NASEHAT DI BULAN RAMADHAN

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Mutiara Nasihat Di Bulan Ramadhan

            Waktu terus berjalan cepat tanpa peduli apa yang telah kita lakukan.Demikian Allah jadikan siang dan malam datang silih berganti, agar kita dapat mengambil pelajaran atau kesempatan bersyukur kepada-Nya. Dia ‘Azza Wa Jalla berfirman (artinya) : “Dan Dialah (Allah) yang telah menjadikan siang dan malam datang silih berganti, bagi siapa saja yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur”.(Al Furqan : 62)

            Dunia pun berjalan menjauhi kita, sedangkan akherat berjalan mendekati kita.Seorang sahabat Nabi sekaligus salah satu menantu beliau, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata : “Dunia berjalan menjauh sedangkan akherat berjalan mendekat. Bagi setiap keduanya memiliki anak-anak.Jadilah kalian anak-anak akherat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah amal dan tidak ada pertanggungjawaban, sedangkan esok (hari kiamat) adalah pertanggungjawaban dan tidak ada amal”.  (Shahih al-Bukhari)

            Akankah kita akan berambisi untuk mengejar sesuatu yang senantiasa menjauh bahkan semakin menjauh ?! Akankah kita masih saja lalai dari sesuatu yang senantiasa mendekat bahkan semakin mendekat ?! Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : “Tidaklah aku menyesal atas sesuatu seperti penyesalanku atas hari yang matahari itu terbenam sehingga berkurang waktu hidupku di dunia, sedangkan amalanku tidak bertambah-tambah”.

2 Kenikmatan Yang Banyak Manusia Melalaikannya

            Hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sampaikan melalui salah satu sabda beliau (artinya) : “2 kenikmatan yang banyak manusia terlalai padanya, yaitu : kesehatan dan waktu luang.(HR.al-Bukhari)

            Al-Hafizh Ibnu al-Jauzi rahimahullah berkata : “Barangsiapa menggunakan waktu luang dan kesehatannya untuk taat kepada Allah, maka dia adalah orang yang gembira. Barangsiapa menggunakan keduanya untuk bermaksiat kepada Allah, maka dia adalah orang yang tertipu…” (Dinukil dari Fathul Bari)

            Mu’awiyah bin Qurrah (salah seorang tabi’in yang murah senyum di siang hari dan banyak menangis di penghujung malam) rahimahullah, berkata : “Manusia yang paling banyak pertanggungjawabannya di hari kiamat adalah orang yang sehat dan memiliki waktu luang”.(Iqtidha’ al-‘Ilmi al-‘Amal)

            Betapa seringnya kita memiliki waktu luang dan memperoleh kesehatan. Bahkan tidak ada satu pun diantara kita yang tidak mendapatkannya. Namun apakah kita termasuk yang bergembira atau justru yang tertipu, sedangkan kita pasti akan ditanya tentang keduanya di akherat kelak ?  Setiap dari kita akan ditanya oleh Allah atas kenikmatan yang telah kita dapatkan. Allah akan berbicara langsung dengan kita dengan cara yang Dia kehendaki, tanpa penerjemah dan tanpa seorang pun yang menemani kita. Tidak ada yang kita lihat di sebelah kanan maupun kiri, kecuali amal baik dan buruk yang telah kita kerjakan. Tidak ada yang kita lihat di depan, kecuali neraka yang akan kita lewati saat berjalan di atas ash-Shirath (jembatan yang melewati neraka).

Bulan Ramadhan Adalah Sebuah Kesempatan Yang Sangat Singkat

            Bulan ini adalah bulan yang Allah Ta’ala benar-benar membentangkan rahmat kepada kita.Betapa tidak ! Para syaithan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka, pada salah satu malam bulan Ramadhan terdapat 1 malam yang lebih baik dari 1000 bulan (83 tahun), puasa dan shalat tarawih yang dilakukan dengan dasar iman sekaligus ikhlas akan dapat menggugurkan dosa yang telah lalu.Akan tetapi kesempatan yang sangat mahal ini terus berjalan cepat dan terasa singkat. Sungguh sangat merugi jika seseorang menjumpai bulan Ramadhan yang penuh keutamaan ini namun dirinya tidak diampuni oleh Allah, tatkala keutamaan-keutamaan tadi lewat begitu saja. Malaikat Jibril ‘alaihi as-Salam pernah memerintah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam untuk mengamini atas seseorang yang menjumpai Ramadhan, namun tidak diampuni dosanya lalu ia masuk neraka dan Allah menjauhkannya dari surga.Lantas Nabi pun mengamininya.

            Sa’id dari Qatadah, berkata : “Dahulu dikatakan : Barangsiapa tidak diampuni dosanya di bulan Ramadhan, maka ia tidak akan diampuni di selain bulan Ramadhan”.

            Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata : “Barangsiapa dirahmati di bulan Ramadhan, maka dialah orang yang dirahmati. Barangsiapa yang dihalangi dari kebaikan di bulan tersebut, maka dialah orang yang terhalang.Barangsiapa yang tidak berbekal untuk hari kembali (Hari Akhir) di bulan tersebut, maka dialah orang yang tercela”.

            Kalau di bulan yang penuh kemuliaan ini, masih saja ada seseorang yang tidak memiliki kemauan (lebih-lebih kesungguhan) dalam kebaikan, lalu bagaimana halnya dengan bulan-bulan lainnya ?! Kalau dalam keadaan puasa saja, seseorang masih belum menjauhkan penglihatan, lisan, maupun pendengarannya dari perkara sia-sia bahkan haram, lalu bagaimana halnya saat ia tidak berpuasa ?!

            Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Jika dirimu berpuasa, maka hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu juga ikut berpuasa dari kedustaan dan perkara-perkara haram. Tinggalkan perbuatan mengganggu tetangga. Hendaknya rasa tenang dan tentram itu bersama dirimu di hari puasamu. Janganlah dirimu jadikan hari berpuasamu dengan hari tidak berpuasamu itu sama”.

            Sebagian salaf berkata : “Puasa yang paling rendah (tingkatannya) adalah puasa dengan sekedar meninggalkan minum dan makan”.

            Kalau dalam urusan duniawi kita tidak ingin menjadi orang rendahan (itu pun rendah sekedar di mata manusia), maka mestinya dalam urusan akherat lebih-lebih kita tidak ingin menjadi orang rendahan.

            Janganlah diantara kita merasa puas dengan amalan shalih yang telah ia perbuat di bulan ini. Bukankah amalan shalih kita tidak ada jaminan untuk diterima oleh Allah, meski teranggap sah ?! Justru kita mestinya khawatir amalan kita tidak diterima oleh Allah karena :

1)    Keikhlasan masih menjadi tanda tanya besar pada diri kita, padahal keikhlasan itu adalah syarat diterimanya amalan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla tidak menerima amalan, kecuali jika ada keikhlasan padanya dan mengharap wajah-Nya”. (ash-Shahihah 52)

2)    Kecocokan ( ‘ittiba’ ) amalan kita dengan bimbingan Nabi juga masih menjadi tanda tanya sangat besar pada diri kita, padahal ‘ittiba’ adalah syarat lain diterimanya amalan. Nabi bersabda (artinya) : “Barangsiapa yang berbuat sebuah amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak”.(HR.Muslim)

            Orang-orang terdahulu yang jauh lebih baik ketakwaannya di atas kita, ternyata sangat khawatir jika amalan mereka tidak diterima oleh Allah.

            ‘Amr bin Dinar rahimahullah berkata : “Khawatir amalan tidak diterima itu lebih berat perkaranya dibanding amalan (itu sendiri)”.

            Fadhalah bin Ubaid rahimahullah berkata : “Aku mengetahui bahwa Allah menerima amalanku meski hanya seberat biji sawi, itu lebih aku sukai dibanding dunia dan seisinya, karena Allah berfirman (artinya) : “Hanyalah Allah itu menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa”.

 

            Abdul Aziz bin Abi Rawwad rahimahullah berkata : “Aku menjumpai mereka bersungguh-sungguh beramal shalih.Apabila mereka usai beramal, maka muncul kekhawatiran pada benak mereka : Apakah amalan mereka diterima ataukah tidak ?”

 

            Ini menunjukkan bahwa diterimanya sebuah amalan itu bukanlah perkara yang mudah di mata mereka, padahal mereka telah bersungguh-sungguh. Lalu bagaimana dengan kita ? Sudahkah bersungguh-sungguh ? Kalau sudah bersungguh-sungguh, sudahkah muncul rasa khawatir dari amal yang tidak diterima ? Ataukah justru masih saja bersantai-santai dan tidak peduli diterima atau tidaknya amal kita ?

