Kaligrafi Islam Rajab

Bulan Rajab Di Mata Kaum Muslimin

بِسمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Bulan Rajab Di Mata Kaum Muslimin

Bila kita cermati, maka kaum muslimin terbagi menjadi 3 golongan ketika menyikapi bulan Rajab. Ketiga golongan tersebut adalah :

1)

Golongan yang bersikap wasath (pertengahan).

2)

Golongan yang bersikap tafrith (meremehkan).

3)

Golongan yang bersikap ifrath (berlebih-lebihan).

Namun sebelum menyebutkan keterangan dari masing-masing golongan di atas, sangat penting untuk kita menyebutkan pandangan Islam terhadap bulan Rajab. Tujuan menyebutkan pandangan Islam ini, agar kita memiliki tolok ukur untuk menilai mana sikap yang wasath, tafrith dan mana pula yang ifrath.

Pandangan Islam Terhadap Bulan Rajab

Islam memiliki pandangan terhadap bulan Rajab sebagai berikut :

1)    Bulan Rajab adalah salah satu Arba’atun Hurum (4 bulan yang memiliki kehormatan).

Hal ini berdasar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam (artinya) : “…1 tahun itu ada 12 bulan.Diantara 12 bulan tersebut ada 4 bulan yang memiliki kehormatan.3 diantaranya tiba berturut-turut, yaitu : Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram.Sedangkan yang 1 adalah Rajab yang merupakan bulan pilihan orang-orang dari Mudhar dan terletak antara Jumada (Jumadal Akhirah, pen) dan Sya’ban…”(HR.al-Bukhari dan Muslim)

2)    Apabila bulan Rajab termasuk Arba’atun Hurum, maka seorang muslim hendaknya tetap menjaga ketaatan kepada Allah karena harapan dilipatgandakannya pahala, sekaligus menjauhi kejelekan karena khawatir dilipatgandakannya dosa.Hal ini disebabkan para ulama menyatakan bahwa amal saleh akan dilipatgandakan pahalanya jika dikerjakan di waktu atau tempat yang memiliki kehormatan.Demikian pula amal jelek akan dilipatgandakan dosanya jika dilakukan di waktu atau tempat yang memiliki kehormatan.

3)    Mengerjakan amal saleh di bulan Rajab tanpa diiringi keyakinan tertentu terkait zat, tata cara atau keutamaan khusus pada beberapa ibadah, seperti puasa, shalat atau perayaan khusus.Kita mengatakan demikian karena memang tidak ada satu pun dalil sahih yang menentukan zat, tata cara atau keutamaan khusus pada beberapa ibadah di bulan ini.Kita menetapkan apa yang memang ditetapkan oleh dalil dan tidak menetapkan apa yang memang tidak ditetapkan oleh dalil.

Golongan Yang Bersikap Wasath

 

            Mereka ini adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah, Salafiyun.Merekalah kaum muslimin yang senantiasa berada di atas jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan generasi terbaik umat Islam (para sahabat, tabi’in dan atba’ at-tabi’in) dalam setiap urusan agama, termasuk menyikapi bulan Rajab.Merekalah kaum muslimin yang memiliki 3 pandangan yang telah disebutkan di atas.Akan tetapi mereka yang termasuk golongan ini ternyata berjumlah minoritas di tengah kaum muslimin.

 

Golongan Yang Bersikap Tafrith

 

            Mereka ini adalah kaum muslimin yang tidak memiliki kepedulian terhadap bulan Rajab, bahkan bisa jadi tidak mengenal dan merasa asing dengan nama Rajab.Karena demikian keadaannya, maka mereka pun seakan-akan tidak memiliki beban untuk meninggalkan amal saleh, bahkan yang hukumnya wajib sekalipun.Demikian pula mereka seakan-akan tidak merasa berat untuk melakukan amal jelek, sekalipun yang jelas sekali keharamannya.Ironisnya,  mereka yang termasuk golongan ini ternyata berjumlah mayoritas di tengah kaum muslimin.

 

Golongan Yang Bersikap Ifrath

 

            Mereka ini adalah kaum muslimin yang memiliki niat baik dan semangat besar dalam melakukan ibadah.Tapi sayang sekali niat dan semangat tersebut tidak diiringi dengan bimbingan ilmu.Yang mengiringi niat dan semangat mereka adalah taklid (fanatik buta) terhadap ucapan tokoh atau kelompok yang mereka dengar, atau perbuatan tokoh atau kelompok yang mereka lihat.Karena niat dan semangat tanpa ilmu inilah, maka mereka terjatuh ke dalam sikap ifrath (berlebih-lebihan).Karena taklid (fanatik buta), maka mereka bersikukuh dengan ucapan atau perbuatan mereka.Lebih berbahaya lagi, bila sikap ifrath ini dibumbui dengan dalil-dalil yang telah direkayasa hingga menipu orang-orang awam.Wallahul Musta’an !!

            Adapun terkait bulan Rajab, maka sikap ifrath terhadap bulan ini adalah :

1)    Mengkhususkan bulan Rajab dengan puasa tertentu.

            Pengkhususan bulan Rajab dengan puasa tertentu sebenarnya tidaklah dibangun di          di atas dalil.Sesungguhnya tidak sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan tidak      pula dari para sahabat beliau, bahwa mereka mengerjakan puasa di atas.Mereka tidak     pula mengajak dan menganjurkan untuk mengerjakan puasa tersebut.Bahkan para   ulama senantiasa mengingkari apa yang diriwayatkan berupa hadits atau keterangan             yang palsu tentang puasa tersebut.Para ulama menjelaskan kebatilan dan tidak    sahihnya hadits atau keterangan tadi kepada manusia, di negeri, mazhab dan masa        yang berbeda-beda.

            Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah (ulama tersohor dari mazhab Syafi’i)           berkata : “Tidak ada riwayat tentang keutamaan bulan Rajab dan tidak pula keutamaan       puasa di bulan tersebut.Tidak ada pada puasa, satu pun keutamaan khusus.Tidak ada         satu pun hadits sahih tentang shalat malam tertentu pada bulan Rajab”.

            Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah (ulama terkenal dari mazhab Hanbali) : “Adapun           puasa, maka tidak ada satu pun yang sahih tentang keutamaan puasa Rajab secara   khusus dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam maupun para sahabat”.

Telah sahih dari Kharsyah bin al-Hur rahimahullah, berkata : “Aku pernah melihat Umar memegang telapak manusia di bulan Rajab hingga mereka meletakkan telapak tangan mereka di mangkuk-mangkuk besar.Umar pun berkata : “Makanlah kalian.Bulan Rajab itu dahulu adalah bulan yang diagungkan oleh orang-orang Jahiliah”.

Tokoh mazhab Maliki di masanya, Abu Bakr ath-Thurthusi rahimahullah berkata ketika mengomentari ucapan Umar ini dan ucapan lain semisalnya : “Keterangan-keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang ada di tengah manusia berupa pengagungan bulan Rajab merupakan debu-debu sisa tradisi Jahiliah”.

Adapun jika seseorang berpuasa di bulan Rajab tanpa diiringi niat pengkhususan bulan tersebut seperti sekedar puasa Senin-Kamis yang biasa atau kadang ia lakukan di bulan selain Rajab , maka yang demikian tidaklah termasuk dalam larangan di sini.

2)    Mengkhususkan bulan Rajab dengan shalat tertentu.

Sebagian kaum muslimin mengkhususkan bulan Rajab dengan mengerjakan shalat khusus sebanyak 12 rakaat antara Maghrib dengan Isya’ di malam Jum’at pertama bulan tersebut.Shalat tersebut dikenal dengan istilah “shalat Raghaib”.Shalat ini tidak ada tuntunan dan anjuran dari Nabi maupun para sahabat beliau.Bahkan istilah “shalat Raghaib” ini baru didengar oleh manusia sekian ratus tahun setelah wafatnya Nabi dan para sahabat beliau.

Tokoh dari mazhab Syafi’iyah, ‘Alauddin bin al-‘Aththar rahimahullah berkata : “Hadits-hadits yang teriwayatkan tentang keutamaan Rajab dan shalat padanya, seluruhnya adalah palsu dengan kesepakatan para penukil hadits dan orang-orang yang adil”.

Al-Hafizh Ibnu Rajab (mazhab Hanbali) berkata : “Maka adapun shalat, tidaklah sahih pengkhususan shalat di bulan Rajab.Hadits-hadits yang teriwayatkan tentang keutamaan shalat Raghaib di malam Jum’at pertama bulan Rajab adalah dusta, batil dan tidak sahih.Shalat ini adalah bid’ah menurut mayoritas ulama”.

3)    Perayaan Isra’ Mi’raj.

Tidaklah dipungkiri bahwa peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat agung dan memberi banyak pelajaran berharga.Peristiwa besar yang pernah terjadi di alam semesta ini telah ditetapkan oleh Al Qur’an dan Sunnah Nabi.Namun seiring itu, tidak ada satu pun hadits yang sahih dari Nabi maupun keterangan yang sahih dari sahabat dan tabi’in tentang penentuan waktu terjadinya peristiwa tersebut.Akhirnya para ulama sejarah Islam berbeda pendapat tentang hal itu.Ada yang mengatakan bulan Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Rajab, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah, awal, pertengahan atau akhir salah satu dari bulan-bulan tadi.Bahkan diantara pendapat yang terlemah justru pendapat yang mengatakan malam 27 bulan Rajab.

Abu al-Khaththab al-Andalusi yang dikenal dengan Ibnu Dihyah al-Kalbi (mazhab Maliki) sampai-sampai berkata : “Sebagian para ahli cerita menyebutkan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi pada bulan Rajab.Hal ini menurut para pakar hadits adalah titik kedustaan”.

‘Alauddin bin al-‘Aththar (mazhab Syafi’i) berkata : “Sebagian mereka telah menyebutkan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi di bulan Rajab.Akan tetapi yang demikian tidaklah sahih”.

Seiring tidak diketahuinya secara pasti tanggal dan bulan terjadinya Isra’ Mi’raj, maka tentunya sama sekali tidak tepat jika pada bulan Rajab diadakan perayaan Isra’ Mi’raj.Bahkan lebih dari itu, tidak ada tuntunan Islam secara mutlak yang mengajarkan perayaan Isra’ Mi’raj, baik di bulan Rajab maupun di bulan-bulan lainnya.Islam yang diajarkan Nabi dan dijalani generasi terbaik umat ini hanya mengenal 2 perayaan dalam setahun, yaitu : Idul Fithri dan Idul Adha, tidak ada perayaan tahunan yang ketiga.

Perayaan yang tidak ada tuntunannya ini tidak jarang semakin diperburuk dengan adanya perkara-perkara yang jelas diharamkan oleh Islam, seperti : lantunan suara wanita yang mendendangkan lafazh-lafazh pujian dengan iringan alat musik, tidak adanya tabir atau pembatas yang memenuhi ketentuan syariat untuk memisahkan jamaah pria dan wanita hingga terjadi campur baur antara pria dengan wanita yang bukan mahram atau melihat lawan jenis meski tanpa syahwat dan kadang juga tampilnya dai wanita yang berceramah di hadapan jamaah pria.

Wallahu a’lamu bish-Shawab

( Sebagian pembahasan dipetik dari khutbah tertulis yang disampaikan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Junaid al-Qurasyi hafizhahullah di situs www.alakhdr.com dengan beberapa penyesuaian )