Ketika Datang Kenikmatan & Musibah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Ketika Datang Kenikmatan & Musibah

Tidak sedikit manusia ketika diberi kenikmatan justru terbuai dan terus bermaksiat kepada Allah. Timbullah sifat merasa aman dari azab Allah. Allah menegur manusia yang demikian keadaannya melalui firman-Nya (artinya) : “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami (Allah) kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur ?! Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami kepada mereka di waktu dhuha ketika mereka sedang bermain ?! Apakah mereka merasa aman dari azab Allah yang tidak terduga ?! Tidaklah merasa aman dari azab Allah yang tidak terduga melainkan orang-orang yang merugi.” (Surah Al-A’raf : 97-99)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan ucapan al-Hasan al-Bashri rahimahullah : “Seorang mukmin itu berbuat ketaatan dalam keadaan ia takut (terhadap musibah). Sedangkan seorang yang fajir itu berbuat kemaksiatan dalam keadaan merasa aman (dari musibah).” (Tafsir Ibnu Katsir)

Kenikmatan duniawi semata yang Allah berikan kepada seseorang bukanlah tanda Dia mencintainya. Akan tetapi justru kenikmatan agama berupa iman, itulah tanda Dia mencintai seorang hamba. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “…Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada siapa yang Dia cintai dan tidak Dia cintai. Sesungguhnya Dia tidaklah memberikan keimanan kecuali kepada siapa yang Dia cintai…” (ash-Shahihah 2714)

Demikian pula, kenikmatan duniawi yang Allah berikan kepada seseorang yang bermaksiat kepada-Nya bukanlah tanda Allah membiarkannya begitu saja. Akan tetapi semuanya telah ada waktu yang telah Dia tetapkan. Allah mengingatkan kita semua bahwa suatu negeri akan Dia hancurkan pada waktu yang telah ditentukan, tidak maju atau mundur walau sesaat. Dia berfirman (artinya) : “Dan Kami (Allah) tidaklah membinasakan suatu negeri pun melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan. Tidak ada satu pun umat yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula mengundurkannya.” (Surah Al-Hijr : 4-5)

Juga, itu adalah istidraj (penundaan azab) dari Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Jika engkau melihat Allah memberi dunia kepada seorang hamba di atas kemaksiatan yang ia sukai, maka itu adalah istidraj.” (as-Shahihah 413)

Setelah menyampaikan hadits tersebut, beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam membaca ayat (artinya) : “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami (Allah) pun membukakan semua pintu kesenangan (duniawi) untuk mereka. Hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Maka, ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Surah Al-An’am : 44)

Setelah merasa aman dari azab Allah lalu tiba-tiba datanglah azab tersebut, timbullah sifat berputus asa dari rahmat Allah. Jika demikian keadaan seorang hamba, berarti rentetan keburukan menimpa dirinya. Allah mencela orang yang berputus asa dari rahmat-Nya (artinya) : “(Ibrahim) berkata : “Dan tidaklah berputus asa dari rahmat Rabbnya kecuali orang-orang yang sesat.” (Surah Al-Hijr : 56)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Dosa-dosa besar : Syirik kepada Allah, berputus asa dari hilangnya musibah dari Allah dan berputus asa dari datangnya kenikmatan dari Allah.” (ash-Shahihah 2051)

2 sifat tercela ini (merasa aman dari azab Allah dan berputus asa dari rahmat Allah) merupakan tanda hilang / berkurangnya rasa takut dan harap kepada Allah, padahal keduanya (rasa takut dan harap kepada Allah) merupakan ibadah agung di sisi Allah. Barangsiapa takut kepada Allah di dunia, maka Dia akan memberikan keamanan di akhirat. Namun, barangsiapa merasa aman dari azab Allah di dunia, maka Allah akan beri ketakutan di akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman : “Demi kemuliaan-Ku ! Aku tidak mengumpulkan 2 rasa takut pada hamba-Ku dan tidak pula 2 rasa aman padanya : Jika ia merasa aman dari (azab)-Ku di dunia, maka Aku beri ketakutan kepadanya pada hari kiamat. Namun jika ia merasa takut dari (azab)-Ku di dunia, maka Aku beri keamanan kepadanya pada hari kiamat.” (ash-Shahihah 2666)

Jangan Bersikap Sombong Jika Dinasihati !

Allah menceritakan keadaan sebagian manusia (artinya) : “Dan jika dikatakan kepadanya : “Bertakwalah kepada Allah!”, bangkitlah kesombongan yang menyebabkannya berbuat dosa”. Maka cukuplah baginya neraka jahanam, dan sungguh neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (Surah Al-Baqarah : 206)

Terkait ayat ini, al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa orang ini telah bersungguh-sungguh melakukan kemaksiatan yang ia (kemaksiatan) merupakan bentuk pengrusakan di muka bumi. Dengan sebab kemaksiatan, orang itu merusak tanaman dan binatang ternak. Pertanian, buah-buahan dan ternak binasa dan berkurang berkah karena kemaksiatan. Jika orang ini diperintah untuk bertakwa kepada Allah, maka ia sombong dan gengsi. Orang ini pun mengumpulkan kemaksiatan dan kesombongan. (Diringkas dari Tafsir as-Sa’di)

Tidak jarang ketika dinasihati, seseorang menjawab : “Kamu urusi saja dirimu sendiri !”. Ucapan ini dan semisalnya merupakan ucapan yang paling dibenci Allah. Nabi kita bersabda (artinya) : “…Sesungguhnya ucapan yang paling dibenci oleh Allah adalah ucapan seseorang kepada yang lain : “Bertakwalah kepada Allah !”, lalu ia menjawab : “Urusi saja dirimu sendiri !” (ash-Shahihah 2598 dan 2939)

Orang seperti ini dapat terjatuh ke dalam kesombongan, baik sombong kepada Allah maupun manusia. Betapa buruknya sifat orang ini ! Bukankah beberapa kaum terdahulu berbuat kerusakan di muka bumi lalu menyombongkan diri di hadapan nasihat para Rasul, hingga akhirnya azab menimpa mereka ?!

