Mereka Yang Telah Berani Menumpahkan Darah Kaum Muslimin

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Mereka Yang Telah Berani Menumpahkan Darah Kaum Muslimin

            Mungkin pembaca termasuk orang-orang yang bertanya, mengapa orang yang mengaku sebagai muslim, bahkan pembela Islam justru sangat berani menumpahkan darah kaum muslimin.Bukankah Allah telah berfirman (artinya) : “Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahanam dalam keadaan kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, mengutuk dan menyediakan azab yang besar baginya”.(An Nisaa’ : 93) ?!

            Rasul pun pernah menegaskan (artinya) : “…Sungguh seorang mukmin itu lebih agung kehormatannya di sisi Allah dibandingkan dirimu (Ka’bah).Sesungguhnya Allah mengharamkan darimu 1 hal saja.Sedangkan Dia mengharamkan dari seorang mukmin 3 hal : darah, harta dan berburuk sangka kepadanya”.(Ash-Shahihah 3420)

            Bahkan orang-orang yang mengaku para pejuang Islam tersebut tidak segan-segan melakukan pembunuhan terhadap wanita, anak-anak, mutilasi, pembakaran seorang muslim hidup-hidup dan serangkaian tindakan biadab lain.Padahal, Rasul telah melarang dalam peperangan untuk membunuh wanita, anak-anak, mutilasi dan pembakaran tawanan kafir hidup-hidup.Bila itu semua adalah bimbingan luhur dalam memperlakukan orang kafir, lalu bagaimana halnya dengan memperlakukan seorang muslim ?!

            Namun tindakan keji mereka yang dikenal dengan kelompok ISIS, bukanlah sesuatu yang baru dan mengherankan bagi seseorang yang mempelajari sejarah Islam.Para pendahulu ISIS dan sejenisnya adalah kelompok sempalan bernama Khawarij.Kiprah kelompok radikal ini telah muncul ketika beberapa sahabat Nabi masih hidup.Diantara ideologi mereka adalah menghalalkan darah kaum muslimin.Bahkan beberapa sahabat Nabi telah menjadi korban kejahatan mereka, diantaranya :

1)    Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, sang khalifah ke-3, menantu Nabi, manusia terbaik ke-4 dari umat Islam dan salah satu deretan 10 sahabat yang telah dijamin masuk surga.Beliau dibunuh para pemberontak Khawarij saat membaca Al Qur’an di kediamannya usai pengepungan.

2)    Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sang khalifah ke-4, menantu Nabi, manusia terbaik ke-5 dari umat Islam dan salah satu deretan 10 sahabat yang telah dijamin masuk surga.Beliau dibunuh oleh pengikut Khawarij di waktu shalat Subuh pada bulan suci Ramadhan.

3)    Abdullah bin Khabbab al-Arat radhiyallahu ‘anhuma dibunuh beserta budak wanitanya yang sedang mengandung.Perut sang budak pun dibelah.Peristiwa ini terjadi sebelum terbunuhnya Ali bin Abi Thalib.

            Kalau para sahabat Nabi saja mereka halalkan darahnya, maka jangan heran bila “anak cucu” mereka sangat ringan menumpahkan darah muslimin di masa sekarang.Nah sekarang, doktrin apa yang mendasari kaum Khawarij menghalalkan darah kaum muslimin ? Berikut ini jawabannya :

1)    Menurut mereka, kaum muslimin itu telah murtad dan kafir secara mutlak (tanpa rincian) karena telah berhukum dengan selain hukum Allah atau melakukan perbuatan dosa besar, sehingga darah, harta dan kehormatan kaum muslimin itu menjadi halal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Maka sesungguhnya mereka itu menghalalkan darah kaum muslimin karena keyakinan mereka bahwa kaum muslimin itu telah murtad, bahkan melebihi penghalalan darah terhadap  orang-orang kafir yang bukan murtad, sebab orang murtad itu lebih jelek dibanding selainnya…”(Majmu’ Fatawa)

