Berbenah dI Bulan Suci

Segala puji hanya untuk Allah, Zat Yang Maha Pemurah dan Dermawan. Dia-lah yang telah mempertemukan kita dengan tamu yang sangat agung, yaitu : Bulan Ramadhan. Sejak tiba awal malam Bulan Ramadhan hingga akhir, Allah senantiasa melimpahkan anugerah yang teramat besar bagi kita. Anugerah tersebut merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memberitakan (artinya) : “Apabila tiba awal malam Bulan Ramadhan, maka para syaithan dan jin jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tak satu pun dibuka, pintu-pintu surga dibuka dan tak satu pun ditutup. Penyeru berseru : “Wahai orang yang mencari kebaikan, kemarilah ! Wahai orang yang mencari kejelekan, berhentilah !” Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka.Keadaan seperti itu terjadi pada setiap malam hari.” (HR.at-Tirmidzi dan Ibnu Majah yang dishahihkan asy-Syaikh al-Albani)

Dari hadits ini kita dapat mengambil faedah bahwa pada Bulan Ramadhan, Allah telah membuka peluang kebaikan selebar-lebarnya kepada kita dan menutup rapat-rapat peluang kejelekan. Peluang kebaikan yang terbuka lebar adalah dibukanya pintu-pintu surga dan tak satu pun tertutup, adanya penyeru kebaikan (dalam riwayat lain : malaikat) yang senantiasa mengajak manusia kepada kebaikan dan dibebaskannya hamba-hamba Allah dari neraka.

Sedangkan peluang kejelekan yang tertutup rapat adalah dibelenggunya para syaithan dari kalangan jin, ditutupnya pintu-pintu neraka yang tak satu pun terbuka dan adanya penyeru kebaikan (malaikat) yang senantiasa mencegah manusia dari kejelekan.

Dengan demikian, Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Ia hanya berjumlah 29 atau 30 hari. Sangat singkat dan sebentar ! Tentu teramat disayangkan jika kita masih saja belum berbenah diri dan kurang memanfaatkan kesempatan sangat berharga ini, yang belum tentu kita jumpai lagi di waktu mendatang. Akankah kita berkali-kali bertemu Ramadhan, dan setiap kali itu pula kita menjadi hamba yang tertipu dan lalai ?

Beberapa Upaya Berbenah Diri

1) Mengkaji ulang tata cara ibadah, terkhusus puasa dan shalat tarawih.

Maksudnya adalah menyesuaikan kembali tata cara ibadah kita, apakah telah sesuai tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam ataukah justru masih jauh dari tuntunan tersebut. Tentu kita semua sangat berharap ibadah kita diterima oleh Allah. Namun, harapan tersebut dapat menjadi sekedar harapan apabila ibadah tadi masih jauh dari tuntunan Nabi. Beliau sendiri menandaskan (artinya) : “Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”(HR.Muslim).

Benar-benar disayangkan jika kita telah bersusah payah beramal, menahan lapar dan dahaga di siang hari, berdiri melakukan shalat di malam hari atau berbuat amalan yang lain, ternyata tidak berbuah pahala di sisi Allah. Sikap ikut-ikutan tanpa mengetahui dalil hendaknya kita jauhkan dari pola beragama kita. Apabila kita tidak sanggup menjawab pertanyaan seseorang di dunia : Apa dalil perbuatan anda ? Apakah Nabi mengajarkan demikian ?, lalu bagaimana halnya bila yang menanyakan hal itu atau semisal itu adalah Allah Yang Maha Mengetahui di hari yang sangat mencekam ?!

Allah berfirman (artinya) : “…dan sungguh kalian pasti akan ditanya tentang apa yang telah kalian perbuat.” (An Nahl : 93)

Yang diuji dari amalan kita adalah siapa diantara kita yang paling baik amalannya, bukan yang paling banyak. Yang dilihat oleh Allah dari amalan kita adalah bagaimana amalan kita. Penggalan kalimat “Paling baik” atau “bagaimana” sangat terkait dengan ikhlas dan ittiba’ (sesuai contoh Nabi). Jika kita telah berusaha ikhlas dan ittiba’, baru setelah itu kita perbanyak. Dengan itu, kualitas dan kuantitas amal saleh dapat terjaga.

2) Ikhlas dan semangat dalam menjalankan ibadah.

Jika kita telah mengetahui dalil yang shahih dari sebuah amalan, maka hendaknya kita tunaikan dengan penuh keikhlasan dan semangat. Jangan sampai kita termasuk salah satu dari 2 macam golongan yang saling bertentangan : a) Golongan manusia yang ikhlas dan semangat beramal, tapi sayang sekali amalannya masih jauh dari tuntunan Nabi. b) Golongan manusia yang beramal sesuai tuntunan Nabi, tapi sangat disayangkan tidak ikhlas atau tidak bersemangat dalam menjalankannya. Salah satu sebab tumbuhnya keikhlasan dan semangat beramal saleh adalah mengetahui dan mengingat keutamaan yang agung di balik amalan tersebut. Sebagian kecil contoh keutamaan dari beberapa amal saleh, yaitu :

a) Pahala puasa tidaklah tidak terbatas (berbeda dengan amalan lainnya).

b) Puasa dapat menjadi perisai dari kejelekan.

c) Barangsiapa berpuasa 1 hari di jalan Allah, maka akan dijauhkan dari an-nar (neraka) sejauh 70 tahun.

d) Orang yang berpuasa akan dimasukkan ke al-jannah (surga) melalui pintu khusus bernama ar-Rayyan. Kemudian dia akan minum dan tidak akan haus selama-lamanya. Berarti rasa haus sebentar di dunia karena puasa, akan hilang selama-lamanya kelak di surga.

e) Puasa Ramadhan yang ditunaikan dengan dasar iman dan ihtisab (ikhlas) merupakan sebab diampuninya dosa-dosa yang lalu.

Sebab lain untuk mendorong kita bersemangat beramal saleh adalah bergaul dengan orang-orang yang bersemangat ibadah, membaca mutiara nasehat dan kisah nyata para teladan terbaik dari generasi as-salaf as-saleh yang bersemangat dalam beramal.

3) Menjaga lisan dan pandangan mata.

Inilah upaya yang sangat berat saat berbenah diri, disamping menjaga anggota badan lainnya. Lisan dan mata adalah 2 anggota badan yang mudah sekali digerakkan. Terlalu banyak diantara kita yang mampu untuk berpuasa dari makan, minum dan pembatal-pembatal puasa yang lain. Namun siapakah diantara kita yang sanggup “mempuasakan” lisan dan pandangan mata dari perkara yang sia-sia, atau bahkan haram ?! Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam telah mengingatkan umatnya (artinya) : “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan batil, tindakan batil dan kebodohan, maka Allah tidak berkenan terhadap perbuatan dia meninggalkan makan dan minum.” (HR.al-Bukhari).

Maksud “Allah tidak berkenan terhadap perbuatan dia meninggalkan makan dan minum” adalah Allah tidak menerima puasa orang tersebut. Orang tersebut hanya mendapatkan rasa lapar, dahaga dan tidak mendapatkan pahala di sisi Allah. Terlebih saat ini, kita hidup di masa yang penuh dengan kemungkaran. Di rumah, media elektronik dan cetak dengan beragam bentuknya tak henti-hentinya menggoda pandangan mata kita. Di luar rumah, jangan ditanya ! Hampir di setiap tempat –sampai pun saat menuju masjid untuk sujud dan ruku’ kepada Allah, pandangan mata kita berpapasan dengan pemandangan yang semakin mengikis keimanan kita.

Selanjutnya, kalau diantara kita ternyata ada yang sanggup “mempuasakan” lisan dan pandangan mata di Bulan Ramadhan, maka adakah diantara yang sanggup mengerjakan hal itu di luar Ramadhan ?! Menjaga lisan memiliki keutamaan yang besar dalam agama Islam. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Barangsiapa sanggup menjamin untuk diriku tentang apa yang ada diantara 2 tempat tumbuh jenggot dan apa yang ada diantara 2 kakinya, maka aku jamin untuk dirinya masuk surga.” (HR.al-Bukhari).

Maksud “apa yang ada diantara 2 tempat tumbuh jenggot” adalah lisan, sedangkan “apa yang ada diantara 2 kaki” adalah kemaluan. Setiap dari kita hendaknya introspeksi diri (muhasabah), apa yang masuk dan keluar dari mulut kita. Yang masuk ke mulut kita adalah makanan dan minuman, apakah halal ataukah haram ? Yang keluar dari mulut, apakah ucapan yang baik ataukah buruk ? Semua itu ada balasannya kelak di akherat. Demikian pula menjaga pandangan mata memiliki keutamaan yang tak kalah besar. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “3 golongan yang mata mereka tidak melihat neraka : mata yang berjaga di jalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang terjaga dari perkara-perkara yang diharamkan Allah.” (Shahih at-Targhib)

Faedah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : “Bukanlah puasa itu sekedar menahan diri dari makan dan minum. (Akan tetapi) puasa itu menahan diri dari perkara yang sia-sia dan keji. Apabila seseorang mencacimu atau berlaku bodoh kepadamu, maka katakanlah : “Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (Shahih at-Targhib)

Para pembaca -semoga Allah merahmati kita semua-, di dalam hadits ini terdapat faedah :

a) Hakekat puasa yang sesungguhnya adalah menahan diri dari setiap pembatal puasa seperti : makan atau minum sekaligus menahan diri dari setiap perkara yang tidak bermanfaat untuk kebahagiaan akherat, atau bahkan perkara yang merugikan kita di akherat. Perkara yang tidak bermanfaat atau bahkan merugikan akherat kita haruslah dihindari, meski untuk sebuah gurauan dan canda. Jangan kita nodai perjuangan menahan lapar dan dahaga di sepanjang siang dengan perkara sia-sia atau bahkan haram.

b) Nabi memerintah orang yang berpuasa untuk bersikap baik dan bijak, meski telah dicaci atau diperlakukan sia-sia oleh orang lain. Kesabaran menahan diri dari memulai dan membalas ucapan maupun perbuatan sia-sia merupakan perkara yang dituntut dalam puasa. Betapa banyak orang yang berpuasa mampu menahan lapar dan dahaga. Namun, berapa orangkah yang sanggup menahan diri dari setiap perkara sia-sia dan keji ketika berpuasa ?! Bukankah tujuan seseorang berpuasa agar menjadi insan yang bertakwa kepada Allah Jalla Wa ‘Alaa ?!

Wallahu a’lamu bish-Shawab