Sang Raja Pun Kini Telah Pergi (Semoga Allah Merahmatinya)

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Sang Raja Pun Kini Telah Pergi

(Semoga Allah Merahmatinya)

 

       Setelah menyampaikan kalimat pembuka, asy-Syaikh Dr.Ahmad bin Umar Baazmul hafizhahullah berkata : “Kepergian pelayan 2 kota suci dan mulia Raja Abdullah bin Abdil Aziz Aalu Su’ud benar-benar musibah besar bagi Ahlussunnah.Kita memohon kepada Allah agar Dia mengganti musibah yang menimpa Ahlussunnah dengan yang lebih baik.Meninggalnya seorang Ahlussunnah adalah perkara yang besar dan bukan urusan remeh.Akan tetapi tetap saja bersabar dan ridha terhadap kehendak Allah.

           

            Ayyub (as-Sakhtiyani) berkata : “Sesungguhnya dikabarkan kepadaku tentang meninggalnya seseorang dari kalangan Ahlussunnah.Seakan-akan aku kehilangan sebagian anggota tubuhku”.

           

            Hammad bin Salamah berkata : “Aku menemui Ayyub as-Sakhtiyani dalam keadaan sedang memandikan (jenazah) Syu’aib bin al-Habhab.Beliau berkata : “Sesungguhnya orang-orang yang berangan-angan meninggalnya Ahlussunnah, maka mereka berkeinginan untuk memadamkan cahaya Allah dengan lisan mereka.(Akan tetapi) Allah justru menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai hal itu”.

           

            Maka kita berharap kepada Allah untuk menerima beliau (Raja Abdullah) termasuk dari hamba-hamba yang shalih, mengangkat kedudukan beliau di tempat yang tinggi dan memaafkan kesalahan beliau dengan kemurahan-Nya.Beliau adalah seorang ahlu tauhid dan sunnah, memerangi kebid’ahan dan kesyirikan dengan seluruh bentuknya.Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan, sebagai seorang raja yang shalih, mukmin dan pejuang.Kita menganggapnya demikian dan kita tidak mendahului Allah dalam memuji seseorang.

 

            Mu’tamir bin Sulaiman berkata : “Aku menemui ayahku dalam keadaan bersedih hati !”

 

            Maka ayahku bertanya : “Ada apa denganmu ?”

 

            Aku menjawab : “Temanku telah meninggal dunia !”

 

            Ayahku bertanya : “Apakah dia meninggal dunia di atas sunnah ?”

 

            Aku menjawab : “Ya !”

 

            Maka ayahku berkata : “Janganlah engkau mengkhawatirkan dia”.

 

            Atas dasar ini, saya katakan : Sesungguhnya seseorang yang senang dengan meninggalnya raja salafi Abdullah bin Abdil Aziz Aalu Su’ud rahimahullah ini, maka curigailah agama dia.Tidaklah akan orang ini, melainkan salah satu dari mereka (4 jenis manusia, pen) :

 

1)    Seorang Syiah Rafidhah, yang raja rahimahullah telah membuat orang ini marah, karena raja menolong Sunnah Nabi, mencintai para sahabat Nabi ridhwanullahi ajma’in.

 

2)    Seorang Khawarij, yang raja telah memusnahkan orang ini melalui upaya-upaya pemberangusan kaum Khawarij teroris, dan mencegah aksi-aksi anarkhis dengan tindakan-tindakan sigap !

 

3)    Seorang Ikhwanul Muslimin yang merugi, yang ciri ketegasan kearaban raja telah merusak rencana orang ini dan menghalangi penguasaan kilang minyak-kilang minyak,  yang  mereka (orang-orang Ikhwanul Muslimin) telah menguasai kilang minyak-kilang minyak di berbagai negeri dengan dalih mengubah kezaliman pemerintah

.

4)    Seorang Liberalis atau Sekuleris, yang raja kita ini telah merobohkan berhala-berhala kekufuran, yang mereka (orang-orang Liberalis atau Sekuleris) berusaha menancapkan berhala-berhala tersebut di bumi kerasulan dan kenabian.

