kaligrafi sya'ban

BILA SYA’BAN TIBA

Kini kita telah berada di salah satu bulan Islam (Hijriah), yaitu Sya’ban. Ada beberapa perkara yang ingin kami sampaikan, terkhusus kepada para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, terkait datangnya bulan ini. Harapan kami, semoga Allah Ta’ala mencatat penyampaian beberapa perkara tersebut sebagai amal shalih yang diterima oleh-Nya dan bermanfaat bagi setiap yang membacanya.

Beberapa perkara tersebut adalah :

1) Terus berusaha menjauhi dosa besar atau bertaubat darinya.

Hal ini dikarenakan menjauhi dosa besar atau bertaubat darinya merupakan sebab dihapuskannya dosa kecil yang pernah dilakukan diantara satu Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Shalat 5 waktu, dari satu Jum’at menuju Jum’at berikutnya dan dari satu Ramadhan menuju Ramadhan berikutnya dapat menghapus dosa diantara waktu-waktu tersebut, selama dosa-dosa besar dijauhi”.(HR.Muslim)

2) Bersegera Membayar Hutang Puasa Ramadhan Tahun Lalu (Qadha) Sebelum Tiba Ramadhan Tahun Ini.

Hal ini hendaknya dilakukan seseorang tatkala tidak ada halangan syar’i untuk itu, mengingat bulan Sya’ban adalah bulan yang berada sebelum Ramadhan. Apabila ternyata ada halangan syar’i seperti safar, sakit yang memberatkan untuk berpuasa, haidh atau semisal itu hingga tiba Ramadhan tahun ini dalam keadaan belum mengqadha, maka ia tidak berdosa tapi tetap berkewajiban mengqadha usai Ramadhan tahun ini. Adapun jika tidak ada halangan syar’i seperti tidak peduli atau malas mengqadha hingga tiba Ramadhan tahun ini dalam keadaan belum mengqadha, maka ia berdosa sehingga wajib bertaubat, tetap wajib mengqadha dan terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait apakah wajib baginya juga membayar fidyah ataukah tidak.

3) Memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

Puasa ini hukumnya sunnah. Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam berpuasa di kebanyakan hari di bulan ini. Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha : “…Dahulu beliau (Nabi, pen) berpuasa Sya’ban kecuali sedikit saja.” (HR.Muslim)

Maksud kalimat “kecuali sedikit saja” adalah “kecuali sedikit saja yang beliau tidak berpuasa padanya.” Dengan demikian beliau berpuasa di kebanyakan hari di bulan Sya’ban.

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Puasa di bulan Sya’ban hukumnya sunnah dan memperbanyaknya adalah sunnah, sampai-sampai ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata : “Tidaklah aku melihat beliau di suatu bulan yang lebih banyak berpuasa dibanding Sya’ban.” Maka hendaknya diperbanyak puasa di bulan Sya’ban berdasarkan hadits ini. Para ulama berkata : “Puasa Sya’ban itu seperti shalat sunnah rawatib bagi shalat wajib. Seakan-akan adalah pendahulu bagi puasa Ramadhan, artinya seakan-akan ia sebagai rawatib bagi puasa Ramadhan. Atas dasar itu, disunnahkan untuk berpuasa di bulan Sya’ban dan puasa 6 hari Syawal, layaknya rawatib sebelum dan sesudah puasa wajib. Pada puasa Sya’ban terdapat faidah lain, yaitu melatih jiwa untuk berpuasa, sehingga siap dan mudah untuk berpuasa Ramadhan.”(Fatawa Arkanil Islam)

Lalu apa alasan Nabi memperbanyak puasa di bulan Sya’ban ? Jawabnya : Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan beberapa pendapat tentang alasan Nabi memperbanyak puasa sunnah ini di dalam kitab Fathul Bari. Kemudian beliau berkata : “Alasan yang lebih tepat tentang hal ini adalah apa yang datang di dalam sebuah hadits yang itu lebih sahih dibanding pendapat-pendapat yang telah lewat. (Yaitu) hadits yang dikeluarkan oleh an-Nasa’i, Abu Dawud dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Usamah bin Zaid, berkata : “Wahai Rasulullah, tidaklah aku melihat anda berpuasa di suatu bulan seperti halnya anda berpuasa di Sya’ban.” Beliau bersabda (artinya) : “Itu adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia yang terletak antara Rajab dengan Ramadhan. Ia adalah bulan yang padanya amalan-amalan shalih diangkat menuju Rabbul ‘Alamin. Maka aku pun ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa”…”

Hadits yang dibawakan Al-Hafizh Ibnu Hajar ini dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah.