            Itu baru amalan shalih yang belum tentu diterima. Lalu bagaimana dengan dosa yang kita perbuat ?! Apalagi dosa yang dilakukan di bulan suci ini, yang lebih berat keadaannya dibanding dosa yang sama di bulan lain.

            Sebagian salaf berkata : “Nabi Adam saja dikeluarkan dari surga karena satu dosa, sedangkan kalian telah mengetahui dosa tapi tetap saja memperbanyak dosa ! Apakah kalian berharap dengan itu masuk surga ?”

            Kita jangan sekedar menghitung kuantitas puasa dan shalat tarawih kita.Tetapi kita juga sangat perlu menilai kualitas keduanya dan juga amalan lain. Kalau pun toh puasa dan shalat tarawih kita didasarkan iman sekaligus ikhlas sehingga dosa-dosa terdahulu kita terampuni, maka yang dimaksud dosa di sini adalah dosa kecil. Adapun dosa besar, maka haruslah dengan taubat sebenar-benarnya. Lalu bagaimana jika iman beserta keikhlasan kita masih sangat perlu dikaji lagi ?!

            Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, ini semua sengaja diungkap dalam rangka masing-masing kita sedang bermuhasabah (introspeksi diri), dan memang seharusnya demikian.

            Maka tidak ada yang lain, kecuali kita bergegas memperbanyak amal shalih sebelum bulan ini berlalu dengan cepat, atau bahkan ajal tiba-tiba menutup hidup kita. Demikian pula bersegera memperbanyak taubat dan istighfar sebelum bulan ini berlalu, atau justru ajal mengakhiri perjalanan hidup kita.  Amal shalih dan taubat adalah 2 kemestian

Bahaya Malas Beramal Shalih Tatkala Melihat Orang Lain Bersemangat Beramal Shalih

 

            Asy-Syaikh Abdullah bin Shalfiq hafizhahullah membawakan Surat At Taubah ayat ke-46 lalu mengatakan jika anda melihat manusia berlomba berbuat ketaatan, shalat, shalat tarawih, doa, mengamalkan sunnah Nabi dan menuju kepada Allah, sedangkan diri anda menjauh atau malas dari kebaikan tadi, maka Allah tidak menginginkan adanya kebaikan pada diri anda dan Dia melemahkan keinginan anda.Hal itu karena Allah tidak menyukai amalan anda tatkala Dia mengetahui isi kalbu (hati) anda.  (Dinukil bebas dari www.albaidha.net)

            Mengingat kita telah berada di 10 hari akhir Ramadhan, maka semangat beramal shalih dan menjauhi keburukan semestinya semakin tinggi, bukan malah menurun. Bukankah 10 hari akhir Ramadhan itu lebih utama dibanding 10 hari pertengahan, apalagi 10 hari awal Ramadhan, karena pada salah satu malam di 10 hari akhir terdapat Lailatul Qadr ?! Bukankah Nabi sendiri lebih bersemangat di 10 hari akhir dibanding hari-hari selainnya ?!

.

Nasihat Bagi Yang Jenuh Membaca Al Qur’an

 

            Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menasehatkan agar orang yang jenuh membaca Al Qur’an mengoreksi kalbu (hati)nya. Orang ini kalbunya sakit. Al Qur’an jika dibaca oleh seorang mukmin, maka dirinya tidaklah merasa kenyang (sehingga ingin terus membaca, pen). Hendaknya orang ini mengadu kepada Allah agar kalbunya terbuka dan terlindung dari syaithan.Syaithanlah yang melukai kalbu orang tersebut. Kemudian jika orang tersebut jenuh karena membaca sendirian, maka hendaknya dia duduk bersama orang-orang yang bisa membantu dirinya, yaitu orang-orang yang saling mengingatkan dengan Al Qur’an dan saling mempelajarinya di masjid atau majelis ilmu. Hendaknya orang tersebut bergaul dengan orang-orang baik dan shalih. Insya Allah orang tersebut akan mendapatkan manisnya membaca Al Qur’an.(Lihat www.albaidha.net)

 

Wallahu a’lamu bish-Shawab