Inilah Aqidah asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Inilah Aqidah asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah

            Sejak dahulu kala hingga sekarang, beliau terus menjadi bahan celaan sebagian manusia hingga melekat erat istilah Wahabi pada beliau dan pengikut dakwah beliau.Tidaklah yang mencela beliau kecuali 1 dari 2 keadaan, yaitu :

1)    Orang yang tidak mengetahui (jahil) terhadap hakikat aqidah (keyakinan) dan dakwah beliau.Jenis orang yang seperti ini dibimbing dan diarahkan dengan kelembutan.

2)    Orang yang telah tertanam kedengkian dan kebencian terhadap beliau karena kepentingan bid’ah atau kesesatannya terbongkar dengan munculnya dakwah dan buah dakwah beliau yang tegak di atas prinsip Islam sesungguhnya (Ahlussunnah Wal Jama’ah).Jenis orang yang seperti ini diingatkan dan kaum muslimin diingatkan dari propaganda mereka.

            Sebagai bentuk pembuktian sekaligus pembelaan terhadap salah satu imam besar Ahlussunnah Wal Jama’ah ini, maka berikut ini kami sebutkan sebagian dari pokok keyakinan beliau yang menunjukkan bahwa beliau memang berjalan di atas prinsip aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah :

Beliau Bersaksi Bahwa Beliau Beraqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

 

            Beliau berkata : “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.Aku bersaksi di hadapan Allah, yang hadir bersamaku dari kalangan para malaikat dan juga dihadapan kalian bahwa aku berkeyakinan sebagaimana keyakinan al-Firqah an-Najiyah Ahlussunnah Wal Jama’ah…”

 

Aqidah Beliau Tentang Iman Kepada Allah

 

            Beliau berkata : “…Termasuk iman kepada Allah adalah beriman terhadap apa yang Allah mensifati diri-Nya dengan itu di dalam kitab-Nya dan juga melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi Wasallam, tanpa tahrif (mengubah-ubah) maupun penolakan.Bahkan aku berkeyakinan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidaklah serupa dengan sesuatu apapun dan Dia-lah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.Aku tidak meniadakan apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya.Aku tidak mengubah-ubah kalimat dari tempat-tempatnya.Aku tidak menyeleweng dalam nama-nama dan ayat-ayatNya.Aku tidak bertanya tentang bagaimana hakikat Allah.Aku tidak menyerupakan sifat-sifat Dia Yang Maha Tinggi dengan sifat-sifat makhluk-Nya, karena Dia Ta’ala tidaklah ada satu pun yang sama, yang sepadan, yang sebanding dengan-Nya dan tidak pula Dia layak dikiaskan dengan makhluk-Nya…”

 

            Kita katakan : Apa yang dikatakan beliau adalah aqidah Nabi, para sahabat, para tabi’in, para atba’ at-tabi’in dan para imam 4 mazhab yang tersohor.Apa yang beliau katakan ini menunjukkan tidak benarnya ucapan seseorang yang menuduh bahwa asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya hanya karena menetapkan sifat-sifat Allah, padahal menetapkan sifat Allah tidaklah mesti menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.Kesamaan lafazh pada sifat Allah seperti : wajah Allah, tidaklah kemudian menunjukkan wajah Allah bentuknya sama dengan bentuk wajah makhluk.Antara makhluk saja, wajah kita tentu berbeda dengan wajah binatang.Singkat kata : Allah memiliki sifat sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tidak serupa sedikit pun dengan sifat makhluk-Nya.

 

Aqidah Beliau Tentang Syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam

 

            Beliau berkata : “…Aku beriman terhadap syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Beliau adalah orang pertama yang memberi syafaat dan diberi izin memberikan syafaat.Tidaklah mengingkari syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, melainkan para ahli bid’ah dan sesat.Akan tetapi syafaat itu tidaklah terjadi kecuali dengan izin dan ridha (dari Allah), sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Tidaklah mereka (hamba-hamba shalih) memberikan syafaat (kepada orang lain) kecuali kepada siapa yang diridhai (oleh Allah)”.Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Tidaklah ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin dari-Nya”.Allah Ta’ala juga berfirman (artinya) : “Dan betapa banyak dari para malaikat yang ada di langit ternyata tidak bermanfaat sedikit pun syafaat mereka, kecuali setelah Allah izinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan ridhai”.Dia tidaklah ridha kecuali terhadap tauhid.Dia tidaklah memberi izin kecuali kepada ahli tauhid.Adapun kaum musyrikin, maka tidak ada sedikit pun bagian dari syafaat untuk mereka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Maka tidalah bermanfaat syafaat hamba-hamba yang memberi syafaat kepada mereka (orang-orang kafir musyrik)”.

            Kita katakan : Dari apa yang beliau katakan di atas, maka sangat tidak benar bahwa asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab menolak syafaat secara mutlak.Beliau tidak menetapkan syafaat secara mutlak dan tidak pula menolaknya secara mutlak.Akan tetapi ada rinciannya.Bila yang dimaksud adalah syafaat bagi orang yang bertauhid benar, maka beliau menetapkannya.Namun jika yang dimaksud adalah syafaat bagi orang yang berada di atas kekafiran atau kesyirikan, maka ini yang beliau tolak.Beliau menolak keyakinan bahwa orang yang ada di dalam makam sanggup memberi syafaat kepada seseorang di sisi Allah Ta’ala, semata-mata kedudukan orang yang ada di makam tersebut sebagai wali Allah.

Aqidah Beliau Tentang Karamah Para Wali Allah

 

            Beliau berkata : “…Aku mengakui adanya karamah para wali dan rahasia yang disingkapkan Allah kepada mereka.Hanya saja mereka tidak berhak memiliki hak ketuhanan sedikit pun, tidak diminta dari mereka berupa sesuatu apapun yang tidak sanggup mengabulkannya kecuali Allah”.

 

            Kita katakan : Beliau menetapkan adanya karamah (peristiwa di luar kebiasaan manusia) pada orang yang memang ia adalah wali Allah, bukan sekedar dianggap wali.Wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa.Kita tidak mengingkari adanya wali Allah yang misalnya : bisa terbang di udara atau berjalan di atas air.Namun itu bukan dari usaha belajar dan kemauan dirinya, akan tetapi semata-mata takdir Allah.Maka bisa jadi suatu saat dirinya tidak bisa terbang di udara atau berjalan di atas air lagi karena Allah memang tidak menakdirkan saat itu.Juga, orang yang memiliki karamah tidak mesti lebih mulia dibanding orang yang tidak memiliki karamah.Adapun sesuatu yang di luar kebiasaan manusia yang didapatkan melalui belajar dan ternyata ada pada seseorang yang justru jauh dari sifat keshalihan, maka itu adalah sihir dari syaithan dan bukan karamah (sekalipun dipopulerkan dengan sebutan “karamah wali”).Ironisnya, orang yang seperti ini akhirnya diambil berkahnya (ditabarruki) atau diyakini tahu sebelum terjadi (weruh sadurunge winarah) oleh banyak manusia.Seperti inilah “karamah” dan konsekuensi batil di balik itu yang ditolak oleh asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.   

 

Aqidah Beliau Tentang Vonis Surga atau Neraka Bagi Seseorang

 

            Beliau berkata : “Aku tidak bersaksi untuk seorang pun dari kalangan muslimin dengan vonis surga maupun neraka, kecuali siapa saja yang memang telah dipersaksikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Hanya saja aku berharap kebaikan terhadap pelaku kebaikan dan khawatir terhadap pelaku kejelekan”.

 

            Kita katakan : Aqidah beliau ini meluruskan anggapan sebagian orang bahwa beliau dan dakwah yang beliau tegakkan suka memvonis orang lain masuk neraka karena melakukan kesyrikan atau kebid’ahan.Padahal jelas sekali, beliau tidak memvonis seperti itu, akan tetapi beliau khawatir (sama sekali tidak memastikan) orang yang lahiriahnya melakukan kesyirikan atau kebid’ahan akan masuk neraka.

 

Aqidah Beliau Tentang Sikap Takfir (Mengkafirkan Seseorang)

 

            Beliau berkata : “Aku tidak mengkafirkan seorang pun dari kalangan muslimin karena dosa yang ia lakukan dan tidak pula mengeluarkan orang tersebut dari lingkup keislaman”.

            Kita tegaskan : Beliau bukanlah seseorang yang beraqidah Khawarij teroris yang bermudah-mudahan mengkafirkan kaum muslimin karena dosa besar yang mereka lakukan.Beliau tidak sebagaimana tuduhan sebagian muslimin yang mengatakan bahwa beliau dan dakwah beliau suka mengkafir-kafirkan orang Islam.

Aqidah Beliau Tentang Pemerintah Muslimin

 

            Beliau berkata : “Aku berpandangan wajibnya mendengar dan taat kepada para pemimpin kaum muslimin, baik yang adil maupun yang jahat selama mereka tidak memerintah kepada kemaksiatan.Barangsiapa memegang tampuk kekuasaan, rakyat berkumpul dan ridha di atasnya atau memegang kekuasaan rakyat dengan senjata hingga (akhirnya) menjadi penguasa, maka wajib menaati penguasa tersebut dan haram memberontaknya”.

            Kita jelaskan : Setiap tindakan teror oleh siapa pun kepada pemerintah muslimin, termasuk kepada pemerintah RI bukanlah buah dari bimbingan asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab melalui karya-karya beliau.Bahkan beliau jelas sekali mengatakan wajibnya mendengar dan taat kepada pemerintah dalam setiap perkara yang baik menurut Islam, sekalipun pemerintah tersebut jahat dan zalim.Tidak boleh memberontak mereka.

Aqidah Beliau Tentang Perkara Yang Diada-adakan Dalam Agama

 

            Beliau berkata : “Aku berkeyakinan bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah”.

            Kita nyatakan : Keyakinan beliau ini membantah tuduhan dusta sebagian orang bahwa beliau dan dakwah beliau menciptakan ajaran baru dalam Islam, semata-mata karena tidak sesuai dengan sebagian tradisi masyarakat yang nyata-nyata bertolak belakang dengan Islam sesungguhnya.  

Aqidah Beliau Tentang Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

 

            Beliau berkata : “Aku berpandangan wajibnya amar ma’ruf nahi mungkar sesuatu ketentuan syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang suci”.

 

            Kita pun katakan : Pandangan beliau ini sangat berseberangan dengan tindakan-tindakan anarkhis dalam mengingkari kemungkaran yang terjadi di tengah muslimin.Mengingkari kemungkaran haruslah dibimbing dengan ilmu, bukan semata-mata semangat.

            Akhir kata, semoga Allah membukakan mata hati kita dan saudara-saudara kita terhadap kebenaran dan siapa yang berada di atasnya, sekaligus kebatilan dan siapa sesungguhnya yang berada di atasnya.

Wallahu a’lamu bish-Shawab

 

Catatan : poin-poin aqidah beliau diambil dari kitab Quthuf al-Jani al-Mustathab Syarh Aqidah al-Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab, karya asy-Syaikh Zaid al-Madkhali rahimahullah.