Tafsir Surat Az-Zalzalah

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Tafsir Surat Az-Zalzalah

            Surat az-Zalzalah berbicara tentang hari kiamat.Beberapa peristiwa mengerikan yang pasti akan terjadi disebutkan oleh surat ini, agar mengingatkan manusia tentang kekuasaan Allah, sirnanya dunia beserta seluruh kehidupan yang ada di dalamnya dan kembalinya manusia kepada Allah.

            Adapun tafsir surat ini adalah :

Ayat pertama (artinya) :  “Apabila bumi benar-benar digoncang”.

            Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata : “Yaitu bergoncang dari dasar bumi.Demikian diriwayatkan oleh Ikrimah dari Ibnu Abbas”.(Tafsir al-Qurthubi)

            Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Ibnu Abbas berkata : “Apabila bumi benar-benar digoncang”, yaitu : bergoncang dari dasar paling bawah bumi”.(Tafsir Ibni Katsir)

            Al-‘Allamah Athiyyah Muhammad Salim rahimahullah berkata : “Az-Zalzalah adalah goncangan hebat dengan kecepatan tinggi…”(Tatimmah Adhwa’il Bayan)

            Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Yaitu goncangan besar yang sama sekali belum pernah ada semisal itu”.(Tafsir Juz ‘Amma)

            Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata : “Allah Ta’ala memberitakan peristiwa di hari kiamat, bahwa bumi bergoncang, bergerak dan bergetar hingga runtuh segala apa yang ada di permukaan bumi, baik bangunan maupun apa yang tegak di muka bumi.Gunung-gunung pun roboh dan puncaknya rata dengan tanah.Bumi pun menjadi dataran yang rata sama sekali, tidak ada yang lebih rendah dan tidak ada pula yang lebih tinggi”.(Tafsir as-Sa’di)

            Dari keterangan para ulama di atas, kita dapat memahami  bahwa bumi mengalami goncangan hebat dari inti dasar bumi hingga lapisan luar bumi.Sebuah goncangan dan gempa bumi yang sama sekali belum pernah dirasakan manusia sebelum itu.

            Tidak ada yang terjadi saat kiamat tiba, melainkan kengerian yang sangat dahsyat.Allah sendiri melalui ayat ke-2 Surat Al Hajj menegaskan bahwa semua wanita lalai dari anak yang disusuinya, semua wanita hamil keguguran dan manusia mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak sedang mabuk, tatkala menyaksikan goncangan hari kiamat.

Ayat kedua (artinya) : “Dan bumi mengeluarkan apa yang dikandungnya”.

            Kalau ayat pertama berbicara tentang peristiwa kiamat setelah tiupan sangkakala yang merusak alam semesta, maka ayat yang kedua berbicara tentang peristiwa kiamat setelah tiupan sangkakala yang membangkitkan manusia dari perut bumi.Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang bumi yang dibangkitkan manusia darinya, apakah bumi yang ada sekarang ini tapi diganti keadaannya ataukah bumi lain yang Allah ciptakan untuk mengganti bumi yang sekarang ini.Wallahu a’lam.Hal ini mengingat Allah telah berfirman (artinya) : “(Yaitu) pada hari yang (ketika itu) bumi diganti dengan selain bumi (yang ada sekarang), dan (demikian pula) langit (pun diganti)…”(Ibrahim : 38)

            Adapun apa yang dikeluarkan oleh bumi pada ayat ini, bisa dimungkinkan manusia penghuni kubur atau dimungkinkan pula manusia beserta harta yang terpendam di perut bumi.Kalau yang dikeluarkan dari perut bumi adalah manusia, maka itu perkara yang telah diketahui oleh manusia.Adapun harta yang terpendam di perut bumi, maka dalilnya adalah sabda Nabi (artinya) : “Bumi akan memuntahkan potongan-potongan dari dalam perutnya seperti piringan-piringan emas dan perak.Maka datanglah orang yang dahulu melakukan dosa membunuh dan berkata : “Karena perkara ini (yaitu : berebut urusan duniawi yang digambarkan dengan piringan emas dan perak, pen), dahulu aku melakukan pembunuhan”.Lalu datanglah orang yang dahulu melakukan dosa memutus tali silaturahim dan berkata : “Karena perkara ini, dahulu aku memutus tali silaturahim.Kemudian datanglah orang yang melakukan dosa mencuri dan berkata : “Karena perkara ini, dahulu tanganku dipotong.Ternyata (di hari kiamat, pen), mereka membiarkan piringan-piringan emas dan perak tadi dan tidak mengambil sedikit pun”.(HR.Muslim)     

Ayat ketiga (artinya) : “Dan manusia berkata : “Ada apa dengan bumi ini ?”

            Ayat ini mengisahkan ucapan manusia ketika bumi bergoncang setelah tiupan yang merusak alam semesta, atau setelah tiupan yang membangkitkan manusia dari kuburnya.Apabila yang dimaksud adalah setelah tiupan yang merusak alam semesta, maka yang mengatakan ucapan “Ada apa dengan bumi ini ?” adalah orang-orang kafir.Sebab, ketika itu yang berada di muka bumi hanyalah orang-orang kafir.Namun apabila yang dimaksud adalah setelah tiupan yang membangkitkan manusia dari alam kubur, maka yang mengatakan ucapan “Ada apa dengan bumi ini ?” adalah orang kafir dan orang yang beriman.Orang kafir mengucapkan kalimat tersebut karena pengingkaran dan keheranan.Sedangkan orang yang beriman mengucapkan kalimat tersebut karena menganggap besar peristiwa tersebut.Wallahu a’lam.

            Apabila kalimat “Ada apa dengan bumi ini ?” adalah perkataan yang diucapkan setelah tiupan yang merusak alam semesta, maka maksudnya “Ada apa dengan bumi yang bergoncang sangat dahsyat ini ?”

            Namun apabila kalimat “Ada apa dengan bumi ini ?” adalah perkataan yang diucapkan setelah tiupan sangkakala kebangkitan, maka maksudnya “Ada apa dengan bumi yang telah mengeluarkan apa yang dikandungnya ini ?”

Ayat keempat (artinya) : “Pada hari itu, bumi menyampaikan berita tentang dirinya”.

            Ayat ini merupakan jawaban dari 3 ayat sebelumnya.Maksudnya : “Apabila bumi benar-benar digoncang, bumi mengeluarkan apa yang dikandungnya dan manusia berkata : “Ada dengan bumi ini ?”, maka pada hari itu bumi menyampaikan berita tentang dirinya”.

            Ayat ini memberitakan bahwa bumi akan menjadi saksi di hadapan Allah atas segala perbuatan manusia, baik perbuatan yang terpuji maupun tercela yang pernah dilakukan di muka bumi.Bumi merupakan salah satu saksi di akherat kelak yang akan memberitakan segala perbuatan manusia, selain tangan, kaki, kulit manusia itu sendiri atau saksi-saksi yang lain.Ketika itu manusia tidak akan mungkin sedikit pun mengelak dari kenyataan yang dahulu pernah mereka perbuat di hadapan Allah.

            Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Persaksian bumi ini terjadi untuk menjelaskan keadilan Allah ‘Azza Wa Jalla.Bahwasanya Dia Subhanahu Wa Ta’ala tidaklah menyiksa manusia, melainkan karena apa yang telah mereka perbuat.Jika tidak demikian, maka sesungguhnya Allah Ta’ala itu meliputi segala sesuatu (dengan ilmu-Nya, pen).Cukuplah dengan sekedar Dia berkata kepada hamba-hambaNya : “Kalian telah melakukan ini dan itu…Akan tetapi persaksian itu merupakan bagian dari penegakan keadilan dan untuk menepis pengelakan orang yang jahat, karena orang-orang yang jahat itu mengelak untuk dikatakan sebagai orang-orang musyrik…”(Tafsir Juz ‘Amma)

Ayat kelima (artinya) : “Dengan sebab Allah memerintah bumi untuk memberitakannya”.

