Pelajaran Di Balik Suatu Musibah

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata : “Aku pernah dibonceng Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pada suatu hari. Lalu beliau bersabda (artinya) : “Wahai anak kecil, sesungguhnya aku akan mengajari dirimu beberapa kalimat : Jagalah (agama) Allah), niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (agama) Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya berada di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seluruh umat manusia jika seandainya mereka berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan mampu melainkan dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Kalau seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kejelekan kepadamu, maka mereka pun tidak akan mampu melainkan dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan pula untukmu. Telah diangkat pena-pena takdir dan telah kering lembaran-lembaran catatan takdir .“ (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani. Asy-Syaikh Muqbil mengatakan : “Ia adalah hadits yang shahih lighairihi.”) Di dalam riwayat lain pada selain at-Tirmidzi (artinya) : “…Ketahuilah, bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, jalan keluar bersama puncak kesulitan dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Dishahihkan oleh al-Albani dengan beberapa jalan periwayatannya di dalam Zhilal al-Jannah)

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, kita diingatkan oleh hadits ini seiring ancaman atau datangnya suatu musibah. Begitu panik dan khawatirnya manusia dengan munculnya wabah penyakit corona yang terus merambah ke berbagai negara. Bagi seorang muslim, wabah penyakit ini merupakan salah satu diantara deretan musibah yang Islam telah memberikan bimbingan dalam menyikapinya. Jika kita merenungi isi hadits di atas, maka kita akan mendapati pelajaran-pelajaran berharga yang dapat menguatkan iman kita kala musibah mengancam atau menimpa kita.

Pelajaran Pertama

Pentingnya penanaman sikap yang tepat menghadapi musibah kepada anak sejak dini. Ini merupakan bagian dari bimbingan aqidah yang benar sehingga kelak sang anak akan terbentuk sebagai sosok yang tangguh dalam beragama. Ia tidak akan tergoyahkan menghadapi sebesar apapun musibah di dunia dengan izin Allah, tidak mudah panik dan cemas.

Baca juga  Permisalan 5 Kalimat

Pelajaran Kedua

Menjaga agama Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan merupakan sebab terbesar Allah menjaga seseorang dari kejelekan. Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah di dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa penjagaan Allah kepada hamba-Nya itu ada 2 macam :

1) Penjagaan terhadap urusan duniawinya, semisal : badan, anak, keluarga dan harta.

Kapan saja seorang hamba menyibukkan diri dengan ketaatan, maka sesungguhnya di saat itu Allah akan menjaganya. Barangsiapa menjaga agama Allah, maka Allah akan menjaganya dari setiap gangguan. Sebagian salaf berkata : “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjaga dirinya. Barangsiapa menelantarkan ketakwaannya, maka ia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri dan Allah tidak butuh kepadanya”.

2) Penjagaan terhadap urusan agamanya dan ini yang jauh lebih utama dibandingkan macam ke-1.

Allah menjaganya dari syubhat dan syahwat ketika ia masih hidup, kemudian wafat di atas iman ketika meninggal dunia. Sekian ringkasan dari ucapan beliau.

Dari ini kita dapat mengambil isyarat bahwa suatu musibah dapat muncul karena hamba tidak lagi menjaga agama Allah, dengan meninggalkan perintah atau mengerjakan larangan. Allah sendiri mengatakan (artinya) : “Telah tampak kerusakan di daratan dan lautan karena apa yang telah diperbuat oleh tangan-tangan manusia, untuk (Allah) menimpakan kepada mereka sebagian dari apa yang telah mereka perbuat agar mereka kembali (kepada-Nya).” (Surah ar-Rum : 41) Disebutkan di dalam kitab at-Tafsir al-Muyassar : “Telah tampak kerusakan di daratan dan lautan, semisal : kekeringan, sedikitnya hujan, banyaknya penyakit dan wabah penyakit. Hal itu disebabkan kemaksiatan-kemaksiatan yang diperbuat oleh manusia, untuk Allah timpakan kepada mereka sebuah hukuman dari sebagian perbuatan yang mereka kerjakan di dunia, agar mereka bertaubat kepada Allah dan meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan sehingga menjadi baiklah keadaan dan tegaklah urusan mereka.” Ketakwaan merupakan sebab terbesar untuk mencegah musibah ketika masih mengancam sekaligus menghilangkannya ketika telah datang.

Pelajaran Ketiga

Musibah apapun yang akan atau telah menimpa salah seorang diantara kita, maka mintalah pertolongan kepada Allah agar Allah menjauhkan atau menghilangkan musibah itu. Allah pun mencintai untuk diri-Nya dimintai, diharapkan dalam memenuhi kebutuhan hamba-Nya dan justru murka kepada seseorang yang tidak meminta kepada-Nya. Dia Maha Mampu untuk mengabulkan setiap permintaan seluruh hamba dalam waktu bersamaan tanpa mengurangi kekayaan-Nya sedikit pun. Sebesar apapun musibah, sungguh musibah itu sendiri adalah makhluk Allah yang tunduk terhadap perintah-Nya, patuh ketika diperintah kapan ia harus datang dan kapan pula ia harus pergi. Maka, mintalah pertolongan kepada Zat yang mencipta, mendatangkan dan menghilangkan musibah. Sebaliknya, barangsiapa meminta pertolongan kepada selain Allah, maka Allah akan biarkan dirinya bersama selain Allah hingga akhirnya ia menjadi terhina.

Baca juga  Permisalan 5 Kalimat

Pelajaran Keempat

Allah adalah satu-satunya Zat yang menetapkan musibah. Sekuat apapun usaha seluruh manusia, tidaklah bisa menepis musibah sedikit pun jika ternyata Allah berkehendak lain. Dengan demikian, kita dituntut untuk menyadari dan meyakini 2 perkara :

  1. Besarnya kehendak dan kekuatan Allah Yang Maha Tunggal.
  2. Kelemahan hamba sekalipun bersatu padu mengerahkan seluruh kekuatan mereka.

Silakan manusia berupaya semaksimal mungkin menangkal suatu wabah penyakit dan itu memang diperintahkan dalam Islam selama dengan cara yang halal. Namun ingat, Allahlah satu-satunya Zat yang menentukan suatu perkara di alam semesta ini. Seorang muslim diperintah untuk menempuh segala cara yang halal untuk mencegah suatu penyakit atau menghilangkannya. Namun seiring dengan itu, ia juga diperintah untuk bersandar sepenuhnya kepada Allah semata dan mengakui kekuatan-Nya yang mutlak. Tentu bagi seorang muslim, usaha untuk menangkal suatu wabah penyakit atau menghilangkannya tidak hanya bersifat materi (sarana dan prasarana medis yang memadai), namun juga bersifat maknawi (ketakwaan) dan ini yang justru memiliki kekuatan yang luar biasa dengan izin Allah.

Termasuk dari ketakwaan ini adalah doa. Al-Hafizh Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata : “Doa termasuk obat yang paling bermanfaat. Doa adalah musuh musibah. Ia akan mencegah, mengobati, menolak datangnya musibah, menghilangkannya dan memperkecil musibah jika telah datang.” (Ad-Daa’ Wa ad-Dawaa’) Doa sendiri adalah wujud permintaan tolong seorang hamba kepada Allah yang telah lewat penjelasan hal ini pada pelajaran ketiga.

Baca juga  Permisalan 5 Kalimat

Pelajaran Kelima

Segala sesuatu termasuk wabah penyakit telah tertulis di dalam catatan takdir, tidak akan mungkin berubah sedikit pun. Hal itu bahkan telah tertulis 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Allah telah mencatat takdir-takdir seluruh makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi…” (HR. Muslim) Keimanan seorang hamba kepada takdir memiliki faedah sangat agung, diantaranya : tidak berputus asa ketika mendapatkan musibah dan tidak sombong ketika mendapatkan kenikmatan.

Pelajaran Keenam

Menanamkan kesabaran menghadapi musibah karena pertolongan Allah bersama dengan kesabaran hamba. Seiring dengan itu, musibah bagi seorang muslim dapat menjadi penghapus dosanya, sedangkan kesabaran dapat membuahkan pahala.

Pelajaran Ketujuh

Jalan keluar dari suatu musibah akan mendekat ketika musibah tersebut sudah berada pada puncaknya. Di saat itu, seorang hamba tidak lagi mendapati satu pun makhluk yang dapat menolong dirinya. Lalu ia pun berserah diri dan menggantungkan urusannya kepada Allah semata. Inilah hakekat tawakal kepada Allah semata, sedangkan tawakal merupakan sebab Allah memberi kecukupan kepada hamba-Nya. Allah berfirman (artinya) : “…dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan memberi kecukupan kepadanya…” (Surah ath-Thalaq : 3)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah menukilkan ucapan al-Imam al-Fudhail : “Demi Allah, kalau seandainya engkau berputus asa dari makhluk hingga engkau tidak menginginkan apapun dari mereka, maka Zat yang menolongmu akan memberikan setiap apa yang engkau inginkan.” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam) Beliau (Ibnu Rajab) menambahkan bahwa seorang mukmin jika merasa lambatnya jalan keluar, berputus asa darinya setelah banyak berdoa dan belum tampak tanda-tanda dikabulkannya doa, maka ia akan menyalahkan jiwanya yang jelek dan mencelanya. Keadaan ini justru lebih Allah cintai dibandingkan banyaknya ketaatan, karena hal itu akan mendorong dirinya luluh dan mengakui di hadapan Allah bahwa dirinya memang layak mendapatkan musibah, tidak layak dikabulkan doanya. Di saat itu, disegerakanlah pengabulan doa dan jalan keluar baginya. (Disadur secara bebas dari sumber yang sama)

Wallahu a’lamu bish-Shawab