Menimbang Peringatan Isra Mi’raj

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Oleh : Ust. Abu Abdillah Utsman

Menimbang Peringatan Isra Mi’raj

Banyak dari kaum muslimin yang seringkali menjadikan momentum tanggal 27 Rajab sebagai peringatan terjadinya suatu peristiwa besar dalam sejarah Islam yaitu perstiwa Isra Mi’raj. Hal ini sudah menjadi tradisi lama dan bahkan di negara kita dijadikan sebagai hari libur nasional. Tulisan kami kali ini ingin mencoba mengajak pembaca sekalian untuk kita memahami beberapa sisi dari peristiwa Isra Mi’raj dan perayaannya.

Tinjauan Sejarah

Satu pertanyaan yang patut kita ajukan disini, benarkah Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab ? Diantara pembaca mungkin ada yang langsung menjawab dengan suatu kenyataan bahwa dirayakannya selama bertahun – tahun pada 27 Rajab menunjukkan kebenaran bukti bahwa terjadinya memang pada waktu ini. Tapi, kalau kita mau bersikap kritis tentu jawaban seperti di atas bukanlah jawaban yang ilmiah karena sekadar bersandar pada kebiasaan sebagian kaum muslimin yang belum tentu terjamin kebenarannya.

Mengapa kita tidak mencoba menggali sejarah dan mempelajari apa yang ditegaskan oleh para ulama terkait masalah ini ? Para pembaca rahimakumullah, ternyata para pakar sejarah Islam dalam buku – buku karya mereka menyebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang kepastian peristiwa besar ini. Selain pendapat yang menyatakan terjadi di bulan Rajab, ada pula yang menyatakan terjadinya di bulan Ramadhan dan ada pula yang memilih bahwa terjadinya di bulan Rabi’ul Awwal dan masih ada beberapa pendapat lainnya. Diantara ulama yang menyebutkan perbedaan – perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah as-Suyuthi seorang ulama terkemuka dari madzhab Syafi’i dan bahkan beliau juga memaparkan bahwa perbedaan yang ada bukan sebatas pada kepastian bulan terjadinya namun juga tahun terjadinya Isra Mi’raj. As Suyuthi juga menukilkan pendapat an-Nawawi rahimahullah,seorang ulama besar madzhab Syafi’i , tentang berbagai beda pendapat ini. An-Nawawi sendiri punya tiga pendapat dalam hal ini : terjadi di bulan Rabi’ul Akhir(sebagaimana dalam kitab beliau Syarh Muslim ), terjadi di bulan Rabi’ul Awwal (sebagaimana dalam kumpulan fatwa beliau) dan terjadi di bulan Rajab (sebagaimana di kitab beliau ar Raudhah).

Subhanallah, suatu peristiwa besar ternyata kita tidak diketahui dengan pasti kapan terjadinya. Hal ini bisa menuntun kita pada beberapa kesimpulan :

i)        nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskan kepastian peristiwa ini kepada para shahabat beliau karena seandainya beliau jelaskan pasti akan disampaikan kepada kita melalui hadits yang shahih.

ii)       nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat radhiyallahu ‘anhu tidak pernah berusaha memperingati peristiwa besar ini karena kalau seandainya diperingati,apalagi secara rutin diadakan peringatan tahunan untuk itu,pasti akan sampai kepada kita satu saja berita tentangnya dan ini akan menjadi petunjuk tentang kepastian terjadinya peristiwa Isra Mi’raj. Ternyata tidak ada berita kepada kita tentang peringatan Isra Mi’raj dan akibatnya sampai sekarang kita juga tidak bisa dengan pasti mengetahu kapan terjadinya.

iii)     Kepastian terjadinya peristiwa ini bukan sesuatu yang penting dalam ritual ibadah kita sehari – hari.

iv)     Peristiwa besar ini Allah subahanahu wa ta’ala takdirkan terjadi pada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan tujuannya untuk nantinya diperingati oleh umat Islam.

v)      Allah ‘azza wa jalla pasti memiliki berbagai hikmah ketika menghendaki ketidaktahuan umat Islam  terkait kepastian peristiwa ini dan diantara hikmah yang Dia inginkan adalah ada yang kami sampaikan pada poin sebelumnya.

Berangkat dari beberapa kesimpulan ini, kami mengajak pembaca rahimakumullah pada kesimpulan berikutnya yaitu :

Peringatan Isra Mi’raj merupakan suatu yang baru yang diada – adakan oleh sebagian umat Islam dan dianggap sebagai ibadah mulia dimana hal ini sebenarnya tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika memang demikian, apa kira – kira yang mendorong diadakannya peringatan Isra Mi’raj ? Kami kira ada berbagai jawaban yang muncul menjawab pertanyaan ini, tapi satu jawaban yang kiranya merupakan jawaban paling terkenal dan mendasar yaitu : menumbuhkan kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perjuangan beliau sehingga membangkitkan semangat umat untuk berkhidmat dan mengamalkan syariat Islam.

Masya allah, tujuan yang begitu mulia kiranya. Namun, kalau memang demikian, mengapa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat radhiyallahu ‘anhum yang terkenal begitu semangat dalam beramal dan berdakwah tidak mempelopori peringatan Isra Mi’raj ?

Kalau jawabannya bahwa Nabi dan para shahabat tidak menyadari dan tidak mengetahui tujuan mulia ini berarti sama saja kita memosisikan diri kita lebih pintar dan lebih alim dibandingkan mereka. Tentu seorang muslim yang jujur dengan kadar ilmu dan iman yang dimilikinya tidak akan berani menyimpulkan demikian.

Adapun jika jawaban pertanyaan di atas bahwa sebenarnya Nabi dan para shahabat tahu bahwa sebenarnya peringatan Isra Mi’raj adalah mulia namun mereka sengaja tidak mengamalkannya dan tidak menyampaikannya kepada kita maka hakikat jawaban ini : menuduh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shahabat berkhianat dan belum sepenuhnya menyampaikan syariat Islam. Padahal, kita perlu mengingat suatu amanah yang telah diembankan kepada segenap nabi dan rasul, yaitu yang termaktub dalam hadits mulia (artinya): Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan wajib baginya menyampaikan kepada umat kebaikan sekecil apapun juga yang dia ketahui (HR.Muslim)

Jika kedua jawaban di atas tidak bisa kita pakai untuk menjawab pertanyaan di atas, maka bisa kita mencoba dengan jawaban yang ketiga : Nabi dan para shahabat sengaja tidak memperingati Isra Mi’raj karena memang tahu bahwa peringatan semacam ini bukan bagian dari syariat Islam dan tidak bisa dipakai sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Para pembaca rahimakumullah, inilah jawaban sesungguhnya dari pertanyaan di atas berdasarkan beberapa pertimbangan :

©       Tidak pernah sekalipun Nabi dan para shahabat memperingatinya. Kalau seandainya peringatan ini baik, bisa dipastikan merekalah orang yang paling bersemangat dalam mengamalkannya dan memberi contoh kepada kita

©       Menyibukkan umat dengan berbagai peringatan yang tidak ada dasarnya ini membawa pada beberapa dampak negatif seperti :

–          Menyia –nyiakan potensi harta umat untuk acara yang tidak disyariatkan dan melupakan dari medan amal yang lebih penting

–          Melalaikan umat dengan acara yang sifatnya seremonial belaka dan tidak menyentuh kepada makna perbaikan umat secara mendasar. Hal ini bisa kita buktikan dengan menghitung berapa jumlah kaum muslimin yang hadir untuk shalat Subuh berjamaah di masjid setelah malam peringatan Isra Mi’raj padahal kita tahu diantara makna penting yang terkandung pada Isra Mi’raj adalah syariat kewajiban shalat. Atau bahkan, banyak dari umat Islam yang tertidur pulas dari shalatnya karena terlalu capek menghadiri peringatan Isra Mi’raj pada malam harinya.

Diantara kisah terkenal namun merupakan hadits palsu yang tidak ada sumber aslinya adalah kisah seorang anak raja yang banyak berbuat dosa dan bergelimang dengan maksiat. Kemudian ternyata anak raja ini masuk surga. Ketika Nabi ditanya apa yang membuatnya masuk surga ? Dijawab : karena apa yang dia amalkan di bulan Rajab yaitu anak raja itu hanya melakukan shalat di bulan Rajab.

Para pembaca rahimakumullah, seandainya kisah seperti ini diyakini kebenarannya tentu akan berdampak negatif dan membuat orang malas beramal serta bergantung pada sebagian amal telah dilakukannya yang sebenarnya tidak ada jaminan Allah menerimanya.

–          Membuat sebagian orang terbuai dan merasa sudah beramal atau banyak menyumbang untuk acara seperti ini sehingga membuat mereka malas mengerjakan amal – amal shalih

–          Jika kita memperbolehkan diadakannya hal – hal baru dan ditambahkan ke dalam agama Islam yang murni maka sama saja membuka celah untuk mengoreksi agama Islam yang telah sempurna. Pantas kiranya jika al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah pernah berujar man istahsana faqod syara’a yang artinya : siapa yang menganggap baik suatu perbuatan yang bukan dari syariat Islam maka pada hakikatnya dia telah membuat syariat.

Dua pelajaran penting

Di akhir catatan ini, kami ingin mengingatkan pembaca sekalian tentang dua faedah penting dari sekian banyak faedah yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra Mi’raj :

  1. Ketinggian Allah subhanahu wa ta’ala di atas seluruh makhluk-Nya, baik ketinggian sifat, kekuasaan maupun zat-Nya. Kita wajib mengimani bahwa zat Allah berada di atas seluruh para makhluk dan di atas langit oleh karena itulah dalam kisah Isra Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dinaikkan melewati langit ketujuh untuk menghadap Allah subhanahu wa ta’ala. Banyak sekali dalil baik dari Al Quran, hadits yang shahih, maupun secara akal, kias dan dalil fitrah tentang ketinggian Allah ini. Ibnul Qayyim rahimahullah bahkan menegaskan dalil tentang ketinggian Allah mencapai lebih dari 1000 dalil. Oleh karena itu, tidak pantas dan merupakan sikap kurang beradab kepada Allah Zat Yang Maha Agung kalau ada orang yang menyatakan bahwa Allah berada di seluruh tempat atau dalam ungkapan lain zat Allah menyatu dengan alam semesta. Konsekuensi dari pernyataan tadi : Allah berada di tempat kotor dan Allah menyatu dengan anjing dan babi. Na’udzubillah min dzalik seorang yang masih lurus fitrahnya apalagi yang memiliki cahaya iman di dalam qalbunya tidak akan lancang berkata demikian. Kesimpulannya, diantara pelajaran penting dari kisah Isra Mi’raj kita wajib beriman bahwa zat Allah ta’ala tinggi di atas langit dan di atas seluruh makhluk-Nya, bukan menyatu dengan alam dan tidak berada di sembarang tempat.
  2. Pentingnya kedudukan shalat di dalam Islam dan Allah mewajibkan kepada Nabi-Nya dan kepada umat Islam di atas langit ketujuh, berbeda dengan ibadah – ibadah yang lain. Oleh karena itu, wajib bagi seluruh lapisan kaum muslimin untuk memperhatikan masalah shalat ini dan jangan sampai kesibukan apapun yang digelutinya melalaikannya dari ibadah shalat terutama shalat lima waktu. Mari kita mengajak orang – orang di sekitar kita yang mengaku muslim namun tidak pernah shalat atau bermalas – malasan dalam mengerjakannya. Ajakan dan dakwah semacam ini jika terus kita galakkan insyaallah akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan sekadar mengundang mereka untuk bersama – sama memperingati Isra Mi’raj. Seruan untuk shalat juga diiringi dengan pengajaran bagaimana shalat yang benar yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan sekadar asal – asalan atau sekadar mengikuti kebiasaan masyarakat yang belum tentu benarnya. Semoga dengan usaha seperti ini kita bisa mewujudkan cinta hakiki kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . wallahu a’lam.