Orang Yang Sholat Tapi Celaka, Siapa Mereka ?

Para pembaca rahimakumullah, diantara manusia ada orang yang melaksanakan shalat tetapi malah celaka. Tentunya ini memunculkan pertanyaan dalam benak kita, bagaimana bisa orang yang mengerjakan shalat yang secara lahiriah melaksanakan ketaatan kepada Allah, tapi justru celaka.

Pertanyaan ini akan terjawab setelah kita merenungi kalamullah di dalam Surah Al Maa’un ayat ke-4 sampai ke-7 yang artinya : “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. )Yakni( orang-orang yang lalai dari shalatnya. (Yaitu) orang-orang yang suka berbuat riya’. Dan suka menahan (dari memberikan) al-Maa’uun.”

Asy-Syaikh al-Faqih Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwasanya yang dimaksud ayat di atas adalah mereka orang-orang yang menunaikan shalat baik secara berjamaah maupun sendirian, namun mereka melalaikan shalatnya. Mereka tidak menunaikannya dengan semestinya, mereka mengakhirkannya dari waktu yang utama. Mereka tidak menyempurnakan ruku’, sujud, berdiri dan duduknya. Mereka tidak membaca (dengan baik dan benar, pen) apa yang wajib dalam shalat, baik berupa bacaan al-Qur’an maupun zikirnya. Saat dia mulai masuk shalat, dia sudah lalai. Kalbunya menoleh ke kanan dan ke kiri sehingga dia lalai dari shalatnya. Ini tercela. Orang yang lalai dari shalat, tidak perhatian dan meremehkan shalatnya tidaklah diragukan bahwa dialah orang yang tercela.

Adapun orang yang lupa di dalam shalatnya, maka ini tidaklah tercela. Perbedaan antara keduanya adalah orang yang lupa dalam shalatnya adalah dia lupa sesuatu dalam shalat tersebut. Misalnya, ia lupa akan bilangan rakaatnya, lupa sesuatu dari kewajiban-kewajiban dalam shalat dan seterusnya. Yang demikian ini pernah terjadi pada diri Rasulullah ﷺ , padahal beliau adalah orang yang paling serius dalam shalatnya. Bahkan beliau ﷺ bersabda (artinya) : “Dijadikan penyejuk pandangan mataku ada pada shalat.” (HR. Ath- Thabrani, shahih). Seiring dengan itu, beliau ﷺ pernah lupa dalam shalatnya.

Sementara orang yang lalai dari shalatnya adalah orang yang memang sengaja sembrono dalam melaksanakan shalatnya. Diantara bentuk kelalaian dari shalat adalah suka meninggalkan shalat berjama’ah. Tidak diragukan lagi bahwasanya mereka termasuk orang-orang yang melalaikan shalatnya, sehingga masuk dalam ancaman ini. (Lihat Tafsir Juz ‘Amma, cet. Dar al-Bashirah hal. 325).

Pembaca rahimakumullah, kebalikan dari melalaikan shalat adalah menegakkan shalat. Diantara unsur terpenting dalam menegakkan shalat adalah kekhusyu’an, bahkan ini merupakan ruhnya shalat. Kekhusyu’an ini tidak akan diperoleh seorang hamba kecuali dengan adanya keseriusan dalam melaksanakan shalatnya. Dia kerjakan shalatnya dengan penuh ketenangan, gerakan-gerakan sempurna, kalbu yang hadir , meresapi dan merenungi tiap-tiap bacaan yang ada di dalamnya.

Adapun jika seseorang mengerjakan shalat dengan cara serba cepat, baik bacaan maupun gerakannya, maka sungguh dia tidak akan bisa mencapai kekhusyukan. Dia tidak merasakan manisnya shalat. Lebih daripada itu, dia akan menuai petaka besar. Nas’alullaha at-Taufiq wa al-‘Afiyah.

