Tafsir Surah Al-Balad

بِسمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surah Al-Balad

Para pembaca rahimakumullah, oleh karena keterbatasan tempat di buletin ini, maka kami akan menyebutkan keterangan singkat pada beberapa ayat di surah yang mulia. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui tulisan singkat dan sederhana ini.

Ayat Pertama (artinya) : “Aku (Allah) benar-benar bersumpah dengan negeri ini.”

Yang dimaksud dengan negeri ini adalah kota Makkah, sebagaimana dikuatkan dengan ayat lain (artinya) : “Dan demi negeri yang aman ini”. (Surah At-Tin). Penafsiran ini tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama padanya, sebagaimana ditandaskan oleh al-Hafizh al-Qurthubi, al-Alusi dan ‘Athiyyah Muhammad Salim rahimahumullah. Allah bersumpah dengan kota Makkah karena kemuliaan dan keutamaannya. Kota ini adalah kota yang paling agung di muka bumi ini. Inilah negeri yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Disebutkan di dalam hadits yang shahih dari Abdullah bin ‘Adi bin Hamra’ radhiyallahu ‘anhu, berkata : “Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam berdiri di atas Hazwarah (sebuah tempat di Makkah, pen) lalu berkata : “Demi Allah, engkau (Makkah) benar-benar bumi Allah yang paling baik dan paling dicintai oleh Allah. Kalau bukan karena aku diusir darimu, sungguh aku tidak akan keluar.”

Ayat Kedua (artinya) : “Dalam keadaan engkau (Muhammad) berada di negeri ini.”

Keberadaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam di negeri ini menambah keutamaan padanya. Yang paling jelas adalah keberadaan Nabi di kota suci ini ketika itu menyebabkan tertahannya azab Allah kepada penduduk Makkah, sekalipun kebanyakan mereka merupakan kaum musyrikin. Allah berfirman (artinya) : “Dan Allah tidak akan mengazab mereka dalam keadaan engkau (Muhammad) masih berada di tengah mereka…” (Surah Al-Anfal : 33)

Ayat ke-2 ini dapat diterjemahkan : “Dalam keadaan engkau (Muhammad) dihalalkan di negeri ini.” Maksudnya : Nabi dihalalkan oleh Allah untuk menumpahkan darah kaum musyrikin di negeri tersebut pada peristiwa Fathu Makkah (Ditundukkannya Kota Makkah). Beliau pernah bersabda (artinya) : “Sesungguhnya negeri ini telah Allah haramkan di hari Dia menciptakan langit dan bumi. Negeri ini haram dengan kehormatan dari Allah hingga hari kiamat. Sesungguhnya tidak halal adanya peperangan di negeri ini bagi siapa pun sebelumku. Tidak halal pula bagiku kecuali suatu waktu di siang hari…” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Maka pada peristiwa Fathu Makkah, beliau sempat menumpahkan darah sebagian kaum musyrikin. Diantara yang beliau bunuh adalah Abdullah bin Khathal dan Miqyas bin Shubabah.

Berdasar penerjemahan ini, maka ayat ini berbicara tentang perkara yang terjadi di masa yang akan datang karena ayat ini adalah ayat Makkiyah, sedangkan peristiwa Fathu Makkah terjadi pada periode Madaniyah.

Ayat Ketiga (artinya) : “Dan demi bapak dan anaknya.”

Yang dimaksud ayat ini adalah sumpah Allah dengan setiap bapak dan anaknya, baik dari kalangan manusia maupun binatang. Keduanya merupakan salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah Ta’ala.

Ayat Keempat (artinya) : “Sungguh Kami (Allah) menciptakan manusia berada dalam susah payah.”

Ini adalah jawaban dari sumpah pada ayat ke-1 dan ke-3 di atas. Makna ayat ini : Bahwa manusia berada dalam susah payah manakala ditimpa musibah di dunia. Ini berlaku bagi setiap manusia, baik muslim maupun kafir. Di alam barzakh dan kiamat, manusia juga mengalami susah payah yang lebih berat. Ini tentu hanya dialami oleh orang kafir saja.

Ayat ke-4 ini juga dapat diterjemahkan dengan : “Sungguh Kami (Allah) menciptakan manusia dalam bentuk yang baik.” Namun seiring kenikmatan yang besar ini, manusia lalai dan tidak bersyukur kepada Allah. Maka Allah pun menegur mereka dengan ayat berikutnya.

Ayat Kelima (artinya) : “Apakah manusia menyangka bahwa sekali-kali tidak ada sesuatu pun yang dapat menguasainya ?!”

