Semua tulisan dari Al Ustadz Abdurrahman

Ambisi Yang Mengorbankan Agama

بِسمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dari Ka’ab bin Malik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Tidaklah 2 srigala lapar yang dilepas memangsa seekor kambing itu lebih merusak dibandingkan ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi kerusakan agamanya.” (HR. at-Tirmidzi yang dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dan asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i) Lanjutkan membaca Ambisi Yang Mengorbankan Agama

BILA SYA’BAN TIBA

Kini kita telah berada di salah satu bulan Islam (Hijriah), yaitu Sya’ban. Ada beberapa perkara yang ingin kami sampaikan, terkhusus kepada para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, terkait datangnya bulan ini. Harapan kami, semoga Allah Ta’ala mencatat penyampaian beberapa perkara tersebut sebagai amal shalih yang diterima oleh-Nya dan bermanfaat bagi setiap yang membacanya. Lanjutkan membaca BILA SYA’BAN TIBA

Pemilu Sebuah Cara Yang Memilukan

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Kalau orang selama ini menyebut pemilu itu adalah singkatan dari pemilihan umum, maka kami menyebutnya dengan sesuatu yang memilukan. Ya ! Pemilu merupakan cara memilih pemimpin yang jauh menyimpang dari jalan Allah yang akhirnya kepiluanlah yang akan kita dapatkan. Setiap bentuk penyimpangan, baik yang kecil maupun besar, jelas maupun samar, biasa dilakukan mayoritas maupun minoritas manusia tetaplah sebuah penyimpangan apabila bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menurut bimbingan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Sedangkan setiap bentuk penyimpangan akan berujung kepiluan dan kesedihan.

Lalu bagaimana dan sejauh mana pemilu itu bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasul menurut bimbingan para sahabat ? Berikut ini beberapa keterangan yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dan semoga bermanfaat :

1) Pemilu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam beserta para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Tidak ada satu pun riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi dan para sahabat melakukan pemilu atau pemungutan suara, padahal mereka adalah generasi terbaik umat manusia. Tidak ada satu pun kebaikan yang murni melainkan mesti telah mereka lakukan. Kalau seandainya pemilu itu adalah sebuah kebaikan yang murni apalagi berkaitan dengan urusan negara dan orang banyak, pasti mereka menjadi orang-orang yang terdepan untuk menjalankannya.

Mungkin akan ada yang berkata : “Bagaimana pemilu itu mereka selenggarakan, sedangkan pada masa itu mereka tidak membutuhkannya ?!”

Perkataan ini dapat ditanggapi bahwa beberapa peristiwa yang terjadi di masa mereka ternyata bisa saja memberikan peluang untuk diadakan pemilu atau pemungutan suara, seperti :

a) Peristiwa penunjukan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma oleh Nabi sebagai pemimpin jihad, padahal Usamah masih sangat muda dan masih banyak sahabat senior dari sisi ilmu dan pengalaman yang masih hidup saat itu. Penunjukan ini sempat menjadi pertanyaan banyak sahabat dan akhirnya Nabi menegur mereka. Ternyata untuk menentukan pemimpin jihad dan menjawab pertanyaan sebagian sahabat saat itu, Nabi tidak mengajak atau memerintah diadakannya pemungutan suara. Kisah penunjukan Usamah sebagai pemimpin jihad ini disebutkan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

b) Pengangkatan 4 sahabat besar mulai Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan hingga Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum ajma’in sebagai pemimpin besar (khalifah) ternyata tidak melalui sistem pemilu yang melibatkan seluruh rakyat. Abu Bakr, Utsman dan Ali dipilih sebagai pemimpin pada masing-masing periodenya melalui syura (diskusi ilmiah) para sahabat besar. Adapun Umar dipilih sebagai pemimpin karena penunjukan pemimpin sebelumnya, yaitu Abu Bakr. Seiring dengan itu, kita telah diperintah Nabi untuk mengikuti jalan para sahabat dalam menjalankan Islam pada seluruh sendi kehidupan, termasuk sistem memilih pemimpin negara.

2) Pemilu berpatokan kepada suara terbanyak.

Patokan ini tidaklah mengherankan bila ada pada pemilu karena memang demikian wujud dari kehidupan demokrasi. Padahal, sebuah realita yang tidak dapat kita pungkiri bahwa mayoritas masyarakat kita tidak banyak mengetahui tentang jati diri sebenarnya pada masing-masing calon pemimpin. Mayoritas masyarakat tidak banyak mengetahui reputasi kejujuran dan kemahiran calon pemimpin jauh sebelum mencalonkan diri sebagai pemimpin. Bila demikian, akankah suara mereka dapat dijadikan sebagai patokan untuk memilih pemimpin terbaik ?! Belum lagi Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa mayoritas manusia itu dalam keadaan tidak bersyukur, tidak mengetahui, tidak beriman, menyimpang dari jalan Allah, membenci kebenaran atau terjatuh dalam kesyirikan melalui lebih daripada 40 ayat Al Qur’an (sebatas hitungan kami). Bila demikian (sekali lagi), akankah suara mereka layak untuk dijadikan sandaran untuk memilih pemimpin yang sanggup mengemban amanah kepemimpinan ?!

3) Pemilu menyamaratakan suara orang Islam dengan suara orang kafir.

Seseorang yang masih menyadari mahalnya Islam dan iman pada dirinya, tentu sama sekali tidak ridha dirinya disamakan dengan orang kafir. Memang kita sama sekali dilarang oleh Islam untuk menzalimi manusia, termasuk orang-orang kafir. Namun hal itu bukan berarti orang kafir itu kedudukannya sama dengan orang Islam. Justru menyamakan kedudukan antar keduanya adalah sebuah kezaliman, sebab Allah telah menegaskan bahwa keduanya tidaklah sama. Allah Ta’ala telah berfirman (artinya) : “Maka apakah orang yang beriman itu sama (kedudukannya) dengan orang yang fasik ?! Tentu mereka tidaklah sama.” (As Sajdah : 18)

Allah juga berfirman (artinya) : “Apakah orang-orang berlaku kejelekan itu menyangka bahwa Kami (Allah) akan menjadikan mereka sama (kedudukannya) dengan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, baik saat mereka hidup maupun saat telah mati ?! Sungguh betapa buruknya apa yang mereka putuskan tersebut.” (Al Jaatsiyah : 21)

Akal sehat bagaimana yang dapat menerima orang yang hidup di atas iman dan Islam itu dapat disamakan dengan orang yang hidup di atas kekufuran ?! Kalbu lurus bagaimana yang dapat memahami orang yang meninggal dunia di atas iman dan Islam itu dapat disamakan dengan orang yang mati di atas kekufuran ?!

Para pembaca rahimakumullah, kita sangat khawatir pemilu dengan demokrasi sebagai payungnya tidak hanya bertujuan mencegah kediktatoran pemimpin. Kita sangat khawatir ada tujuan ganda yang terselubung dan Allah lebih mengetahui hakekat sebenarnya tujuan tersebut, yaitu jalan kebebasan mengampanyekan seluruh pola pikir dan pola hidup yang bertentangan dengan Islam di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin. Kita pun sebelum itu sangat mengetahui bahwa pemilu dengan demokrasi sebagai payungnya adalah produk pemikiran orang kafir dan ditebarkan orang-orang Yahudi, bukan orang Islam apalagi wahyu ilahi. Sedangkan bukan rahasia lagi bahwa orang kafir dan Yahudi itu sangat besar kebenciannya terhadap Islam dan umat Islam. Adapun terkait kediktatoran pemimpin, maka (tanpa demokrasi dengan pemilunya pun) Islam sendiri sangat mengecam hal itu. Islam sendiri sebenarnya telah memberikan bimbingan lengkap lagi sempurna bagaimana bersikap menghadapi kediktatoran pemimpin.