Sebuah Fakta Yang Miris

Pembaca rahimakumullah, ada sebuah fakta yang miris setiap kali Ramadhan datang. Terjadi di sini, di negeri kita ini. Sebuah fenomena memprihatinkan yang terjadi dan terulang pada tiap tahunnya, yaitu : adanya sebagian kaum muslimin yang mempraktekkan shalat tarawih secara berjamaah namun dilakukan dengan sangat cepat. Sampai-sampai shalat yang mereka lakukan tersebut diklaim sebagai “Shalat Tarawih Tercepat Di Dunia”. Allahu akbar ! Ironisnya, ketika salah seorang diantara mereka diwawancarai terkait alasan di balik praktek shalat tersebut, maka dengan entengnya dirinya menjawab : “Ini sudah tradisi turun-temurun.” Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Ini musibah, wahai saudaraku ! Shalat yang sejatinya merupakan ibadah yang agung, di dalamnya terkumpul beragam bentuk ibadah berupa ibadah lisan, ibadah kalbu dan ibadah anggota badan, justru diperlakukan sedemikian rupa. Shalat yang juga merupakan momen bagi seorang hamba untuk bermunajat kepada Allah Ta’ala, merasakan kehadiran-Nya dan merasakan kedekatan dengan Rabbnya, ternyata hanya dilakukan dengan cara semacam ini. Sungguh, ini adalah tata cara shalat yang salah dan hanya teranggap sebagai bentuk main-main dan senda-gurau belaka. Jika mereka tetap saja mengerjakan shalat dengan model seperti itu, maka sangat dikhawatirkan shalat mereka tidak sah dan hanya akan mendatangkan petaka besar.

Sebuah Renungan

Suatu hari, seseorang memasuki masjid Nabi ﷺ dalam keadaan beliau ﷺ ada di dalamnya. Maka, ia pun melakukan shalat dua rakaat kemudian menemui Nabi ﷺ. Dia menyampaikan salam kepada Nabi ﷺ lalu dijawab oleh beliau ﷺ. Lalu beliau bersabda kepadanya : “Kembalilah lalu shalatlah lagi ! Sesungguhnya engkau belum melakukan shalat.” Orang itu pun melaksanakan perintah Nabi ﷺ. Dia pun melakukan shalat sebagaimana semula. Setelah selesai, Nabi ﷺ memerintahnya untuk mengulangi lagi shalatnya. Pengulangan shalat itu terjadi beberapa kali hingga membuat orang tersebut merasa putus asa. Lalu ia berkata kepada Nabi ﷺ : “Wahai Rasulullah, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik daripada ini, maka ajarilah aku !” Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda : “Jika engkau hendak shalat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke arah kiblat lalu bertakbirlah. Kemudian bacalah apa-apa yang mudah bagimu dari Al Qur’an. Kemudian rukuklah hingga engkau benar-benar rukuk dengan tenang. Kemudian bangkitlah hingga engkau benar-benar berdiri dengan tegak. Kemudian sujudlah hingga engkau benar-benar sujud dengan tenang. Kemudian bangunlah hingga engkau benar-benar duduk dengan tenang. Kemudian sujudlah hingga engkau benar-benar sujud dengan tenang. Kemudian lakukanlah itu semua pada keseluruhan shalatmu.” (Hadits dengan makna di atas diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).

Perhatikan, pembaca rahimakumullah ! Di dalam hadits di atas dikisahkan tentang orang yang secara lahiriah melakukan amalan shalat. Namun ternyata Nabi ﷺ tidak menganggapnya sebagai shalat yang sah. Bahkan beliau ﷺ tidak menyebut perbuatan orang tadi sebagai amalan shalat. Buktinya, beliau mengatakan : “Sesungguhnya engkau belum melakukan shalat”. Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mau merenung !

Pada kesempatan ini, kami ingin mengingatkan dan menasehatkan kepada kaum muslimin agar mereka segera membenahi dan memperbaiki shalat-shalat mereka yang mungkin selama ini dikerjakan begitu saja tanpa memerhatikan syarat-syarat, rukun-rukun, kewajiban-kewajiban, sunnah-sunnah, pembatal-pembatal shalat serta apa yang terkait dengannya. Lebih daripada itu, terbiasa melakukannya dengan cepat dan tergesa-gesa.

Riya’ Menyebabkan Celaka

Pembaca rahimakumullah, perkara berikutnya yang menyebabkan orang yang melaksanakan shalat tapi celaka adalah suka berbuat riya’, baik dalam shalat maupun ibadah lainnya. Riya’ merupakan salah satu jenis lalai dari shalat. Hanya saja disebutkan secara khusus karena besarnya bahaya riya’ dan sangat sulitnya seseorang selamat darinya.

Secara ringkas, riya’ adalah melaksanakan suatu bentuk ibadah bukan semata-mata karena Allah, tapi demi mendapatkan sanjungan manusia. Misalnya, seseorang memperbagus shalatnya dengan tujuan agar dikatakan shalatnya baik dan khusyu’. Demikian pula, jika seseorang gemar berinfak tapi di dalam kalbunya ada keinginan agar manusia menjulukinya sebagai orang yang dermawan.

Penyakit riya’ ini sering menjangkiti kalbu orang-orang munafik, bahkan menjadi sifat mereka. Dalam melaksanakan amalan-amalan ketaatan, mereka melakukannya dengan terpaksa. Jiwa-jiwa mereka merasa berat dan malas. Mereka melakukannya bukan karena mengharapkan wajah Allah, tapi keuntungan duniawi berupa terpeliharanya darah dan harta mereka.

Allah membongkar isi kalbu mereka melalui firman-Nya yang artinya : “…Apabila mereka bangkit hendak melaksanakan shalat, mereka berdiri dalam keadaan malas. Mereka bermaksud riya’ di hadapan manusia.Tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (Surah An Nisa’ : 142)

Para pembaca rahimakumullah, lihatlah keadaan orang-orang munafik pada ayat di atas ! Mereka berdiri melakukan shalat dalam keadaan malas diiringi riya’ dan sedikit sekali mengingat Allah. Jelas ini merupakan bukti bahwasanya mereka adalah orang-orang yang lalai dari shalatnya.

Kikir Juga Menyebabkan Celaka

Yang terakhir dari sebab celakanya orang yang menunaikan shalat adalah suka menahan serta enggan memberikan “al-Maa’uun”.

Dari apa yang disebutkan para ulama, kita dapat menyimpulkan bahwa “al-Maa’uun” adalah sesuatu yang berguna, baik nilainya mahal atau murah, sifatnya dipinjamkan atau diberikan secara cuma-cuma.

Walhasil, dari pemaparan di atas berkaitan ayat ke-4 hingga ke- 7 pada Surah Al Maa’uun, maka ada 3 sifat yang melekat pada orang-orang yang mendapatkan ancaman kecelakaan dari Allah, sekalipun mereka melakukan shalat, yakni :

  1. Melalaikan shalat.
  2. Suka berbuat riya’.
  3. Suka menahan sesuatu yang bermanfaat.

Pembaca rahimakumullah, tentunya kita tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang shalat tapi celaka. Sebaliknya, kita sangat berharap agar shalat kita serta ibadah kita lainnya diterima di sisi Allah Ta’ala. Hendaknya kita senantiasa berdoa agar dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Maka, diantara upaya yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan semua itu adalah dengan melakukan kebalikan dari 3 sifat di atas, yakni :

  1. Menegakkan shalat, tidak sekedar mengerjakannya begitu saja.
  2. Melawan riya’ dan senantiasa berusaha ikhlas dalam shalat dan ibadah lainnya.
  3. Dermawan.

Akhirnya kita memohon kepada Allah Zat yang mengabulkan doa, agar senantiasa memberikan taufiq-Nya dan menolong kita dalam setiap urusan. Semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan atas Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga dan para sahabat beliau hingga akhir masa.

Wallahu a’lam