Tafsir Surat Az-Zalzalah

            Surat az-Zalzalah berbicara tentang hari kiamat.Beberapa peristiwa mengerikan yang pasti akan terjadi disebutkan oleh surat ini, agar mengingatkan manusia tentang kekuasaan Allah, sirnanya dunia beserta seluruh kehidupan yang ada di dalamnya dan kembalinya manusia kepada Allah.

            Adapun tafsir surat ini adalah :

Ayat pertama (artinya) :  “Apabila bumi benar-benar digoncang”.

            Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata : “Yaitu bergoncang dari dasar bumi.Demikian diriwayatkan oleh Ikrimah dari Ibnu Abbas”.(Tafsir al-Qurthubi)

            Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Ibnu Abbas berkata : “Apabila bumi benar-benar digoncang”, yaitu : bergoncang dari dasar paling bawah bumi”.(Tafsir Ibni Katsir)

            Al-‘Allamah Athiyyah Muhammad Salim rahimahullah berkata : “Az-Zalzalah adalah goncangan hebat dengan kecepatan tinggi…”(Tatimmah Adhwa’il Bayan)

            Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Yaitu goncangan besar yang sama sekali belum pernah ada semisal itu”.(Tafsir Juz ‘Amma)

            Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata : “Allah Ta’ala memberitakan peristiwa di hari kiamat, bahwa bumi bergoncang, bergerak dan bergetar hingga runtuh segala apa yang ada di permukaan bumi, baik bangunan maupun apa yang tegak di muka bumi.Gunung-gunung pun roboh dan puncaknya rata dengan tanah.Bumi pun menjadi dataran yang rata sama sekali, tidak ada yang lebih rendah dan tidak ada pula yang lebih tinggi”.(Tafsir as-Sa’di)

            Dari keterangan para ulama di atas, kita dapat memahami  bahwa bumi mengalami goncangan hebat dari inti dasar bumi hingga lapisan luar bumi.Sebuah goncangan dan gempa bumi yang sama sekali belum pernah dirasakan manusia sebelum itu.

            Tidak ada yang terjadi saat kiamat tiba, melainkan kengerian yang sangat dahsyat.Allah sendiri melalui ayat ke-2 Surat Al Hajj menegaskan bahwa semua wanita lalai dari anak yang disusuinya, semua wanita hamil keguguran dan manusia mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak sedang mabuk, tatkala menyaksikan goncangan hari kiamat.

Ayat kedua (artinya) : “Dan bumi mengeluarkan apa yang dikandungnya”.

            Kalau ayat pertama berbicara tentang peristiwa kiamat setelah tiupan sangkakala yang merusak alam semesta, maka ayat yang kedua berbicara tentang peristiwa kiamat setelah tiupan sangkakala yang membangkitkan manusia dari perut bumi.Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang bumi yang dibangkitkan manusia darinya, apakah bumi yang ada sekarang ini tapi diganti keadaannya ataukah bumi lain yang Allah ciptakan untuk mengganti bumi yang sekarang ini.Wallahu a’lam.Hal ini mengingat Allah telah berfirman (artinya) : “(Yaitu) pada hari yang (ketika itu) bumi diganti dengan selain bumi (yang ada sekarang), dan (demikian pula) langit (pun diganti)…”(Ibrahim : 38)

            Adapun apa yang dikeluarkan oleh bumi pada ayat ini, bisa dimungkinkan manusia penghuni kubur atau dimungkinkan pula manusia beserta harta yang terpendam di perut bumi.Kalau yang dikeluarkan dari perut bumi adalah manusia, maka itu perkara yang telah diketahui oleh manusia.Adapun harta yang terpendam di perut bumi, maka dalilnya adalah sabda Nabi (artinya) : “Bumi akan memuntahkan potongan-potongan dari dalam perutnya seperti piringan-piringan emas dan perak.Maka datanglah orang yang dahulu melakukan dosa membunuh dan berkata : “Karena perkara ini (yaitu : berebut urusan duniawi yang digambarkan dengan piringan emas dan perak, pen), dahulu aku melakukan pembunuhan”.Lalu datanglah orang yang dahulu melakukan dosa memutus tali silaturahim dan berkata : “Karena perkara ini, dahulu aku memutus tali silaturahim.Kemudian datanglah orang yang melakukan dosa mencuri dan berkata : “Karena perkara ini, dahulu tanganku dipotong.Ternyata (di hari kiamat, pen), mereka membiarkan piringan-piringan emas dan perak tadi dan tidak mengambil sedikit pun”.(HR.Muslim)     

Ayat ketiga (artinya) : “Dan manusia berkata : “Ada apa dengan bumi ini ?”

            Ayat ini mengisahkan ucapan manusia ketika bumi bergoncang setelah tiupan yang merusak alam semesta, atau setelah tiupan yang membangkitkan manusia dari kuburnya.Apabila yang dimaksud adalah setelah tiupan yang merusak alam semesta, maka yang mengatakan ucapan “Ada apa dengan bumi ini ?” adalah orang-orang kafir.Sebab, ketika itu yang berada di muka bumi hanyalah orang-orang kafir.Namun apabila yang dimaksud adalah setelah tiupan yang membangkitkan manusia dari alam kubur, maka yang mengatakan ucapan “Ada apa dengan bumi ini ?” adalah orang kafir dan orang yang beriman.Orang kafir mengucapkan kalimat tersebut karena pengingkaran dan keheranan.Sedangkan orang yang beriman mengucapkan kalimat tersebut karena menganggap besar peristiwa tersebut.Wallahu a’lam.

            Apabila kalimat “Ada apa dengan bumi ini ?” adalah perkataan yang diucapkan setelah tiupan yang merusak alam semesta, maka maksudnya “Ada apa dengan bumi yang bergoncang sangat dahsyat ini ?”

            Namun apabila kalimat “Ada apa dengan bumi ini ?” adalah perkataan yang diucapkan setelah tiupan sangkakala kebangkitan, maka maksudnya “Ada apa dengan bumi yang telah mengeluarkan apa yang dikandungnya ini ?”

Ayat keempat (artinya) : “Pada hari itu, bumi menyampaikan berita tentang dirinya”.

            Ayat ini merupakan jawaban dari 3 ayat sebelumnya.Maksudnya : “Apabila bumi benar-benar digoncang, bumi mengeluarkan apa yang dikandungnya dan manusia berkata : “Ada dengan bumi ini ?”, maka pada hari itu bumi menyampaikan berita tentang dirinya”.

            Ayat ini memberitakan bahwa bumi akan menjadi saksi di hadapan Allah atas segala perbuatan manusia, baik perbuatan yang terpuji maupun tercela yang pernah dilakukan di muka bumi.Bumi merupakan salah satu saksi di akherat kelak yang akan memberitakan segala perbuatan manusia, selain tangan, kaki, kulit manusia itu sendiri atau saksi-saksi yang lain.Ketika itu manusia tidak akan mungkin sedikit pun mengelak dari kenyataan yang dahulu pernah mereka perbuat di hadapan Allah.

            Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Persaksian bumi ini terjadi untuk menjelaskan keadilan Allah ‘Azza Wa Jalla.Bahwasanya Dia Subhanahu Wa Ta’ala tidaklah menyiksa manusia, melainkan karena apa yang telah mereka perbuat.Jika tidak demikian, maka sesungguhnya Allah Ta’ala itu meliputi segala sesuatu (dengan ilmu-Nya, pen).Cukuplah dengan sekedar Dia berkata kepada hamba-hambaNya : “Kalian telah melakukan ini dan itu…Akan tetapi persaksian itu merupakan bagian dari penegakan keadilan dan untuk menepis pengelakan orang yang jahat, karena orang-orang yang jahat itu mengelak untuk dikatakan sebagai orang-orang musyrik…”(Tafsir Juz ‘Amma)

Ayat kelima (artinya) : “Dengan sebab Allah memerintah bumi untuk memberitakannya”.

            Bumi dapat menjadi saksi karena Allah memerintahkannya untuk berbicara dengan pembicaraan yang dipahami manusia saat itu.Tidak ada yang mustahil sedikit pun jika Allah menghendaki sesuatu itu terjadi.Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.Allah Maha Kuasa untuk menjadikan bumi dapat berbicara dengan pembicaraan yang dipahami manusia ketika itu.Bumi pun tidak akan membangkang ketika diperintah untuk berbicara dan tidak akan berdusta ketika berbicara, karena bumi adalah makhluk Allah yang senantiasa tunduk kepada Allah.

Ayat keenam (artinya) : “Pada hari itu, manusia menjadi berkelompok untuk diperlihatkan kepada mereka perbuatan mereka”.

            Maknanya adalah manusia bangkit dari kuburnya menuju tempat dibukanya catatan seluruh amalan dan penghisaban (perhitungan) amalan.Mereka berkelompok sesuai jenis amalannya.Orang yang beramal shalih berjalan menuju sisi kanan dengan wajah putih berseri-seri dan penuh ketenangan.Adapun orang yang beramal jelek, mereka berjalan menuju sisi kiri dengan wajah hitam legam dan penuh ketakutan.

            Menafsirkan petikan ayat yang berbunyi : “..untuk diperlihatkan perbuatan mereka”, al-‘Allamah as-Sa’di berkata : “Untuk Allah perlihatkan apa yang telah mereka perbuat dari kebaikan maupun kejelekan, dan memperlihatkan pula balasan yang sempurna (yang akan mereka dapatkan, pen)”.(Tafsir as-Sa’di)

Ayat ketujuh (terakhir) yang artinya : “Maka barangsiapa yang beramal kebaikan sebesar dzarrah sekalipun, maka niscaya ia akan melihatnya, dan barangsiapa beramal keburukan sebesar dzarrah sekalipun, maka niscaya ia akan melihatnya (pula).

            Al-‘Allamah al-Alusi rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini merupakan rincian terhadap petikan ayat sebelumya : “…untuk diperlihatkan kepada mereka perbuatan mereka”.(Lihat Tafsir al-Alusi)

            Ada beberapa penafsiran tentang makna dzarrah, yaitu :

a)    Semut yang kecil.

b)    Debu yang terlihat beterbangan ketika terkena sinar matahari.

c)    Tanah yang tertinggal pada telapak tangan saat diangkat usai ditempelkan ke tanah.

            Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata : “Ini adalah permisalan yang Allah Ta’ala sebutkan bahwa Dia tidaklah lalai dari amalan apapun anak keturunan Adam, baik yang kecil maupun yang besar…”(Tafsir al-Qurthubi)

            Ayat terakhir ini menunjukkan beberapa hal, diantaranya :

a)    Bahwa sekecil apapun amalan manusia di dunia, niscaya akan mereka saksikan kelak di hari akhir.Hal ini menunjukkan sangat detailnya penampakan catatan amalan dan perhitungannya.

b)    Keadilan Allah Ta’ala yang Dia memperlihatkan seluruh amalan yang pernah dikerjakan manusia.

c)    Hendaknya manusia jangan meremehkan sekecil apapun kebaikan, karena sekecil apapun kebaikan niscaya akan diperlihatkan di akherat nanti.

d)    Demikian pula, janganlah manusia menganggap ringan sekecil apapun keburukan, karena sekecil apapun keburukan niscaya akan diperlihatkan di akherat kelak.

e)    Semestinya setiap kita memiliki rasa raja’ (harap) dibalik sekecil apapun amalan shalih yang akan, sedang atau telah kita kerjakan, sekaligus rasa khauf (takut) dibalik sekecil apapun amalan keburukan yang akan memengaruhi kita.

f)     Seharusnya kita menanamkan sifat muraqabah (merasa diawasi oleh Allah) dimana dan kapan pun kita berada.

g)    Bisa dipahami dari ayat ini bahwa keburukan apapun yang telah dikerjakan tetaplah tercatat di dalam lembaran-lembaran catatan amal dan kelak akan diperlihatkan, meski pelaku keburukan tersebut telah bertaubat.Hanya saja Allah akan menutupi keburukan tersebut dan mengampuni pelakunya.

Wallahu a’lamu bish-Shawab     

Cukupkah Dengan Sekedar Mengucapkan Syahadat

Laa ilaaha illallaah ?

 

            Banyak diantara kaum muslimin yang beranggapan bahwa seseorang akan masuk surga dan selamat dari neraka, apabila sekedar mengucapkan syahadat Laa ilaaha illallaah.Bisa jadi mereka berdalil dengan beberapa hadits yang memberitakan bahwa barangsiapa mengucapkan Laa ilaaha illallaah, maka dia akan masuk surga.

            Benarkah anggapan seperti di atas ? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita mencoba menyampaikan beberapa keterangan di bawah ini :

1)    Tidak mesti setiap orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah akan masuk surga.Hal ini karena seseorang apabila mengucapkan kalimat syahadat sebanyak berapa pun lalu murtad dan mati di atas kemurtadannya, maka dia akan masuk neraka kekal di dalamnya.Allah berfirman (artinya) : “…Dan barangsiapa diantara kalian murtad dari agamanya lalu mati dalam keadaan kafir, maka mereka itu telah gugur seluruh amalan shalihnya di dunia dan akherat.Merekalah penduduk neraka dan kekal di dalamnya”.(Al Baqarah : 217)

2)    Sekalipun orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah tidak murtad, namun ia meninggal dunia dengan membawa dosa besar, maka ia di bawah kehendak Allah.Jika Allah berkehendak, maka Allah mengampuni dosa orang tersebut dan dia langsung masuk surga.Namun jika Allah berkehendak, maka Allah memberi azab terlebih dahulu lalu orang tersebut masuk surga.Azab tersebut berfungsi membakar dan menghapus dosa orang tersebut, sedangkan surga berfungsi sebagai balasan kemurahan Allah atas syahadatnya.

3)    Ucapan syahadat itu memiliki rukun, syarat dan pembatal.Apabila rukun atau syarat tersebut tidak dipenuhi, maka ucapan syahadat tidak bermanfaat meski diucapkan berkali-kali.Demikian pula apabila salah satu pembatal syahadat ternyata dikerjakan yang akhirnya mengakibatkan murtad hingga ajal tiba, maka syahadat yang dahulu pernah diucapkan sama sekali tidak bermanfaat.

4)    Orang-orang munafik di zaman Nabi mengucapkan syahadat.Namun ternyata ucapan syahadat tersebut sama sekali tidak memberikan manfaat, karena mereka tidak memenuhi syarat dan mengerjakan beberapa pembatal syahadat.Allah pun memasukkan mereka ke dalam kerak yang paling bawah di neraka, sebagaimana di dalam Surat An Nisaa’ ayat ke-145.Dengan demikian, sangat penting kita mengetahui apa yang menyebabkan orang-orang munafik menjadi penghuni kerak paling bawah di neraka, tidak sekedar mengetahui tokoh atau balasan mereka di akherat.

            Dengan beberapa keterangan di atas, tampak jelas bahwa TIDAKLAH CUKUP SEKEDAR MENGUCAPKAN SYAHADAT untuk memasukkan seseorang ke surga atau menyelamatkan dirinya dari neraka.Wajib baginya untuk memenuhi rukun dan syarat syahadat sekaligus menjauhi seluruh pembatal syahadat, ditambah memperhatikan perintah dan larangan.

Rukun Syahadat Laa ilaaha illallaah

 

            Rukun syahadat Laa ilaaha illallaah itu ada 2 yang keduanya saling terkait erat, yaitu :

1)    Nafyu (meniadakan).Maksudnya meniadakan dan membatilkan seluruh bentuk peribadatan kepada segala sesuatu selain Allah.Rukun ini diambil dari petikan syahadat “Laa ilaaha”.

2)    Itsbat (menetapkan).Maksudnya menetapkan dan membenarkan seluruh bentuk peribadatan kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.Rukun ini diambil dari petikan syahadat “illallaah”.

 

            2 rukun syahadat ini merupakan 2 tiang yang membentuk makna atau arti syahadat sesungguhnya, yaitu tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata.Makna atau arti syahadat seperti inilah yang dimaksud di dalam Al Qur’an.Harus ada pengakuan bahwa seluruh sesembahan selain Allah itu adalah batil, tidak boleh diibadahi dengan seluruh bentuk ibadah, baik ibadah kalbu (hati), ibadah lisan maupun ibadah badan.Demikian juga harus ada pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak diibadahi dengan seluruh bentuk ibadah, baik ibadah kalbu, ibadah lisan maupun ibadah badan.

            Dari uraian singkat ini, ada beberapa kesalahan yang terjadi sejak dulu hingga saat ini di tengah kaum muslimin, yakni :

1)    Mengartikan Laa ilaaha illallaah dengan “Tidak ada tuhan selain Allah”.Dikatakan sebuah kesalahan, bahkan fatal karena pengartian seperti ini tidak menunjukkan penetapan dan pembenaran ibadah hanya kepada Allah semata, sekaligus peniadaan dan pembatilan ibadah kepada selain Allah.Ringkasnya, pengartian di atas tidak ada kata “…yang berhak diibadahi…”.Semestinya pengartian yang benar adalah “Tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah” atau semakna dengan itu.Apalagi kalau kita membaca keyakinan orang-orang musyrik Arab jahiliah dahulu, ternyata mereka tidaklah mengingkari kalau Allah itu adalah sesembahan, bahkan pada prakteknya mereka juga beribadah kepada Allah.Hanya saja mereka menentang keras bila sesembahan yang benar itu hanya Allah semata dan sesembahan selain Allah itu batil.Atas dasar ini mereka pun dikatakan sebagai musyrikin, yaitu orang-orang yang beribadah kepada Allah tapi juga beribadah kepada selain Allah.

2)    Adanya salah anggapan bahwa ibadah itu hanya sebatas ibadah anggota badan seperti sujud, ruku’ atau berdoa.Padahal yang sesungguhnya, ibadah itu cakupannya luas, meliputi ibadah kalbu, ibadah lisan dan ibadah anggota badan yang digerakkan dengan penuh ketundukan dan penghambaan diri.Salah satu contoh ibadah kalbu adalah tawakal.Tawakal adalah menyandarkan kalbu sepenuhnya kepada sesuatu untuk meraih kemanfaatan atau menolak / menghilangkan musibah.Apabila seseorang bertawakal kepada Allah semata, maka ia telah mewujudkan Laa ilaaha illallaah.Namun apabila seseorang bertawakal kepada selain Allah, maka ia telah berbuat syirik yang menggugurkan syahadat Laa ilaaha illallaah atau mengurangi kesempurnaan syahadat tersebut.

Syarat Syahadat Laa ilaaha illallaah

 

            Salah seorang ulama dari kalangan tabi’in (murid sahabat Nabi), al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah bertanya kepada al-Farazdaq saat memakamkan isterinya : “Apa yang telah engkau siapkan untuk hari ini (hari kematian) ?”Maka al-Farazdaq menjawab : “Syahadat Laa ilaaha illallaah sejak 70 tahun lalu”.Lalu al-Hasan al-Bashri berkata : “Itu adalah sebaik-baik persiapan.Akan tetapi Laa ilaaha illallaah itu memiliki syarat-syarat”.(Ma’arijul Qabul)

            Para ulama menyebutkan bahwa syahadat Laa ilaaha illallaah memiliki syarat-syarat yang bersumber dari penelitian terhadap Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi.Syarat-syarat tersebut adalah :

1)    Ilmu.Maksudnya adalah berilmu tentang makna Laa ilaaha illallaah, tidak sekedar ikut-ikutan manusia (latah), yang ditunjukkan dengan mewujudkan konsekuensi (tuntutan) syahadat, yaitu menyerahkan segala bentuk ibadah kepada Allah semata dan menjauhi segala bentuk kesyrikan kepada Allah.Barangsiapa yang tidak berilmu tentang makna syahadat, maka ia akan terjatuh ke dalam kesyirikan dalam keadaan tidak menyadarinya.Dalil syarat ke-1 ini adalah firman Allah (artinya) : “…kecuali mereka yang bersaksi kebenaran dalam keadaan berilmu”.(Az Zukhruf : 86)

Maksud ayat ini adalah mereka yang bersaksi Laa ilaaha illallaah dalam keadaan berilmu, akan mendapatkan atau memberi syafaat kelak di hari kiamat.

Demikian pula firman Allah (artinya) : “Maka berilmulah bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah…”(Muhammad : 19)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan ia berilmu bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk surga”.(HR.Muslim)

Dalam hadits ini, Nabi memberi syarat berupa ilmu agar seseorang yang bersyahadat dapat masuk surga.

2)    Yakin.Maksudnya benar-benar meyakini kebenaran makna syahadat yang telah diucapkan dan konsekuensi (tuntutan) dibalik syahadat tersebut.Barangsiapa yang ragu terhadap makna syahadat dan tuntutan syahadat meski mengucapkan syahadat tersebut berkali-kali, maka ia adalah munafiq.Dalil syarat ke-2 ini adalah firman Allah (artinya) : “Hanyalah orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya lalu tidak ragu-ragu…”(Al Hujurat : 15)

Nabi bersabda (artinya) : “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah.Tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan membawa dua kalimat syahadat ini dalam keadaan tidak ragu-ragu, melainkan ia akan masuk surga”.(HR.Muslim)

3)    Menerima.Artinya menerima makna dan tuntutan syahadat dengan lisan sekaligus kalbu (hati).Tidak cukup seseorang sekedar mengucapkan syahadat jika ternyata kalbunya berat menerima makna dan tuntutan syahadat.Dalil syarat ke-3 ini adalah dalil tentang sikap yang berlawanan dengan sikap menerima, yaitu sikap menolak dengan sombong.Dalil tersebut adalah firman Allah (artinya) : “Sesungguhnya mereka (orang-orang musyrik) itu jika dikatakan kepada mereka : Laa ilaaha illallaah, maka mereka menyombongkan diri.Mereka pun berkata : “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena penyair yang gila itu ?”.(Ash Shaffat : 35-36)

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang musyrik jahiliah dahulu menolak secara lisan syahadat beserta tuntutannya, berdasarka petikan ayat : “Mereka pun berkata : “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami…”, sekaligus menolak syahadat dengan kalbu, berdasarkan petikan ayat : “…maka mereka menyombongkan diri”.

4)    Tunduk.Maksudnya menjalani tuntutan syahadat dalam bentuk perbuatan anggota badan, tidak sekedar lisan dan keyakinan kalbu (hati).Kalau sikap menerima itu berkaitan dengan kalbu dan lisan, maka sikap tunduk itu berkaitan dengan anggota badan.Sikap tunduk merupakan konsekuensi (tuntutan) dari sikap menerima.Dalil syarat ke-4 ini adalah firman Allah (artinya) : “Dan barangsiapa yang menundukkan wajahnya kepada Allah dalam keadaan dia berbuat kebaikan, maka sungguh dia telah berpegang teguh dengan tali Allah yang kokoh (yaitu : Laa ilaaha illallaah, pen)…”(Luqman : 22)

5)    Jujur.Maknanya mengucapkan syahadat dengan kejujuran yang tertanam kuat di dalam kalbu (hati).Ucapan syahadat melalui lisan benar-benar sesuai dengan apa yang ada di dalam kalbu, tidak berbeda.Barangsiapa mengucapkan syahadat melalui lisannya, namun kalbunya berbeda, maka ia adalah seorang munafiq pendusta.Allah berfirman tentang kaum munafik (artinya) : “Dan diantara manusia ada yang mengucapkan : “Kami telah beriman kepada Allah dan hari akhir”, padahal sebenarnya mereka tidak beriman”.(Al Baqarah : 8)

Nabi telah bersabda (artinya) : “Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba sekaligus utusan-Nya dengan jujur dari kalbunya, melainkan Allah haramkan neraka bagi orang tersebut”.(HR.Muslim.Lihat al-Bukhari)

6)    Ikhlas.Penjelasannya adalah mengucapkan syahadat dengan mengikhlaskan kalbunya mengharap bertemu dengan wajah Allah di surga, bukan karena tujuan duniawi seperti : riya’, sum’ah, terpaksa, sekedar agar dapat menikahi wanita muslimah, sekedar ingin menyelamatkan jiwa dan hartanya dalam peperangan melawan pasukan muslimin.Dalil syarat ke-6 ini adalah firman Allah (artinya) : “Dan tidaklah mereka diperintah, melainkan agar beribadah kepada Allah dalam keadaan lurus mengikhlaskan agama untuk Allah…”(Al Bayyinah : 5)

Nabi bersabda (artinya) : “Maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dalam keadaan berharap melihat wajah Allah (di surga, pen)”.(HR.al-Bukhari dan Muslim)

7)    Cinta.Keterangannya ialah mencintai makna dan tuntutan syahadat serta orang-orang yang menegakkan syahadat ini, membenci kesyirikan dan orang-orang yang berada di atas kesyirikan.Dalil syarat ke-7 ini adalah firman Allah (artinya) : “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjadikan sekutu-sekutu selain Allah.Mereka ini mencintai sekutu-sekutu tersebut seperti mencintai Allah.Sedangkan orang-orang yang beriman itu lebih besar kecintaan mereka kepada Allah…”(Al Baqarah : 165)

 

Wallahu a’lamu bish-Shawab

 

    

Mereka Yang Telah Berani Menumpahkan Darah Kaum Muslimin

            Mungkin pembaca termasuk orang-orang yang bertanya, mengapa orang yang mengaku sebagai muslim, bahkan pembela Islam justru sangat berani menumpahkan darah kaum muslimin.Bukankah Allah telah berfirman (artinya) : “Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahanam dalam keadaan kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, mengutuk dan menyediakan azab yang besar baginya”.(An Nisaa’ : 93) ?!

            Rasul pun pernah menegaskan (artinya) : “…Sungguh seorang mukmin itu lebih agung kehormatannya di sisi Allah dibandingkan dirimu (Ka’bah).Sesungguhnya Allah mengharamkan darimu 1 hal saja.Sedangkan Dia mengharamkan dari seorang mukmin 3 hal : darah, harta dan berburuk sangka kepadanya”.(Ash-Shahihah 3420)

            Bahkan orang-orang yang mengaku para pejuang Islam tersebut tidak segan-segan melakukan pembunuhan terhadap wanita, anak-anak, mutilasi, pembakaran seorang muslim hidup-hidup dan serangkaian tindakan biadab lain.Padahal, Rasul telah melarang dalam peperangan untuk membunuh wanita, anak-anak, mutilasi dan pembakaran tawanan kafir hidup-hidup.Bila itu semua adalah bimbingan luhur dalam memperlakukan orang kafir, lalu bagaimana halnya dengan memperlakukan seorang muslim ?!

            Namun tindakan keji mereka yang dikenal dengan kelompok ISIS, bukanlah sesuatu yang baru dan mengherankan bagi seseorang yang mempelajari sejarah Islam.Para pendahulu ISIS dan sejenisnya adalah kelompok sempalan bernama Khawarij.Kiprah kelompok radikal ini telah muncul ketika beberapa sahabat Nabi masih hidup.Diantara ideologi mereka adalah menghalalkan darah kaum muslimin.Bahkan beberapa sahabat Nabi telah menjadi korban kejahatan mereka, diantaranya :

1)    Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, sang khalifah ke-3, menantu Nabi, manusia terbaik ke-4 dari umat Islam dan salah satu deretan 10 sahabat yang telah dijamin masuk surga.Beliau dibunuh para pemberontak Khawarij saat membaca Al Qur’an di kediamannya usai pengepungan.

2)    Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sang khalifah ke-4, menantu Nabi, manusia terbaik ke-5 dari umat Islam dan salah satu deretan 10 sahabat yang telah dijamin masuk surga.Beliau dibunuh oleh pengikut Khawarij di waktu shalat Subuh pada bulan suci Ramadhan.

3)    Abdullah bin Khabbab al-Arat radhiyallahu ‘anhuma dibunuh beserta budak wanitanya yang sedang mengandung.Perut sang budak pun dibelah.Peristiwa ini terjadi sebelum terbunuhnya Ali bin Abi Thalib.

            Kalau para sahabat Nabi saja mereka halalkan darahnya, maka jangan heran bila “anak cucu” mereka sangat ringan menumpahkan darah muslimin di masa sekarang.Nah sekarang, doktrin apa yang mendasari kaum Khawarij menghalalkan darah kaum muslimin ? Berikut ini jawabannya :

1)    Menurut mereka, kaum muslimin itu telah murtad dan kafir secara mutlak (tanpa rincian) karena telah berhukum dengan selain hukum Allah atau melakukan perbuatan dosa besar, sehingga darah, harta dan kehormatan kaum muslimin itu menjadi halal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Maka sesungguhnya mereka itu menghalalkan darah kaum muslimin karena keyakinan mereka bahwa kaum muslimin itu telah murtad, bahkan melebihi penghalalan darah terhadap  orang-orang kafir yang bukan murtad, sebab orang murtad itu lebih jelek dibanding selainnya…”(Majmu’ Fatawa)

            Ironisnya, mereka membawa-bawa ayat Al Qur’an untuk membenarkan keyakinan batil mereka.Kalau saja orang-orang Khawarij dengan segala namanya di setiap zaman dan           tempat mau sedikit berpikir, sungguh mereka pun sebenarnya telah berhukum dengan     selain hukum Allah.Bukankah sebagaimana telah kita sebutkan di atas, bahwa Nabi    melarang membunuh wanita, anak-anak, mencincang atau membakar tawanan kafir

            hidup-hidup dalam peperangan ?! Lalu hukum apa atau siapa yang mereka pakai,            hingga orang-orang Khawarij ISIS justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan            hukum Nabi yang tidak lain adalah hukum Allah ?! Sungguh benar apa yang pernah      disebutkan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam (artinya) : “…mereka membaca Al Qur’an          dalam keadaan menyangka Al Qur’an mendukung mereka, padahal sebenarnya     membantah mereka…”(HR.Muslim)

2)    Pembunuhan terhadap kaum muslimin, termasuk di dalamnya memberontak pemerintah muslimin dengan senjata, mereka anggap sebagai ibadah dalam bentuk jihad atau amar ma’ruf nahi mungkar.

Apabila pembunuhan terhadap kaum muslimin dianggap sebagai bentuk ibadah, maka tentunya kaum Khawarij sama sekali tidak merasa terjatuh dalam kesalahan lalu bertaubat.Dalam keadaan seperti itu, sulit bagi mereka untuk jera sekalipun dijatuhi hukuman yang sangat berat.Demikianlah kebid’ahan jika telah mendarah daging pada jiwa seseorang.Kebatilan pun dianggap sebagai kebenaran.Jangan heran bila aksi-aksi teror ternyata dipuji oleh tokoh-tokoh Khawarij di masa sekarang ! Telah berlalu sekian abad silam, salah satu tokoh Khawarij bernama Imran bin Hiththan memuji Abdurrahman bin Muljim yang telah membunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, melalui sebuah syair terkenal :

Wahai pukulan seorang yang bertakwa, tidaklah yang ia harapkan

Melainkan untuk meraih keridhaan dari Dzat pemilik ‘Arsy

Sesungguhnya aku benar-benar mengingatnya pada suatu hari lalu aku menganggap

Dia adalah hamba yang paling sempurna timbangan amalannya di sisi Allah

 

Abdurrahman bin Muljim sendiri ketika membunuh Ali bin Abi Thalib, sempat membaca Surat Al Baqarah ayat ke-207 yang artinya : “Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah adalah Dzat Yang Maha Penyantun”.

Orang ini memaksudkan dengan ayat tersebut, bahwa ia adalah orang yang mengorbankan dirinya di jalan Allah.

Zur’ah bin al-Baraj pernah berkata langsung di hadapan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu : “…Ketahuilah, demi Allah ! Wahai Ali, kalau seandainya engkau tidak meninggalkan penetapan hukum oleh manusia pada perkara di dalam Al Qur’an, maka sungguh aku akan benar-benar akan memerangimu, dalam keadaan aku berharap dengan itu rahmat Allah dan ridha-Nya”.

Keberadaan Kaum Khawarij Akan Terus Ada Hingga Menjelang Hari Kiamat

 

            Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam melalui salah satu sabda beliau (artinya) : “Akan muncul sebuah kelompok yang mereka ini membaca Al Qur’an tapi tidak melampaui kerongkongan.Tatkala muncul satu jenis dari mereka, maka dapat dipatahkan”.Abdullah bin Umar berkata : “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Tatkala muncul satu jenis dari mereka, maka dapat dipatahkan (beliau mengucapkannya lebih dari 20 kali), hingga muncul Dajjal di tengah pasukan besar mereka”.(HR.Ibnu Majah yang dihasankan asy-Syaikh al-Albani)

            Dajjal adalah pendusta besar yang pasti akan muncul menjelang tibanya hari kiamat kelak.

            ISIS hanyalah salah satu kelompok berpemahaman Khawarij yang telah ada sebelumnya jenis lain, dan pasti akan datang jenis lainnya di masa datang.Namun apapun jenisnya, kaum Khawarij telah diberitakan sifat-sifat mereka oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Bahkan hadits-hadits Nabi tentang Khawarij mencapai derajat mutawatir (datang dari jalan periwayatan yang sangat banyak).Tidak ada sebuah kelompok sempalan yang sifat-sifatnya disebutkan secara rinci oleh Nabi semisal Khawarij.Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut, seorang muslim dapat bersikap tepat, menjauhi dan mengingatkan saudara-saudaranya tentang bahaya Khawarij.

Beberapa Sifat Kaum Khawarij

 

            Berikut ini sebagian kecil sifat-sifat Khawarij yang dapat kita sebutkan, yaitu :

 

1)    Ahli membaca dan berdalil dengan ayat Al Qur’an, namun salah dalam memahami atau menempatkannya.

Sifat ini telah disebutkan di dalam beberapa hadits shahih, misal sabda Nabi yang artinya : “…mereka membaca Al Qur’an namun tidak melampaui kerongkongan…”

Maksudnya adalah bacaan Al Qur’an mereka hanya sekedar bacaan, tidak sampai menyentuh kalbu (hati) yang merupakan bejana memahami Al Qur’an.Abdurrahman bin Muljim sendiri adalah seorang penghafal dan ahli baca (qari’) Al Qur’an yang sempat belajar Al Qur’an langsung di hadapan seorang sahabat besar Nabi, yaitu Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.Namun lihatlah, betapa beraninya dia berdalil dengan ayat Al Qur’an ketika membunuh Ali bin Abi Thalib ! Sekarang pun orang-orang Khawarij ekstrem ISIS berdalil dengan ayat yang artinya :”Dan jika kalian membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang telah ditimpakan kepada kalian…”(An Nahl : 126) ketika membakar hidup-hidup seorang pilot muslim, karena mereka berdalih pilot tersebut menembakkan roket yang membakar mereka.Subhanallah ! Sebuah pengiasan 2 perkara yang sangat jauh berbeda.Apalagi bukankah orang-orang ISIS sendiri menembakkan roket atau bom yang juga dapat membakar manusia, dan merekalah yang justru memulai pembunuhan terhadap kaum muslimin ?!

2)    Menghalalkan darah kaum muslimin.

Sifat ini ditandaskan oleh Nabi yang artinya : “…membunuh para pemeluk Islam dan membiarkan para penyembah berhala…”(HR.al-Bukhari dan Muslim)

3)    Melampaui batas dalam berbuat.

Hal ini sebagaimana pernyataan Nabi (artinya) : “…mereka melesat jauh dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah menembus binatang buruan…”(HR.al-Bukhari dan Muslim)

Atas dasar hadits ini, tidak mengherankan bila mereka melakukan sekian banyak perbuatan yang sangat jauh dari norma agama.

4)    Mengkritik pemerintah di depan khalayak ramai atau publik.

Sifat ini diisyaratkan dalam beberapa hadits shahih yang mengisahkan protes pencetus paham Khawarij, yaitu Dzulkhuwaishirah kepada sebaik-baik penguasa pemerintahan, yaitu Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam.Dzulkhuwaishirah mengkritik kebijakan Rasul secara terang-terangan di hadapan para sahabat yang merupakan rakyat ketika itu.Kalau Rasul saja diprotes karena kebijakan beliau dianggap tidak adil, lantas bagaimana penguasa-penguasa lain di hadapan kaum Khawarij ?! Sifat mengkritik pemerintah di depan khalayak ramai merupakan salah satu sifat Khawarij dari dulu hingga saat ini, bahkan merupakan bibit awal munculnya pemahaman Khawarij yang ternyata sudah muncul di masa Rasul masih hidup.Sifat tercela ini tetap teranggap sebagai pemberontakan dalam timbangan syariat, meski masih belum sampai pada pertumpahan darah.Mengkritik pemerintah di depan khalayak ramai / publik adalah terlarang menurut syariat, baik kritikan tersebut melalui media cetak, media elektronik, demonstrasi maupun ceramah.Semestinya kritikan itu dilakukan dengan cara diam-diam, dan itupun oleh orang yang memang layak memberikan nasihat kepada penguasa, bukan setiap orang.

Wallahu a’lamu bish-Shawab

 

 

             

 

 

 

Hari Kasih Sayang (Sebuah Perayaan Yang Amat Disayangkan)

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Hari Kasih Sayang

(Sebuah Perayaan Yang Amat Disayangkan)

 

            Layakkah seorang muslim mengikuti sebuah ucapan atau perbuatan yang tidak ia ketahui asal muasalnya ? Pantaskah pula seorang muslim bersikukuh di atas ucapan atau perbuatan yang ternyata keliru, padahal nasihat telah sampai kepadanya ? Demikianlah 2 pertanyaan yang semoga mengingatkan kita semua atas pentingnya berilmu sebelum berkata atau berbuat, dan tunduk dan menerima setiap nasihat kebaikan.