Posisi Tangan Ketika Sholat

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

Oleh : Ust. Abu ‘Abdillah ‘Utsman

Posisi Tangan Dalam Shalat

            Shalat adalah ibadah yang mencakup pendekatan diri kepada Allah dengan kalbu, ucapan sekaligus gerakan anggota badan.Salah satu anggota badan yang banyak berperan dalam shalat adalah tangan.Agama kita telah menerangkan posisi tangan dalam shalat melalui sekian banyak hadits, sehingga pantas untuk kita kaji secara khusus pada edisi kali ini.

Posisi Tangan Saat Takbir

            Saat takbir, kedua tangan diangkat pada 4 keadaan, yaitu : takbir pertama (takbiratul ihram), ketika akan ruku’, bangkit dari ruku’ dan bangkit dari tasyahud pertama.Keterangan ini berdasar hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau jika memulai shalat, maka beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangan.Jika akan ruku’, maka beliau mengangkat kedua tangan.Jika mengucapkan : “Sami’allaahu liman hamidah”, maka beliau mengangkat kedua tangan.Jika bangkit dari dua rakaat, maka beliau mengangkat kedua tangan.Ibnu Umar menyandarkan perbuatannya ini kepada Nabi Allah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.(HR.al-Bukhari)

            Mengangkat kedua tangan dalam shalat memiliki keutamaan, sebagaimana hadits ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu (artinya) : “Dicatat pada setiap isyarat tangan seseorang dalam shalat sebanyak 10 kebaikan.Setiap jari tangan dihitung 1 kebaikan”.(ash-Shahihah 3286)

            Saat diangkat, kedua telapak tangan berada sejajar dengan kedua telinga atau bagian depan pundak.Masing-masing cara ini pernah dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu bahwa dirinya pernah melihat Nabi Allah Shallallahu ‘alaihi Wasallam jika bertakbir, maka beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinga.(HR.Muslim).Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengangkat kedua tangannya sejajar bagian depan kedua pundak saat memulai shalat…(HR.al-Bukhari.Lihat Muslim)

            Mengacu dari 2 cara ini, maka mengangkat kedua tangan hingga di atas kepala, menjauhkan kedua telapak tangan hingga samping kanan-kiri pundak, mengangkat kedua tangan hanya sampai di bawah ketiak dekat dada, tidak mengangkat tangan sama sekali saat akan ruku’ atau bangkit dari ruku’ adalah kekeliruan dalam shalat.

Posisi Tangan Saat Berdiri

            Saat berdiri, tangan disedekapkan.Hal ini berdasar hadits Wa’il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu, berkata : “Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam apabila berdiri shalat, tangan kanan beliau memegang tangan kirinya”.(HR.an-Nasa’i dan dishahihkan asy-Syaikh al-Albani)

             Hadits ini bersifat umum, artinya bersedekap itu dilakukan saat berdiri sebelum ruku’ maupun setelah ruku’ (i’tidal).Jadi saat i’tidal pun, tangan juga disedekapkan dan bukan dibentangkan ke bawah.Selama tidak ada hadits shahih yang menerangkan posisi tangan saat i’tidal secara khusus, maka kita tetap berpegang dengan keumuman tadi (yaitu : bersedekap).Wallaahu a’lam.

            Adapun cara mensedekapkan tangan adalah meletakkan telapak tangan kanan di atas telapak tangan kiri, pergelangan tangan kiri atau hasta tangan kiri.(Lihat al-Bukhari, Abu Dawud dan an-Nasa’i)

Posisi Tangan Saat Ruku’

            Saat melakukan ruku’, hendaknya kedua telapak tangan ditekankan ke lutut.Hal ini sebagaimana penuturan Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu : “Aku adalah orang yang paling hafal diantara kalian tentang shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Aku pernah melihat beliau saat bertakbir, mengangkat kedua tangannya berhadapan pundak.Apabila ruku’, beliau menekankan kedua telapak tangannya ke lutut…”(HR.al-Bukhari)

            Dengan demikian, ketika ruku’ kedua telapak tangan bukan sekedar disentuhkan ke lutut, tetapi ditekankan.Bukan pula, telapak tangan diletakkan di atas atau di bawah lutut, tetapi ditekankan tepat pada lutut.

            Selain itu, jari-jari tangan agak direnggangkan dan diarahkan ke bawah, bukan ke samping.Kedua cara ini disebutkan oleh masing-masing dari 2 hadits berikut :

1)    Hadits Wa’il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam jika melakukan ruku’, beliau merenggangkan jari-jari tangannya.(Ashlu Shifat Shalat Nabi yang dishahihkan asy-Syaikh al-Albani)

2)    Hadits Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu bahwa tatkala ruku’, beliau meletakkan kedua telapak tangannya ke lutut dan mengarahkan jari-jari tangannya lebih rendah dari lutut.Di akhir hadits, beliau menandaskan : “Demikian kami dahulu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menunaikan shalat”.(Lihat Sunan Abi Dawud yang dishahihkan asy-Syaikh al-Albani)

Posisi Tangan Saat Sujud

            Saat  gerakan sujud, kedua telapak tangan menempel lantai, bukan sekedar jari-jari tangannya saja.Bahkan, menempelkan kedua telapak tangan ke lantai merupakan rukun dalam shalat (ketika sujud).Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Aku diperintah untuk sujud di atas 7 tulang : dahi (beliau mengisyaratkan ke arah hidung), 2 telapak tangan, 2 lutut dan ujung jari-jari 2 kaki”.(HR.al-Bukhari.Lihat Muslim)

            Kedua telapak tangan ditempelkan ke lantai sejajar dengan pundak atau telinga.Masing-masing dari 2 cara ini disebutkan di dalam hadits yang shahih.

            Adapun jari-jari tangan, maka saling dirapatkan dan ujung-ujungnya dihadapkan ke arah kiblat.Dari Wa’il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam jika sujud, beliau merapatkan jari-jari tangannya.(Ashlu Shifat Shalat yang dihasankan asy-Syaikh al-Albani).Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Dibenci apabila tidak menghadapkan kedua telapak tangan ke arah kiblat saat sujud”.(Ashlu Shifat Shalat yang dihasankan asy-Syaikh al-Albani)

            Selain itu, kedua siku dijauhkan dari sisi kanan maupun kiri badan.Dikisahkan Maimunah bintu al-Harits radhiyallahu ‘anha –salah satu istri Nabi- : “Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam sujud, seandainya anak kambing melewati sela kedua tangan beliau, maka anak kambing tersebut akan bisa lewat”.(HR.Muslim)

            Dikecualikan dari cara ini, yaitu saat menunaikan shalat berjamaah karena dapat mengganggu orang yang berada di sebelahnya (Lihat asy-Syarhul Mumti’).

            Saat sujud, Nabi kita melarang untuk menempelkan kedua hasta ke lantai.Beliau bersabda (artinya) : “Sempurnakanlah sujud kalian dan janganlah salah seorang diantara kalian meletakkan kedua hastanya seperti anjing meletakkan kedua hastanya”.(HR.al-Bukhari dan Muslim)

Posisi Tangan Saat Duduk

            Saat duduk, posisi tangan ada 2 keadaan :

1)    Kedua telapak tangan berada di kedua paha.

2)    Kedua telapak tangan berada di kedua lutut.

Masing-masing dari 2 keadaan dapat kita lakukan karena Nabi memang pernah melakukannya, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Muslim.Maka, kadangkala kita memakai keadaan pertama atau kedua.

              Adapun bila jari telunjuk diisyaratkan, maka jari tersebut dihadapkan ke arah kiblat (Lihat Sunan an-Nasa’i dan asy-Syaikh al-Albani berkata : “Hasan Shahih”).

              Ketika duduk tasyahud awal dan akhir, isyarat jari telunjuk sudah dilakukan sejak awal duduk hingga salam, bukan baru dilakukan saat membaca : “Asyhadu allaa…”.Hal ini berdasar zhahir (yang tampak) dari hadits-hadits shahih tentang isyarat telunjuk.Wallaahu a’lam.

              Apabila seseorang memilih pendapat menggerak-gerakkan jari telunjuknya, maka alangkah baiknya ia membaca keterangan berikut.Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata : “Kemudian ketahuilah, bahwasanya tidak teriwayatkan satu pun hadits –sebatas yang kami ketahui- yang menerangkan bentuk menggerak-gerakkan telunjuk secara khusus.Dengan demikian, seseorang dapat memilih bentuknya sekehendak hati.Hanya saja kami memandang –dan ilmu tentang ini di sisi Allah Ta’ala- hendaknya menggerak-gerakkan telunjuk itu bentuknya lebih mendekati keadaan dan kekhusyu’an shalat”.(Ashlu Shifat Shalat)

              Asy-Syaikh Dr.Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullah berkata : “…dan gerakan telunjuk ini adalah gerakan yang ringan sekali, tidak sampai telunjuk bergerak-gerak ke atas dan bawah sebagaimana yang dilakukan sebagian pemuda atau ke kanan dan ke kiri…”(Syarh Shifat Shalat)

              Seiring dengan itu, seluruh jari-jari selain telunjuk dari tangan kanan dikepalkankan atau ujung ibu jari dipertemukan dengan ujung jari tengah, sehingga membentuk lingkaran.Masing-masing dari 2 sifat ini disebutkan di dalam hadits yang shahih.

               Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata : “Yang benar bahwasanya tidak ada yang lebih utama diantara 2 sifat ini.Bahkan masing-masing dari keduanya adalah sunnah, selayaknya untuk kadangkala mengerjakan masing-masingnya”.(Ashlu Shifat Shalat)

Wallaahu a’lamu bish-Shawaab