Belajar Memaafkan dan Tidak Mendendam

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Oleh: Ust. Abu Abdillah ‘Utsman

Belajar Memaafkan dan Tidak Mendendam

Seringkali kita merasa terzhalimi dan seringkali pula kita sulit untuk memaafkan orang yang menzhalimi kita. Berikut ini beberapa kiat untuk kita menjadi pemaaf :

1. ingat bahwa Allah subhanahu wa ta’alalah pencipta dan pengatur segala apa yang terjadi di dunia. Segala yang terjadi dengan kehendak kauni-Nya. Lalu, kita ingat bahwa semua terjadi dengan hikmah-Nya sehingga kita sadar bahwa kezhaliman yang menimpa kita pasti terkandung hikmah dibaliknya. Lanjutkan membaca Belajar Memaafkan dan Tidak Mendendam

Pemilu Sebuah Cara Yang Memilukan

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Kalau orang selama ini menyebut pemilu itu adalah singkatan dari pemilihan umum, maka kami menyebutnya dengan sesuatu yang memilukan. Ya ! Pemilu merupakan cara memilih pemimpin yang jauh menyimpang dari jalan Allah yang akhirnya kepiluanlah yang akan kita dapatkan. Setiap bentuk penyimpangan, baik yang kecil maupun besar, jelas maupun samar, biasa dilakukan mayoritas maupun minoritas manusia tetaplah sebuah penyimpangan apabila bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menurut bimbingan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Sedangkan setiap bentuk penyimpangan akan berujung kepiluan dan kesedihan.

Lalu bagaimana dan sejauh mana pemilu itu bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasul menurut bimbingan para sahabat ? Berikut ini beberapa keterangan yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dan semoga bermanfaat :

1) Pemilu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam beserta para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Tidak ada satu pun riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi dan para sahabat melakukan pemilu atau pemungutan suara, padahal mereka adalah generasi terbaik umat manusia. Tidak ada satu pun kebaikan yang murni melainkan mesti telah mereka lakukan. Kalau seandainya pemilu itu adalah sebuah kebaikan yang murni apalagi berkaitan dengan urusan negara dan orang banyak, pasti mereka menjadi orang-orang yang terdepan untuk menjalankannya.

Mungkin akan ada yang berkata : “Bagaimana pemilu itu mereka selenggarakan, sedangkan pada masa itu mereka tidak membutuhkannya ?!”

Perkataan ini dapat ditanggapi bahwa beberapa peristiwa yang terjadi di masa mereka ternyata bisa saja memberikan peluang untuk diadakan pemilu atau pemungutan suara, seperti :

a) Peristiwa penunjukan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma oleh Nabi sebagai pemimpin jihad, padahal Usamah masih sangat muda dan masih banyak sahabat senior dari sisi ilmu dan pengalaman yang masih hidup saat itu. Penunjukan ini sempat menjadi pertanyaan banyak sahabat dan akhirnya Nabi menegur mereka. Ternyata untuk menentukan pemimpin jihad dan menjawab pertanyaan sebagian sahabat saat itu, Nabi tidak mengajak atau memerintah diadakannya pemungutan suara. Kisah penunjukan Usamah sebagai pemimpin jihad ini disebutkan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

b) Pengangkatan 4 sahabat besar mulai Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan hingga Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum ajma’in sebagai pemimpin besar (khalifah) ternyata tidak melalui sistem pemilu yang melibatkan seluruh rakyat. Abu Bakr, Utsman dan Ali dipilih sebagai pemimpin pada masing-masing periodenya melalui syura (diskusi ilmiah) para sahabat besar. Adapun Umar dipilih sebagai pemimpin karena penunjukan pemimpin sebelumnya, yaitu Abu Bakr. Seiring dengan itu, kita telah diperintah Nabi untuk mengikuti jalan para sahabat dalam menjalankan Islam pada seluruh sendi kehidupan, termasuk sistem memilih pemimpin negara.

2) Pemilu berpatokan kepada suara terbanyak.

Patokan ini tidaklah mengherankan bila ada pada pemilu karena memang demikian wujud dari kehidupan demokrasi. Padahal, sebuah realita yang tidak dapat kita pungkiri bahwa mayoritas masyarakat kita tidak banyak mengetahui tentang jati diri sebenarnya pada masing-masing calon pemimpin. Mayoritas masyarakat tidak banyak mengetahui reputasi kejujuran dan kemahiran calon pemimpin jauh sebelum mencalonkan diri sebagai pemimpin. Bila demikian, akankah suara mereka dapat dijadikan sebagai patokan untuk memilih pemimpin terbaik ?! Belum lagi Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa mayoritas manusia itu dalam keadaan tidak bersyukur, tidak mengetahui, tidak beriman, menyimpang dari jalan Allah, membenci kebenaran atau terjatuh dalam kesyirikan melalui lebih daripada 40 ayat Al Qur’an (sebatas hitungan kami). Bila demikian (sekali lagi), akankah suara mereka layak untuk dijadikan sandaran untuk memilih pemimpin yang sanggup mengemban amanah kepemimpinan ?!

3) Pemilu menyamaratakan suara orang Islam dengan suara orang kafir.

Seseorang yang masih menyadari mahalnya Islam dan iman pada dirinya, tentu sama sekali tidak ridha dirinya disamakan dengan orang kafir. Memang kita sama sekali dilarang oleh Islam untuk menzalimi manusia, termasuk orang-orang kafir. Namun hal itu bukan berarti orang kafir itu kedudukannya sama dengan orang Islam. Justru menyamakan kedudukan antar keduanya adalah sebuah kezaliman, sebab Allah telah menegaskan bahwa keduanya tidaklah sama. Allah Ta’ala telah berfirman (artinya) : “Maka apakah orang yang beriman itu sama (kedudukannya) dengan orang yang fasik ?! Tentu mereka tidaklah sama.” (As Sajdah : 18)

Allah juga berfirman (artinya) : “Apakah orang-orang berlaku kejelekan itu menyangka bahwa Kami (Allah) akan menjadikan mereka sama (kedudukannya) dengan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, baik saat mereka hidup maupun saat telah mati ?! Sungguh betapa buruknya apa yang mereka putuskan tersebut.” (Al Jaatsiyah : 21)

Akal sehat bagaimana yang dapat menerima orang yang hidup di atas iman dan Islam itu dapat disamakan dengan orang yang hidup di atas kekufuran ?! Kalbu lurus bagaimana yang dapat memahami orang yang meninggal dunia di atas iman dan Islam itu dapat disamakan dengan orang yang mati di atas kekufuran ?!

Para pembaca rahimakumullah, kita sangat khawatir pemilu dengan demokrasi sebagai payungnya tidak hanya bertujuan mencegah kediktatoran pemimpin. Kita sangat khawatir ada tujuan ganda yang terselubung dan Allah lebih mengetahui hakekat sebenarnya tujuan tersebut, yaitu jalan kebebasan mengampanyekan seluruh pola pikir dan pola hidup yang bertentangan dengan Islam di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin. Kita pun sebelum itu sangat mengetahui bahwa pemilu dengan demokrasi sebagai payungnya adalah produk pemikiran orang kafir dan ditebarkan orang-orang Yahudi, bukan orang Islam apalagi wahyu ilahi. Sedangkan bukan rahasia lagi bahwa orang kafir dan Yahudi itu sangat besar kebenciannya terhadap Islam dan umat Islam. Adapun terkait kediktatoran pemimpin, maka (tanpa demokrasi dengan pemilunya pun) Islam sendiri sangat mengecam hal itu. Islam sendiri sebenarnya telah memberikan bimbingan lengkap lagi sempurna bagaimana bersikap menghadapi kediktatoran pemimpin.

4) Pemilu sangat membolehkan kaum wanita menjadi pemimpin bagi kaum pria.

Agama Islam telah memberikan kedudukan sangat terhormat terhadap kaum hawa. Hal ini akan diketahui saat seseorang mempelajari Islam dengan seksama dan penuh ketulusan hati. Islam telah memberikan posisi mulia kepada wanita sesuai dengan kodratnya, karena Islam adalah ajaran Allah yang Dia-lah Ta’ala Dzat pencipta wanita dan tentu Dia-lah yang paling mengerti apa yang layak atau tidak layak bagi wanita. Akankah seorang muslim lebih percaya terhadap orang kafir yang menyerukan emansipasi wanita yang sarat dengan makar terselubung, dibanding ajaran Allah dan Rasul-Nya yang sarat dengan kasih sayang terhadap seluruh alam semesta terkhusus kaum wanita ?! Dengan tegas, Allah telah berfirman (artinya) : “Kaum pria itu adalah pemimpin bagi kaum wanita karena apa yang telah Allah beri kelebihan kepada sebagian mereka atas sebagian yang lain.” (An Nisaa’ : 34)

Nabi kita lebih menegaskan lagi melalui sebuah sabda (artinya) : “Tidak akan bahagia suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinan mereka kepada seorang wanita.” (HR.al-Bukhari)

Mungkin saja akan ada yang berkata : “Ternyata di masa lalu jauh setelah masa Nabi, ada beberapa wanita yang memimpin bangsanya dan rakyat merasakan ketentraman hidup, seperti Margareth Thacher di Inggris atau Corazon Aquino di Filipina.”

Pernyataan ini dapat dijawab bahwa kebahagiaan atau kenikmatan duniawi yang dirasakan manusia dengan melanggar syariat Islam bukanlah kebahagiaan yang hakiki dan bukan pula tanda Allah mencintai mereka. Selain itu, kebahagiaan mana yang layak kita kagumi lebih-lebih kita contoh dari 2 negara kafir tersebut ?!

Islam Telah Memberi Jalan Terbaik

Jangankan sistem memilih pemimpin, bahkan adab buang air kecil dan besar pun diatur oleh agama Islam. Sekali lagi, Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna. Tidak ada sekecil apa pun perkara yang bermanfaat bagi manusia, melainkan telah Islam ajarkan. Tidak ada sekecil apa pun perkara yang membahayakan manusia, melainkan telah Islam ingatkan.

Adapun sistem memilih pemimpin negara, maka salah satu sistem yang telah diterapkan para sahabat Nabi (sebagai generasi yang paling mengerti Islam) adalah sistem syura (diskusi ilmiah) yang dilakukan para pakar yang telah berpengalaman pada setiap bidang dan memegang kejujuran. Sedangkan rakyat dengan keterbatasan pengetahuan mereka tentang setiap bidang pemerintahan, tentu saja tidak berkompeten untuk memilih pemimpin. Tentu pilihan beserta alasannya yang berasal dari orang-orang ahli dan jujur tidaklah sama dengan pilihan beserta alasannya yang berasal orang-orang yang bukan ahli sekalipun jujur. Sistem syura seperti ini dapat diterapkan dan rakyat dapat menerimanya tatkala setiap atau mayoritas lapisan rakyat berpegang teguh dengan ajaran Islam yang murni. Dengan demikian, tampilnya pemimpin yang berkualitas melalui sistem yang tepat sebenarnya berangkat dari tahapan yang sangat panjang karena berawal dari bimbingan Islam yang murni kepada seluruh lapisan masyarakat luas. Dari masyarakat yang baiklah, akan muncul pemimpin yang baik.

Wallaahu a’lamu bish-Shawaab

FIKIH TAYAMUM

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

oleh : Ust. Abu Abdillah

Tayammum dalam pengertian syariat adalah ibadah kepada Allah ta’ala dengan mengusapkan apa – apa yang ada di muka bumi yang suci ke wajah dan kedua telapak tangan dengan cara tertentu.

Dalil syariat tayammum

Banyak sekali dalil tentang tayammum baik berupa ayat Al Quran, hadits nabawi yang shahih maupun ijma’ atau kesepakatan para ulama. Diantaranya, firman Allah dalam surat Al Maidah ayat ke-6 setelah disebutkan syariat tentang wudhu dan mandi:

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

Lalu kalian tidak menemukan air maka tayammumlah dengan sha’iid toyyib[1] maka usaplah wajah – wajah dan tangan – tangan kalian dengannya.

Pembahasan mengenai tayammum diuraikan setelah pembahasan wudhu dan mandi serta hal – hal yang terkait dengan keduanya karena memang dalam Islam telah ditetapkan dua zat untuk bersuci: Lanjutkan membaca FIKIH TAYAMUM

Tahun Baru dan Budaya Meniru

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Oleh : Ust. Abu ‘Abdillah ‘Utsman

Tahun Baru dan Budaya Meniru

Budaya meniru rupanya telah menjadi mental sebagian besar masyarakat kita, mulai dari hal – hal yang sifatnya duniawi sampai dalam masalah agama yang tidak lain terkait dengan urusan surga dan neraka.

Satu – satunya doa yang kita diperintahkan untuk mengulang  – ulangnya dalam setiap sholat dan di setiap raka’at. Tentu doa ini begitu besar maknanya dan demikian penting artinya untuk kehidupan kita. Ya, yang terdapat di akhir surat Al Fatihah, surat yang merupakan intisari Al Quran. Doa untuk meminta keteguhan di atas ash shirothol mustaqim dan dijauhkan dari jalan orang – orang yang dimurkai dan orang – orang yang tersesat. Lanjutkan membaca Tahun Baru dan Budaya Meniru

Lagi, tentang Syi’ah

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Oleh : Ust Abu Abdillah “Utsman

Lagi, tentang Syi’ah

Topik tentang Syi’ah memang bahan kajian yang sangat menarik untuk dibahas, setidaknya karena beberapa hal :

1. sangat minimnya informasi yang akurat di tengah masyarakat tentang hakikat Syi’ah ditambah ketidakpedulian mayoritas umat terhadap pemahaman  agama yang benar.

2. terjadinya konflik yang berujung pada pertumpahan darah baik di dalam maupun di luar negeri dengan latar belakang Syi’ah.

3. pro kontra di tengah masyarakat menyikapi Syi’ah terlebih dibumbui berbagai komentar para cendekiawan yang dianggap tokoh muslim dalam masalah ini.

Kita berharap pembahasan kita tentang Syi’ah ini dicatat sebagai amal shalih di sisi Allah ta’ala bukan suatu yang sia – sia belaka. Menjadi amal shalih ketika diniatkan tafaqquh fid din (belajar agama) karena memang para ulama banyak membahas tentang Syi’ah sebagai upaya menjelaskan aqidah/keyakinan yang benar; sampai – sampai ada dari kalangan ulama yang terbunuh karena berbagai tulisannya mengupas Syi’ah. Di sisi lain, dengan pemahaman yang benar terkait masalah ini kita berharap Allah ta’ala menjauhkan diri kita dari berbagai ujian dan fitnah. Lanjutkan membaca Lagi, tentang Syi’ah

Situs Pondok Pesantren Darul Ihsan, Madiun