 

            Barangsiapa yang anda lihat dirinya bersedih hati atas meninggalnya beliau rahimahullah, maka dialah seorang salafi yang mendapatkan petunjuk, seorang yang mengambil petunjuk sunnah Nabinya, seorang yang mengenal kedudukan tauhid, seorang yang telah merasakan lezatnya tauhid di negeri yang aman ini (Saudi Arabia) dan seorang yang mengenal pemimpin negeri ini yang Ahlussunnah dan pejuang”.

(Diunduh dari situs www.albaidha.net)

Beberapa Pernyataan Raja Abdullah bin Abdil Aziz rahimahullah Dalam Menegakkan Kebaikan Di Saudi Arabia

 

1)    Komitmen Raja Abdullah dalam berpegang teguh dengan aqidah yang benar.

            Beliau berkata : “Kerajaan Saudi Arabia telah Allah muliakan dan tolong karena berpegang teguhnya kerajaan ini dengan aqidah Islam.Kalian, ayah-ayah kalian, kakek-kakek kalian dan anak keturunan kalian telah dimuliakan oleh Allah karena berpegang teguhnya kalian dengan aqidah Islam.Ini adalah kemuliaan dan kewibawaan kalian.Kalian dan kami insya Allah dalam kebaikan, selama kita berpegang teguh dengan aqidah ini.Insya Allah tidak akan datang kepada kita, melainkan setiap kebaikan”.

2)    Ketegaran Raja Abdullah dalam berpegang teguh dengan Islam meski dicela oleh para pencela.   Beliau berkata : “Wajib bagi kita untuk memusatkan perhatian dalam menjaga aqidah Islam dan berpegang teguh dengan metode Islam yang lurus.Ini adalah perkara yang paling wajib bagi kita.Selama kita berjalan di atas jalan kebenaran, berpegang teguh dengan aqidah dan Islam yang lurus, maka suara pendengki atau orang yang jengkel manapun tidak akan membahayakan kita.Kita tidak akan menoleh kepada teriakan siapapun”.

            Beliau berkata : “Sesungguhnya disana 2 perkara penting yang tidak boleh ada tawar menawar padanya, yaitu : aqidah dan negara.Tidak boleh ada tarik ulur pada keduanya.Wajib bagi orang dekat dan jauh untuk menaruh perhatian terhadap perkara ini.Sesungguhnya sebab kedengkian orang-orang yang dengki terhadap negara kita adalah keberadaan negara ini yang menerapkan hukum syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Benar-benar yakinlah bahwa tidak ada satu pun di dunia ini, negara yang menerapkan syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam selain negara kita.Ini adalah kebanggaan dan kewibawaan bagi kalian.Insya Allah kita mati dan hidup di atas aqidah ini dan penerapan syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam”.

3)    Komitmen Raja Abdullah untuk meniti jejak as-salaf ash-shalih dalam menegakkan Islam di Saudi Arabia.

             Beliau berkata : “Hendaknya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menjadi suri teladan bagi kita, berpegang teguh dengan sunnah beliau, berpegang teguh dengan sunnah para Khulafa’ur Rasyidin dan meniti jejak para as-salaf ash-shalih”.

4)    Kecintaan Raja Abdullah terhadap ilmu agama dan para ulama.             Beliau berkata : “Sesungguhnya metode Kerajaan Saudi Arabia mewajibkan perhatian terhadap ilmu agama dan ulamanya, mengambil faidah dari pengetahuan para ulama dan pakar fiqih.Semenjak sempurnanya persatuan wilayah kerajaan melalui tangan pendiri kerajaan ini,  Raja Abdul Aziz rahimahullah, negara kita ini terus merealisasikan metode ini.Para ulama adalah para pakar aqidah.Mereka adalah para dai yang menyeru ke jalan yang lurus.Kerajaan ini insya Allah akan terus menjalin kerjasama dengan kalian dan para ulama umat ini.Rabithah ‘Alami  Islami (Persatuan Negara-negara Islam) telah berinisiatif baik untuk menyelenggarakan konferensi dunia yang dihadiri para ulama dan pakar Islam, untuk mengkaji problematika umat dan tantangan yang akan muncul.Sesungguhnya Kerajaan Saudi Arabia mendukung konferensi yang mewakili kedudukan ulama umat Islam ini, sebagai realisasi metode kerajaan, yaitu mengambil faidah dari para pewaris nabi.Kalian pun mengetahui bahwa undang-undang negara ini adalah menegakkan hukum syariat dan merealisasikannya.Kita tidak menerima campur tangan seorang pun dalam hukum syariat tersebut”.