Apakah manusia menyangka bahwa tidak ada satu pun yang dapat menguasai mereka, sampai pun Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu ?! Bukankah manusia itu hamba Allah yang tidak akan mungkin sekali-kali luput dari ketentuan Allah ?! Allah Maha Kuasa untuk menjadikan manusia tertimpa musibah hingga merasakan susah payah. Allah Maha Kuasa untuk menanyai manusia : Darimana ia mendapatkan harta dan untuk apa ia belanjakan ? Allah pun Maha Kuasa untuk membalas kemaksiatan mereka di dunia dan akhirat.

Ayat Keenam (artinya) : “Dia (manusia) berkata : “Aku telah memusnahkan harta yang banyak.”

Dia (manusia) memusnahkan harta yang banyak untuk memenuhi syahwatnya dan kenikmatan sesaat di dunia. Diterjemahkan dengan “memusnahkan” karena membelanjakan harta di jalan keburukan akan mendatangkan kemusnahan, kerugian dan penyesalan bagi pemiliknya. Berbeda halnya dengan membelanjakan harta di jalan Allah, maka itu akan mendatangkan keuntungan berlipat ganda.
Ucapan manusia ini bisa dimungkinkan terjadi di dunia atau di akhirat. Di dunia, ia mengatakan ucapan ini dalam keadaan sombong dan melampaui batas. Di akhirat, ia mengatakan ucapan ini dalam keadaan menyesal dan itu sama sekali tidak bermanfaat baginya.

Ayat ketujuh (artinya) : “Apakah dia menyangka bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat melihatnya ?!”

Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata : “Apakah dia menyangka dengan perbuatannya ini bahwa Allah tidak melihatnya dan memperhitungkan sesuatu yang kecil dan besar ?! Bahkan Allah telah melihatnya, menguasai perbuatannya dan menugaskan para malaikat yang mulia untuk mencatat setiap apa yang ia perbuat, apakah itu kebaikan ataukah keburukan”. (Tafsir as-Sa’di)

Ayat Kedelapan (artinya) : “Bukankah Kami (Allah) menjadikan untuknya 2 mata ?!”

Maksudnya : 2 mata yang manusia melihat sesuatu dengannya. Jika ia melihat sesuatu yang baik dan mendekatkan diri kepada Allah, maka ia meraih keberuntungan. Namun jika ia melihat sesuatu yang buruk, maka ia berdosa. Beratnya, penglihatan itu merupakan pintu terbesar yang menyampaikan sesuatu yang telah dilihatnya ke dalam kalbu (hati) manusia. Jika yang dilihat adalah kebaikan, maka kalbu akan sehat dan selamat. Namun jika yang dilihat adalah keburukan, maka kalbu akan sakit dan bahkan menjadi mati. Terlebih, Allah akan meminta pertanggungjawaban kita atas apa yang telah kita lihat kelak pada hari kiamat. Wallahu al-Musta’an.

Ayat Kesembilan (artinya) : “1 lidah dan 2 bibir ?!”

Selain 2 mata, lidah dan bibir merupakan kenikmatan yang sangat agung. Kita jarang merenungi kenikmatan Allah ini. Padahal dengan kenikmatan ini, kita dapat berbicara baik sehingga orang memahami maksud kalbu kita. Bayangkan jika kita tidak memiliki kenikmatan ini, sedangkan orang jahat merampas harta atau menculik anak kita dalam keadaan kita menyaksikannya ! Dengan apa kita akan berteriak minta tolong kepada manusia ? Sungguh kenikmatan yang sangat berharga yang tidak bisa ditukar dengan harta semahal apapun. Belum lagi nikmat makanan dan minuman yang tidak mungkin lepas dari lidah dan bibir. Namun sayangnya, banyak diantara kita yang berbuat dosa dengan lidah dan bibir ini. Ditambah lagi dosa dengan kedua mata kita. Nastaghfirullah.

Ayat Kesepuluh (artinya) : “Dan Kami (Allah) telah menunjukkan kepadanya 2 jalan ?!”

Maksudnya : Allah telah menjelaskan 2 jalan yang berbeda, yaitu : kebaikan dan kejelekan. Ini adalah nikmat agama dan tentu lebih besar nilainya dibandingkan nikmat mata, lidah dan bibir. Kenikmatan mengetahui perbedaan jalan kebaikan dan kejelekan dapat menyebabkan mata, lidah, bibir dan seluruh anggota tubuh akan terbimbing di atas ridha Allah.

Ayat Kesebelas (artinya) : “Maka tidakkah (dengan harta) itu, dia menempuh jalan yang mendaki lagi sulit ?!”

Jalan yang mendaki saja sudah terasa berat, apalagi jika ditambah dengan kesulitan untuk melaluinya. Demikian ungkapan terhadap suatu amalan yang berat jiwa kita menitinya, padahal ia akan mengantarkan kita ke puncak kedudukan di sisi Allah. Tidak akan sanggup meniti jalan yang mendaki lagi sulit ini kecuali orang yang jujur niatnya dan penuh kesungguhan.

