Demonstrasi bukan solusi

Setiap perkara yang bertentangan dengan bimbingan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pasti akan berbuah petaka dan musibah. Cepat atau lambat. Allah Jalla Wa ‘Alaa telah mengingatkan melalui firman-Nya (artinya) : “Maka hendaknya orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul itu takut akan ditimpa kejelekan atau ditimpa azab yang pedih.” (Surah an-Nur : 63).

Kehinaan dan kerendahan akan mereka rasakan, sebagaimana Rasul bersabda (artinya) : “…Dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi perintahku…” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh al-Imam al-Albani).

Tentu berita dari Allah dan Rasul-Nya ini memiliki pengaruh besar pada setiap dada orang yang mendahulukan wahyu di atas akal pikiran, perasaan maupun adat. Itulah sifat dan sikap seorang mukmin sejati.

Salah satu perkara dan cara yang jelas bertentangan dengan bimbingan Islam yang dibawa oleh Rasul penebar rahmat bagi alam semesta adalah demonstrasi, sekalipun dikesankan sebagai bentuk peduli terhadap bangsa. Demikian ini karena beberapa hal, diantaranya :

  1. Demonstrasi merupakan kebiasaan dan produk kebebasan orang-orang kafir, sedangkan kita dilarang untuk menyerupai kebiasaan dan pola pikir buruk mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “…Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani) Poin ini harus benar-benar dijadikan patokan, sehingga demonstrasi yang tidak menuntut penggulingan penguasa atau demonstrasi yang dilakukan dengan cara damai sekalipun tetap bertentangan dengan Islam. 
  2. Kenyataannya, tidak jarang demonstrasi akan menimbulkan pelanggaran terhadap harta, kehormatan bahkan darah tanpa hak. Rasa aman pun hilang berganti rasa takut. Tentu ini sangat jelas bertentangan dengan nilai-nilai luhur Islam. Demonstrasi yang mengorbankan jiwa maupun harta lalu terpenuhinya tuntutan kepada pemerintah bisa jadi di satu sisi akan mendatangkan keuntungan. Namun di sisi lain, kerugian dan keburukan yang akan muncul justru jauh lebih besar dan berlarut-larut. Demikian ini karena seorang mukmin yakin bahwa menyelisihi dan melanggar bimbingan Allah dan Rasul-Nya pasti akan berbuah petaka dan musibah.

Menasehati Pemerintah Yang Benar-benar Melakukan Kesalahan

Sebagaimana kita ketahui, pemerintah negara kita terdiri dari 3 cabang , yaitu :

  1. Legislatif yang terdiri dari MPR, DPR dan DPD.
  2. Eksekutif yang dipegang oleh Presiden.
  3. Yudikatif yang terdiri dari Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi.

Terlepas adanya perbedaan pandangan di dalam tubuh pemerintahan sendiri dalam menilai suatu rancangan Undang-undang, Islam telah membimbing umatnya untuk menasehati pemerintah jika memang benar-benar melakukan kesalahan. Hal itu karena agama Islam adalah nasehat. Tidak boleh suatu kesalahan yang dilakukan oleh siapa pun dibiarkan dan didiamkan, apalagi dibela. Hanya saja cara menasehati pemerintah bukanlah dengan unjuk rasa atau demonstrasi. Semestinya yang dilakukan adalah :

  1. Adanya sebagian orang yang shalih, berilmu dan bijak yang menasehati pemerintah, apalagi jika ada pada sebagian elemen pemerintah saling memberikan nasehat. Dengan demikian, bukan setiap masyarakat hingga berjumlah ribuan yang menasehati pemerintah dalam bentuk demonstrasi atau unjuk rasa.
  2. Menasehati pemerintah atau penguasa tidak secara terang-terangan yang dapat diketahui publik masyarakat.
  3. Tidak memaksakan kehendak. Jika pemerintah menerima nasehat, maka itulah yang diharapkan. Namun jika tidak, maka kewajiban bagi rakyat adalah bersabar dan mendoakan hidayah bagi pemerintah. Sungguh ketiga poin ini jelas menunjukkan kesantunan ajaran Islam !

Yang kita sebutkan di sini – sekali lagi – adalah penguasa atau pemerintah yang memang benar-benar melakukan kesalahan menurut timbangan syariat, bukan hanya karena disinyalir tidak sesuai dengan kehidupan demokrasi yang sejatinya sarat dengan misi kebebasan sekalipun jelas bertentangan dengan rambu-rambu syariat.

Mengapa Kita Tidak Mengambil Bimbingan Dari Seorang Utusan Allah ?

Para pembaca yang semoga Allah membimbing kita kepada ketaatan, keberadaan penguasa yang tidak memenuhi hak rakyat, tidak adil atau bahkan kejam sekalipun sebenarnya telah ada di masa lalu. Apalagi apa yang ada pada penguasa kita tidaklah seberapa dibandingkan keburukan yang ada pada sebagian penguasa di masa lalu. Tentu kita sangat tahu bagaimana kejam, bengis dan sombongnya Fir’aun di masa Nabi Musa ‘alaihi as-Salam. Al Qur’an dengan sangat gamblang menceritakan sepak terjang Fir’aun dan bala tentaranya. Namun seiring itu, Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihima as-Salam tidak pernah sedikit pun diperintah oleh Allah untuk memobilisasi Bani Israil berunjuk rasa memprotes perilaku Fir’aun yang sudah sangat kelewat batas. Justru Allah memerintah :

1) Agar Nabi Musa dan Nabi Harun menasehati Fir’aun dengan cara lembut. Allah berfirman (artinya) : “Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lembut. Semoga ia bisa ingat dan takut”. (Surah Thaha : 44) Adakah penguasa kita yang sezalim dan secongkak Fir’aun ?! Bisakah tuntutan dalam demonstrasi itu diungkapkan dengan kata-kata lembut dan santun, terlepas demonstrasi itu sendiri zatnya sudah bertentangan dengan syariat ?!

2) Ternyata Fir’aun tetap dalam kesombongannya dan terus berbuat kezaliman. Lalu apa perintah Allah kepada Nabi Musa ? Apakah Allah memerintah beliau untuk melakukan unjuk rasa dan melakukan kekerasan ? Allah berfirman (artinya) : “Musa berkata kepada kaumnya : “Mintalah tolong kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini milik Allah yang Dia peruntukkan kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya. Kesudahan baik itu bagi orang-orang yang bertakwa”. (Surah al-A’raf : 128) Demikian inilah yang juga diperintahkan oleh Nabi kita. Dari Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, berkata : “Kami berkata : “Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepada anda tentang ketaatan kepada penguasa yang bertakwa. Akan tetapi tentang penguasa yang melakukan ini dan itu (Adi menyebutkan kejelekan)”. Maka beliau menjawab : “Bertakwalah kalian kepada Allah. Dengar dan taatilah dia !” (Dishahihkan oleh al-Albani)

Dengan kesabaran dan terus menerus berdoa agar Allah memberikan hidayah kepada penguasa atau pemerintah merupakan solusi sekaligus kepeduliaan. Suatu saat Allah akan memberikan hidayah kepada penguasa atau Allah ganti dengan penguasa yang baik. Ketahuilah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah menegaskan (artinya) : “…bertakwalah kalian kepada Allah dan bersabarlah karena sesungguhnya perkaranya adalah dekat.” (Dikatakan sanadnya jayyid oleh al-Albani).

Solusi atau jalan keluar itu sebenarnya dekat jika manusia mau mengikuti bimbingan Allah dan Rasul-Nya !

Harapan Di Balik Kesabaran Menghadapi Kezaliman Penguasa Atau Pemerintah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Kalian akan menjumpai adanya penguasa yang memperkaya diri sepeninggalku. Bersabarlah kalian hingga kalian menjumpai diriku di telaga al-Haudh.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Di dalam riwayat lain : “…dan janji bagi kalian adalah telaga al-Haudh.”

Inilah harapan yang mulia yang tidak ada tujuan duniawi di balik sikap bersabar menghadapi keburukan penguasa atau pemerintah.

Bukankah Semestinya Kita Berintrospeksi Diri (Muhasabah an-Nufus) ?

Perlu diketahui bahwa musibah itu terjadi karena sebab, salah satunya adalah dosa. Keberadaan penguasa atau pemerintah yang berbuat jelek merupakan musibah bagi rakyat. Penyebabnya adalah dosa yang dilakukan oleh rakyat itu sendiri. Allah berfirman (artinya) : “Dan demikianlah Kami (Allah) menjadikan sebagian orang zalim sebagai penguasa atas sebagian yang lain karena apa yang mereka perbuat.” (Surah al-An’am : 129).

Penerjemahan ayat di atas merupakan salah satu penerjemahan yang sengaja kami kutip karena sesuai dengan materi bahasan kali ini. Al-Imam Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata : “Dan diantara hal itu bahwa manusia jika banyak kezaliman dan kerusakan mereka, menolak untuk menunaikan hak-hak orang lain yang wajib ditunaikan, maka orang-orang zalim akan menjadi penguasa mereka. Penguasa yang akan menyiksa mereka. Penguasa yang merampas harta milik mereka melebihi apa yang dahulu mereka tolak untuk menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia dalam keadaan manusia tidak memperoleh pahala maupun berharap pahala. Sebagaimana pula, bahwa manusia jika baik dan lurus, maka Allah perbaiki keadaan para penguasa mereka. Allah jadikan para penguasa yang adil, bukan penguasa yang zalim dan lalim…” (Tafsir as-Sa’di)

Nabi pun telah memberitakan (artinya) : “…Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan ditimpa kekeringan, kesulitan bahan pangan dan kejahatan penguasa atas mereka…” (Dihasankan oleh al-Imam Muqbil al-Wadi’i).

Kalau kita cermati ayat dan hadits di atas, maka kita mengetahui bahwa penguasa atau pemerintah yang jelek merupakan akibat, sedangkan sebabnya justru adalah rakyat yang jelek. Maka semestinya sebab inilah yang hendaknya diperbaiki lebih dulu agar akibatnya menjadi baik. Toh, penguasa atau pemerintah itu tidak lain berasal dari rakyat juga. Jika direnungi lebih lanjut, kejelekan yang ada pada penguasa atau pemerintah tidaklah melebihi kejelekan yang ada pada rakyat. Korupsi dan penyalahgunaan wewenang bukan hanya terjadi pada kalangan tingkat atas. Di kalangan menengah dan bawah pun terasa biasa adanya praktek yang sama meski jumlah nominal berbeda. Bahkan korupsi yang sangat buruk itu sebenarnya tidaklah sebanding dengan bahaya kesyirikan yang merupakan sebab terbesar kehancuran suatu bangsa. Belum lagi ditambah kebid’ahan dan kemaksiatan yang semua itu marak sekali di tengah masyarakat kita. Tidakkah kita mulai dari introspeksi diri kita lalu banyak meminta ampun dan mendekatkan diri kepada Allah ? Menyadari bahwa banyaknya musibah menimpa diri kita tidaklah lepas dari perbuatan dosa kita. Semoga dengan itu Allah menghilangkan musibah dan menggantinya dengan kenikmatan. Allah berfirman (artinya) : “Maka aku (Nabi Nuh) katakan : “Hendaklah kalian meminta ampun kepada Rabb kalian karena sesungguhnya Dia itu Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat. Dia akan memperbanyak harta dan anak serta akan menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai.” (Surah Nuh : 10-12).

Wallahu a’lamu bish-Shawab