 

5)    Kepedulian Raja Abdullah dalam menangani kesejahteraan dan kestabilan hidup rakyat Saudi Arabia. Beliau berkata : “Sungguh Allah telah memuliakan negeri ini, karena negeri ini memuliakan agama Allah dan berjalan di atas metode yang kokoh secara turun temurun.Kelak negeri ini tetap mulia.Siapa saja yang memusuhi negeri ini tidak sanggup memberikan bahaya padanya, selama negeri ini mengibarkan bendera tauhid dan berhukum dengan syariat Allah.             Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya metode Islam mewajibkan kita untuk menebarkan keadilan di tengah-tengah manusia.Kita tidak membedakan antara orang kuat dengan orang lemah, memenuhi hak setiap orang yang berhak mendapatkan haknya dan tidak menutup pintu dari kebutuhan seorang pun.Manusia itu memiliki watak.Tidaklah besar orang yang besar, melainkan karena amalannya dan tidaklah kecil orang yang kecil, melainkan karena dosanya.             Sesungguhnya agama Islam membimbing kita bahwa kaum mukminin itu bersaudara.Kita akan berusaha dengan izin Allah untuk memperkuat ikatan persaudaraan tersebut, bercita-cita untuk bersatunya kalimat Arab dan kaum muslimin, bersatunya barisan mereka, bercita-cita agar kaum muslimin menjadi terdepan dalam peradaban dan kemanusiaan.Tidaklah yang demikian itu berat bagi Allah…             Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya Islam mengajak untuk menyempurnakan kehidupan yang baik bagi anak-anak muslimin.Jalan kita untuk merealisasikan hal itu adalah pembangunan secara menyeluruh yang akan kami terus sempurnakan dengan izin Allah, berusaha memperoleh tempat tinggal terbaik dan kebahagiaan, bercita-cita merealisasikan sebab-sebab mendapatkan tempat tinggal, pekerjaan, pengajaran dan pengobatan, bantuan dan sarana pilihan.Kita akan bersemangat menangani kemiskinan dan bersungguh-sungguh mengembangkan daerah-daerah yang belum mendapatkan penanganan secara bertahap, sesuai garis pertumbuhan yang telah dikaji.             Sesungguhnya kita tidak bisa bersikap pasif dalam keadaan negeri-negeri di sekitar kita mengalami perubahan.Dari sini, kita akan melanjutkan upaya pertumbuhan secara bertahap dengan izin Allah, mendalami dialog kenegaraan, kemerdekaan ekonomi, perang terhadap kerusakan, penetapan birokrasi, meningkatkan kemampuan tugas hukum, meminta bantuan kesungguhan setiap pihak yang sukarela bertugas dari kalangan pria maupun wanita.Ini semua dalam bingkai tahapan dan keseimbangan, seiring minat masyarakat yang selaras dengan syariat Islam.             Kalian mengetahui bahwa pertumbuhan tidaklah mungkin terwujud kecuali dengan suasana yang aman dan tenteram.Oleh karena itu kita terus memperbarui semangat untuk menindak kelompok sesat dari para teroris, mencegah pemikiran mudah mengkafirkan orang lain dengan pemikiran yang lurus.Tidak ada tempat di negeri 2 kota suci untuk pemikiran radikalisme ! Dengan segala puji hanya untuk Allah, kita adalah umat pertengahan, jauh dari sikap melampaui batas maupun meremehkan…”   (Disadur dengan penyesuaian dari penukilan asy-Syaikh Dr.Ahmad bin Umar Baazmul yang diunggah di www.albaidha.net)   Wallahu a’lamu bish-Shawab                

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *