Rahasia Di Balik Doa

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Rahasia Di Balik Doa

            Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Doa dan meminta perlindungan itu ibarat senjata.Senjata itu berkaitan dengan orang yang menggunakannya, tidak semata-mata ketajaman senjata tersebut.Kapan saja senjata tersebut sempurna, tidak ada cacat padanya, orang yang menggunakannya kuat dan faktor penghalangnya tidak ada, maka akan dapat mengalahkan musuh.Namun kapan saja salah satu dari 3 hal ini hilang, maka hilang pula pengaruh senjata tersebut.Maka jika doa itu tidak tepat, orang yang mengucapkannya tidak memadukan antara kalbu dan lisannya saat berdoa atau ternyata ada penghalang dikabulkannya doa, maka tidak ada pengaruh apa-apa pada doa tersebut”.(al-Jawab al-Kafi)

Satu Dari Tiga Kemungkinan

            Setiap doa yang dipanjatkan kepada Allah pasti akan Dia kabulkan, karena Dia sendiri telah berfirman (artinya) : “Dan Rabb kalian telah berfirman : “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan…”(Al Mu’min : 60)

            Hanya saja dikabulkannya doa itu memiliki 3 kemungkinan, sebagaimana hadits shahih yang artinya : “Tidaklah seorang muslim berdoa dengan sebuah doa yang tidak mengandung dosa atau memutus silaturahim, melainkan Allah akan kabulkan dengan satu dari tiga kemungkinan : disegerakan pengabulannya, ditunda di akherat (menjadi pahala semisal permintaan pada doanya, pen) atau dihindarkan dari kejelekan semisal permintaan pada doanya”.(ash-Shahihul Musnad 412)

            Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata : “Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa doa itu pasti akan dikabulkan dengan salah satu dari tiga hal ini”.(at-Tamhid, Maktabah Syamilah)

            Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “…setiap orang yang berdoa itu akan dikabulkan doanya.Akan tetapi pengabulannya bermacam-macam.Kadangkala dikabulkan sesuai permintaan pada doanya atau kadangkala diganti dengan yang semisal itu.Telah datang hadits yang shahih tentang hal ini…”(Fathul Bari)

Syarat-syarat Dikabulkannya Doa

            Ada beberapa syarat yang menjadikan doa itu dapat dikabulkan oleh Allah, diantaranya :

1)    Ikhlas, yaitu memanjatkan doa semata-mata kepada Allah, tidak berdoa kepada selain Allah, riya’, sum’ah atau berpura-pura di hadapan manusia ketika berdoa.Allah berfirman (artinya) : “…Aku mengabulkan seruan orang yang berdoa, jika dia berdoa kepada-Ku…”(Al Baqarah : 186)

Nabi bersabda (artinya) : “Aku menyeru kepada Allah semata yang apabila engkau tertimpa kesulitan lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan menghilangkan kesulitan tersebut.Dia yang apabila engkau tersesat di suatu tempat yang sunyi lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan mengembalikanmu.Dia yang apabila engkau tertimpa kekeringan lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan menumbuhkan tanaman untukmu”.(ash-Shahihul Musnad 1490)

2)    Berdoa dengan cara yang sesuai dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Beliau menegaskan bahwa barangsiapa melakukan sebuah amalan yang tidak ada contohnya dari beliau, maka amalan itu tertolak.

3)    Adanya keyakinan bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah.Nabi bersabda (artinya) : “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan.Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa orang yang kalbunya lalai dan lengah”.(HR.at-Tirmidzi yang dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani)

4)    Berdoa dengan kalbu yang khusyu’, sebagaimana hadits di atas.

5)    Berdoa meminta sesuatu dengan sungguh-sungguh, besar harapan dan tidak setengah-setengah.Nabi mengingatkan melalui sabda yang artinya : “Apabila salah seorang diantara kalian berdoa, maka bersungguh-sungguhlah dalam permintaannya…”(HR.al-Bukhari dan Muslim)

Faktor-faktor Penghalang Dikabulkannya Doa

            Selain syarat dikabulkannya doa, mengetahui hal-hal yang menghalangi terkabulnya doa juga sangat penting.Bisa jadi seseorang telah memenuhi syarat dikabulkannya doa, namun ada penghalang dikabulkannya doa pada dirinya, sehingga doanya pun belum dikabulkan oleh Allah.Beberapa faktor penghalang dikabulkannya doa, diantaranya :

1)    Tidak peduli terhadap halal dan haram pada makanan, minuman maupun pakaiannya.Nabi pernah menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan rambutnya kusam dan berdebu.Dia pun menengadahkan kedua tangannya seraya berdoa : “Ya Rabbku ! Ya Rabbku !”.Namun ternyata makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kenyang dengan keharaman.Maka bagaimana doanya dapat dikabulkan ?! (Lihat Shahih Muslim)

2)    Terburu-buru menginginkan doanya dikabulkan.Nabi bersabda (artinya) : “Akan dikabulkan doa salah seorang diantara kalian selama dia tidak terburu-buru.(Yaitu) dia berkata : “Aku sudah berdoa, namun masih saja belum dikabulkan untukku”.(HR.al-Bukhari dan Muslim)

Seorang hamba mestinya menyadari bahwa belum dikabulkannya doa dia bisa jadi karena beberapa sebab, seperti : dia sendiri tidak memenuhi syarat dikabulkannya doa, melakukan hal-hal yang menghalangi terkabulnya doa atau ada rahasia ilahi di balik belum dikabulkannya doa, seperti Allah selamatkan orang tersebut dari kejelekan atau Allah tunda sebagai pahala kelak di akherat.Ringkas kata, seorang hamba seharusnya lebih banyak muhasabah (introspeksi diri) sekaligus tetap menanamkan husnuzhan (baik sangka) kepada Allah Ta’ala.