Ayat Kedua belas (artinya) : “Tahukah engkau apa itu jalan yang mendaki lagi sulit ?”

Pertanyaan ini bermakna membangkitkan keinginan pendengar atau pembaca untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan jalan yang mendaki lagi sulit. Pertanyaan ini juga merupakan pengagungan terhadap perkara yang akan disebutkan.

Ayat Ketiga belas (artinya) : “(Yaitu) membebaskan budak”.

Perlu diketahui bahwa perbudakan itu memang ada dalam Islam. Hanya saja perlu juga diketahui gambaran singkat berikut ini :

  1. Sebab perbudakan hanya satu, yaitu : bersikukuhnya seseorang di atas kekafirannya tatkala ditawan dalam peperangan melawan kaum muslimin. Itu pun jika dipandang penguasa muslimin yang memimpin jihad ternyata yang lebih baik adalah ditebus atau bahkan dibebaskan, maka tawanan tersebut ditebus atau dibebaskan.
  2. Ketika menjadi budak, ia harus diperlakukan dengan lembut, tidak boleh diberi pekerjaan melampaui batas kemampuan dan hendaknya diajak memeluk Islam. Islam sangat melarang melakukan kezaliman kepada budak.
  3. Seiring dengan itu, Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk membebaskan budak. Salah satu anjuran tersebut adalah ayat ke-13 ini. Jika sebab perbudakan hanya satu, maka sebab pembebasan budak ternyata cukup banyak semisal : kaffarah (tebusan) sumpah, zhihar, jima’ di siang hari Ramadhan dengan ketentuannya dan membunuh jiwa yang tidak boleh dibunuh tanpa sengaja.

Penjelasan singkat ini setidaknya membantah pandangan orang kafir dan orientalis bahwa Islam haus terhadap perbudakan orang-orang bebas. Padahal, perbudakan sendiri juga ada pada orang-orang kafir sebelum datangnya Islam, semisal : Persia, Romawi, Babilonia dan Yunani bahkan dengan gambaran yang sangat buruk / keji.

Adapun makna “membebaskan budak” dalam ayat ini ada 2 macam :

  1. Membebaskan budak miliknya sendiri atau membeli budak orang lain lalu membebaskannya.
  2. Menebus budak dari status tawanan perang yang tidak jarang membutuhkan biaya yang besar.

Ayat Keempat belas (artinya) : “Atau memberi makanan pada hari kelaparan.”

Subhanallah ! Islam menganjurkan pemeluknya untuk memberi makanan kepada orang lain ketika ia sendiri sangat butuh terhadap makanan tersebut karena memang sedang dirundung kelaparan. Tidaklah dapat melakukan pendakian yang tinggi dan sulit ini, melainkan seseorang yang memiliki iman sangat kokoh. Inilah seutama-utama memberi makan kepada orang lain.

Ayat Kelima belas (artinya) : “(Kepada) anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan.”

Maksudnya : memberi makanan kepada anak yatim pada hari kelaparan. Jika anak yatim itu haruslah kita bantu, lalu bagaimana halnya jika ia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan kita ?! Memberi makanan kepada anak yatim yang demikian keadaannya merupakan sedekah sekaligus silaturahim.

Ayat Keenam belas (artinya) : “Atau orang miskin yang sangat fakir.”

Yakni : memberi makanan kepada orang miskin yang sangat fakir pada hari kelaparan.

Ayat Ketujuh belas (artinya) : “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, saling berwasiat untuk bersabar dan saling berwasiat untuk berkasih sayang.”

Ayat ini mengisyaratkan kemuliaan orang ini kala memenuhi 2 hak, yaitu : hak Allah berupa iman kepada-Nya dan hak manusia berupa menyayangi mereka dengan memberikan makanan pada hari kelaparan.

Ayat Kedelapan belas (artinya) : “Mereka itulah golongan kanan.”

Yaitu : orang-orang yang akan diberi catatan amalannya dari sebelah kanan pada hari kiamat. Dengan itu, mereka akan meraih kebahagiaan sempurna dan abadi.

Ayat Kesembilan belas (artinya) : “Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itulah golongan kiri.”

Mereka ini adalah orang-orang yang akan diberi catatan amalannya dari sebelah kiri pada hari kiamat. Dengan itu, mereka akan menjumpai petaka besar berupa :

Ayat Kedua puluh (artinya) : “Mereka berada di dalam neraka yang ditutup rapat.”

Ditutuplah mereka dengan pintu-pintu neraka yang sangat rapat sehingga udara segar sedikit pun tidak masuk ke dalamnya, dan panas yang sangat dahsyat sedikit pun tidak akan keluar darinya. Jika mereka ingin keluar darinya, maka mereka ditarik kembali untuk tetap di dalamnya. Na’udzubillahi Min Dzalik.

Wallahu a’lamu bish-Shawab