Dituliskannya Kebaikan & Keburukan

بِسمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dituliskannya Kebaikan & Keburukan

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Tabaraka Wa Ta’ala bahwa beliau bersabda (artinya) : “Sesungguhnya Allah telah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Lalu Dia (Allah) menjelaskan hal tersebut : “Barangsiapa bertekad mengerjakan suatu kebaikan namun ternyata ia tidak mengerjakannya, maka Allah tuliskan baginya 1 kebaikan sempurna di sisi-Nya. Barangsiapa bertekad mengerjakan suatu kebaikan lalu ia mengerjakannya, maka Allah tuliskan baginya 10 kebaikan, 700 kali lipat kebaikan hingga kelipatan yang banyak. Apabila terlintas pada kalbunya suatu keburukan namun ia tidak mengerjakannya, maka Allah tuliskan baginya 1 kebaikan sempurna di sisi-Nya. Apabila terlintas pada kalbunya suatu keburukan lalu ia mengerjakannya, maka Allah tuliskan baginya 1 kejelekan.”(HR.al-Bukhari dan Muslim)

Dari hadits yang mulia ini, kita dapat mengetahui 4 keadaan manusia ketika kalbunya dihadapkan pada kebaikan maupun keburukan :

1️⃣
Kalbu yang dihadapkan pada tekad kebaikan namun tanpa mengerjakannya, maka ia mendapatkan 1 kebaikan (pahala).
2️⃣
Kalbu yang dihadapkan pada tekad kebaikan lalu mengerjakannya, maka ia mendapatkan 10 pahala, 700 kali lipat pahala hingga kelipatan pahala yang banyak.
3️⃣
Kalbu yang dihadapkan pada keburukan namun tanpa mengerjakannya, maka ia mendapatkan 1 pahala.
4️⃣
Kalbu yang dihadapkan pada keburukan lalu mengerjakannya, maka ia mendapatkan 1 dosa.

Selanjutnya kami jelaskan masing-masing dari 4 keadaan tersebut sebagai berikut :

Bertekad Melakukan Kebaikan Namun Tanpa Melakukannya

Hadits di atas memakai lafazh “bertekad” sehingga dikecualikan dari ini adalah apa yang terlintas pada kalbu (hati). Sekedar apa yang terlintas pada kalbu adalah sesuatu di luar kemampuan hamba sehingga tidak berakibat pahala maupun dosa.

Adapun maksud lafazh “tanpa melakukannya” : Ada sesuatu yang menghalangi dirinya hingga tidak melakukan kebaikan tersebut dalam keadaan tekad melakukan kebaikan masih ada pada kalbunya. Maka dirinya mendapatkan 1 pahala, apalagi jika ia menyesal tidak dapat melakukan kebaikan tersebut.

Apabila tekad tersebut diungkapkan dengan lisan atau usaha berbuat meski belum sampai berbuat, maka pahala yang didapatkan sama dengan orang yang melakukan kebaikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bercerita tentang seorang hamba yang diberi ilmu dan harta lalu ia gunakan untuk kebaikan. Kemudian beliau bercerita tentang hamba lain yang diberi ilmu namun tidak diberi harta, lalu ia berkata : “Kalau seandainya aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti amalan si fulan itu (yaitu : menggunakan hartanya untuk kebaikan).” Lantas beliau (Nabi) mengatakan bahwa ia dengan niatnya ini sama pahalanya dengan si fulan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Barangsiapa berwudhu lalu keluar berniat menuju masjid namun ternyata mendapati manusia telah usai shalat, maka Allah catat baginya semisal pahala orang yang menghadiri shalat berjamaah dan tidak berkurang sedikit pun dari pahala mereka.” (HR.Abu Dawud dan an-Nasa’i yang disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani).

Bertekad Melakukan Kebaikan Lalu Melakukannya

Hadits di atas menyebutkan 3 tingkatan pahala bagi seseorang yang bertekad berbuat baik lalu mengerjakannya, yaitu :

  1. 10 kebaikan (pahala). Ini adalah suatu kelaziman dan janji dari Allah. Allah Ta’ala tidak akan menyelisihi janjinya.
  2. 700 kali lipat pahala. Ini dan yang ke-3 (c) sesuai dengan kehendak Allah. Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki dan tidak semua orang yang berbuat baik mendapatkan kelipatan ini.
  3. Kelipatan pahala yang sangat banyak. Besarnya kelipatan pahala disebabkan karena beberapa hal, diantaranya : tingkat keimanan, keikhlasan dan ittiba’ (mencocoki sunnah Rasul dalam beramal) pada diri seseorang yang berbuat baik.

Terlintas Pada Kalbu Melakukan Keburukan Namun Tanpa Melakukannya

Manakala seseorang terlintas kalbunya melakukan keburukan namun tanpa melakukan keburukan tersebut karena takut kepada Allah, maka inilah yang dimaksud dalam hadits ini. Hal ini berdasar hadits sahih yang lainnya (artinya) : “…Jika ia meninggalkan kejelekan itu, maka tulislah (wahai, para malaikat) baginya 1 kebaikan. Hanyalah ia meninggalkan keburukan tersebut karena Aku.”

Adapun kalau ia meninggalkan keburukan tersebut bukan karena Allah tetapi karena takut kepada manusia atau mengharap pujian, maka dikatakan bahwa ia berdosa. Hal ini dikarenakan ia mendahulukan takutnya kepada makhluk di atas takutnya kepada Allah dan itu hukumnya haram.

Demikian pula jika ia terlintas kalbunya berbuat buruk lalu ia ungkapkan dengan ucapan atau bahkan telah menempuh usaha untuk itu tapi ternyata mengalami kegagalan, maka ia berdosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bercerita tentang seorang hamba yang diberi harta namun tidak diberi ilmu lalu ia gunakan hartanya untuk keburukan. Kemudian beliau bercerita tentang hamba lain yang tidak diberi ilmu dan tidak pula harta, lalu ia berkata : “Kalau seandainya aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti amalan si fulan itu (yaitu : menggunakan hartanya untuk keburukan).” Lantas beliau (Nabi) mengatakan bahwa ia dengan niatnya ini sama dosanya dengan si fulan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga menyatakan bahwa jika 2 muslim bertemu dengan kedua pedangnya, maka yang membunuh dan yang dibunuh semuanya masuk neraka. Yang dibunuh juga masuk neraka karena ia telah menempuh usaha membunuh saudaranya se-islam sekalipun mengalami kegagalan.

Berbeda halnya dengan seseorang yang terlintas kalbunya melakukan keburukan lalu ia tidak melakukannya karena muncul kejenuhan atau hilang begitu saja. Keadaan seperti ini tidak mendatangkan pahala dan tidak pula dosa, karena dirinya tidak melakukan keburukan bukan karena takut kepada Allah dan bukan pula karena menempuh usaha lalu gagal.

Faedah

Apabila sebuah keburukan ditanam dan dipelihara oleh seseorang di dalam kalbunya, maka hal itu akan mendatangkan dosa baginya sekalipun tidak ia ungkapkan dengan ucapan atau perbuatan. Hal ini berdasarkan beberapan dalil, diantaranya : Firman Allah Ta’ala (artinya) : “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…”(Al Hujurat : 12).

Telah dimaklumi bahwa prasangka buruk (su’uzhan) tanpa alasan yang kuat itu adalah salah satu keburukan yang berada di dalam kalbu (hati). Demikian ini (dituliskannya dosa) juga berlaku pada keburukan-keburukan lain yang memang ditanam dan dipelihara di dalam batin, semisal : mencintai apa yang dibenci oleh Allah, membenci apa yang dicintai oleh-Nya, sombong, ujub (bangga diri) atau hasad (dengki). Bahkan ada keburukan pada kalbu yang dapat menjadikan seseorang kafir atau murtad, semisal : tertanamnya keraguan terhadap keberadaan Allah, kebenaran Al Qur’an, Islam adalah satu-satunya agama yang benar atau Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah utusan Allah terakhir, meskipun tidak diungkapkan dengan ucapan.

Keadaan ini tentu berbeda dengan seseorang yang terlintas dalam benaknya suatu keburukan yang dia mengingkarinya lalu berusaha menepisnya. Justru yang demikian ini merupakan keimanan yang murni dan hendaknya ia segera berlindung kepada Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Syaithan datang kepada salah seorang diantara kalian lalu berkata : “Siapa yang menciptakan ini ? Siapa yang menciptakan ini ?” Hingga ia berkata : “Siapa yang menciptakan Rabbmu ?” Jika hal itu menimpa salah seorang diantara kalian, maka berlindunglah kepada Allah dan tepislah (bisikan tadi).” (HR.al-Bukhari.Lihat Shahih Muslim).

Pernah beberapa sahabat Nabi datang dan berkata : “Kami mendapati pada kalbu kami sesuatu yang kami ingkari untuk kami katakan.” Maka Nabi memastikan : “Apakah kalian mendapati hal itu ?” Mereka pun menjawab : “Ya.” Lantas beliau mengatakan : “Itulah keimanan yang murni.”(HR.Muslim)

Terlintas Pada Kalbu Melakukan Keburukan Lalu Melakukannya

Seseorang yang keadaannya seperti ini akan Allah catat baginya 1 kejelekan (dosa), tidak dilipatgandakan jumlahnya. Perhatikan, wahai saudaraku ! Bandingkan dengan keadaan seseorang yang bertekad melakukan kebaikan lalu ia mengerjakannya ! Allah mencatat baginya 10 pahala, 700 kali lipat hingga kelipatan yang banyak. Ini menunjukkan keadilan Allah manakala seorang hamba berbuat dosa dan kemurahan-Nya ketika seorang hamba berbuat baik.

Ibnu Baththal rahimahullah berkata : “Di dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang keutamaan Allah yang agung kepada umat ini. Kalau bukan karena itu, maka hampir-hampir tidak ada seorang pun yang dapat masuk al-Jannah disebabkan perbuatan buruk hamba-hamba itu lebih banyak dibandingkan perbuatan baik mereka.”

Akan tetapi dosa ini bisa bertambah kualitasnya jika dilakukan di waktu yang memiliki kehormatan semisal : 4 bulan haram (Muharram, Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah), di tempat yang mulia semisal : Makkah atau jika pelaku dosa tersebut ternyata orang yang dikenal sebagai orang salih.

Para ulama berkata bahwa kebaikan dan keburukan itu dilipatgandakan jika dilakukan di setiap waktu dan tempat yang memiliki keutamaan. Hanya saja (bedanya) kebaikan itu dilipatgandakan kuantitasnya (jumlah), sedangkan keburukan itu dilipatgandakan kualitasnya bukan kuantitasnya.

Sejumlah sahabat Nabi menghindar dari menetap di Makkah karena takut melakukan dosa di dalamnya. Diantara mereka adalah Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhum.

Wallahu a’lamu bish-Shawab

Posted in BULLETIN JUMAT | Tagged , , , , | Comments Off on Dituliskannya Kebaikan & Keburukan

Comments are closed.