Ambillah Sebagai Pelajaran, Wahai Saudaraku !

Ambillah Sebagai Pelajaran, Wahai Saudaraku !


Setelah Lombok NTB, berikutnya giliran Palu dan sekitarnya di Sulteng diguncang gempa bumi bahkan disusul gelombang tsunami yang dahsyat. Negeri yang mayoritas beragama Islam ini beruntun diterpa musibah besar hingga menyisakan duka dan nestapa.
Saudaraku, tulisan yang sangat sederhana ini sengaja kami torehkan karena jiwa terpanggil untuk mengingatkan diri ini dan saudaraku bahwa ada pelajaran di balik musibah ini. Pelajaran tersebut kami akan utarakan menurut tinjauan agama karena sisi ini masih terasa kurang dikedepankan kala musibah terjadi. Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya agama dengan bimbingan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi menurut pemahaman Salaf (generasi terbaik umat Islam) menjadi tinjauan utama dalam menilai suatu perkara, baik ucapan, perbuatan maupun peristiwa.

Tafsir Surat Asy-Syams

Tafsir Surat Asy-Syams

Setelah mempelajari Tafsir Surat Al-Lail yang dimuat pada edisi ke-19, selanjutnya kita akan mempelajari Tafsir Surat Asy-Syams pada edisi ke-33 ini.
Ayat pertama (artinya) : “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari”.
Allah bersumpah dengan matahari beserta cahayanya karena pada keduanya terdapat manfaat semisal : pencahayaan bagi manusia hingga mereka di masa sekarang tidak banyak butuh terhadap cahaya listrik yang dapat memakan biaya sangat besar, sebab matangnya buah-buahan, pertumbuhan tanaman-tanaman dan manfaat lain yang tidak mengetahui jumlahnya kecuali Allah. Ini menunjukkan kekuasaan, ilmu dan rahmat Allah kepada hamba-hambaNya.

Harapan Menggapai Kebahagiaan Di Akhirat

HARAPAN MENGGAPAI KEBAHAGIAAN DI AKHIRAT
Para pembaca rahimakumullah, telah berlalu bulan Ramadhan dengan begitu cepat, dan ini merupakan sunnatullah (ketetapan Allah Ta’ala) pada makhluk-Nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam memberitakan bahwa cepatnya waktu berjalan termasuk diantara tanda-tanda hari kiamat, sebagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Tidak akan tegak hari kiamat sampai zaman ini berdekatan (waktu berjalan dengan cepat), sehingga satu tahun seperti satu bulan, satu bulan seperti satu Jum’at (pekan), satu Jum’at seperti satu hari, satu hari seperti satu jam dan satu jam seperti terbakarnya pelepah pohon kurma”. (H.R. Ahmad dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan dihasankan oleh asy-Syaikh Muqbil).

Menempa Jiwa Di Bulan Yang Mulia

Menempa Jiwa Di Bulan Yang Mulia

Segala puji hanya untuk Allah Zat Yang Maha Pemurah. Dengan kemurahan-Nyalah kita kembali berjumpa dengan bulan suci Ramadhan. Seorang muslim sudah semestinya bergembira jika bertemu dengan bulan yang satu ini. Betapa tidak ! Allah telah menjadikan bulan ini memiliki banyak keutamaan. Barangsiapa yang benar-benar memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya, maka ia akan meraih keutamaan yang besar. Bulan yang hanya berjalan 29 atau 30 hari saja sangatlah singkat dan berjalan begitu cepat. Sungguh sangat merugi seseorang, jika bulan ini datang begitu saja dalam keadaan dirinya terus lalai dan tertipu !