3)    Melakukan kemaksiatan dan keharaman, sebagaimana sebagian salaf berkata : “Janganlah engkau merasa lambat akan terkabulnya doa.Engkau sendiri ternyata telah menutup jalan terkabulnya doa dengan kemaksiatan-kemaksiatan “.

4)    Meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, padahal sanggup melakukannya.Nabi mengingatkan (artinya) : “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaknya kalian benar-benar mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, atau Allah akan mengirim siksa kepada kalian lalu kalian berdoa kepada-Nya, namun ternyata doa kalian tidak dikabulkan”.(HR.at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)  

 

Waktu-waktu Yang Doa Itu Lebih Dikabulkan

            Hal ini menunjukkan bahwa waktu itu memiliki nilai berharga di sisi Allah.Mestinya seorang hamba sangat memerhatikan keberadaan waktu di sisinya.Demikian pula waktu-waktu tersebut menunjukkan kemurahan Allah kepada hamba-hambaNya.

            Diantara waktu-waktu yang doa itu lebih dikabulkan, adalah :

1)    Ketika gerakan sujud dalam shalat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud.Maka perbanyaklah doa”.(HR.Muslim)

Beliau juga bersabda (artinya) : “…Adapun sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, maka akan lebih dapat dikabulkan”.(HR.Muslim)

2)    Di penghujung shalat saat tasyahud akhir.

Nabi pernah ditanya : “Wahai Rasulullah ! Doa yang bagaimana yang lebih didengar ?” Nabi pun menjawab : “Penghujung malam terakhir dan penghujung shalat wajib”.(HR.at-Tirmidzi dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani)

3)    Sepertiga malam terakhir.

Ini adalah waktu yang sangat istimewa.Nabi memberitakan (artinya) : “Rabb kita Tabaraka Wa Ta’ala turun ke langit dunia di setiap malam, tatkala tersisa sepertiga malam terakhir.Maka Dia berkata : “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan.Barangsiapa meminta sesuatu kepada-Ku, maka akan Aku beri.Barangsiapa memohon ampun kepada-Ku, maka akan aku ampuni”.(HR.al-Bukhari dan Muslim)

4)    Waktu antara adzan dengan iqamah.

Hal ini sebagaimana pernyataan Nabi (artinya) : “Tidak ditolak doa antara adzan dengan iqamah”.(HR.Abu Dawud.Lihat at-Tirmidzi.Hadits ini dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

5)    Setelah matahari tergelincir hingga ditunaikannya shalat Zhuhur.

Tentang waktu ini, Nabi bersabda (artinya) : “Sesungguhnya ia adalah waktu yang dibukakan padanya pintu-pintu langit.Aku menyenangi untuk diangkat untukku amalan shalih pada waktu tersebut”.(HR.at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

6)    Setelah shalat ‘Ashr hingga terbenamnya matahari pada hari Jum’at.

Keutamaan ini disebutkan oleh Nabi sendiri (artinya) : “Carilah waktu yang lebih diharapkan dikabulkannya doa pada hari Jum’at, setelah ‘Ashr hingga terbenamnya matahari”.(HR.at-Tirmidzi dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Faidah

1)    Bolehkah memanjatkan doa dengan bahasa selain bahasa Arab ? Pertanyaan ini dapat kita jawab dengan menyebutkan rinciannya, yaitu :

a)    Jika doa berbahasa selain bahasa Arab itu dibaca di dalam shalat, padahal mampu mengucapkannya dengan bahasa Arab, maka tidak boleh.

b)    Jika doa tersebut dibaca di dalam shalat, karena tidak bisa mengucapkannya dengan bahasa Arab, maka tidak apa-apa.Namun seiring itu, tetap belajar mengucapkan doa dengan bahasa Arab.

c)    Jika doa tersebut dibaca di luar shalat, maka lebih-lebih tidak mengapa, terlebih bila kalbu lebih khusyu’ jika berdoa dengan menggunakan bahasa selain bahasa Arab.

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Doa itu boleh diucapkan dengan bahasa Arab maupun bukan bahasa Arab.Allah mengetahui maksud dan keinginan orang yang berdoa.Apabila orang tersebut tidak bisa membenahi lidahnya, maka sesungguhnya Allah mengetahui kesulitan dalam bersuara dengan beragam bahasa dan permintaan”.(Majmu’ Fatawa, Maktabah Syamilah)

            Demikian pula al-Lajnah ad-Daimah Saudi Arabia berfatwa tentang bolehnya seseorang berdoa dengan bahasa yang dia ketahui, baik bahasa Arab, Inggris, Urdu ataupun bahasa yang lainnya, karena Allah berfirman (artinya) : “Tidaklah Allah membebani suatu jiwa kecuali sesuai kemampuannya…” dan juga firman-Nya yang artinya : “…maka bertakwalah kepada Allah sebatas yang kalian sanggup kerjakan…”

 

2)    Bolehkah seseorang meminta orang lain untuk mendoakan dirinya ? Pertanyaan kedua ini dapat kita jawab bahwa hal itu diperbolehkan karena adanya beberapa dalil yang mendasari hal itu, baik orang yang mendoakannya tersebut lebih tinggi atau lebih rendah tingkat keshalihannya dibanding orang yang memintanya.Hanya saja hal tersebut jangan menjadi kebiasaan.Justru lebih utama bagi setiap muslim untuk berdoa langsung kepada Allah, karena doa itu sendiri adalah sebuah ibadah agung yang memiliki keutamaan besar.

 

Wallahu a’lamu bish-Shawab