Rangkaian Fiqh Sholat (8)

kaligrafi-bismillahirrahmanirrahim-i3

oleh : Ust Abu Abdillah Utsman

Rangkaian Fiqh Sholat (8)

8. Membaca Al Fatihah

dengan membaca ayat demi ayat dengan memutus satu ayat dengan ayat lainnya.

Membaca Al Fatihah merupakan rukun sholat dan menentukan sahnya sholat sehingga kita harus benar – benar memperhatikannya dan membacanya dengan benar dan lengkap tidak boleh terkurangi satu huruf pun. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda(artinya) : “Tidak ada sholat bagi yang tidak membaca Al Fatihah.” (HR.Bukhari Muslim)

Bagi yang lupa membaca Al Fatihah pada raka’at tertentu dan dia ingat ketika di raka’at berikutnya atau di akhir sholat maka wajib menambah satu raka’at dengan utuh.

Pendapat yang terkuat di kalangan ulama bahwa membaca Al Fatihah wajib bagi imam, makmum dan orang yang sholat sendiri/munfarid berdasarkan keumuman hadits di atas. Hal ini berlaku baik sholatnya jahriyah (bacaannya dikeraskan seperti sholat Subuh)maupun sirriyah (bacaannya dipelankan seperti sholat Zhuhr).

9. Mengucapkan Aamiin.

Aamiin artinya adalah Kabulkanlah. Hal ini berlaku bagi imam, makmum  maupun munfarid.

Kalau sholat berjama’ah dan pada sholat jahriyyah, kapan makmum mengucapkan aamiin? Pendapat yang kuat dalam hal ini bahwa makmum mengucapkan aamiin ketika imam selesai membaca Al Fatihah.

10. Membaca surat atau ayat – ayat.

Yang utama adalah membaca suatu surat dengan sempurna. Bila membacanya dari awal surat maka disunnahkan membaca Basmalah.

Diperbolehkan membaca lebih dari satu surat dalam satu raka’at sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits yang shahih.

Sebagaimana dimaklumi, bahwa disunnahkan mengeraskan bacaan pada sholat Subuh dan dua raka’at pertama dari sholat Maghrib dan ‘Isya.  Namun, disunnahkan untuk terkadang – kadang mengeraskan bacaan pada sholat Zhuhr sebagaimana Rasulullahصلى الله عليه وسلم contohkan.

Yang sering beliau lakukan adalah memanjangkan bacaan untuk sholat Subuh dan memendekkan untuk sholat Maghrib. Adapun ‘Isya, maka pertengahan diantara keduanya. (HR.Nasai). Namun pernah pula sebaliknya, yaitu dengan memendekkan ketika sholat Subuh dan memanjangkan ketika Maghrib.

Faidah : Pernah beliau mengulang membaca surat Al Zalzalah pada kedua raka’at dari sholat Subuh.(HR.Abu Dawud danAl Baihaqy)

Disunnahkan bagi seorang yang sholat kemudian datang syaithon mengganggunya untuk ta’awudz dan meludahkan angin ke kiri dengan tanpa mengeluarkan ludah sebanyak tiga kali. (HR.Muslim)

10. Ruku’

Setelah usai dari qiraah, diam sebentar, lalu bertakbir dan mengangkat tangan untuk ruku’.

Sifat Ruku’ :

–          meletakkan telapak tangan di lutut dengan merenggangkan jari jemari.(HR.Bukhari)

–          merenggangkan kedua siku (HR.Tirmidzi)

–          meratakan punggung sampai seandainya dituangkan air maka air itu tidak akan bergerak(HR.Bukhari)

–          kepala tidak terlalu tunduk juga tidak mendongak.(HR.Ahmad dan Abu Dawud)