Jawaban Atas Sebuah Alasan : “Kenapa Sahabat Nabi Tak Merayakan Maulid ?”

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Jawaban Atas Sebuah Alasan : “Kenapa Sahabat Nabi Tak Merayakan Maulid ?”

            Jika ada seseorang memaparkan : “Di era para sahabat Nabi dulu tidak ada peringatan seperti ini, lantas kenapa sekarang ada ? Katanya, untuk menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah. Baginya, kecintaan sahabat kepada Rasul sudah terbukti sehingga tidak diadakan peringatan Maulid Nabi. Sahabat-sahabat itu merupakan saksi hidup perjalanan Rasulullah.
Agar kita mengenal Rasul, dari perjalanan hidupnya. Maka perlu mengadakan acara seperti ini. Kalau tidak diadakan acara seperti ini, kapan kita mulai mencintai Nabi”.

            Maka dapat kita katakan :

1)    Perkataan : “Baginya, kecintaan sahabat kepada Rasul sudah terbukti sehingga tidak diadakan peringatan Maulid Nabi…” , dapat kita tanggapi :

Bahwa perkataan tersebut disadari maupun tidak disadari mengandung komentar tidak tepat terhadap para sahabat, dari sisi : kalau seandainya Peringatan Maulid Nabi itu merupakan wujud kecintaan kepada Nabi, maka para sahabat tidak perlu mengadakan peringatan tersebut karena mereka sudah merasa puas dengan selain Peringatan Maulid Nabi sebagai wujud kecintaan kepada Nabi.Tentu sama sekali bukan tipe para sahabat jika merasa puas dengan amalan shalih yang sudah mereka kerjakan, tanpa mengerjakan amalan shalih yang lain (dalam hal ini Peringatan Maulid Nabi).Itu pun (sekali lagi) jika seandainya Peringatan Maulid Nabi memang benar-benar merupakan amalan shalih.Justru sebaliknya, para sahabat adalah sosok-sosok manusia yang paling semangat dan tidak merasa puas dengan suatu amalan shalih, hingga mereka menginginkan amalan shalih yang lain demi meraih pahala sebanyak-banyaknya.Beberapa riwayat yang shahih menunjukkan sebagian sahabat meminta Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam menunjukkan amalan shalih kepada mereka, atau Nabi menawarkan amalan shalih dan para sahabat sangat antusias menyambut tawaran tersebut.Lebih dari itu, pengetahuan mereka tentang agama tidak sekedar sebagai wawasan atau wacana, akan tetapi benar-benar mereka wujudkan dalam bentuk amal nyata.Kesimpulannya : Kalau seandainya Peringatan Maulid Nabi memang benar-benar merupakan amalan shalih yang menunjukkan kecintaan kepada Nabi, niscaya akan diselenggarakan oleh para sahabat Nabi sebagai tambahan amal shalih mereka, yang mereka tidak pernah merasa puas dengan amal shalih yang sudah mereka kerjakan, hingga mereka ingin mengerjakan amal shalih berikutnya demi meraih pahala sebanyak-banyaknya.

2)    Perkataan : “Sahabat-sahabat itu merupakan saksi hidup perjalanan Rasulullah”, dapat kami pahami bahwa para sahabat tidak mengadakan Peringatan Maulid Nabi karena mereka telah hidup bersama Nabi, melihat langsung amaliah Nabi.Maka tidak perlu bagi mereka untuk mengadakan acara dalam rangka memperingati kelahiran Nabi.Jika memang demikian maksud perkataan di atas, maka dapat kita tanggapi :

a)    Kalau memang para sahabat tidak mengadakan Peringatan Maulid Nabi karena mereka merupakan saksi hidup perjalanan Nabi, lantas mengapa para sahabat tidak  menganjurkan generasi manusia setelah mereka yang tidak pernah menjumpai Nabi agar mengadakan Peringatan Maulid Nabi ?! Apa yang menghalangi mereka untuk tidak menganjurkan hal itu, sementara para sahabat adalah generasi yang paling tahu dan semangat tentang kebaikan akherat bagi umat ini ?!

b)    Dipahami dari perkataan pada poin ke-2 di atas, bahwa selain para sahabat yang memang bukan saksi hidup perjalanan Nabi perlu untuk mengadakan acara Maulid Nabi.Lalu mengapa para Tabi’in (murid sahabat), Atba’u at-Tabi’in (murid para Tabi’in), para imam mazhab 4 yang tersohor (al-Imam Abu Hanifah, al-Imam Malik, al-Imam asy-Syafi’i dan al-Imam Ahmad bin Hanbal yang bukan saksi hidup perjalanan Rasul ternyata tidak ada yang menyelenggarakan atau menganjurkan Peringatan Maulid Nabi ?! Bahkan semasa para imam mazhab yang 4 ini hidup, mereka tidak pernah mengenal istilah Peringatan Maulid Nabi.Peringatan Maulid Nabi barulah diadakan pada abad ke-3 lebih atau 4 H oleh para khalifah (penguasa) yang berpemahaman Syi’ah.Sedangkan al-Imam Ahmad bin Hanbal yang merupakan imam mazhab 4 yang terakhir meninggal dunia, beliau wafat pada kisaran tahun 241 H (abad ke-2 H lebih).

3)    Perkataan : “Kalau tidak diadakan acara seperti ini, kapan kita mulai mencintai Nabi”, menunjukkan bahwa perkataan ini tidak memiliki kadar ilmiah apalagi berbobot.Mengapa demikian ? Ya, seakan-akan perkataan ini menunjukkan bahwa Peringatan Maulid Nabi merupakan satu-satunya wujud kita mencintai Nabi dan peringatan itu merupakan awal kita mencintai Nabi.Tentu saja yang demikian sangat tidak tepat.Melaksanakan seluruh perintah Nabi dan menjauhi seluruh larangan Nabi yang sedemikian banyak bentuknya (dengan kata lain, menjalankan Islam secara kaffah) merupakan wujud kecintaan seseorang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Masih terlalu banyak ajaran Nabi yang belum kita pelajari dan kita amalkan.Lantas mengapa sedemikian gigihnya diantara kita melestarikan sebuah acara yang dianggap ibadah, yang ternyata tidak ada contohnya dari Nabi, para sahabat, Tabi’in, Atba’u at-Tabi’in dan para imam mazhab yang 4 ?!

            Demikian sekilas dari apa yang dapat kami sampaikan kepada saudara-saudara kami seiman.Semoga dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.Aamiin…

 

Wallahu a’lamu bish-Shawab