti Benarnya Kenabian & Kerasulan Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi Wasallam

            Diantara kita telah mengetahui bahwa fenomena kemunculan nabi palsu sebenarnya telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Melalui sabdanya, beliau mengatakan (artinya) : “…Sesungguhnya akan muncul di tengah umatku para pendusta sebanyak 30 orang.Seluruh mereka ini mengaku bahwa dirinya adalah nabi, sedangkan aku adalah penutup para nabi yang tidak ada lagi seorang nabi pun setelahku…”(HR.Abu Dawud yang disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)