            Ironisnya, mereka membawa-bawa ayat Al Qur’an untuk membenarkan keyakinan batil mereka.Kalau saja orang-orang Khawarij dengan segala namanya di setiap zaman dan           tempat mau sedikit berpikir, sungguh mereka pun sebenarnya telah berhukum dengan     selain hukum Allah.Bukankah sebagaimana telah kita sebutkan di atas, bahwa Nabi    melarang membunuh wanita, anak-anak, mencincang atau membakar tawanan kafir

            hidup-hidup dalam peperangan ?! Lalu hukum apa atau siapa yang mereka pakai,            hingga orang-orang Khawarij ISIS justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan            hukum Nabi yang tidak lain adalah hukum Allah ?! Sungguh benar apa yang pernah      disebutkan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam (artinya) : “…mereka membaca Al Qur’an          dalam keadaan menyangka Al Qur’an mendukung mereka, padahal sebenarnya     membantah mereka…”(HR.Muslim)

2)    Pembunuhan terhadap kaum muslimin, termasuk di dalamnya memberontak pemerintah muslimin dengan senjata, mereka anggap sebagai ibadah dalam bentuk jihad atau amar ma’ruf nahi mungkar.

Apabila pembunuhan terhadap kaum muslimin dianggap sebagai bentuk ibadah, maka tentunya kaum Khawarij sama sekali tidak merasa terjatuh dalam kesalahan lalu bertaubat.Dalam keadaan seperti itu, sulit bagi mereka untuk jera sekalipun dijatuhi hukuman yang sangat berat.Demikianlah kebid’ahan jika telah mendarah daging pada jiwa seseorang.Kebatilan pun dianggap sebagai kebenaran.Jangan heran bila aksi-aksi teror ternyata dipuji oleh tokoh-tokoh Khawarij di masa sekarang ! Telah berlalu sekian abad silam, salah satu tokoh Khawarij bernama Imran bin Hiththan memuji Abdurrahman bin Muljim yang telah membunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, melalui sebuah syair terkenal :

Wahai pukulan seorang yang bertakwa, tidaklah yang ia harapkan

Melainkan untuk meraih keridhaan dari Dzat pemilik ‘Arsy

Sesungguhnya aku benar-benar mengingatnya pada suatu hari lalu aku menganggap

Dia adalah hamba yang paling sempurna timbangan amalannya di sisi Allah

 

Abdurrahman bin Muljim sendiri ketika membunuh Ali bin Abi Thalib, sempat membaca Surat Al Baqarah ayat ke-207 yang artinya : “Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah adalah Dzat Yang Maha Penyantun”.

Orang ini memaksudkan dengan ayat tersebut, bahwa ia adalah orang yang mengorbankan dirinya di jalan Allah.

Zur’ah bin al-Baraj pernah berkata langsung di hadapan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu : “…Ketahuilah, demi Allah ! Wahai Ali, kalau seandainya engkau tidak meninggalkan penetapan hukum oleh manusia pada perkara di dalam Al Qur’an, maka sungguh aku akan benar-benar akan memerangimu, dalam keadaan aku berharap dengan itu rahmat Allah dan ridha-Nya”.

Keberadaan Kaum Khawarij Akan Terus Ada Hingga Menjelang Hari Kiamat

 

            Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam melalui salah satu sabda beliau (artinya) : “Akan muncul sebuah kelompok yang mereka ini membaca Al Qur’an tapi tidak melampaui kerongkongan.Tatkala muncul satu jenis dari mereka, maka dapat dipatahkan”.Abdullah bin Umar berkata : “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Tatkala muncul satu jenis dari mereka, maka dapat dipatahkan (beliau mengucapkannya lebih dari 20 kali), hingga muncul Dajjal di tengah pasukan besar mereka”.(HR.Ibnu Majah yang dihasankan asy-Syaikh al-Albani)

            Dajjal adalah pendusta besar yang pasti akan muncul menjelang tibanya hari kiamat kelak.