Memetik Faidah Dari Hadits Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma

Kita dapat mengambil 2 faidah yang berasal dari 2 penggalan hadits Usamah bin Zaid di atas, yaitu :

1) Penggalan hadits yang artinya : “Itu adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia…”

Dari penggalan ini kita dapat mengambil faidah bahwa manusia telah lalai dari keutamaan bulan Sya’ban, baik di masa beliau maupun lebih-lebih di masa kita sekarang ini. Di masa sekarang, manusia lalai dari keutamaan bulan Sya’ban hingga akhirnya berbuat amalan-amalan tertentu yang diada-adakan di bulan Rajab (bulan sebelum Sya’ban), mengkhususkan puasa atau shalat tertentu di pertengahan Sya’ban (Nishfu Sya’ban) atau hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan saja. Padahal saat manusia lalai, justru menghidupkan ibadah ketika itu memiliki pahala lebih besar dibanding pahala ibadah yang sama ketika banyak manusia mengerjakannya.

2) Penggalan hadits yang artinya : “Ia adalah bulan yang padanya amalan-amalan shalih diangkat menuju Rabbul ‘Alamin…”

Dari penggalan ini kita bisa memetik faidah bahwa amalan-amalan shalih akan diangkat menuju Allah Ta’ala di bulan Sya’ban untuk kemudian Dia terima, sedangkan puasa adalah amalan shalih yang pahalanya tidak terbatas jumlahnya.

Mengingat Pentingnya Peran Ibadah Sunnah Bagi Ibadah Wajib

Tidak selayaknya seorang muslim meremehkan perkara sunnah, baik sikap peremehan itu tertanam di dalam kalbunya atau terucap dari lisannya. Tidak boleh satu pun perkara agama yang boleh diremehkan. Memang perkara sunnah itu jika dikerjakan, maka akan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan, maka tidaklah apa-apa. Namun definisi sunnah menurut para ahli fiqih ini sama sekali tidak menyentuh sedikit pun tentang sikap meremehkan perkara sunnah. Bahkan sikap meremehkan suatu urusan agama adalah sikap terlarang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sendiri menegaskan (artinya) : “Janganlah sekali-kali engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun…” (HR.Muslim)

Adapun peran ibadah sunnah bagi ibadah wajib adalah sebagai penyempurna kekurangan yang ada pada ibadah wajib. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Sesungguhnya amalan pertama kali yang akan dihitung dari seorang muslim pada hari kiamat adalah shalat wajib. Jika orang tersebut menyempurnakan shalat wajibnya, maka shalatnya tercatat sempurna. Jika ia tidak menyempurnakannya, maka dikatakan (oleh Allah kepada para malaikat) : “Lihatlah apakah orang ini memiliki shalat sunnah ? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka (kekurangan) shalat wajibnya disempurnakan oleh shalat sunnahnya. Lalu seluruh amalan wajib juga akan diperlakukan seperti itu.” (HR.Ibnu Majah yang disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani.Lihat Sunan Abi Dawud, an-Nasa’i dan at-Tirmidzi)

Apakah dengan peran yang sedemikian besar pada ibadah sunnah, seiring besarnya kemungkinan ibadah wajib seseorang tidaklah sempurna, lantas ada diantara kita masih saja meremehkan sebuah ibadah sunnah ?! Besar kemungkinan puasa Ramadhan yang pernah kita lakukan sangat banyak kekurangannya, sehingga sangat butuh penyempurnaan dengan adanya puasa-puasa sunnah, termasuk puasa di bulan Sya’ban.

Menjawab Larangan Berpuasa Jika Telah Tiba Pertengahan Sya’ban Hingga Tiba Ramadhan

Larangan ini berangkat dari adanya hadits yang artinya : “Apabila telah tiba pertengahan Sya’ban, maka tidak ada puasa hingga tiba Ramadhan” atau yang semakna dengan itu.

Sebagian ulama menyatakan bahwa hadits ini sahih, namun sebagian yang lainnya menyatakan bahwa hadits ini lemah. Jika hadits ini lemah, maka tentu memperbanyak puasa Sya’ban hingga melewati pertengahan Sya’ban atau memulainya di pertengahan Sya’ban tetap bukanlah suatu masalah. Adapun jika hadits ini teranggap sahih, maka larangan di dalam hadits tersebut dapat dibawa kepada makna larangan memulai puasa Sya’ban di pertengahan Sya’ban, bukan larangan melanjutkan puasa Sya’ban hingga melewati pertengahan Sya’ban dan bukan pula larangan berpuasa yang biasa dilakukan seseorang seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14 dan 15 di setiap bulan Hijriah). Hanya saja saat ini kami lebih condong kepada pendapat para ulama yang menyatakan lemahnya hadits di atas.

Wallahu a’lamu bish-Shawab