4) Pemilu sangat membolehkan kaum wanita menjadi pemimpin bagi kaum pria.

Agama Islam telah memberikan kedudukan sangat terhormat terhadap kaum hawa. Hal ini akan diketahui saat seseorang mempelajari Islam dengan seksama dan penuh ketulusan hati. Islam telah memberikan posisi mulia kepada wanita sesuai dengan kodratnya, karena Islam adalah ajaran Allah yang Dia-lah Ta’ala Dzat pencipta wanita dan tentu Dia-lah yang paling mengerti apa yang layak atau tidak layak bagi wanita. Akankah seorang muslim lebih percaya terhadap orang kafir yang menyerukan emansipasi wanita yang sarat dengan makar terselubung, dibanding ajaran Allah dan Rasul-Nya yang sarat dengan kasih sayang terhadap seluruh alam semesta terkhusus kaum wanita ?! Dengan tegas, Allah telah berfirman (artinya) : “Kaum pria itu adalah pemimpin bagi kaum wanita karena apa yang telah Allah beri kelebihan kepada sebagian mereka atas sebagian yang lain.” (An Nisaa’ : 34)

Nabi kita lebih menegaskan lagi melalui sebuah sabda (artinya) : “Tidak akan bahagia suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinan mereka kepada seorang wanita.” (HR.al-Bukhari)

Mungkin saja akan ada yang berkata : “Ternyata di masa lalu jauh setelah masa Nabi, ada beberapa wanita yang memimpin bangsanya dan rakyat merasakan ketentraman hidup, seperti Margareth Thacher di Inggris atau Corazon Aquino di Filipina.”

Pernyataan ini dapat dijawab bahwa kebahagiaan atau kenikmatan duniawi yang dirasakan manusia dengan melanggar syariat Islam bukanlah kebahagiaan yang hakiki dan bukan pula tanda Allah mencintai mereka. Selain itu, kebahagiaan mana yang layak kita kagumi lebih-lebih kita contoh dari 2 negara kafir tersebut ?!

Islam Telah Memberi Jalan Terbaik

Jangankan sistem memilih pemimpin, bahkan adab buang air kecil dan besar pun diatur oleh agama Islam. Sekali lagi, Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna. Tidak ada sekecil apa pun perkara yang bermanfaat bagi manusia, melainkan telah Islam ajarkan. Tidak ada sekecil apa pun perkara yang membahayakan manusia, melainkan telah Islam ingatkan.

Adapun sistem memilih pemimpin negara, maka salah satu sistem yang telah diterapkan para sahabat Nabi (sebagai generasi yang paling mengerti Islam) adalah sistem syura (diskusi ilmiah) yang dilakukan para pakar yang telah berpengalaman pada setiap bidang dan memegang kejujuran. Sedangkan rakyat dengan keterbatasan pengetahuan mereka tentang setiap bidang pemerintahan, tentu saja tidak berkompeten untuk memilih pemimpin. Tentu pilihan beserta alasannya yang berasal dari orang-orang ahli dan jujur tidaklah sama dengan pilihan beserta alasannya yang berasal orang-orang yang bukan ahli sekalipun jujur. Sistem syura seperti ini dapat diterapkan dan rakyat dapat menerimanya tatkala setiap atau mayoritas lapisan rakyat berpegang teguh dengan ajaran Islam yang murni. Dengan demikian, tampilnya pemimpin yang berkualitas melalui sistem yang tepat sebenarnya berangkat dari tahapan yang sangat panjang karena berawal dari bimbingan Islam yang murni kepada seluruh lapisan masyarakat luas. Dari masyarakat yang baiklah, akan muncul pemimpin yang baik.

Wallaahu a’lamu bish-Shawaab