            ISIS hanyalah salah satu kelompok berpemahaman Khawarij yang telah ada sebelumnya jenis lain, dan pasti akan datang jenis lainnya di masa datang.Namun apapun jenisnya, kaum Khawarij telah diberitakan sifat-sifat mereka oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Bahkan hadits-hadits Nabi tentang Khawarij mencapai derajat mutawatir (datang dari jalan periwayatan yang sangat banyak).Tidak ada sebuah kelompok sempalan yang sifat-sifatnya disebutkan secara rinci oleh Nabi semisal Khawarij.Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut, seorang muslim dapat bersikap tepat, menjauhi dan mengingatkan saudara-saudaranya tentang bahaya Khawarij.

Beberapa Sifat Kaum Khawarij

 

            Berikut ini sebagian kecil sifat-sifat Khawarij yang dapat kita sebutkan, yaitu :

 

1)    Ahli membaca dan berdalil dengan ayat Al Qur’an, namun salah dalam memahami atau menempatkannya.

Sifat ini telah disebutkan di dalam beberapa hadits shahih, misal sabda Nabi yang artinya : “…mereka membaca Al Qur’an namun tidak melampaui kerongkongan…”

Maksudnya adalah bacaan Al Qur’an mereka hanya sekedar bacaan, tidak sampai menyentuh kalbu (hati) yang merupakan bejana memahami Al Qur’an.Abdurrahman bin Muljim sendiri adalah seorang penghafal dan ahli baca (qari’) Al Qur’an yang sempat belajar Al Qur’an langsung di hadapan seorang sahabat besar Nabi, yaitu Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.Namun lihatlah, betapa beraninya dia berdalil dengan ayat Al Qur’an ketika membunuh Ali bin Abi Thalib ! Sekarang pun orang-orang Khawarij ekstrem ISIS berdalil dengan ayat yang artinya :”Dan jika kalian membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang telah ditimpakan kepada kalian…”(An Nahl : 126) ketika membakar hidup-hidup seorang pilot muslim, karena mereka berdalih pilot tersebut menembakkan roket yang membakar mereka.Subhanallah ! Sebuah pengiasan 2 perkara yang sangat jauh berbeda.Apalagi bukankah orang-orang ISIS sendiri menembakkan roket atau bom yang juga dapat membakar manusia, dan merekalah yang justru memulai pembunuhan terhadap kaum muslimin ?!

2)    Menghalalkan darah kaum muslimin.

Sifat ini ditandaskan oleh Nabi yang artinya : “…membunuh para pemeluk Islam dan membiarkan para penyembah berhala…”(HR.al-Bukhari dan Muslim)

3)    Melampaui batas dalam berbuat.

Hal ini sebagaimana pernyataan Nabi (artinya) : “…mereka melesat jauh dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah menembus binatang buruan…”(HR.al-Bukhari dan Muslim)

Atas dasar hadits ini, tidak mengherankan bila mereka melakukan sekian banyak perbuatan yang sangat jauh dari norma agama.

4)    Mengkritik pemerintah di depan khalayak ramai atau publik.

Sifat ini diisyaratkan dalam beberapa hadits shahih yang mengisahkan protes pencetus paham Khawarij, yaitu Dzulkhuwaishirah kepada sebaik-baik penguasa pemerintahan, yaitu Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam.Dzulkhuwaishirah mengkritik kebijakan Rasul secara terang-terangan di hadapan para sahabat yang merupakan rakyat ketika itu.Kalau Rasul saja diprotes karena kebijakan beliau dianggap tidak adil, lantas bagaimana penguasa-penguasa lain di hadapan kaum Khawarij ?! Sifat mengkritik pemerintah di depan khalayak ramai merupakan salah satu sifat Khawarij dari dulu hingga saat ini, bahkan merupakan bibit awal munculnya pemahaman Khawarij yang ternyata sudah muncul di masa Rasul masih hidup.Sifat tercela ini tetap teranggap sebagai pemberontakan dalam timbangan syariat, meski masih belum sampai pada pertumpahan darah.Mengkritik pemerintah di depan khalayak ramai / publik adalah terlarang menurut syariat, baik kritikan tersebut melalui media cetak, media elektronik, demonstrasi maupun ceramah.Semestinya kritikan itu dilakukan dengan cara diam-diam, dan itupun oleh orang yang memang layak memberikan nasihat kepada penguasa, bukan setiap orang.

Wallahu a’lamu bish-Shawab

 

 

             

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *