Harapan Menggapai Kebahagiaan Di Akhirat

بِسمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Harapan Menggapai Kebahagiaan di Akhirat

Para pembaca rahimakumullah, telah berlalu bulan Ramadhan dengan begitu cepat, dan ini merupakan sunnatullah (ketetapan Allah Ta’ala) pada makhluk-Nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam memberitakan bahwa cepatnya waktu berjalan termasuk diantara tanda-tanda hari kiamat, sebagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Tidak akan tegak hari kiamat sampai zaman ini berdekatan (waktu berjalan dengan cepat), sehingga satu tahun seperti satu bulan, satu bulan seperti satu Jum’at (pekan), satu Jum’at seperti satu hari, satu hari seperti satu jam dan satu jam seperti terbakarnya pelepah pohon kurma.” (H.R. Ahmad dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan dihasankan oleh asy-Syaikh Muqbil).

Sungguh apa yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam benar-benar telah kita rasakan. Hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan, tahun demi tahun berlalu dengan begitu cepat dan tidak akan kembali lagi. Dia (waktu yang berlalu) akan hilang dan sirna seperti keadaan dunia ini yang kita tinggal padanya. Dia akan sirna dengan cepat dan tidak akan kembali lagi. Juga hal ini (cepatnya perjalanan waktu) memberikan pelajaran dan nasehat kepada kita bahwa umur kita ini akan habis kemudian kita akan mati dan kembali kepada Allah Ta’ala. Bukankah ketika kita melihat bulan, ia muncul di awal bulan dalam keadan sangat kecil (bulan sabit) kemudian membesar dan terus membesar sehingga sempurna menjadi bulan purnama kemudian setelah itu mengecil dan terus mengecil sampai kemudian hilang ?! Demikian keadaan kita, Allah Ta’ala mengeluarkan kita dari perut ibu-ibu kita sebagai seorang bayi yang mungil yang tidak tahu apa-apa kemudian Allah memberikan kepada kita penglihatan, pendengaran dan hati (kalbu) lalu kita tumbuh menjadi besar sampai sempurna keadaan kita, setelah itu berkurang dan semakin lemah hingga akhirnya hilang dan sirna (mati). Maka ini adalah pelajaran dan sekaligus nasehat untuk kita tidak tertipu dengan kehidupan dan gemerlapnya dunia dan lupa dengan akherat. Sungguh sangat merugi seseorang yang tertipu dengan kehidupan dunia ini dan lupa dengan akheratnya. Sungguh dunia ini sangat rendah dan hina jika dibandingkan dengan akhirat.

Dunia yang kita hidup padanya dinamakan dunia karena 2 sebab :

Pertama : Dunia lebih dekat daripada akhirat, karena memang dunia itu lebih dahulu daripada akhirat. Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Dan sungguh akhirat itu lebih baik bagimu daripada permulaan.” (QS. Adh Dhuha : 4).
Kedua : Bahwa dunia itu rendah lagi hina tidak bisa dibandingkan dengan akhirat sedikit pun. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Sungguh tempat cambuk salah seorang dari kalian di surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. al-Bukhari dari sahabat al-Mustaurid bin Syaddad radhiyallahu ‘anhu)
Dalam hadits yang lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Dua rakaat fajar (dua rakaat sebelum shalat Subuh) itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Sungguh keduanya (dua rakaat sebelum shalat Subuh) itu lebih aku cintai daripada dunia seluruhnya.
Dalam hadits yang lain, beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Didatangkan (pada hari kiamat) seseorang yang paling nikmat kehidupannya (dahulu) di dunia dari kalangan penduduk neraka. Kemudian ia dicelupkan ke dalam neraka dengan sekali celupan. Lalu dikatakan kepadanya : “Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kenikmatan ?” Maka ia berkata : “Tidak, demi Allah ! (Aku tidak pernah merasakan kenikmatan sedikit pun).” (HR. Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).

Inilah dunia, rahimakumullah. Sungguh ia sangat sedikit dan rendah dibandingkan akhirat. Bahkan ia lebih hina daripada bangkai seekor kambing yang putus kedua telinganya. Sehingga sungguh sangat merugi di dunia maupun akhirat, seseorang yang mengetahui keadaan dan nilai dunia kemudian tertipu dengannya serta menyibukkan dirinya dengan dunia lupa dengan akhiratnya !

MUKMIN YANG CERDAS

Para pembaca rahimakumullah, setelah Allah Ta’ala menyebutkan keadaan dunia, Dia pun berfirman (artinya) : “Berlomba-lombalah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang telah disediakan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Hadid : 21).

Al-Imam Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata : “Kemudian Allah memerintahkan untuk berlomba-lomba mendapatkan ampunan, keridhaan dan surga-Nya. Hal itu dengan menempuh sebab-sebab ampunan berupa taubat yang sebenar-sebenarnya, memperbanyak istighfar yang bermanfaat, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, saling berlomba mendapatkan ridha Allah dengan amal saleh dan bersemangat di atas apa yang Allah ridhai secara terus menerus dengan berlaku ihsan dalam beribadah kepada Al Khaliq dan berlaku ihsan kepada hamba-hamba Allah dengan berbagai macam jenis kemanfaatan.” (Tafsir as-Sa’di)

Dan juga firman Allah (artinya) : “Dan bergegaslah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali Imran : 133).

Demikianlah seharusnya seorang hamba untuk dia mengenali hakekat dan nilai dunia ini sehingga tidak tertipu dengannya yang akhirnya menjadi orang-orang yang merugi di dunia dan akhirat. Seorang hamba yang mengenali hakekat dan nilai dunia kemudian dia beramal di dunia ini dengan amalan saleh berarti dunia ia jadikan sebagai tempat bercocok tanam (mazra’ah al-akhirah) yang hasilnya akan ia petik di akhirat. Maka lihatlah, wahai saudaraku rahimakumullah ! Apa yang engkau tanam di dunia ini untuk akhiratmu ? Jika engkau menanam kebaikan di dunia ini maka bergembiralah dengan memuji Allah atas hasil yang engkau ridhai berupa kenikmatan yang sempurna dan kekal abadi. Namun jika sebaliknya, engkau menanam kejelekan di dunia ini maka sungguh janganlah engkau menyalahkan kecuali dirimu sendiri atas kerugian teramat besar di dunia maupun akhirat.

Al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah memberikan gambaran kepada kita tentang dunia ini dan bagaimana sikap seorang hamba yang cerdas dalam menyikapi dunia ini melalui bait syair :
“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas. Mereka meninggalkan dunia dan takut terhadap fitnahnya Mereka melihatnya (dunia), maka tatkala mereka mengetahui bahwa dunia bukan tempat tinggal yang tetap Mereka menjadikannya sebagai lautan yang luas dan mereka menjadikan amal saleh sebagai perahunya” (Muqaddimah Riyadh ash-Shalihin)

Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, berkata : “Aku pernah duduk bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, kemudian datang seseorang dari kalangan Anshar, lalu dia bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam : “Wahai Rasulullah, siapakah mukmin yang paling utama ?” Beliau menjawab : “Yang paling bagus akhlaknya”. Lalu orang tadi bertanya lagi : “Siapakah mukmin yang paling cerdas ?” Beliau menjawab : “Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah dan dihasankan asy-Syaikh al-Albani).

Ali bin Abi Thalib radhiyallallahu ‘anhu berkata : “Dunia telah pergi berpaling dan akhirat datang menghadap dan setiap dari keduanya memiliki pengikut-pengikut, maka jadilah kalian pengikut akhirat dan janganlah kalian menjadi pengikut dunia. Hari ini adalah waktunya untuk beramal dan tidak ada hisab (perhitungan). Besok (akhirat) adalah waktunya hisab dan tidak ada lagi beramal.” (Shahih al-Bukhari)

Sebagian Ahli Hikmah berkata : “Aku merasa heran terhadap orang yang dunia telah meninggalkannya dan akhirat mendatanginya ternyata dia sibuk dengan sesuatu yang telah meninggalkannya dan berpaling dari sesuatu yang datang kepadanya.”

Maka seorang mukmin yang cerdas tidaklah tertipu dengan dunia ini bahkan bersegera untuk beramal saleh dan beribadah kepada Allah, tidak menunda-nundanya. Betapa banyak amal saleh yang datang kepada kita kemudian tertolak karena adanya penghalang : “Mungkin besok atau akan datang saja aku akan beramal.” Akhirnya dia tidak jadi beramal dikarenakan sakit, tidak ada kesempatan, kemampuan atau bahkan datang tiba-tiba kematian padanya. Oleh karena itu bersegeralah dalam beramal saleh, manfaatkan waktumu dengan sebaik-baiknya di siang maupun malam hari.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata : “Manfaatkanlah waktumu setiap harinya, semoga Allah Ta’ala mengeluarkan dirimu dari hari tersebut sebagai orang yang selamat. Demikian pula manfaatkan setiap malam yang berlalu darimu, semoga Allah Ta’ala mengeluarkanmu dari malam tersebut dalam keadaan selamat. Waspadalah engkau dari menyia-nyiakan waktu karena hal itu lebih berbahaya bagimu daripada kematian”.

Ibnul Qayyim rahimahullah : “Menyia-nyiakan waktu itu lebih berbahaya daripada kematian karena menyia-nyiakan waktu itu memutus hubunganmu dengan Allah Ta’ala dan negeri akhirat. Adapun kematian hanya memutus hubunganmu dengan dunia dan manusia.” (Al Fawaid)

Selain itu, berhati-hatilah engkau dari berbuat maksiat terhadap Allah Ta’ala melebihi kehati-hatianmu terrhadap musuhmu karena sungguh kemaksiatan akan menghancurkan dan membinasakanmu di dunia maupun akhirat. Sungguh Allah mengawasimu melalui para malaikat-Nya yang mereka mengetahui segala apa yang kalian lakukan. Hendaknya kalian berbuat baik dan merasa malu kepada Allah ketika kalian berbuat kemaksiatan. Mukmin yang cerdas akan senantiasa memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya untuk meraih kemenangan dan kebahagiaan di akhirat. Dia senantiasa mempersiapkan dirinya untuk menghadapi apa yang yang akan terjadi setelah kematian karena memang setiap insan akan mengalami kematian dan akan kembali kepada Allah lalu akan ditanya oleh Allah untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah ia lakukan di dunia.

Al-Fudhail bin ‘Iyyadh rahimahullah pernah bertanya kepada seseorang : “Berapa umurmu?” Dia menjawab : “60 tahun.” Lantas al-Fudhail berkata : “Engkau sejak 60 tahun yang lalu berjalan menuju Allah Ta’ala dan dikhawatirkan sekarang sudah sampai.” Dia pun berkata : “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya)”. Al-Fudhail kembali berkata : “Apakah engkau mengetahui tafsirnya ? Engkau mengatakan : “Aku adalah hamba milik Allah dan kepada-Nyalah akan kembali.” Barangsiapa mengetahui bahwa dia adalah hamba milik Allah dan kepada-Nya dia akan kembali maka ketahuilah bahwa dia akan berdiri dihadapan Allah. Barangsiapa mengetahui bahwa dia akan berdiri dihadapan Allah maka ketahuilah dia pasti akan ditanya dan barangsiapa mengetahui dia akan ditanya maka hendaknya dia menyiapkan jawabannya.” Kemudian orang tadi bertanya : “Apa jawabannya agar aku terbebaskan dari kesulitan ?” al-Fudhail menjawab : “Jawabannya mudah.” Dia bertanya : “Apa itu?” al-Fudhail menjawab : “Engkau berbuat baik pada sisa-sisa umurmu, niscaya akan diampuni dosa-dosamu yang telah lalu. Jika engkau berbuat kejelekan pada sisa-sisa umurmu, niscaya engkau akan disiksa dengan sebab dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang.”(Jami’ al-‘Ulum Wa al-Hikam)

Wallahu a’lamu bish-shawab wabillahi at-taufiq