Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah Telah Mencukupi Kita

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah Telah Mencukupi Kita

            Bagi siapa saja yang mempelajari agama ini dengan seksama, niscaya ia akan mendapati bahwa manhaj (metode) Ahlussunnah Wal Jamaah adalah satu-satunya manhaj yang sempurna dan lengkap.Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah, as-Salafiyah, al-Firqatun Najiyah atau ath-Thaifah al-Manshurah tidak lain adalah Islam yang dibawa dan dijalani oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam beserta para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

            Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sendiri yang menegaskan bahwa manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah adalah satu-satunya manhaj yang benar, sekaligus manhaj inilah yang beliau jalani bersama para sahabat.Ini beliau tegaskan seiring pemberitaan dari beliau juga bahwa umat Islam akan mengalami perpecahan.

            Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa :

1)    Perpecahan di tengah umat Islam adalah sebuah ketetapan yang tidak mungkin terelakkan.

2)    Nabi tidak membiarkan terjadinya perpecahan tersebut begitu saja tanpa jalan keluar, bahkan beliau memberikan jalan keluar yang menyelamatkan seorang muslim, yaitu jalan Ahlussunnah Wal Jamaah.

3)    Nabi menetapkan bahwa manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah adalah satu-satunya kebenaran.

            Jadi ketika kita mengatakan bahwa Ahlussunnah Wal Jamaah, as-Salafiyah, al-Firqatun Najiyah atau ath-Thaifah al-Manshurah adalah satu-satunya yang benar, maka hal itu bukanlah sebuah pengklaiman.Bahkan itulah sabda Nabi, sedangkan sabda Nabi adalah wahyu Allah.Inilah keyakinan yang wajib kita pegang teguh.

            Tentu saja penetapan manhaj Ahlussunnah Wa Jamaah sebagai satu-satunya kebenaran bukanlah semata-mata wacana tanpa ada tuntutan di balik itu.Demikian pula bukan sekedar setiap orang atau ormas mengaku sebagai pengikut “Ahlussunnah Wal Jamaah”, tapi tidak ada bukti yang membenarkan pengakuan tersebut.Akan tetapi Nabi dengan tegas memerintah kita untuk berpegang teguh dengan manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah, sekaligus mengingatkan dari bahaya manhaj-manhaj yang lain.Ada perintah dan ada pula larangan.Nabi tidak pernah sekali pun memberi kebebasan kepada umatnya untuk memilih manhaj sesuai yang mereka kehendaki.Bahkan beliau tidak memberikan toleransi dalam perkara besar seperti ini.Jika sikap beliau ini terkait intern umat Islam, lalu bagaimana halnya dengan umat di luar Islam ?! Namun sangat perlu dicatat, tidak adanya sikap toleransi dalam perkara prinsip seperti ini janganlah kemudian dipahami merupakan bibit radikalisme.Na’udzu billahi min Dzalik.Sesungguhnya manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah, manhajnya Rasul dan para sahabat adalah manhaj beragama yang adil dan pertengahan (wasath), tidak tafrith (meremehkan prinsip Islam atau liberal) dan tidak pula ifrath (berlebihan atau radikal).

Radikalisme Menurut Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah

 

            Kelompok radikal seperti ISIS, al-Qaeda atau apapun nama, di mana dan kapan pun berada, kesemuanya  berinduk pada satu pemikiran, yaitu Khawarij.Khawarij adalah sebuah manhaj yang bibitnya telah muncul di masa Nabi masih hidup.Tidak ada satu pun kelompok sempalan yang disebut secara rinci oleh Nabi seperti halnya Khawarij.Selain itu, Khawarij adalah kelompok sempalan pertama kali yang keluar dari manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah.Nabi sangat mengecam Khawarij, bahkan benar-benar memerintahkan untuk memerangi mereka.Apa yang Nabi tempuh ini adalah apa yang ditempuh oleh Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah.Setiap orang yang berpegang teguh dengan manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah niscaya akan menempuh jalan Nabi ini.Dengan demikian seorang Sunni (pengikut manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah) atau Salafi (pengikut manhaj as-Salafiyah) BUKANLAH :

1)    Orang yang membicarakan kejelekan pemerintah muslim di depan khalayak ramai, baik dalam bentuk demonstrasi, ceramah, tulisan maupun ucapan di media massa.Seorang Sunni Salafi memberikan nasehat secara sembunyi-sembunyi kepada pemerintah apabila melihat kesalahan pada mereka.Adapun membicarakan kejelekan penguasa secara terang-terangan adalah manhaj Khawarij.

2)    Orang yang bermudah-mudahan mengkafirkan (takfir) kepada orang yang memang tidak berhak dikafirkan, terlebih kepada penguasa.Adapun bermudah-mudahan dalam hal takfir adalah manhaj Khawarij.

3)    Orang yang dengan cara apa pun menghalalkan darah, harta dan kehormatan orang yang terjaga, baik dari kalangan muslimin maupun kafir selain kafir yang memang memerangi muslimin (harbi).Adapun menghalalkan darah, harta dan kehormatan kaum muslimin maupun kafir secara mutlak adalah manhaj Khawarij.

4)    Orang yang tidak mendengar dan taat kepada penguasa muslim.Bahkan seoran Sunni Salafi senantiasa mendengar dan taat kepada penguasa, selama dalam perkara yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.Adapun tidak mendengar atau taat secara mutlak kepada penguasa muslim adalah manhaj Khawarij.Khawarij memiliki pemahaman seperti ini karena mereka meyakini bahwa penguasa muslim itu telah kafir dan boleh diberontak.

(Untuk lebih lengkap mengetahui sikap seorang Sunni Salafi yang sangat berbeda jauh dengan Khawarij terkait poin-poin di atas, para pembaca dapat merujuk pada edisi ke-58 tahun ke-7 berjudul “Salafy Bukan Teroris ISIS”).   

Liberalisme Menurut Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah

 

            Liberalisme adalah sebuah pola pikir yang sangat mengagungkan kebebasan tanpa batas.Sebuah manhaj yang bukan diletakkan oleh seorang muslim, apalagi Al Qur’an dan as-Sunnah.Bahkan manhaj ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang murni.Liberalisme menetapkan bahwa semua agama itu sama, padahal Al Qur’an dan as-Sunnah menetapkan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar.Liberalisme mengatakan bahwa semua manusia itu sama kedudukannya, sedangkan Islam menegaskan bahwa manusia yang beragama Islam itu tidak sama dengan yang tidak beragama Islam.Demikian seterusnya…

            Riskas kata liberalisme adalah sebuah pola pikir kekufuran.Liberalisme adalah kebatilan, sebagaimana pula radikalisme adalah kebatilan.Kedua-duanya sangat berseberangan dengan Islam yang sesungguhnya, manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah.Radikalisme jangan diperangi dengan liberalisme, sebagaimana liberalisme jangan diperangi dengan radikalisme.Kebatilan tidak akan sirna jika diperangi dengan kebatilan lain.Perangi kedua pola pikir yang merusak akidah umat Islam ini dengan manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah !

            Akan tetapi kenyataan yang sangat pahit, ternyata kedua pola pikir menyimpang ini sangat subur di tengah tubuh kaum muslimin.Bahkan masing-masingnya memiliki tokoh-tokoh dan para pengikut yang terus bergerak.Lebih pahit lagi, Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah yang memerangi dua pemikiran ini justru mendapatkan tuduhan-tuduhan dusta.Kaum liberalis menuduh Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah sebagai kaum radikalis (baca : teroris), sedangkan kaum radikalis menuduh Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah sebagai kaum Murjiah (sebuah kelompok sempalan yang meremehkan pengaruh kekufuran bagi keimanan seseorang).Tentu saja (sekali lagi), itu semua adalah tuduhan dusta.Sebagian kaum liberalis menjuluki Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah yang memerangi liberalisme dengan sebutan “Salafi Wahabi”, yang kemudian dikesankan di tengah masyarakat sebagai kaum radikalis.Tidakkah mereka sadari bahwa penggunaan julukan dusta merupakan sunnah sayyi’ah (jalan buruk) yang ditempuh kaum Jahiliah dahulu ketika memusuhi Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, tatkala mereka tidak sanggup lagi bersikap ilmiah ?! Jalan ini ditempuh agar manusia tidak lari dari mereka untuk beralih mengikuti kebenaran.Para pembaca pun silakan melihat kembali apa dan siapa itu “Wahabi” sebenarnya pada edisi ke-58 tahun ke-7.

Slogan Memerangi Radikalisme Sebagai Tunggangan Sebagian Kaum Liberalis Untuk Memerangi Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah ?

 

            Ini sebuah pertanyaan besar.Pertanyaan ini muncul seiring sikap radikalisme juga dituduhkan oleh sebagian kaum liberalis tatkala Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah menaruh perhatian besar dalam memerangi segala praktek kesyirikan, khurafat dan kebid’ahan.Maksudnya tuduhan tersebut tidak hanya terkait maraknya aksi radikalisme, yang (sekali lagi) Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah sendiri sangat memeranginya.Buktinya, sebagian kaum liberalis ternyata membela pelaku dan perbuatan syirik maupun kebid’ahan di berbagai kesempatan.Di saat yang sama, sangat gigih memusuhi setiap orang yang memerangi beberapa praktek kesyirikan maupun kebid’ahan.Munculnya Islam NUsantara yang dipelopori kaum liberalis pluralis, tidaklah lepas dari upaya mempertahankan beberapa praktek kesyirikan maupun kebid’ahan yang dianggap sebagai adat istiadat nusantara.Slogan tidak radikalis, menebarkan “rahmatan lil alamin” atau semisal itu senantiasa mereka dengungkan, padahal manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah yang ditempuh Nabi, para sahabat beserta pengikut mereka yang baik, jauh-jauh hari telah menentang radikalisme dan menebarkan rahmatan lil alamin yang sesungguhnya.Ahlussunnah Wal Jamaah as-Salafiyah sendiri tidaklah memerangi adat istiadat mana pun, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang murni.Orang Islam Indonesia, Malaysia, Arab, Eropa, Afrika, Amerika atau manapun tidaklah berbeda satu (secara prinsip) dengan yang lainnya, selama mereka semua menempuh manhaj Nabi dan para sahabat.Sebaliknya akan berbeda meski satu saudara kandung dan tinggal serumah, tatkala berbeda manhaj (metode) beragamanya.

Berjihad Melawan Ideologi Radikalisme & Liberalisme Termasuk Jihad Yang Sangat Agung

 

            Tidak diragukan lagi bahwa kedua ideologi di atas adalah kebatilan yang nyata.Berjihad membantah dan memerangi keduanya dengan pena atau lisan merupakan bagian dari keimanan.Pada satu sisi juga merupakan jihad yang lebih utama dibandingkan jihad dengan pedang maupun tombak.Kita simak ucapan seorang ulama yang menginfakkan usianya untuk berjihad membantah beragam ideologi sesat sekaligus tokoh-tokohnya, yaitu asy-Syaikh al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah.Beliau berkata : “Membantah ahli bid’ah merupakan bagian dari keimanan.Membantah ahli bid’ah merupakan jihad di jalan Allah dan keimanan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.Oleh karena itu Nabi bersabda (artinya) : “…Barangsiapa berjihad menghadapi mereka dengan tangan (senjata), maka ia adalah seorang mukmin.Barangsiapa berjihad menghadapi mereka dengan lisan, maka ia adalah seorang mukmin…”.Maka berjihad menghadapi ahli bid’ah dan pelaku kejelekan merupakan bagian dari keimanan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla…”

 

            Beliau juga berkata : “Sebagaimana ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah.Pedang, tombak atau senjata lain kadang sanggup dibawa oleh setiap orang, sekalipun anak kecil.Ini perkara yang dapat disaksikan.Lihatlah saudara-saudara kita di Yaman.Anak kecil sanggup membawa senjata.Namun apakah anak kecil ini sanggup berjihad melawan ahli bid’ah dengan hujjah dan keterangan jika ia tidak belajar agama ? Tidak, demi Allah.Sebagaimana ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah : “Dan ini adalah jihadnya orang-orang khusus”.Jihad dengan tombak dan pedang dapat dilakukan oleh orang yang tidak tahu dan yang tahu tentang agama.Adapun jihad dengan hujjah dan keterangan tidaklah sanggup dilakukan kecuali oleh orang-orang khusus dari kalangan ulama…”(Faedah dari syarh kitab “Marhaban Yaa Thaalibal ‘Ilmi”, www.albaidha.net)

Wallahu a’lamu bish-Shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *