Berbahagialah, Wahai Penuntut Ilmu Agama !

بِسمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Berbahagialah, Wahai Penuntut Ilmu Agama !

Dari Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu (agama), maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap penuntut ilmu (agama). Sesungguhnya seorang penuntut ilmu (agama) benar-benar akan dimintakan ampun oleh siapa yang ada di langit dan bumi, sampai pun ikan yang ada di air…” (HR. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Semisal hadits ini dengan beberapa perbedaan lafazh juga diriwayatkan oleh al-Imam Abu Dawud dan at-Tirmidzi di dalam kitab Sunan keduanya yang juga dinilai shahih oleh asy-Syaikh al-Albani.

Sebab Abu ad-Darda’ Radhiyallahu ‘anhu Menyampaikan Hadits Ini

Katsir bin Qais (ada yang mengatakan namanya Qais bin Katsir) rahimahullah berkata : “Aku pernah duduk di sisi Abu ad-Darda’ di Masjid Damaskus. Lantas seseorang mendatangi beliau dan ia berkata : “Wahai Abu ad-Darda’, aku mendatangi anda dari Madinah – kota Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam – untuk sebuah hadits yang sampai kepadaku bahwa anda menyampaikan hadits tersebut dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Maka beliau bertanya : “Apakah perdagangan yang membawa dirimu (kemari) ?” Orang tersebut menjawab : “Tidak”. Beliau bertanya kembali : “Apakah ada selain itu (hadits) yang membawa dirimu ?” Orang tersebut menjawab : “Tidak”. Akhirnya beliau berkata : “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : (Sebagaimana hadits di atas dengan lebih lengkap).

Dari kisah ini kita mengingat kembali betapa semangatnya penuntut ilmu agama di masa as-Salaf as-Salih. Seorang penuntut ilmu berangkat menempuh perjalanan sangat jauh demi mendapatkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Dirinya berangkat dari kota yang merupakan sumber ilmu dan masih banyak para ulama yang masih hidup dari kalangan sahabat Nabi maupun tabi’in di kota tersebut. Namun ia ingin mencari sanad (rangkaian periwayat) yang lebih pendek dan itu merupakan keistimewaan tersendiri bagi seorang rawi (periwayat hadits).

Kisah ini merupakan salah satu dari sekian banyak kisah semangatnya para penuntut ilmu agama di masa dahulu dalam menimba ilmu. Mereka benar-benar mengorbankan tenaga, waktu dan harta untuk menempuh perjalanan jauh demi ilmu agama. Mereka memuliakan ilmu agama, maka Allah pun memuliakan dan mengangkat derajat mereka.

Sebuah Kisah Orang Yang Mengejek Hadits Ini

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ucapan Ahmad bin Syuaib : “Kami pernah berada di sisi sebagian ulama hadits di kota Bashrah. Beliau menyampaikan hadits Nabi bahwa sesungguhnya para malaikat benar-benar meletakkan sayapnya untuk penuntut ilmu. Ketika itu di majelis kami ada seseorang dari kalangan sekte Mu’tazilah. Mulailah dia mengejek hadits tersebut. Ia berkata : “Demi Allah, aku benar-benar akan memukulkan paku-paku pada sandalku besok dan aku akan injak sayap-sayap malaikat dengan itu”. Maka ia pun lakukan hal itu dan berjalan dengan kedua sandalnya. Akhirnya kedua kakinya lumpuh seluruhnya dan dimakan belatung”.(Miftah Daar as-Sa’adah 1 / 64, Maktabah Syamilah)

Ini adalah salah satu dari beberapa kisah orang yang menuai petaka akibat menghina dan mengejek hadits Nabi. Mereka menghina hadits Nabi yang merupakan sumber ilmu agama, maka Allah pun menghinakan mereka.

Beberapa Faidah Dari Hadits Yang Mulia Ini

1) Anjuran untuk berusaha menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu agama.

Berarti di sini ada 2 hal, yaitu : USAHA BERBUAT dan NIAT YANG BENAR. Usaha menempuh jalan ini dapat berupa hissi (dalam arti sebenarnya) dengan menempuh perjalanan menuju majelis ilmu yang sesungguhnya, maupun maknawi berupa membaca buku-buku agama yang bersih dari penyimpangan, mendengar audio yang berisi ceramah yang sesuai bimbingan as-Salaf as-Salih dan semisal itu. Tanpa usaha berbuat, keutamaan tidak dapat ia raih sekalipun ia berharap surga. Demikian pula, niat yang benar. Tanpa niat yang benar, akan mudah terputus usaha menimba ilmu di tengah jalan. Bahkan niat yang salah dalam belajar agama berupa keinginan meraih perkara duniawi, justru berakibat jauh dari surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Barangsiapa menimba ilmu (agama) yang semestinya diharapkan dengannya wajah Allah ‘Azza Wa Jalla, namun ternyata dia tidaklah menimbanya melainkan untuk mendapatkan kenikmatan dunia, maka ia tidak mencium aroma surga pada hari kiamat”. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah yang dinilai shahih oleh asy-Syaikh al-Albani.

2) Keutamaan bagi seseorang yang menimba ilmu agama dalam keadaan ikhlas berupa :

a. Allah mudahkan baginya jalan ke surga.

Usaha yang sungguh-sungguh di atas niat yang lurus akan membuka pintu-pintu kebaikan yang memudahkan dirinya menuju negeri penuh kenikmatan yang sempurna dan abadi. Dirinya pun akan semakin mengetahui pintu-pintu kejelekan yang memang telah dijelaskan oleh agama ini, sehingga dapat menjauhinya dan selamat dari neraka. Sebenarnya fasilitas untuk mendapatkan ilmu agama di masa sekarang sangat mudah didapat. Hanya saja usaha yang sungguh-sungguh dari kita masih terasa sangat kurang, seiring godaan dunia yang menghalangi kita dari beranjak menimba ilmu agama. Wallahul Musta’an.

b. Para malaikat yang mulia akan meletakkan sayap-sayapnya karena ridha terhadap dirinya.

Ini termasuk perkara gaib. Kita beriman dan membenarkan bahwa para malaikat benar-benar meletakkan sayap-sayap mereka secara hakiki sekalipun kita tidak melihatnya.

c. Permohonan ampun dari makhluk yang ada di langit dan bumi, sampai pun ikan yang ada di lautan.

Allahu Akbar ! Berapa jumlah makhluk yang ada di langit, bumi dan ikan di air ? Tidak ada yang mengetahui jumlah dan ragamnya kecuali Allah Ta’ala. Mereka memintakan ampun kepada Allah bagi seorang penuntut ilmu agama dengan cara yang Allah kehendaki.

Jika Allah, para malaikat-Nya beserta makhluk yang ada di langit dan bumi memuliakan seorang penuntut ilmu agama, maka betapa agungnya kedudukan ilmu agama dan orang yang menimbanya. Berbahagialah dengan kemuliaan ini, wahai penuntut ilmu agama ! Teruslah bersemangat menimba ilmu agama ! Tidak setiap orang dipilih oleh Allah untuk mendapatkan keutamaan ini.

Sebagian orang masih menganggap remeh ilmu agama bahkan merasa sombong atau malu belajar agama. Ilmu agama masih ia kesampingkan dan abaikan. Kalau pun belajar agama, maka itu pun sekedarnya saja tanpa ada kemauan mengoreksi kembali keyakinan dan amal yang selama ini ada padanya. Bukankah manusia itu tempat banyak kesalahan dan kekeliruan ?! Ditambah lagi, masih banyak perkara agama yang belum ia ketahui dan pelajari sehingga sekian banyak kebaikan luput dari dirinya. Hanya sisa-sisa pikiran, tenaga dan waktu yang ia berikan untuk belajar ilmu agama karena telah lelah dengan urusan dunia yang seolah-olah tak kunjung usai. Akankah keadaan seperti ini terus berlarut-larut, padahal berbagai penyimpangan semakin merebak dan mengancam agamanya seiring ajal terus mendekat ?!

Wallahu a’lamu bish-Shawab