Dengan demikian, setiap orang yang bermaksiat kepada Allah hendaknya bersegera bertaubat dan jangan terus menerus berbuat dosa. Sungguh azab Allah di dunia ini amat pedih dan tentu saja azab akhirat jauh lebih mengerikan !

Menumbuhkan Harapan Kepada Allah

Musibah tentu merupakan peristiwa yang menyesakkan dada. Namun seorang muslim hendaknya ingat bahwa di balik musibah itu ada banyak hikmah berharga. Bahkan, hikmah tersebut nilainya jauh lebih berharga dibandingkan harta yang lenyap ditelan musibah. Diantara hikmahnya adalah dihapuskannya dosa dan diangkatnya kedudukan di sisi Allah.

Apabila seorang muslim ditimpa musibah dan luput darinya niat meraih pahala bersabar, maka baginya penghapusan dosa. Namun jika ia berniat meraih pahala tersebut di balik musibah yang menimpanya, maka baginya penghapusan dosa sekaligus diangkatnya kedudukan dia di sisi Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau lebih daripada itu, melainkan dicatat baginya kedudukan dan dihapus darinya kesalahan.” (HR. Muslim)

Bahkan kebaikan secara umum dapat ia raih, sebagaimana sabda Nabi (artinya) : “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan kepadanya, maka Dia timpakan musibah kepadanya.” (HR. al-Bukhari)

Semakin besar musibah yang ia alami, semakin besar pula pahala yang ia dapatkan jika bersabar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Sesungguhnya besarnya pahala itu bersama besarnya musibah. Sesungguhnya Allah bila mencintai suatu, maka Dia akan menimpakan musibah kepadanya. Barangsiapa meridhainya, maka baginya keridhaan (Allah). Barangsiapa yang marah, maka baginya kemarahan (Allah).” (HR. at-Tirmidzi dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Jalan keluar dari segala masalah hidup adalah ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Melalui beberapa firman-Nya, Dia menjanjikan (artinya) : “…Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan (juga) Dia akan memberinya rizki dari arah yang tidak ia sangka.”(Surah at-Thalaq : 2-3)

Dalam surat yang sama (artinya) : “…Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Surah At-Thalaq : 4)

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia Maha Mampu memberikan kemudahan hidup, kenikmatan yang besar dan melimpah ruah, sebagaimana Dia juga Maha Kuasa menimpakan kesulitan hidup dan musibah yang sangat dahsyat kepada setiap hamba-Nya. Tinggal bagaimana tingkat usaha seorang hamba untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Allah berfirman (artinya) : “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (Surah Ar-Ra’du : 11)

Musibah Besar Dikaitkan Kezaliman Penguasa, Tepatkah ?

Sebagian manusia beranggapan bahwa musibah besar yang terjadi di suatu negeri sebabnya adalah kezaliman yang dilakukan oleh penguasa negeri tersebut. Entah apa motif yang mendorong munculnya anggapan seperti itu. Tapi yang jelas, kita sebagai muslim haruslah bersikap ilmiah dalam menilai suatu perkara, termasuk musibah, dan itu telah kita ketahui sebagiannya pada edisi yang lalu.

Lalu tepatkah musibah besar itu ada kaitannya dengan kezaliman penguasa ? Menjawab pertanyaan ini, perlu kita ketahui bahwa :

  1. Munculnya penguasa yang zalim itu sendiri merupakan musibah bagi rakyat yang berbuat zalim terhadap sesama. Nabi bersabda (artinya) : “…Tidaklah mereka (suatu kaum) mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan ditimpa kekeringan, kehidupan yang susah dan kezaliman penguasa…” (Shahih al-Musnad Min Dalail an-Nubuwwah 717)
    Jika demikian pernyataan Nabi, maka jelas bahwa kezaliman penguasa justru muncul manakala rakyat itu sendiri yang berbuat zalim. Bahkan musibah berupa kekeringan dan kesulitan hidup juga sebabnya adalah kezaliman rakyat. Apakah tidak sebaliknya, rakyat yang harus berbenah terlebih dulu hingga kelak akan muncul pemimpin yang adil dan Allah akan turunkan berkah terhadap negeri mereka ?!
  2. Perlu sumber informasi yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab untuk menyebutkan suatu kezaliman penguasa, tanpa ada tendensi politik. Berita-berita di media cetak atau elektronik di masa sekarang tentang kezaliman penguasa sangat sarat dengan kepentingan tertentu, sehingga tidak layak dijadikan acuan.
  3. Menyebutkan kezaliman atau aib penguasa di depan kalayak ramai, baik di mimbar, media cetak maupun elektronik, bahkan menggunjing penguasa dalam obrolan santai bukanlah bimbingan Islam yang sebenar-benarnya. Bahkan itu merupakan metode (manhaj) kaum teroris Khawarij sejak awal mula muncul hingga hari ini. Yang benar, justru orang yang berilmu dan bijaklah (bukan setiap rakyat) yang berhak menasihati penguasa, dan itu pun secara diam-diam tanpa diketahui publik. Jika nasihat diterima penguasa, maka itulah yang diharapkan. Namun jika tidak, maka tidak ada paksaan apalagi unjuk rasa atau memberontak dalam tuntunan Islam yang sebenar-benarnya.

Wallahu a’lamu bish-Shawab