Keutamaan Ilmu Syar’i

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Oleh : Ustadz  Abu ‘Abdillah ‘Utsman

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ yang artinya Allah bersaksi dalam keadaan menegakkan keadilan bahwa tiada sesembahan yang benar melainkan Dia, begitu pula para malaikat dan orang – orang yang berilmu. (Ali Imran 18)

Ayat ini mengandung kemuliaan ilmu dan ahlul ‘ilmi dari berbagai sisi, diantaranya :

  1. Dipilih persaksian para ahlul’ilmi dan tidak dipilih dari manusia selain persaksian mereka.
  2. Didampingkan persaksian ahlul’ilmi dengan persaksian Allah ta’ala.
  3. Didampingkan persaksian ahlul’ilmi dengan persaksian para malaikat.
  4. Dari sini terkandung tazkiyah/rekomendasi dan ta’dil/pujian bagi ahlul’ilmi karena Allah tidak akan memilih persaksian dari hamba-Nya melainkan dari orang – orang yang adil.
  5. Penyifatan mereka dengan “ulul ‘ilmi” (ahlul ‘ilmi) ini menunjukkan bahwa ilmu merupakan kekhususan bagi mereka, mereka memang benar – benar berilmu, bukan sesuatu yang diada – adakan.
  6. Allah sengaja bersaksi langsung dengan diri-Nya kemudian  hamba – hamba pilihan-Nya dari kalangan malaikat dan ulama. Maka, yang demikian cukup sebagai keutamaan dan kemuliaan.
  7. Allah mempersaksikan ulama terhadap sesuatu yang paling mulia dan paling agung yaitu persaksian terhadap laa ilaaha illallaah. Zat yang Maha Agung tidaklah memilih persaksian terhadap suatu yang agung melainkan dipilih para mahkluk yang mulia pula.
  8. Allah ta’ala jadikan persaksian ulama sebagai hujjah menghadap orang – orang yang mengingkarinya. Maka, para ulama berada pada kedudukan sebagai dalil dan ayat yang menunjukkan tauhidullah.
  9. Dalam ayat tersebut fi’il atau kata kerja [dalam hal ini kata شَهِدَ disebutkan sekali saja untuk menunjukkan persaksian Allah, malaikat dan para ulama. Hal ini menunjukkan kaitan erat antara persaksian mereka dengan persaksian-Nya. Seakan –akan Allah mempersaksikan untuk diri-Nya melalui lisan mereka.
  10. Allah jadikan mereka sebagai orang yang menunaikan hak-Nya atas para hamba-Nya. Maka, siapa saja yang mendapatkan petunjuk dengan perantaraan mereka maka bagi mereka pahala seperti pahala orang  tersebut.

 

(disarikan dari Miftah Daris Sa’adah karya Ibnul Qayyim rahimahullah).