            Bumi dapat menjadi saksi karena Allah memerintahkannya untuk berbicara dengan pembicaraan yang dipahami manusia saat itu.Tidak ada yang mustahil sedikit pun jika Allah menghendaki sesuatu itu terjadi.Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.Allah Maha Kuasa untuk menjadikan bumi dapat berbicara dengan pembicaraan yang dipahami manusia ketika itu.Bumi pun tidak akan membangkang ketika diperintah untuk berbicara dan tidak akan berdusta ketika berbicara, karena bumi adalah makhluk Allah yang senantiasa tunduk kepada Allah.

Ayat keenam (artinya) : “Pada hari itu, manusia menjadi berkelompok untuk diperlihatkan kepada mereka perbuatan mereka”.

            Maknanya adalah manusia bangkit dari kuburnya menuju tempat dibukanya catatan seluruh amalan dan penghisaban (perhitungan) amalan.Mereka berkelompok sesuai jenis amalannya.Orang yang beramal shalih berjalan menuju sisi kanan dengan wajah putih berseri-seri dan penuh ketenangan.Adapun orang yang beramal jelek, mereka berjalan menuju sisi kiri dengan wajah hitam legam dan penuh ketakutan.

            Menafsirkan petikan ayat yang berbunyi : “..untuk diperlihatkan perbuatan mereka”, al-‘Allamah as-Sa’di berkata : “Untuk Allah perlihatkan apa yang telah mereka perbuat dari kebaikan maupun kejelekan, dan memperlihatkan pula balasan yang sempurna (yang akan mereka dapatkan, pen)”.(Tafsir as-Sa’di)

Ayat ketujuh (terakhir) yang artinya : “Maka barangsiapa yang beramal kebaikan sebesar dzarrah sekalipun, maka niscaya ia akan melihatnya, dan barangsiapa beramal keburukan sebesar dzarrah sekalipun, maka niscaya ia akan melihatnya (pula).

            Al-‘Allamah al-Alusi rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini merupakan rincian terhadap petikan ayat sebelumya : “…untuk diperlihatkan kepada mereka perbuatan mereka”.(Lihat Tafsir al-Alusi)

            Ada beberapa penafsiran tentang makna dzarrah, yaitu :

a)    Semut yang kecil.

b)    Debu yang terlihat beterbangan ketika terkena sinar matahari.

c)    Tanah yang tertinggal pada telapak tangan saat diangkat usai ditempelkan ke tanah.

            Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata : “Ini adalah permisalan yang Allah Ta’ala sebutkan bahwa Dia tidaklah lalai dari amalan apapun anak keturunan Adam, baik yang kecil maupun yang besar…”(Tafsir al-Qurthubi)

            Ayat terakhir ini menunjukkan beberapa hal, diantaranya :

a)    Bahwa sekecil apapun amalan manusia di dunia, niscaya akan mereka saksikan kelak di hari akhir.Hal ini menunjukkan sangat detailnya penampakan catatan amalan dan perhitungannya.

b)    Keadilan Allah Ta’ala yang Dia memperlihatkan seluruh amalan yang pernah dikerjakan manusia.

c)    Hendaknya manusia jangan meremehkan sekecil apapun kebaikan, karena sekecil apapun kebaikan niscaya akan diperlihatkan di akherat nanti.

d)    Demikian pula, janganlah manusia menganggap ringan sekecil apapun keburukan, karena sekecil apapun keburukan niscaya akan diperlihatkan di akherat kelak.

e)    Semestinya setiap kita memiliki rasa raja’ (harap) dibalik sekecil apapun amalan shalih yang akan, sedang atau telah kita kerjakan, sekaligus rasa khauf (takut) dibalik sekecil apapun amalan keburukan yang akan memengaruhi kita.

f)     Seharusnya kita menanamkan sifat muraqabah (merasa diawasi oleh Allah) dimana dan kapan pun kita berada.

g)    Bisa dipahami dari ayat ini bahwa keburukan apapun yang telah dikerjakan tetaplah tercatat di dalam lembaran-lembaran catatan amal dan kelak akan diperlihatkan, meski pelaku keburukan tersebut telah bertaubat.Hanya saja Allah akan menutupi keburukan tersebut dan mengampuni pelakunya.

Wallahu a’lamu bish-Shawab