Jadilah Hamba Allah Ta’ala Yang Bertauhid !

Jadilah Hamba Allah Ta’ala Yang Bertauhid !

Para pembaca rahimakumullah, seluruh makhluk termasuk manusia adalah hamba Allah Ta’ala. Orang yang baik maupun yang buruk, yang mukmin maupun yang kafir, penduduk surga maupun penduduk neraka, semuanya adalah hamba Allah Ta’ala karena Dia-lah Rabb (Zat yang mencipta, mengatur, memelihara dan memberikan rizki). Allah-lah yang memiliki mereka seluruhnya. Allah berfirman (artinya): “Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam”.[Al Fatihah : 1]. Yakni : Allah Ta’ala Rabb seluruh makhluk. Juga firman Allah Ta’ala (artinya) : “Katakanlah : “Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku untuk Allah Rabb seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya”.[Al An’am : 162-163]. Pada penggalan ayat : “Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku…untuk Allah Rabb seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya” maknanya : Shalatku dan penyembelihanku hanya untuk Allah Ta’ala. Sehingga disini terkandung Tauhid Uluhiyah. Adapun pada penggalan ayat : “…hidupku dan matiku untuk Allah Rabb seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya” maknanya : Hidupku dan matiku hanya milik Allah Rabb seluruh alam. Sehingga disini terkandung Tauhid Rububiyah. Maka tidak ada sekutu bagi Allah dalam uluhiyah maupun rububiyah Allah.
Dengan demikian Allah Ta’ala adalah Rabb seluruh alam, yang mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, membolak-balikkan hati dan mengatur segala urusan sehingga Dia-lah satu-satunya yang berhak diibadahi. Hanya orang-orang yang berimanlah yang mengakui dan mengetahui hal itu. Berbeda halnya dengan orang-orang yang jahil (tidak mengerti) atau orang-orang yang menentang dan sombong terhadap Rabbnya. Mereka ini menentang uluhiyah Allah meskipun masih mengakui rububiyah Allah.
Semestinya jika seorang hamba mengakui rububiyah Allah, maka dirinya juga mengakui uluhiyah Allah. Sehingga ketika dirinya meminta (doa), ia akan meminta kepada Rabbnya. Ketika bertawakal (menyerahkan urusan), ia akan bertawakal kepada Rabbnya. Demikian seterusnya dari seluruh peribadatan yang ia lakukan. Bukannya ia justru terkadang beribadah kepada Allah Ta’ala dan terkadang pula beribadah kepada selain Allah, baik berupa nabi, malaikat, jin, orang-orang shaleh atau benda-benda mati berupa patung, kuburan, kayu maupun selain itu. Maka ‘ubudiyah (penghambaan) yang seperti ini (meski pelakunya mengakui rububiyah Allah) belumlah menjadikan dirinya termasuk orang yang beriman sampai mengakui (menetapkan) uluhiyah Allah. Sungguh ! Dahulu orang-orang musyrik yang diperangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ternyata menetapkan rububiyah Allah. Mereka mengakui dan menetapkan bahwa Allah Ta’ala yang menciptakan dan memberikan rizki kepada mereka. Akan tetapi amat disayangkan, mereka beribadah kepada selain Allah. Akhirnya terjatuhlah mereka dalam kesyirikan. Allah berfirman (artinya): “Dan sungguh jika engkau bertanya kepada mereka (orang-orang musyrik) : “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi ?”, niscaya mereka akan menjawab : “Allah”. [Az Zumar : 38]. Firman Allah (artinya) : “Katakanlah : “Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya jika kalian mengetahui ?”. Mereka (orang-orang musyrik) akan menjawab : “Kepunyaan Allah”. Katakanlah : “Maka apakah kalian tidak ingat ?!”. [Al Mu’minun : 84-85]. Ayat yang serupa dengan ini cukup banyak di dalam Al Qur’an.
Para pembaca rahimakumullah, Allah menciptakan jin dan manusia untuk suatu tujuan yang mulia, yaitu : Beribadah kepada Allah. Dia berfirman (artinya) : “Dan Aku (Allah) tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. [Adz Dzariyat : 56]. Beribadah kepada Allah dalam ayat ini maknanya : mentauhidkan (mengesakan) Allah dalam uluhiyah-Nya.
Allah juga mengutus para Rasul ‘alaihim as-Shalatu Wa as-Salam untuk perkara ini. Allah berfirman (artinya) : “Dan Kami (Allah) tidaklah mengutus seorang rasul pun sebelum dirimu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : “Bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku”. [Al Anbiya’ : 25]. Ayat semisal ini cukup banyak di dalam Al Qur’an. Demikianlah Allah mengutus para Rasul, sehingga mereka memulai dakwahnya dengan mengajak manusia agar mereka beribadah hanya kepada Allah (Tauhid Uluhiyah). Hal ini sebagaimana ucapan Nabi Nuh ‘alaihi as-Salam dan para Rasul setelah beliau. Allah berfirman (artinya) : “Wahai kaumku, beribadahlah kalian kepada Allah, yang tidak ada sesembahan (yang benar bagi kalian) selain-Nya”. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Aku diutus dengan pedang mendekati hari kiamat untuk menyeru manusia hingga Allah Ta’ala saja yang diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya”. (Hadits ini disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani).
Dengan demikian, Tauhid Uluhiyah adalah tujuan hidup manusia dan tujuan utama dakwah seluruh para Rasul yang diutus oleh Allah di muka bumi ini.
‘Ubudiyah (Penghambaan) Kepada Allah Merupakan Sifat Orang-orang Pilihan
Allah banyak menyebutkan di dalam Al Qur’an sifat orang-orang pilihan-Nya dengan ‘ubudiyah ini, diantaranya firman-Nya yang artinya : “Dan ingatlah hamba-hamba Kami (Allah) : Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan) akhlak yang tinggi, yaitu : selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Sesungguhnya mereka di sisi Kami termasuk orang-orang pilihan yang paling baik”. [Shad : 45-47]. Dia berfirman tentang Nabi Sulaiman ‘alaihi as-Salam (artinya) : “Dia adalah sebaik-baik hamba”. [Shad : 30]. Tak luput pula Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam (artinya) : “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya”. [Al Isra’ : 1]. Penyebutan kata “hamba” pada ayat-ayat ini menunjukkan adanya ‘ubudiyah syar’iyah yang ada pada mereka.
Sebagai penutup, jadilah anda sebagai hamba bagi Allah yang mentauhidkan-Nya dalam seluruh bentuk ibadah (ibadah hati maupun badan) dan janganlah menjadi hamba bagi makhluk. Janganlah anda menjadi hamba malaikat, nabi, orang shaleh, jin, batu, pohon atau hamba dunia, harta, kedudukan atau hawa nafsu dan seterusnya dari makhluk-makhluk Allah. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa mentauhidkan-Nya dan menjauhkan kita dari kesyirikan yang nampak maupun yang tersembunyi.
Wallahu Ta’ala a’lamu bi ash-Shawab